AFPI Bersama Google Blokir 105 Aplikasi Pinjol Ilegal dalam 3 Bulan

AFPI Bersama Google Blokir 105 Aplikasi Pinjol Ilegal dalam 3 Bulan

ILUSTRASI. Ketua Bidang Edukasi, Literasi dan Riset AFPI Marcella Wijayanti. AFPI menyatakan bahwa Google telah bekerja sama dengan mereka dalam menghapus aplikasi pinjaman daring online (pinjol) ilegal.

Beritafintech.com JAKARTA. Industri financial technology (fintech) dalam negeri masih menghadapi tantangan dari keberadaan pinjaman daring (pindar) ilegal.

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menyatakan bahwa Google telah bekerja sama dengan mereka dalam menghapus aplikasi pinjaman daring online (pinjol) ilegal.

Ketua Bidang Edukasi, Literasi, dan Riset AFPI, Marcella Wijayanti menyebutkan bahwa program ini merupakan inisiatif yang telah dimulai sejak tahun lalu dengan tujuan mengedukasi masyarakat agar dapat membedakan antara pindar legal dan ilegal.

Baca Juga: Ingatkan Risiko Pendanaan, AFPI Lakukan Berbagai Upaya Edukasi kepada Lender

“Sepanjang 2024, di antara semua program, dan ini Google Priority Flagger Program, ini juga salah satu program yang diinisiasi oleh AFPI. Tujuannya adalah mengedukasi masyarakat digital agar paham mana yang itu ilegal, mana yang legal,” ungkap Marcella dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta pada Rabu (12/3).

Marcella menambahkan bahwa ketika AFPI mengusulkan program ini, Google memberikan respons positif. Dalam pelaksanaannya, Google berperan dalam menghapus aplikasi pinjol ilegal yang dilaporkan.

“Google menyambut baik, bahkan membantu kita untuk ketika ter-flag itu ilegal, Google langsung meminta untuk takedown. Ini adalah salah satu program unggulan AFPI juga dan untuk mencegah antara ilegal dan tidak ilegal,” lanjut Marcella.

TRENDING  Masalah Tak Terselesaikan, OJK Cabut Izin Usaha Fintech Crowde

Dilansir dari Instagram resmi @afpiofficial.id, AFPI bersama 97 anggotanya berhasil menutup 105 aplikasi pinjaman online ilegal dalam tiga bulan terakhir melalui program tersebut. 

Baca Juga: AFPI Perkirakan Ada Potensi Kenaikan Pinjaman Fintech Saat Ramadan dan Lebaran

Selain itu, AFPI juga telah melakukan berbagai inisiatif edukasi kepada masyarakat, mencakup lingkungan kampus, UMKM, serta bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Salah satunya adalah ketika kami selalu punya acara tahunan, yaitu Fintech Lending Days. Nah, Fintech Lending Days ini, lokasinya bisa berpindah-pindah. Tahun kemarin, itu ada di Medan dan itu diikuti oleh semua anggota AFPI. Dan biasanya kegiatannya apa? Mengedukasi dan juga mengunjungi UKM dan UMKM yang menjadi borrower dari AFPI. Kita mendengarkan dan juga mengedukasi bagaimana misalnya menjadi borrower yang baik, kemudian menjadi borrower yang bijak, bisa memilih mana yang ilegal dan tidak ilegal,” jelas Marcella.

Selanjutnya: Hendro Santoso Gondokusumo, Pendiri Intiland, Meninggal Dunia di Singapura

Menarik Dibaca: Promo Dunkin BCA Beli 8 Donut Gratis 4 Donut Classics dan Minuman, Khusus Hari Kamis

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Check Also

Ini daftar lengkap 158 fintech yang mengantongi izin dari OJK

Ini alasan fintech lending syariah jauh tertinggal dibanding pemain konvensional

Fintech lending syariah masih jauh tertinggal dibandingkan dengan pemain konvensional karena beberapa alasan utama. Pertama, masih minimnya pemahaman masyarakat tentang produk dan layanan keuangan syariah. Kebanyakan orang lebih familiar dengan sistem konvensional sehingga sulit untuk beralih ke fintech lending syariah. Kedua, regulasi yang belum mendukung perkembangan fintech lending syariah juga menjadi hambatan utama. Beberapa aturan yang ada cenderung lebih menguntungkan pemain konvensional daripada syariah, sehingga membuat para pelaku usaha enggan untuk berinvestasi di sektor ini. Selain itu, kurangnya kerjasama antara lembaga keuangan syariah dan fintech lending juga turut memperlambat pertumbuhan industri ini. Dibutuhkan sinergi yang kuat antara kedua pihak agar dapat memberikan layanan finansial yang komprehensif dan berkualitas bagi masyarakat. Meskipun demikian, potensi pasar untuk fintech lending syariah tetap besar dan masih perlu terus dikembangkan agar dapat bersaing secara sehat dengan pemain konvensional. Diperlukan upaya bersama dari semua pihak terkait untuk meningkatkan literasi keuangan syariah serta menciptakan regulasi yang mendukung pertumbuhan industri ini di masa depan

%site% | NEWS