Harapan Hidup Naik hingga 74 Tahun, Ini Pentingnya Perlindungan Finansial Berlapis

Harapan Hidup Naik hingga 74 Tahun, Ini Pentingnya Perlindungan Finansial Berlapis

Jakarta: Kemajuan teknologi kesehatan membuat banyak penyakit yang dulu sulit ditangani kini memiliki peluang kesembuhan yang jauh lebih baik.
 
Orang Indonesia pun hidup lebih lama dibandingkan beberapa dekade lalu. Namun di balik kabar baik tersebut, ada tantangan baru yang mulai muncul, yakni meningkatnya biaya pengobatan yang harus dipersiapkan sejak dini.
 
Di tengah perkembangan teknologi medis yang semakin canggih, para ahli mengingatkan bahwa perlindungan kesehatan saja tidak cukup. Masyarakat juga perlu membangun perlindungan finansial berlapis agar tidak kewalahan saat menghadapi risiko penyakit kritis.

Penyakit kritis kini banyak menyerang usia produktif

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Bayushi Eka Putra, Sp.JP(K), FIHA, mengatakan penyakit tidak menular kini menjadi tantangan kesehatan yang semakin serius di Indonesia.

Menurutnya, penyakit seperti serangan jantung dan stroke tidak lagi identik dengan usia lanjut. Saat ini, banyak pasien berusia 30 hingga 40 tahun bahkan 20-an tahun yang mulai mengalami gangguan kesehatan serius.
 
Fenomena ini dipicu oleh berbagai faktor gaya hidup modern, seperti kurang aktivitas fisik, stres berkepanjangan, pola hidup sedentari, hingga tingginya angka perokok.
 

“Jadi saya ketemu pasien bukan lagi umur 50-60 tahun, tapi umur 20-30 tahun, itu udah mulai sering. Ya, paling sering 30-40 tahun. Jadi, penyakit tidak menular, ini bukan lagi penyakit orang tua. Penyakit pada orang-orang yang masih produktif,” katanya dalam media workshop, Rabu, 17 Juni 2026.
 
“Strategi pertahanan melalui perlindungan finansial berlapis sebagai solusi sistematis,” imbuhnya. 

TRENDING  Jelang Lebaran, SWI Minta Jauhi Pinjol Ilegal, Berikut Daftar Pinjol Legal 2023

Angka harapan hidup naik berkat teknologi medis

Di tengah meningkatnya kasus penyakit kritis, ada satu fakta menarik yang terjadi di Indonesia, yaitu meningkatnya angka harapan hidup masyarakat.
 
Menurut dr. Bayushi, usia harapan hidup masyarakat Indonesia kini telah mencapai sekitar 74 tahun. Angka tersebut meningkat dibandingkan beberapa dekade lalu berkat kemajuan teknologi kesehatan yang sangat pesat.
 
“Walaupun kasus penyakit jantung naik, walaupun dia menyerang pada usia muda. Tapi yang menarik ini adalah angka harapan hidup orang Indonesia pun juga menariknya ikut naik. Sampai 74 tahun,” ujarnya.
 
Ia menjelaskan bahwa perkembangan alat kesehatan, metode pengobatan, hingga teknologi medis modern berkontribusi besar dalam meningkatkan peluang hidup pasien.
 
“Karena kemajuan teknologi, karena tindakan medis yang makin berkembang, itu berkontribusi keras untuk menjaga kita tetap hidup,” ucapnya.

Peluang hidup lebih tinggi, biaya pengobatan ikut meningkat

Kemajuan teknologi medis memang membawa harapan baru bagi pasien. Namun di sisi lain, inovasi tersebut juga menghadirkan konsekuensi finansial yang tidak bisa diabaikan.
 
Dibandingkan dua atau tiga dekade lalu, tingkat keberhasilan pengobatan penyakit jantung meningkat sangat signifikan. Obat-obatan modern, teknologi pemasangan ring jantung, hingga berbagai prosedur medis terbaru mampu meningkatkan peluang kesembuhan dan mengurangi risiko komplikasi.
 
“Obat-obatan baru, alat-alat baru, teknologi yang makin baru, tentu pasti punya konsekuensi finansial,”
 
Artinya, semakin canggih teknologi kesehatan yang digunakan, semakin besar pula biaya yang harus dipersiapkan oleh pasien maupun keluarganya.
 
Karena itu, konsep perlindungan finansial berlapis menjadi semakin relevan. Perlindungan ini dapat berupa dana darurat, asuransi kesehatan, asuransi penyakit kritis, investasi jangka panjang, hingga perencanaan keuangan yang matang.

TRENDING  Cara Buka Rekening Bank DKI dan Aktivasi Kartu ATM di JakOne Mobile

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ANN)

Similar Posts

  • Ini alasan fintech lending syariah jauh tertinggal dibanding pemain konvensional

    Fintech lending syariah masih jauh tertinggal dibandingkan dengan pemain konvensional karena beberapa alasan utama. Pertama, masih minimnya pemahaman masyarakat tentang produk dan layanan keuangan syariah. Kebanyakan orang lebih familiar dengan sistem konvensional sehingga sulit untuk beralih ke fintech lending syariah.

    Kedua, regulasi yang belum mendukung perkembangan fintech lending syariah juga menjadi hambatan utama. Beberapa aturan yang ada cenderung lebih menguntungkan pemain konvensional daripada syariah, sehingga membuat para pelaku usaha enggan untuk berinvestasi di sektor ini.

    Selain itu, kurangnya kerjasama antara lembaga keuangan syariah dan fintech lending juga turut memperlambat pertumbuhan industri ini. Dibutuhkan sinergi yang kuat antara kedua pihak agar dapat memberikan layanan finansial yang komprehensif dan berkualitas bagi masyarakat.

    Meskipun demikian, potensi pasar untuk fintech lending syariah tetap besar dan masih perlu terus dikembangkan agar dapat bersaing secara sehat dengan pemain konvensional. Diperlukan upaya bersama dari semua pihak terkait untuk meningkatkan literasi keuangan syariah serta menciptakan regulasi yang mendukung pertumbuhan industri ini di masa depan

  • Perkuat Portofolio Segmen UMKM, Bank Neo Commerce Rilis Layanan Neo Business

    Bank Neo Commerce telah merilis layanan terbaru mereka, Neo Business, untuk memperkuat portofolio segmen UMKM. Layanan ini dirancang khusus untuk membantu UMKM dalam mengelola keuangan dan transaksi bisnis mereka secara lebih efisien. Dengan fitur-fitur yang inovatif dan mudah digunakan, Bank Neo Commerce yakin bahwa layanan Neo Business akan menjadi solusi yang tepat bagi para pelaku usaha kecil dan menengah di Indonesia. Jadi tunggu apalagi, segera manfaatkan layanan ini untuk mengembangkan bisnis Anda!

  • Bank Maspion Resmi Berganti Nama Menjadi Bank Kasikorn Indonesia

    Bank Maspion resmi berganti nama menjadi Bank Kasikorn Indonesia. Perubahan ini disambut dengan antusias oleh para nasabah dan pemegang saham, yang menyambut langkah strategis ini sebagai langkah positif dalam mengembangkan layanan perbankan di Indonesia. Dengan nama baru yang lebih kuat dan reputasi internasional yang terbukti, Bank Kasikorn Indonesia siap memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh pelanggannya. Selamat atas perubahan nama ini, semoga Bank Kasikorn Indonesia semakin sukses dan berkembang di masa depan!

  • Ajarkan Finansial Sejak Dini, Ini 5 Cara Mengelola Uang THR Anak

    Menyikapi uang THR yang diterima anak, penting bagi orangtua untuk mengajarkan cara mengelola uang sejak dini. Berikut adalah 5 cara yang bisa dilakukan untuk membantu anak mengelola uang THR dengan baik:

    1. Ajarkan anak untuk membagi uang THR menjadi tiga bagian, yaitu untuk kebutuhan sehari-hari, tabungan jangka panjang, dan sedekah.
    2. Dorong anak untuk membuat catatan pengeluaran agar mereka dapat melihat dengan jelas kemana saja uang THR mereka telah digunakan.
    3. Libatkan anak dalam perencanaan keuangan keluarga sehingga mereka dapat belajar tentang pentingnya merencanakan pengeluaran dan menabung.
    4. Berikan contoh yang baik dalam hal pengelolaan keuangan agar anak bisa meniru pola pikir dan perilaku finansial yang positif.
    5. Jangan lupa memberikan apresiasi kepada anak ketika mereka berhasil mengelola uang THR dengan baik, sehingga mereka merasa termotivasi untuk terus belajar dan berkembang dalam hal finansial.

    Dengan menerapkan langkah-langkah di atas, diharapkan anak dapat belajar mengenai nilai dari setiap rupiah yang dimiliki serta memiliki keterampilan dalam mengatur keuangannya secara bijaksana sejak usia dini

  • Asosiasi Berusaha Kembalikan Kepercayaan Publik terhadap Fintech

    Asosiasi berusaha keras untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap industri fintech. Dengan melakukan berbagai langkah transparansi dan regulasi yang ketat, kami bertekad untuk memastikan bahwa layanan fintech memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat. Kepercayaan publik adalah kunci utama dalam membangun ekosistem fintech yang sehat dan berkelanjutan. Dengan dukungan dari seluruh anggota asosiasi, kami yakin dapat menciptakan lingkungan yang aman dan terpercaya bagi para pengguna layanan fintech di Indonesia

  • Alasan Bank-Bank Besar Belum Pangkas Bunga Deposito

    Menurut data terbaru, bank-bank besar di Indonesia masih belum mengurangi suku bunga deposito meskipun Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan. Hal ini membuat nasabah semakin tertarik untuk menyimpan dananya di bank-bank besar karena tingginya keuntungan yang bisa didapatkan. Meskipun demikian, para ahli keuangan menyarankan agar nasabah tetap waspada dan mempertimbangkan risiko investasi dengan cermat sebelum memutuskan untuk menempatkan dana mereka di deposito