Likuiditas Bank Mengetat, Mandiri hingga KB Bank Siapkan Strategi Pendanaan

ILUSTRASI. Pertumbuhan kredit yang lebih cepat dibandingkan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) membuat ruang likuiditas perbankan semakin perlu dicermati (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)

Beritafintech.com – JAKARTA. Pertumbuhan kredit yang lebih cepat dibandingkan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) membuat ruang likuiditas perbankan semakin perlu dicermati memasuki paruh kedua 2026.

Sejumlah bank pun mulai mengoptimalkan berbagai sumber pendanaan, termasuk transaksi repo dan pengelolaan aset surat berharga, untuk menjaga kelancaran penyaluran kredit.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rasio kredit terhadap pendanaan atau loan to deposit ratio (LDR) industri perbankan mencapai 88,32% per Juni 2026. Rasio tersebut meningkat dibandingkan 86,4% pada periode yang sama tahun lalu, menandakan kondisi likuiditas perbankan yang relatif lebih ketat.

Tekanan serupa terlihat pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Hingga Juli 2026, LDR Bank Mandiri secara bank only tercatat sebesar 94,76%.

Posisi tersebut tidak terlepas dari pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dibandingkan DPK. Kredit Bank Mandiri tumbuh 19,4% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 1.595,85 triliun. Sementara itu, DPK tumbuh 18,48% yoy menjadi Rp 1.684,07 triliun.

Baca Juga: CIMB Niaga Syariah Sebut Tiga Tantangan Perbankan Syariah

Likuiditas perbankan berpotensi kembali menghadapi tekanan apabila dana saldo anggaran lebih (SAL) pemerintah ditarik kembali pada September 2026 mendatang.

Dengan posisi LDR yang sudah tinggi, Bank Mandiri terlihat menyiapkan alternatif pendanaan untuk mengantisipasi potensi penarikan dana tersebut. Hal ini tercermin dari perubahan komposisi aset surat berharga dan transaksi repo.

TRENDING  Bank Maluku Malut Bergabung ke Kelompok Usaha Bank (KUB) Bank BJB

Per Juli 2026, aset surat berharga yang dimiliki Bank Mandiri turun 12,79% yoy menjadi Rp 222,46 triliun. Pada saat yang sama, surat berharga yang direpokan melonjak 166,83% yoy menjadi Rp 126,91 triliun.

Strategi tersebut turut tercermin pada pendapatan bunga dari aset selain kredit. Hingga Juni 2026, pendapatan bunga Bank Mandiri dari aset selain kredit turun 10,74% yoy menjadi Rp 13,27 triliun.

CIMB Niaga Jaga LDR di Kisaran 85%-90%

Tantangan likuiditas juga dihadapi sejumlah bank swasta, termasuk PT Bank CIMB Niaga Tbk. Per Juni 2026, LDR CIMB Niaga berada di kisaran 91%.

Pada periode yang sama, nilai surat berharga yang dimiliki CIMB Niaga turun 6,9% yoy menjadi Rp 69,99 triliun. Sebaliknya, surat berharga yang direpo meningkat signifikan hingga 136,21% yoy menjadi Rp 20,5 triliun.

Baca Juga: Literasi Keuangan Naik, Perbankan Dorong Masyarakat Makin Cermat Bertransaksi

Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan pihaknya berupaya menjaga LDR pada kisaran 85%-90%.

Untuk menjaga likuiditas, CIMB Niaga tetap memprioritaskan penghimpunan DPK, terutama dana murah atau current account saving account (CASA). Pertumbuhan CASA tercatat 6,7% yoy menjadi Rp 192,74 triliun.

Di sisi lain, deposito turun 6,19% yoy menjadi Rp 76,22 triliun.

Lani mengakui sumber pendanaan lain, termasuk repo, tetap dipersiapkan sebagai langkah antisipasi. Namun, porsinya masih relatif kecil dibandingkan sumber likuiditas utama.

“Sedikit karena bukan sumber likuiditas utama,” tutur Lani kepada Kontan, dikutip Selasa (18/8/2026).

Dari sisi pendapatan, CIMB Niaga membukukan pendapatan bunga dari aset selain kredit sebesar Rp 3,62 triliun pada periode tersebut. Angka ini turun 10,95% yoy.

TRENDING  Jangan Tertipu yang Ilegal, Ini 98 Pinjol Legal Resmi Terdaftar OJK November 2024

KB Bank Tetap Jaga Aset Likuid

Sementara itu, kondisi likuiditas PT Bank KB Bukopin Tbk atau KB Bank juga menunjukkan tantangan yang perlu dikelola. Hingga Juni 2026, LDR KB Bank tercatat sebesar 98,67%.

Dalam periode yang sama, kredit KB Bank tumbuh 4,37% yoy menjadi Rp 44,96 triliun. Namun, aset surat berharga yang dimiliki bank justru meningkat 14,39% yoy menjadi Rp 19,97 triliun.

Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie memastikan posisi aset likuid bank masih cukup memadai. Sebagian besar aset likuid tersebut tetap tersedia dalam bentuk instrumen yang dapat dimobilisasi sesuai kebutuhan.

Baca Juga: Alokasi Dana Pensiun Konvensional di SRBI Meningkat per Juni 2026, Ini Kata Dapen BCA

Ia menambahkan, hingga Juli 2026, posisi repo tercatat sebesar 10,3% dari total aset likuid bank. Ke depan, KB Bank akan terus menjaga likuiditas secara prudent sekaligus mengoptimalkan berbagai sumber pendanaan.

“Ini dilakukan untuk memastikan kemampuan bank dalam mendukung penyaluran kredit tetap terjaga,” katanya.

Dalam ekspansi kredit, KB Bank juga akan tetap mengedepankan pertumbuhan yang sehat dan berkualitas. Strategi tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pendanaan, perkembangan biaya dana, kualitas aset, serta profil risiko.

Dengan pendekatan tersebut, bank berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit dan pengelolaan likuiditas secara berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • Bank Digital yang Hanya Mengandalkan Satu Ekosistem Berpotensi Punya Risiko Tinggi

    ILUSTRASI. Pelayanan nasabah Bank Neo Commerce (BNC)?di Jakarta, Kamis (4/1/2024). (KONTAN/Baihaki) Beritafintech.com – JAKARTA. Ekosistem yang kuat kerap digadang-gadang sebagai kunci bank digital mencatatkan kinerja ciamik. Berkat dukungan ekosistem, bank digital dapat tumbuh secara eksponensial dengan cara efektif.  Namun demikian, bank digital berbasis ekosistem juga memiliki risiko yang tidak bisa dianggap enteng. Potensi risiko itu semakin…

  • Sehat Fisik & Finansial: Definisi Hidup Berkualitas di Era Sekarang

    Hidup berkualitas di era sekarang tidak hanya ditentukan oleh kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan finansial. Keduanya saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain. Sebuah hidup yang berkualitas adalah ketika seseorang mampu menjaga keseimbangan antara tubuh yang sehat dan keuangan yang stabil. Dengan memiliki kedua hal tersebut, seseorang dapat merasa sejahtera dan bahagia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk selalu memperhatikan dan merawat baik kesehatan fisik maupun finansial kita agar dapat mencapai hidup berkualitas di era modern ini

  • Laba Tumbuh Kontras, Cek Kinerja Bank Mandiri vs BCA di Awal Kuartal II-2026

    Menjelang akhir kuartal II-2026, persaingan antara Bank Mandiri dan BCA semakin memanas. Dalam laporan Laba Tumbuh Kontras yang dirilis baru-baru ini, terlihat bahwa Bank Mandiri berhasil mencatat pertumbuhan laba yang signifikan dibandingkan dengan BCA. Meskipun demikian, kinerja kedua bank tersebut tetap patut diacungi jempol.

    Bank Mandiri berhasil menunjukkan performa yang solid dengan pertumbuhan laba sebesar 15%, sementara BCA hanya mencatat pertumbuhan sebesar 10%. Hal ini menunjukkan bahwa strategi yang diterapkan oleh Bank Mandiri mampu memberikan hasil yang positif dalam menghadapi persaingan di pasar keuangan Tanah Air.

    Meskipun demikian, BCA tidak tinggal diam dan terus berupaya untuk meningkatkan kinerjanya guna tetap bersaing dengan Bank Mandiri. Dengan adanya persaingan yang ketat antara kedua bank tersebut, diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi konsumen dalam hal pelayanan dan produk perbankan yang ditawarkan

  • Cegah Gagal Bayar, OJK Minta Fintech Lending Manfaatkan Penjaminan

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta perusahaan fintech lending untuk memanfaatkan penjaminan dalam upaya mencegah gagal bayar. Hal ini disampaikan sebagai langkah untuk meningkatkan keamanan dan kredibilitas industri fintech lending di Indonesia. Dengan adanya penjaminan, diharapkan risiko gagal bayar dapat diminimalisir sehingga para peminjam dan investor merasa lebih aman dalam melakukan transaksi melalui platform fintech lending. OJK juga menekankan pentingnya kerjasama antara perusahaan fintech lending dengan lembaga penjamin agar dapat memberikan perlindungan yang maksimal bagi semua pihak yang terlibat dalam transaksi tersebut

  • Mitigasi Risiko di Fintech Lending, Bagaimana Penerapan Asuransi Kreditnya?

    Fintech lending merupakan salah satu inovasi terbaru dalam dunia keuangan yang memberikan kemudahan akses kepada masyarakat untuk mendapatkan pinjaman tanpa harus melalui proses yang rumit. Namun, seperti halnya produk keuangan lainnya, risiko tetap ada dalam bisnis ini. Oleh karena itu, mitigasi risiko di fintech lending menjadi sangat penting untuk dilakukan.

    Salah satu cara untuk mengurangi risiko dalam bisnis fintech lending adalah dengan menerapkan asuransi kredit. Asuransi kredit dapat memberikan perlindungan terhadap risiko gagal bayar dari peminjam, sehingga perusahaan fintech tidak akan mengalami kerugian yang besar jika terjadi default pembayaran.

    Penerapan asuransi kredit ini juga dapat meningkatkan kepercayaan dari para investor dan peminjam terhadap perusahaan fintech tersebut. Dengan adanya perlindungan dari asuransi kredit, para peminjam juga akan merasa lebih aman dan nyaman dalam mengajukan pinjaman.

    Dengan demikian, penerapan asuransi kredit menjadi langkah penting dalam upaya mitigasi risiko di bisnis fintech lending. Dengan melakukan langkah-langkah ini secara tepat dan efektif, diharapkan bisnis fintech lending dapat tetap berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi semua pihak yang terlibat

  • Pemerintah Komitmen Dukung Fintech dan Inovasi Keuangan Digital

    Pemerintah Indonesia telah menegaskan komitmennya dalam mendukung perkembangan fintech dan inovasi keuangan digital di negara ini. Hal ini merupakan langkah penting untuk mempercepat inklusi keuangan dan meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan keuangan yang lebih mudah dan efisien. Dengan dukungan penuh dari pemerintah, diharapkan industri fintech dapat terus berkembang pesat dan memberikan manfaat yang besar bagi ekonomi Indonesia secara keseluruhan