Mindset Investasi untuk Gen-Z: Kaya Sesaat atau Kebebasan Finansial?

Mindset Investasi untuk Gen-Z: Kaya Sesaat atau Kebebasan Finansial?

Jakarta: Di era digital yang semakin maju, keinginan mencapai kebebasan finansial di usia muda semakin kuat, terutama di kalangan Gen-Z.
 
Namun, ada peringatan penting yang wajib dipahami Gen-Z, menjadi kaya dengan cepat sering kali hanya memberi kepuasan sesaat.
 
Keberlanjutan finansial tidak dicapai dengan cara instan tetapi melalui disiplin, investasi yang bijak, dan konsistensi dalam menabung.
Dengan menerapkan pola pikir ini, Head of IPOT Fund, Dody Mardiansyah mengatakan, Gen-Z dapat mencapai tujuan mereka, yaitu kebebasan finansial yang berkelanjutan.
 
Gen-Z sering terpapar pada gaya hidup cepat kaya melalui media sosial, yang mengagungkan kisah sukses instan. Tetapi nyatanya, banyak yang tidak menyadari hasil cepat biasanya berisiko dan sulit dipertahankan. Hal ini memunculkan pentingnya edukasi investasi dengan pendekatan mindset “cepat kaya cepat hilang”.
 

 
Melalui pola pikir ini, yang mau ditekankan kekayaan yang dicapai secara perlahan, melalui pengelolaan keuangan yang disiplin, cenderung lebih stabil dan dapat bertahan dalam jangka panjang.
 
Dengan menerapkan disiplin finansial dan belajar untuk konsisten menabung, generasi muda dapat memiliki pondasi yang kuat untuk mencapai kebebasan finansial.

Makna kebebasan finansial

Kebebasan finansial tidak selalu berarti memiliki uang dalam jumlah besar, melainkan kemampuan untuk mengelola keuangan sesuai dengan tujuan hidup, tanpa terbebani oleh tekanan finansial.
 
“Kami mengajak Gen-Z untuk mempertimbangkan kembali perspektif mereka tentang kekayaan dan kebebasan finansial. Melalui investasi berkelanjutan,” kata Dody dalam keterangan tertulis, Senin, 18 November 2024.
 
Dengan begitu, menurut Dody, Gen-Z bisa meraih kemapanan finansial yang tidak hanya memberi manfaat pada masa muda, tapi juga di masa depan mereka
 
“Terlebih di tengah ketidakpastian market yang saat ini sedang volatile, memiliki pola pikir investasi jangka panjang dan disiplin sangatlah penting. mengajak masyarakat untuk memperhatikan kekayaan yang dicapai secara perlahan melalui pengelolaan keuangan yang disiplin dan strategi investasi yang matang akan cenderung lebih stabil serta dapat bertahan dalam jangka panjang,” ujar dia.
 
Dalam kondisi pasar yang penuh volatilitas, investor harus memilih produk investasi yang menawarkan transparansi tinggi dalam portofolio investasinya. IPOT Fund melalui Reksa Dana Saham Power Fund Series (PFS) menawarkan keterbukaan pada bobot saham-saham underlying dalam setiap produk investasi yang ditawarkan, agar para investor bisa memahami betul risiko dan potensi keuntungan di dalamnya.
 
Transparansi ini memberikan kepercayaan bagi investor untuk membuat keputusan yang cepat dan akurat saat muncul momentum di pasar.
 
“Transparansi dalam pengelolaan portofolio investasi kami adalah komitmen yang senantiasa kami pegang. Dengan memberikan akses yang jelas terhadap aset-aset yang mendasari investasi, kami ingin investor dapat mengambil keputusan yang tepat, bahkan saat kondisi pasar tidak menentu,” kata Dody.
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
dan follow Channel WhatsApp Beritafintech.com

TRENDING  Presiden Perintahkan Jajaran Menteri Hati-hati Buat Kebijakan Finansial

(ANN)

Similar Posts

  • Amerika Serikat Persoalkan Sistem QRIS, Bank Indonesia Buka Suara

    Bank Indonesia akhirnya buka suara terkait sistem QRIS yang diperkenalkan di Amerika Serikat. Sistem ini menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat, namun Bank Indonesia menegaskan bahwa QRIS merupakan langkah positif untuk meningkatkan efisiensi transaksi keuangan. Meskipun masih banyak yang mempertanyakan keamanan dan privasi data dalam penggunaan QRIS, Bank Indonesia yakin bahwa sistem ini akan memberikan manfaat besar bagi perkembangan ekonomi digital di Tanah Air. Selain itu, Bank Indonesia juga berkomitmen untuk terus mengawasi dan mengembangkan sistem QRIS agar dapat memberikan layanan yang lebih baik kepada masyarakat

  • Pelaku Fintech P2P Perluas Kolaborasi untuk Perluas Literasi Keuangan

    Jakarta: Perluasan inklusi keuangan dan akses layanan keuangan yang semakin masif, hal ini nyatanya kurang dibarengi dengan literasi keuangan yang memadai. Hal ini terlihat dari gap literasi dan inklusi keuangan. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024, yang menyebut capaian indeks literasi keuangan masyarakat 65,43 persen dan indeks inklusi keuangan sebesar 75,02 persen…

  • Hanwha Life Umumkan Rencana Akuisisi 40% Saham Bank Nobu

    Hanwha Life baru-baru ini mengumumkan rencana akuisisi saham sebesar 40% dari Bank Nobu. Langkah ini disambut dengan antusias oleh para investor dan pelaku pasar, yang melihat potensi kerjasama antara perusahaan asuransi dan lembaga keuangan dapat memberikan manfaat besar bagi kedua belah pihak. Dengan adanya akuisisi ini, Hanwha Life diharapkan dapat memperluas jangkauan layanan keuangan mereka dan meningkatkan portofolio investasi mereka. Keputusan ini juga menunjukkan komitmen Hanwha Life dalam mengembangkan bisnisnya di Indonesia dan mendukung pertumbuhan ekonomi negara

  • Langgar keimigrasian, OJK cabut status terdaftar fintech DanaKita

    Langgar keimigrasian adalah pelanggaran serius yang dapat berdampak pada status imigrasi seseorang. Hal ini bisa menyebabkan pencabutan izin tinggal atau bahkan deportasi.

    Oleh karena itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengambil langkah tegas dengan mencabut status terdaftar fintech DanaKita. Keputusan ini diambil setelah DanaKita terbukti melanggar regulasi imigrasi dan tidak mematuhi ketentuan yang berlaku.

    Langkah ini merupakan peringatan bagi seluruh pelaku usaha fintech untuk mematuhi aturan dan regulasi yang ada. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan sangat penting dalam menjaga integritas industri keuangan dan melindungi konsumen dari risiko yang tidak diinginkan

  • Ini empat metode kolaborasi yang bisa dilakukan bank dan fintech

    1. Integrasi Teknologi
    Bank dan fintech dapat bekerja sama dalam mengintegrasikan teknologi yang dimiliki masing-masing untuk meningkatkan layanan kepada nasabah. Dengan kolaborasi ini, kedua pihak dapat saling memanfaatkan keunggulan teknologi yang dimiliki untuk memberikan pengalaman transaksi yang lebih efisien dan aman.

    2. Pengembangan Produk Bersama
    Bank dan fintech juga dapat bekerja sama dalam mengembangkan produk-produk finansial baru yang dapat memenuhi kebutuhan nasabah secara lebih baik. Dengan kolaborasi ini, kedua pihak dapat saling berbagi pengetahuan dan pengalaman untuk menciptakan produk-produk inovatif yang dapat memberikan nilai tambah bagi para nasabah.

    3. Peningkatan Keamanan Transaksi
    Kolaborasi antara bank dan fintech juga bisa dilakukan dalam meningkatkan keamanan transaksi finansial online. Dengan saling berbagi informasi dan teknologi keamanan, kedua pihak dapat bekerja sama dalam melindungi data-data sensitif para nasabah dari ancaman cybercrime.

    4. Edukasi Finansial
    Bank dan fintech juga bisa bekerjasama dalam memberikan edukasi finansial kepada masyarakat agar lebih memahami pentingnya pengelolaan keuangan yang sehat. Melalui kolaborasi ini, kedua pihak bisa menyediakan program-program edukatif tentang investasi, tabungan, atau manajemen risiko kepada para nasabah mereka sehingga mereka bisa mengambil keputusan finansial dengan lebih bijaksana

  • Fintech Ini Perluas Jangkauan Penyaluran Pembiayaan ke Sektor Konstruksi

    Fintech terus mengembangkan layanannya dengan memperluas jangkauan penyaluran pembiayaan ke sektor konstruksi. Hal ini menjadi kabar baik bagi pelaku usaha di sektor tersebut, karena mereka dapat dengan mudah mendapatkan akses pembiayaan yang dibutuhkan untuk mengembangkan proyek-proyek konstruksi mereka. Dengan adanya inovasi ini, diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan memberikan dampak positif bagi perkembangan industri konstruksi di Indonesia