Strategi Fintech Lending Sektor Produktif Tekan TWP90 Agar Tak Membengkak

Strategi Fintech Lending Sektor Produktif Tekan TWP90 Agar Tak Membengkak

ILUSTRASI. Pengguna sosial media mengamati iklan platform pinjaman online alias pinjol di Tangerang Selatan, Minggu (24/9/2023). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan ada 21 fintech peer to peer (P2P) lending yang memiliki tingkat risiko kredit macet secara agregat.

Beritafintech.com – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan ada 21 fintech peer to peer (P2P) lending yang memiliki tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 di atas 5% per November 2024.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, mengatakan jumlahnya didominasi oleh penyelenggara yang fokus di sektor produktif.

Terkait hal itu, sejumlah fintech lending di sektor produktif yang memiliki TWP90 di bawah 5% mengungkapkan strategi dalam menekan tingkat kredit macet agar tak membengkak.

Misalnya, fintech peer to peer (P2P) lending PT Akselerasi Usaha Indonesia yang terus menerapkan asessment pinjaman secara prudent. Dengan demikian, Group CEO & Co-Founder Akseleran Ivan Nikolas Tambunan menyebut upaya itu juga yang membuat TWP90 berada di bawah 1% sampai saat ini.

Baca Juga: OJK Catat Kenaikan Porsi Pembiayaan Fintech ke Sektor Produktif per November 2024

Dalam memberikan pembiayaan ke sektor produktif, Ivan mengungkapkan perusahaan juga berupaya menganalisis cashflow calon peminjam hingga kapasitas cash flow yang bisa menopang pinjaman. Ditambah juga mengecek credit history calon peminjam.

TRENDING  Porsi Pembiayaan Produktif Fintech P2P Lending Wajib 40%-50% Mulai Tahun Ini

“Hal itu yang membuat kami bisa memitigasi risiko kredit dengan baik secara konsisten, sehingga dari 2020 TWP90 kami stabil di bawah 1%,” ucapnya kepada Kontan, Rabu (8/1).

Sementara itu, fintech P2P lending Modalku menyatakan sejumlah strategi yang diterapkan selama ini berkontribusi besar untuk menekan tingkat TWP90 tak membengkak. Bahkan, upaya yang dilakukan telah membuat TWP90 Modalku menjadi membaik. Tercatat, TWP90 Modalku per 8 Januari 2024 berada di level 1,47%. Angka itu mengalami perbaikan, jika dibandingkan posisi November 2024 yang sebesar 3,9%. 

Country Head Modalku Indonesia Arthur Adisusanto menyebut hal itu mencerminkan hasil positif dari upaya berkelanjutan Modalku dalam mengelola risiko kredit secara lebih efektif.

“Mulai dari penerapan proses penilaian kredit yang lebih ketat hingga manajemen risiko yang lebih baik,” ucapnya kepada Kontan, Rabu (8/1).

Baca Juga: AFPI Optimistis Penyaluran Pembiayaan Fintech Lending ke Produktif Terus Meningkat

Lebih lanjut, Arthur melihat tingkat wanprestasi atau gagal bayar lebih bergantung pada faktor-faktor yang memengaruhi usaha para borrower, seperti manajemen keuangan, cash flow, dan kapasitas pembayaran yang terlepas dari usia. 

Dia menyampaikan Modalku akan terus berupaya memastikan proses penilaian risiko yang komprehensif untuk meminimalkan potensi kredit macet di semua kategori borrower.

Selain itu, untuk menekan angka TWP90, Modalku juga mengutamakan kesehatan portofolio, sehingga secara konsisten menerapkan prinsip kehati-hatian (prudential norm) dan manajemen risiko dalam pendanaan sebagai strategi mitigasi risiko. 

“Kami juga menyempurnakan kriteria penilaian kelayakan penerima dana secara berkala melalui kalibrasi berkala berdasarkan data historis penyaluran dan pengembalian, berlandaskan prinsip Character, Capacity, Capital, Condition, Collateral (5C) sesuai SEOJK Nomor 19 Tahun 2023,” tuturnya.

TRENDING  Zurich Family Gen Assurance Hadir untuk Stabilitas Finansial Hingga Generasi ke-3

Baca Juga: Pengamat: Pembiayaan Fintech Lending di Sektor Produktif Berisiko Tinggi

Arthur menjelaskan peningkatan angka TWP90 dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pada sektor produktif, Modalku memahami bahwa bisnis bersifat dinamis dan kerap menghadapi tantangan yang memengaruhi kinerja UMKM. Salah satu tantangannya, seperti perubahan regulasi atau perlambatan ekonomi global maupun nasional yang dapat menurunkan daya beli masyarakat.

Dengan demikian, berpotensi mengganggu kestabilan cash flow bisnis UMKM. Selain itu, faktor lain seperti kurang ketatnya praktik penilaian kredit juga dapat berdampak pada penyaluran kredit yang kurang tepat sasaran, sehingga pada akhirnya berkontribusi terhadap meningkatnya angka TWP90.

Sebagai informasi, OJK mencatat TWP90 industri fintech lending per November 2024 sebesar 2,52%. Adapun TWP90 per November 2024 tercatat membaik dari posisi November 2023 yang sebesar 2,81%. Namun, TWP90 per November 2024 terbilang memburuk, jika dibandingkan dengan posisi Oktober 2024 yang sebesar 2,37%. 

Selanjutnya: Kemenhub Belum Tentukan Kebijakan Penurunan Tarif Tiket Pesawat untuk Lebaran 2025

Menarik Dibaca: Galeri Nasional Hadirkan Pameran Tribut untuk Hardi, Berlangsung hingga 26 Januari

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Check Also

Tak Cuma Wacana, Ini 5 Kebiasaan Finansial agar Keuangan Lebih Aman

Tak Cuma Wacana, Ini 5 Kebiasaan Finansial agar Keuangan Lebih Aman

Salah satu kebiasaan finansial yang penting adalah memiliki anggaran bulanan yang jelas dan terencana. Dengan memiliki anggaran, kita dapat mengontrol pengeluaran dan memastikan bahwa kita tidak menghabiskan uang lebih dari yang seharusnya. Selain itu, menyisihkan sebagian pendapatan untuk ditabung juga merupakan kebiasaan penting agar keuangan lebih aman. Dengan menabung, kita dapat memiliki cadangan dana darurat untuk menghadapi situasi tak terduga. Selain itu, membiasakan diri untuk berinvestasi juga merupakan langkah penting dalam menjaga keuangan agar lebih aman. Dengan berinvestasi, kita dapat meningkatkan nilai aset dan menciptakan sumber pendapatan pasif. Selain itu, menjaga kesehatan finansial juga termasuk dalam kebiasaan penting agar keuangan lebih aman. Hal ini meliputi pembayaran tagihan tepat waktu, menghindari utang yang tidak perlu, serta mempertimbangkan risiko finansial sebelum membuat keputusan besar. Terakhir, selalu melakukan evaluasi terhadap kondisi finansial secara berkala juga merupakan kebiasaan penting agar keuangan lebih aman. Dengan melakukan evaluasi secara rutin, kita dapat mengetahui apakah ada perubahan dalam kondisi finansial dan membuat penyesuaian jika diperlukan. Dengan menerapkan kelima kebiasaan ini secara konsisten, diharapkan kita dapat menjaga stabilitas dan keselamatan keuangan di masa depan

%site% | NEWS