Mengawali Tahun 2025, Mulai Ada Tanda-Tanda Penurunan Bunga Kredit Bank

Mengawali Tahun 2025, Mulai Ada Tanda-Tanda Penurunan Bunga Kredit Bank

ILUSTRASI. Kinerja Perbankan: Layanan nasabah du Bank Central Asia, Depok, Jawa Barat, Selasa (17/12). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja intermediasi perbankan tumbuh positif dengan profil risiko yang terjaga. Pada Oktober 2024, pertumbuhan kredit masih melanjutkan double digit growth sebesar 10,92 persen yoy (September 2024: 10,85 persen) menjadi Rp7.656,90 triliun. KONTAN/Baihaki/17/12/2024

Beritafintech.com – JAKARTA. Mengawali tahun 2025, bank tampaknya masih kesulitan untuk menurunkan bunga kredit. Namun, mulai ada perubahan kecil dari Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) yang ditetapkan pada awal tahun ini.

Ambil contoh, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA yang menunjukan ada penurunan SBDK untuk beberapa segmen. Di antara, segmen kredit non UMKM untuk ritel dan kredit UMKM yang untuk segmen mikro.

Baca Juga: Dinilai Defensif, Cermati Rekomendasi Saham BBCA Saat Bursa Bergejolak

Untuk kredit non UMKM untuk ritel per 31 Desember 2024, SBDK yang ditetapkan BCA berada di level 8,30% dari periode bulan sebelumnya yang ada di level 8,31%. Sementara, kredit mikro berada di level 8,22% dari bulan sebelumnya di level 8,23%.

Di sisi lain, BCA juga memiliki rata-rata SBDK yang paling rendah di antara sepuluh bank besar lainnya. Sebab, rata-rata SBDK BCA berada di level 8,27%, di saat beberapa bank lainnya memiliki rata-rata SBDK di level 9% hingga 11%.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengungkapkan, pihaknya memang senantiasa berupaya menjaga tingkat suku bunga kredit pada level yang dapat diterima oleh pasar.

TRENDING  Mandiri Investment Forum 2024 Ajak Investor Terus Berinvestasi di Masa Transisi

Alhasil, secara keseluruhan, SBDK BCA menjadi salah satu yang paling kompetitif. 

Baca Juga: Goncangan Melanda Industri Keuangan, BBCA Masih Kuat Bertahan

Ia bilang dalam menentukan kebijakan suku bunga BCA tentu mencermati perkembangan suku bunga ke depan, parameter makroekonomi lainnya, kondisi likuiditas sektor perbankan, hingga situasi pasar terkait supply dan demand yang ada.

Hanya saja, ia mengingatkan bahwa SBDK merupakan indikasi suku bunga efektif terendah untuk kredit yang mencerminkan harga pokok dana untuk kredit (cost of fund), biaya overhead (overhead cost), dan margin keuntungan yang dikeluarkan oleh Bank untuk kegiatan penyaluran kredit.

Oleh karenanya, Hera bilang SBDK belum memperhitungkan komponen estimasi premi risiko yang besarnya tergantung dari penilaian Bank terhadap risiko untuk masing-masing debitur atau kelompok debitur. 

“Dengan demikian, besarnya suku bunga kredit yang dikenakan kepada debitur belum tentu sama dengan SBDK,” ujar Hera, Sabtu (11/1).

Baca Juga: Rasio Kredit Perbankan Terus Membaik, Ini Penyebabnya

Check Also

OJK Terbitkan Beleid Baru Untuk Perbolehkan Bank Lakukan Pengalihan Piutang

OJK Terbitkan Beleid Baru Untuk Perbolehkan Bank Lakukan Pengalihan Piutang

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru-baru ini menerbitkan beleid baru yang memungkinkan bank untuk melakukan pengalihan piutang. Keputusan ini disambut dengan antusias oleh para pelaku industri keuangan, karena diharapkan dapat meningkatkan likuiditas dan mengurangi risiko kredit bagi bank-bank di Indonesia. Dengan adanya regulasi baru ini, diharapkan akan terjadi peningkatan dalam efisiensi pengelolaan piutang serta memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional

%site% | NEWS