RUPS Sebentar Lagi, Ini Kisi-Kisi Dividen Bank Syariah Indonesia (BRIS)

RUPS Sebentar Lagi, Ini Kisi-Kisi Dividen Bank Syariah Indonesia (BRIS)

ILUSTRASI. Peningkatan Laba: Dari kiri: Direktur Sales & Distribution BSI Anton Sukarna, Plt Direktur Utama BSI Bob T Ananta, Direktur Wholesale Transaction Banking Zaidan Novari dan Direktur Risk Management Grandhis H. Harumansyah berbincang sebelum konferensi pers di Jakarta, Rabu (30/4/2025). Bank Syariah Indonesia mencatat peningkatan laba bersih pada Triwulan I 2025 menjadi Rp1,88 Triliun, tumbuh 10% secara year on year (YoY). Hal tersebut disebabkan oleh transformasi layanan digital yang mendorong peningkatan berbasis fee (fee based income/FBI). KONTAN/Baihaki/30/4/2025

Beritafintech.com – JAKARTA. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) akan segera menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPS) pada 16 Mei 2025 mendatang. Salah satu agenda yang bakal dinantikan oleh investor tentunya adalah pembagian dividen dari bank syariah terbesar di tanah air ini.

Bukan tanpa alasan, BSI telah mencetak laba bersih pada tahun 2024 senilai Rp 7,01 triliun atau naik hingga 22,83% secara tahunan (YoY). Di sisi lain, bank-bank pelat merah yang telah mengumumkan dividen beberapa waktu lalu juga memiliki rasio dividen yang tinggi.

Menanggapi hal tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama BSI Bob Tyasika Ananta tak banyak berkomentar terkait berapa dividen yang akan dibagikan ke BSI. Ia hanya bilang bahwa kemungkinan besar rasio dividen yang akan dibagikan tak berbeda jauh dengan tahun sebelumnya.

Baca Juga: Strategi Bank Syariah Indonesia (BRIS) untuk Perkuat Kualitas Dana Pihak Ketiga

“Tunggu tanggal mainnya, tapi ya kira-kira kemudian paling nggak di kisaran tahun lalu. Tapi ya tergantung nanti keputusan RUPS,” ujar Bob ketika ditemui, Senin (5/5).

TRENDING  Nasabah Wajib Cek Kurs Dollar-Rupiah di Bank Mandiri pada Senin (13/5)

Sebagai informasi, rasio dividen BSI sebelumnya sebesar 15% dari laba bersih tahun buku 2023. Jika memiliki rasio dividen yang sama, maka besaran dividen yang kemungkinan akan dibagikan oleh BSI sebanyak Rp 1,05 triliun.

Baca Juga: Bank Syariah Indonesia (BSI) Catat Pembiayaan SME Tumbuh 11,79% per Februari 2025

Seperti diketahui, jumlah saham BSI yang beredar per April 2025 tercatat sebanyak 46,12 miliar saham. Oleh karenanya, dengan jumlah tersebut, dividen per saham dari BSI kira-kira senilai Rp 22,7.

Di sisi lain, BRIS juga menjadi satu-satunya bank pelat merah yang harganya menguat sejak awal tahun. Jika melihat secara year to date, BRIS telah naik 5,86% pada akhir perdagangan Senin (5/5) menjadi Rp 2.890 per saham.

Baca Juga: BSI Perkuat Ekosistem Pasar untuk Transaksi Ritel UMKM di Pasar Tradisional

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • Authors

    Ketika malam tiba, bulan bersinar terang di langit gelap. Angin berbisik lembut di telinga, mengantar aroma bunga yang harum. Di tengah hening malam, aku merenung tentang arti kehidupan dan tujuan hidupku. Apakah semua ini hanya sebuah permainan takdir atau ada yang lebih besar di balik semua ini? Aku terus mencari jawaban, meski kadang-kadang terasa seperti aku berjalan sendirian dalam kegelapan

  • Bank Digital Tahan Suku Bunga Deposito Meski BI Rate Naik

    Bank Digital Tahan Suku Bunga Deposito Meski BI Rate Naik

    Meskipun Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan, namun bank digital tetap mampu bertahan dengan menawarkan suku bunga deposito yang kompetitif. Hal ini membuat nasabah semakin tertarik untuk menyimpan dan mengalokasikan dana mereka di bank digital, karena keuntungan yang bisa didapatkan lebih besar dibandingkan dengan bank konvensional.

    Dengan adanya peningkatan BI rate, banyak nasabah yang khawatir akan terjadi kenaikan suku bunga deposito di berbagai bank. Namun, bank digital justru memberikan kepastian bahwa suku bunga deposito mereka tetap stabil dan tidak ikut naik mengikuti kebijakan BI. Hal ini tentu menjadi kabar baik bagi para nasabah yang ingin mendapatkan hasil investasi yang optimal tanpa harus khawatir terkena dampak kenaikan suku bunga secara tiba-tiba.

    Selain itu, kemudahan akses melalui platform digital juga menjadi daya tarik tersendiri bagi nasabah untuk memilih menyimpan dana mereka di bank digital. Dengan proses transaksi yang cepat dan mudah serta layanan customer service yang responsif, membuat pengalaman bertransaksi semakin nyaman dan efisien.

    Dengan begitu, Bank Digital berhasil mempertahankan minat nasabahnya meskipun kondisi pasar sedang tidak stabil akibat kenaikan BI rate. Keberhasilan tersebut tentu menjadi bukti bahwa inovasi dalam dunia perbankan semakin dibutuhkan untuk dapat bersaing secara sehat dan memberikan nilai tambah bagi para nasabahnya

  • Berinvestasi dengan kecerdasan buatan

    Berinvestasi dengan kecerdasan buatan dapat memberikan keuntungan yang besar bagi para investor. Dengan menggunakan teknologi canggih ini, kita dapat menganalisis data pasar secara lebih akurat dan cepat, sehingga memungkinkan kita untuk membuat keputusan investasi yang lebih tepat dan menguntungkan. Selain itu, kecerdasan buatan juga dapat membantu kita dalam mengelola risiko investasi dengan lebih baik, sehingga meningkatkan potensi profitabilitas portofolio investasi kita. Dengan demikian, berinvestasi dengan kecerdasan buatan merupakan langkah cerdas bagi para investor yang ingin meraih kesuksesan di dunia finansial

  • Perusahaan Fintech Akan Banding Putusan KPPU Soal Bunga Fintech

    Perusahaan fintech telah menyatakan akan mengajukan banding terhadap putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) terkait masalah bunga yang dikenakan oleh perusahaan fintech. Keputusan KPPU tersebut dinilai tidak adil dan merugikan perusahaan fintech, sehingga mereka memutuskan untuk melawan putusan tersebut demi keberlangsungan bisnis mereka. Hal ini menjadi sorotan publik karena menunjukkan betapa pentingnya regulasi yang adil dalam industri fintech agar tidak merugikan pihak-pihak yang terlibat

  • Ini Kata AFPI Soal Adanya Ketentuan Pembatasan Pinjaman Borrower Fintech Lending

    Menurut Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), ketentuan pembatasan pinjaman bagi para peminjam fintech lending merupakan langkah yang sangat penting untuk melindungi konsumen. Dengan adanya aturan ini, diharapkan dapat mengurangi risiko terjadinya overborrowing dan meminimalisir potensi terjerumus ke dalam jerat utang yang tidak terkendali. AFPI juga menegaskan bahwa regulasi ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem fintech lending yang sehat dan berkelanjutan, sehingga dapat memberikan manfaat maksimal bagi semua pihak yang terlibat dalam industri ini

  • Waspada! Modus pinjol ilegal terbaru: Ditransfer dana tanpa pengajuan pinjaman

    Beritafintech.com – JAKARTA. Keberadaan fintech ilegal atau yang lebih dikenal dengan pinjol ilegal memang saat ini masih marak ditemukan. Bahkan, mereka memiliki beberapa modus yang bisa membuat masyarakat terjebak dalam jeratan pinjol ilegal. Ketua Tim Satgas Waspada Investasi (SWI) OJK Tongam L. Tobing mengatakan, beberapa pinjol ilegal ini menawarkan banyak kemudahan pinjaman untuk masyarakat. Yang terbaru,…