AdaKami Sambut Positif Aturan OJK yang Batasi Pinjaman di 3 Fintech

AdaKami Menilai Pinjol Ilegal Berdampak Negatif bagi Masyarakat dan Fintech Lending

ILUSTRASI. AdaKami menilai keberadaan pinjaman online (pinjol) ilegal membawa dampak negatif bagi masyarakat dan industri.

Beritafintech.com – JAKARTA. Fintech peer to peer (P2P) lending PT Pembiayaan Digital Indonesia (AdaKami) menilai keberadaan pinjaman online (pinjol) ilegal membawa dampak negatif bagi masyarakat dan industri.

Brand Manager AdaKami Jonathan Kriss mengatakan kehadiran pinjol ilegal masih menjadi tantangan, khususnya bagi masyarakat yang memiliki kebutuhan untuk mengakses fasilitas pinjaman atau kredit non perbankan. 

Dia menyebut masyarakat kerap menjadi korban karena pinjol ilegal tidak tunduk pada aturan yang berlaku. 

“Dalam beberapa kasus, pelaku pinjol ilegal juga melakukan tindakan pencatutan atau mengatasnamakan fintech lending legal untuk memuluskan langkah mereka. Pencatutan itu bisa berupa pembuatan website, alamat e-mail, hingga nomor telepon palsu, yang mengatasnamakan atau menyerupai milik fintech lending legal. Ada juga yang menawarkan pinjaman lewat pesan atau aplikasi pesan instan yang sebenarnya tidak dilakukan oleh penyelenggara fintech lending legal karena memang dilarang oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” ungkapnya kepada Kontan, Jumat (16/2).

Baca Juga: Sejumlah Fintech Lending Sebut Keberadaan Pinjol Ilegal Bawa Dampak Negatif

Untuk mengatasi dampak pinjol ilegal, Jonathan menerangkan AdaKami telah melakukan sejumlah langkah. Salah satunya, dengan melaporkan secara berkala temuan pencatutan platform oleh pinjol ilegal kepada Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). 

Selain itu, Jonathan mengatakan upaya lain yang terus digencarkan, yakni dengan melakukan edukasi atau sosialisasi terkait pemahaman dasar mengenai fintech lending, termasuk soal pinjol ilegal kepada masyarakat. 

TRENDING  Hanwha Life Akuisisi Bank Nobu, Bagaimana Nasib Rencana Merger dengan Bank MNC?

“Sosialisasi dan edukasi tersebut dilakukan dengan beberapa kegiatan tatap muka lewat kunjungan ke beberapa universitas di Indonesia, seperti yang kami lakukan di Politeknik Negeri Medan dan lainnya. Kami juga melakukan edukasi dengan menyebarkan informasi lewat media online, radio, cetak, dan media sosial berupa unggahan, sesi live, dan lainnya,” kata Jonathan.

Sementara itu, Jonathan menyampaikan kinerja penyaluran pendanaan Adakami masih sejalan dengan rencana bisnis perusahaan dengan nilai per 15 Februari 2024 mencapai lebih dari Rp 1,8 triliun.

Baca Juga: AFPI: Pinjol Ilegal Bisa Ciptakan Persepsi Negatif ke Industri Fintech Lending

Satgas PASTI telah memblokir 233 entitas pinjaman online (pinjol) ilegal di sejumlah website maupun aplikasi. Selain itu, juga ada 78 konten penawaran pinjaman pribadi (pinpri), yang berpotensi merugikan masyarakat dan melanggar ketentuan penyebaran data pribadi. Secara total, pemblokiran penawaran pinjaman, baik pinjol ilegal maupun pinpri mencapai 311.

Adapun sejak 2017 hingga 31 Januari 2024, Satgas telah menghentikan 8.460 entitas keuangan ilegal. Jumlah itu terdiri dari 1.218 entitas investasi ilegal, 6.991 entitas pinjaman online ilegal maupun pinpri, dan 251 entitas gadai ilegal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • Sumber Pendanaan Fintech Lending Masih Didominasi Perbankan per November 2025

    Menurut data terbaru yang dirilis pada bulan November 2025, sumber pendanaan untuk industri fintech lending masih didominasi oleh perbankan. Hal ini menunjukkan bahwa kerjasama antara perbankan dan platform fintech lending masih menjadi pilihan utama dalam memperoleh dana. Meskipun demikian, terdapat juga peningkatan minat dari investor institusi maupun individu yang mulai melirik potensi pasar fintech lending sebagai alternatif investasi yang menjanjikan. Dengan perkembangan yang pesat di industri ini, dapat diprediksi bahwa peran perbankan dan investor lainnya akan semakin berkembang dalam mendukung pertumbuhan sektor fintech lending di masa depan

  • Generasi Muda Diajak Sehat Finansial

    Jakarta: OCBC NISP Financial Fitness Index (FFI) 2023 menunjukkan skor kesehatan finansial generasi muda di Indonesia terus meningkat selama tiga tahun terakhir. Hal itu dapat terjadi meskipun baru saja keluar dari situasi pandemi covid-19.  OCBC NISP FFI 2023 adalah riset tahunan yang menggambarkan kondisi kesehatan finansial generasi muda Indonesia. Skor tahun ini menunjukkan angka 41,16

  • World Bank Payment Systems

    Perkembangan sistem pembayaran di Indonesia semakin pesat, dengan adopsi teknologi digital yang semakin luas. Bank Dunia telah memberikan dukungan dalam meningkatkan efisiensi dan keamanan sistem pembayaran di negara ini. Dengan berbagai inovasi dan regulasi yang diterapkan, Indonesia siap bersaing dalam pasar global dan mempercepat pertumbuhan ekonomi

  • Berkat Finansial Model, Perusahaan Bisa Berkembang Lebih Cepat!

    Dengan menerapkan Berkat Finansial Model, perusahaan dapat mengalami pertumbuhan yang lebih cepat dan berkelanjutan. Model ini membantu perusahaan untuk mengelola keuangan dengan lebih efisien dan efektif, sehingga memungkinkan mereka untuk fokus pada pengembangan bisnis dan inovasi. Dengan adanya Berkat Finansial Model, perusahaan dapat merencanakan langkah-langkah strategis yang tepat untuk mencapai tujuan keuangan mereka dengan lebih mudah. Selain itu, model ini juga membantu perusahaan dalam mengidentifikasi potensi risiko dan peluang baru yang dapat mempercepat pertumbuhan bisnis mereka. Dengan demikian, Berkat Finansial Model menjadi kunci utama bagi kesuksesan dan kemajuan perusahaan di era digital ini

  • Pengamat Nilai Pembiayaan Fintech Lending Berpotensi Tumbuh Tinggi pada 2026

    Menurut pengamat industri, nilai pembiayaan fintech lending diprediksi akan terus tumbuh tinggi hingga tahun 2026. Hal ini didorong oleh perkembangan teknologi yang semakin canggih dan meningkatnya minat masyarakat terhadap layanan pinjaman online. Dengan adanya kemudahan akses dan proses yang cepat, fintech lending menjadi pilihan utama bagi banyak orang dalam memenuhi kebutuhan finansial mereka. Selain itu, regulasi yang semakin mendukung juga turut berperan dalam pertumbuhan industri ini. Dengan potensi pertumbuhan yang besar, para pelaku bisnis di bidang fintech lending perlu terus mengikuti perkembangan pasar dan memperhatikan kebutuhan konsumen agar dapat bersaing secara sehat dan berkelanjutan di masa depan

  • 3 Gaya Gen Z Atur Finansial

    Generasi Z saat ini semakin cerdas dalam mengatur keuangan mereka. Mereka tidak hanya fokus pada gaya hidup instant, namun juga memikirkan masa depan mereka. Dengan adanya teknologi yang semakin canggih, generasi Z dapat dengan mudah mengelola dan mengontrol keuangan mereka melalui aplikasi finansial yang tersedia. Mereka juga lebih aware akan pentingnya investasi dan tabungan untuk mencapai tujuan keuangan mereka di masa depan