Sejumlah Bank Masih Catat Rasio Kredit Bermasalah Tinggi

Sejumlah Bank Masih Catat Rasio Kredit Bermasalah Tinggi

ILUSTRASI. Pelayanan nasabah Bank Ina (Dok/Bank Ina)

Beritafintech.com – JAKARTA. Kualitas kredit industri perbankan masih terjaga di tengah potensi tekanan ekonomi.

Mengutip data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Selasa (7/7/2026), rasio kredit bermasalah alias non performing loan (NPL) industri perbankan pada Mei 2026 tetap berada di level 2,17%, sama seperti April 2026.

Sementara itu, NPL net juga stabil di 0,84%.

Meski demikian, ada beberapa bank yang masih mencatatkan NPL tinggi. Per Maret 2026, PT Bank Amar memiliki rasio NPL gross 8,14%. Rasio ini menurun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 10,89%.

Baca Juga: Bank KBMI 2 Ramai Bidik Naik Kelas ke KBMI 3, Penguatan Modal Jadi Penentu

PT KB Bank memiliki rasio NPL naik dari 9,10% pada Maret 2025 menjadi 9,93%. NPL Bank of India Indonesia (BSWD) mencapai 5,4%, turun dari 7,09 pada Maret 2025.

Beberapa bank lain juga memiliki NPL mendekati level 5%. Rasio NPL Bank Raya mencapai 4,81%, Bank Banten 4,50%, Bank Sahabat Sampoerna 4,51%, Bank Mayapada 3,6%, Bank MNC 3,23%, dan Bank INA 3,13%.

PT Bank INA Perdana Tbk memperkirakan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) berpotensi meningkat seiring perlambatan ekonomi. Meski begitu, perseroan menilai kondisi tersebut masih dapat dikelola melalui sejumlah langkah internal.

Direktur Utama PT Bank INA, Henry Koenaifi, mengatakan NPL merupakan bagian yang tak terpisahkan dari bisnis perbankan. Menurutnya, perlambatan ekonomi yang terjadi saat ini diperkirakan akan memberi tekanan terhadap kualitas aset.

“Secara umum NPL adalah napas sehari-hari institusi keuangan. Kondisi ekonomi sedikit mengalami perlambatan sehingga pengaruh terhadap NPL diprediksi akan meningkat,” ujar Henry kepada Kontan, Kamis (9/7).

TRENDING  Bahana TCW Investment Catatkan AUM Rp 73,2 Triliun pada Akhir 2024

Baca Juga: Digitalisasi Dorong Efisiensi SDM Perbankan

Karena itu, Henry menyebut perlu melihat kondisi internal untuk menentukan berbagai inisiatif yang dapat memperbaiki kinerja dan menjaga kualitas aset.

Ia menambahkan, hingga saat ini belum ada sektor kredit tertentu yang secara spesifik dinilai paling berisiko mengalami pemburukan kualitas aset. Namun, potensi tekanan tetap dapat muncul di berbagai sektor.

“Tidak ada yang spesifik, namun sana-sini ada saja yang muncul,” katanya.

Untuk menjaga kualitas aset dan menekan NPL hingga akhir tahun, Bank INA akan berfokus meningkatkan dana murah atau current account saving account (CASA), menyalurkan kredit pemilikan rumah (KPR) ke segmen menengah, serta mengembangkan sejumlah produk yang dinilai memiliki risiko lebih rendah.

Berdasarkan pemberitaan Kontan sebelumnya, Presiden Direktur KB Bank Kunardy Darma Lie mengatakan, tingginya NPL masih dipengaruhi penataan kualitas portofolio kredit, termasuk warisan lama.

Sehingga KB Bank tetap menerapkan prinsip kehati-hatian agar profil risiko tercermin konservatif dan transparan.

Baca Juga: Bank Digital Bidik Gen Z, Tak Lagi Sekadar Andalkan Tabungan

SVP Finance Amar Bank David Wirawan menilai, NPL gross tidak tepat menjadi satu-satunya acuan kualitas aset untuk bank digital di segmen mikro tanpa agunan.

Menurutnya, NPL net Amar Bank yang turun menjadi 0,86% menjadi representatif karena mempertimbangkan risiko sektor UMKM yang lebih tinggi.

Adapun Direktur Bank Sahabat Sampoerna Henky Suryaputra menyebut, NPL tinggi dipengaruhi besarnya paparan kredit ke sektor UMKM, yakni 58%. Namun, rasio NPL tersebut belum menghambat ekspansi kredit baru, karena rasio NPL net masih di level 2,7%.

TRENDING  Bosan Jadi Karyawan Terus? Yuk Belajar Jadi Pengusaha

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • Ini Langkah Bank DKI Meningkatkan Implementasi ESG

    Bank DKI telah melakukan langkah-langkah yang signifikan dalam meningkatkan implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG) di perusahaannya. Dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan, Bank DKI telah berhasil menciptakan keberlanjutan dalam bisnisnya. Langkah-langkah ini tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham dan stakeholders lainnya. Dengan komitmen yang kuat terhadap ESG, Bank DKI menjadi contoh yang baik bagi perusahaan-perusahaan lain dalam menerapkan praktik-praktik berkelanjutan demi keberlangsungan bisnis jangka panjang

  • Fintech Waspadai Kejahatan Digital dari Maraknya AI

    Fintech harus waspada terhadap kejahatan digital yang semakin marak dengan perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI). AI telah memberikan kemudahan dalam bertransaksi secara online namun juga membawa risiko yang besar jika tidak diawasi dengan baik. Kejahatan digital seperti pencurian identitas, fraud, dan cyber attack semakin canggih dan sulit untuk dideteksi. Oleh karena itu, para pelaku fintech perlu meningkatkan sistem keamanan mereka agar dapat melindungi data dan transaksi nasabah dari ancaman kejahatan digital yang semakin berkembang pesat. Dengan demikian, kolaborasi antara teknologi AI dan sistem keamanan yang kuat menjadi kunci utama dalam menjaga integritas industri fintech di masa depan

  • OJK Resmi Cabut Izin Usaha Fintech TaniFund

    ILUSTRASI. OJK telah mencabut izin usaha perusahaan fintech peer to peer (P2P) lending PT Tani Fund Madani Indonesia (TaniFund) Beritafintech.com – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mencabut izin usaha perusahaan fintech peer to peer (P2P) lending PT Tani Fund Madani Indonesia (TaniFund). Hal itu ditetapkan melalui Surat Keputusan Dewan Komisioner OJK Nomor KEP-19/D.06/2024 pada

  • Sah! Bank BTPN Ganti Nama Jadi Bank SMBC Indonesia

    ILUSTRASI. Salah satu kantor bank BTPN yang berlokasi di Jakarta. Beritafintech.com-JAKARTA. PT Bank BTPN Tbk (BTPN) resmi berubah nama menjadi PT Bank SMBC Indonesia Tbk. Persetujuan perubahan nama tersebut telah disetujui dalam agenda Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Kamis (29/8). Henoch Munandar, Direktur Utama Bank BTPN mengatakan, langkah ini menandai transformasi Bank…

  • Direktur Bank Neo Commerce (BBYB) Bocorkan Kinerja di 2024 Sudah Mulai Profit

    Direktur Bank Neo Commerce (BBYB), dalam sebuah pengumuman mengejutkan, telah membocorkan kinerja perusahaan di tahun 2024 yang sudah mulai mengalami keuntungan. Hal ini menjadi kabar baik bagi para pemegang saham dan investor yang telah menantikan hasil positif dari perusahaan ini. Dengan pencapaian profitabilitas tersebut, Bank Neo Commerce (BBYB) semakin menunjukkan potensi dan komitmen untuk terus berkembang di industri perbankan. Selamat kepada seluruh tim dan manajemen atas capaian yang luar biasa ini!

  • Bank Syariah Nasional Lahir, Ini Jajaran Pengurusnya

    Bank Syariah Nasional (BSN) lahir sebagai bank syariah pertama di Indonesia pada tahun 2000. Sejak itu, BSN telah menjadi salah satu bank terkemuka dalam layanan keuangan berbasis syariah di Indonesia.

    Dalam menjalankan operasinya, BSN memiliki jajaran pengurus yang sangat kompeten dan berpengalaman. Mereka adalah para ahli dalam bidang keuangan syariah yang siap memberikan pelayanan terbaik kepada nasabahnya.

    Dengan adanya jajaran pengurus yang handal ini, BSN mampu memberikan solusi keuangan yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah kepada seluruh nasabahnya. Hal ini membuat BSN semakin dipercaya oleh masyarakat sebagai lembaga keuangan yang dapat diandalkan.

    Jadi, tidak heran jika Bank Syariah Nasional menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin mendapatkan layanan perbankan berbasis syariah dengan kualitas terbaik