Defult, Indonesian Fintech TaniFund Sued by Lender

Defult, Indonesian Fintech TaniFund Sued by Lender

FINTECH – JAKARTA. Several lenders seem to be getting frustrated with the default issues plaguing the fintech peer-to-peer (P2P) lending PT Tani Fund Madani Indonesia or TaniFund. As a result, several lenders have decided to take legal action to resolve the issue.

Based on Kontan’s observation, at least 3 lenders have sued TaniFund for breach of contract or default. The lawsuit was registered at the South Jakarta District Court on January 18, 2023, with case number 64/Pdt.G/2024/PN JKT.SEL.

The disputed value is listed as IDR 131 million. However, no further details have been displayed in the case.

TaniFund Lender’s Legal Counsel, Grace Sihotang, explained to Kontan the case of the problems experienced by the lenders. She stated that the breach of contract that occurred at TaniFund is suspected to have occurred since 2022.

“Initially, the TaniFund Lenders, the plaintiffs, were still receiving returns and portfolios as promised. However, since mid-2022, some problems began to occur. Around November 2022, almost all TaniFund lenders, including the plaintiffs, no longer received returns,” she explained to Kontan, Friday (19/1).

Grace stated that TaniFund’s management blamed the farmers’ crop failure on natural factors like rain and pests. This then triggered the default to the lenders.

She stated that on the day the lawsuit was filed at the South Jakarta District Court, the realization of promises in the agreement was never carried out. Thus, it can be said that a breach of contract has occurred.

TRENDING  Bunga Pinjaman Turun Mulai Bulan Depan, Jauhi Pinjol ilegal Berikut

Grace recounted that the lenders, who are positioned as plaintiffs, have repeatedly asked about the delay in payments from TaniFund through letters, emails, and social media.

“However, the defendant or TaniFund only said to wait patiently. This of course causes losses to the lenders, both material losses in the form of money and immaterial including feelings of anxiety because the invested funds are not returned,” she revealed.

Furthermore, Grace explained, that the occurrence of a breach of contract or default was actually acknowledged by TaniFund itself and also acknowledged by the Financial Services Authority (OJK). The default was even followed up by the OJK by sanctioning TaniFund on March 10, 2023.

The OJK finally asked TaniFund to make improvements, namely to settle funding in the default category.

Grace said, the lenders have not been able to access the TaniFund application since May 2023. In addition, she said on the official TaniFund website there is a status of being under OJK supervision.

She also mentioned that the lenders hope that TaniFund can immediately pay all debts both principal funding and returns according to the amount, plus running interest according to the provisions of Article 1239 of the Civil Code or according to the actual interest value set on the application or official TaniFund site at the time the case is resolved either through mediation or court decision.

On the other hand, the Head of the Executive Supervisor of Financing Institutions, Venture Capital Companies, Microfinance Institutions, and Other Financial Services Institutions (PVML) OJK Agusman said his party has given time to TaniFund to be able to settle the rights and obligations of users. In addition, he said the OJK is currently monitoring TaniFund.

TRENDING  AFTECH Nilai Mandiri BFN Fest 2025 Bisa Jadi Momentum Penguatan Ekosistem Fintech

“The OJK is currently investigating the potential fraud committed by TaniFund,” he revealed in a written response, Friday (12/1).

In the further process, Agusman stated that the OJK is currently evaluating the process of settling rights and obligations and the improvement process carried out by TaniFund. He said further action would certainly be taken based on the results of the evaluation.

Based on Kontan’s observation through the official TaniFund website, it is stated that the company is under OJK supervision. TaniFund’s TKB90 is 36.07%.

Editor: Syamsul Azhar


Perusahaan fintech Indonesia, TaniFund, mendapatkan tuntutan dari pemberi pinjaman karena gagal memenuhi kewajiban pembayaran. TaniFund diduga dalam keadaan default, tidak mampu memberikan pengembalian investasi kepada para pemberi pinjaman. Pihak lender telah membawa masalah ini ke pengadilan sebagai langkah hukum untuk menyelesaikan permasalahan ini. Default yang dialami TaniFund menunjukkan masalah serius dalam pengelolaan platform fintech ini dan memberikan dampak negatif bagi para investor. Semoga kasus ini segera diselesaikan dengan baik agar kepercayaan masyarakat terhadap layanan fintech di Indonesia tetap terjaga.

Similar Posts

  • Belajar Saham ala Gen Z dari Medsos, Ini Tips Biar Makin Melek Literasi Finansial

    Belajar saham ala Gen Z dari Medsos memang menjadi tren baru di kalangan anak muda saat ini. Dengan begitu banyak informasi yang dapat diakses secara online, para Gen Z memiliki kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang investasi saham dan literasi finansial.

    Salah satu tips agar makin melek literasi finansial adalah dengan aktif mengikuti akun-akun sosial media yang membahas tentang saham dan investasi. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan informasi terbaru seputar pasar modal dan belajar dari pengalaman orang lain.

    Selain itu, jangan ragu untuk bertanya kepada para ahli atau mentor yang sudah berpengalaman dalam dunia investasi saham. Mereka bisa memberikan insight dan tips-tips berharga yang dapat membantu kamu dalam mengembangkan portofolio investasi.

    Dengan rajin belajar dan terus meningkatkan pengetahuan tentang saham, kamu akan semakin melek literasi finansial dan siap untuk meraih kesuksesan di dunia investasi. Jadi, jangan ragu untuk mulai belajar sekarang juga!

  • Strategi Bank Raya Menghadapi Kompetisi Bank Digital di Tanah Air

    Bank Raya harus terus berinovasi dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital agar dapat bersaing dengan bank-bank digital lainnya di Indonesia. Dengan memanfaatkan data analytics, Bank Raya dapat lebih memahami kebutuhan dan perilaku konsumen sehingga dapat memberikan layanan yang lebih personal dan efisien. Selain itu, Bank Raya juga perlu fokus pada pengembangan aplikasi mobile yang user-friendly serta meningkatkan keamanan transaksi online agar dapat memberikan pengalaman yang aman dan nyaman bagi para nasabahnya. Dengan strategi yang tepat, Bank Raya mampu bertahan dan bahkan unggul dalam persaingan dengan bank digital di tanah air

  • Sinergi Perbankan & Fintech Wujudkan Keuangan Digital yang Inklusif dan Berkelanjutan

    Sinergi antara perbankan dan fintech menjadi kunci utama dalam mewujudkan keuangan digital yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan adanya kolaborasi yang kuat antara kedua pihak, maka layanan keuangan dapat lebih mudah diakses oleh masyarakat, terutama mereka yang berada di daerah terpencil. Hal ini akan membantu meningkatkan literasi keuangan serta memperluas akses terhadap produk-produk finansial yang sebelumnya sulit dijangkau. Dengan demikian, keuangan digital tidak hanya akan menjadi milik segelintir orang saja, tetapi dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat secara merata

  • Fintech Lending Maucash Tutup Bisnis, Ini Kata Pengamat

    Maucash, salah satu perusahaan fintech lending di Indonesia, baru-baru ini mengumumkan penutupan bisnis mereka. Keputusan ini mengejutkan banyak pihak, termasuk para pengamat industri fintech. Menurut mereka, penutupan Maucash bisa menjadi indikasi dari kondisi pasar yang semakin ketat dan persaingan yang semakin sengit di dunia fintech lending. Beberapa pengamat juga menyoroti pentingnya regulasi yang jelas dalam industri ini untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa depan. Meskipun begitu, Maucash tetap dianggap sebagai salah satu pelopor dalam layanan pinjaman online di Indonesia dan meninggalkan jejak yang cukup signifikan dalam perkembangan industri fintech di tanah air

  • Mengintip Modal Bank-Bank Digital, Siapa Paling Kuat?

    Dalam dunia perbankan digital yang semakin berkembang pesat, pertanyaan yang sering muncul adalah siapa bank digital yang paling kuat? Apakah mereka mampu bersaing dengan bank konvensional yang sudah mapan? Mengintip modal dan strategi dari bank-bank digital ini menjadi hal menarik untuk diungkap. Dari sana kita bisa melihat siapa yang memiliki keunggulan kompetitif dan potensi untuk mendominasi pasar. Menarik untuk melihat bagaimana persaingan antara para pemain baru ini akan berlangsung di masa depan

  • Bank Kreditur eFishery Dibayangi Potensi Kredit Macet

    Bank Kreditur eFishery harus berhati-hati dalam menghadapi potensi kredit macet yang mengintai. Meskipun bisnis perikanan eFishery menjanjikan keuntungan besar, namun risiko kredit macet tetap ada. Oleh karena itu, bank perlu melakukan analisis mendalam terhadap calon debitur dan memastikan bahwa mereka mampu membayar kembali pinjaman dengan tepat waktu. Langkah-langkah pencegahan yang tepat akan membantu bank menghindari kerugian akibat kredit macet dan menjaga keberlangsungan bisnisnya