Sejumlah Perbankan Masih Hati-Hati dalam Menyalurkan Kredit ke Pinjol

Sejumlah Perbankan Masih Hati-Hati dalam Menyalurkan Kredit ke Pinjol

ILUSTRASI. Uang beredar: Teller menghitung uang di Bank Mega, Jakarta, Selasa (12/3/2024).

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah perbankan optimistis penyaluran kredit dengan kolaborasi melalui channeling bersama perusahaan fintech lending dan lembaga pembiayaan lainnya akan meningkat kendati bank masih hati-hati dalam menyaluran kredit ke pinjol, salah satu alasan utama adalah potensi risiko yang besar di industri fintech lending.

Tercatat sejumlah bank menggaet pinjol dalam menyalurkan kreditnya kepada debitur. Seperti PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO).

Selain bekerjasama dengan BRI sebagai perusahaan induk, salah satu opsi yang dilakukan Bank Raya ialah melalui penyaluran kredit melalui fintech dengan skema channeling, dalam rangka penyaluran kredit digital untuk kegiatan produktif para debitur Fintech melalui produk Pinang Connect.

Rustarti Suri Pertiwi, Direktur Keuangan Bank Raya mengatakan, perseroan menumbuhkan portofolio kredit channeling dengan hati-hati. Pada posisi Maret 2024, outstanding kredit channeling sekitar Rp 250 miliar, tumbuh sekitar 13% yoy atau sekitar 15% dari total kredit bank Raya.

Baca Juga: OJK Ingatkan Bank Agar Hati-hati dalam Menyalurkan Kredit Lewat Pinjol

“Sesuai dengan visi kami yaitu Bank Digital Utama yang memberikan akses terluas bagi masyarakat segmen Mikro dan Kecil di Indonesia, maka kami berkomitmen untuk memilih partner yang fokus dengan segmen mikro dan kecil. Saat ini Bank Raya telah bekerjasama dengan beberapa fintech seperti Batumbu, Awan Tunai, Avantee dan lainnya,” jelas wanita yang akrab disapa Tiwi kepada kontan.co.id, Senin (15/7).

Tiwi menerangkan, porsi kredit channeling untuk masing-masing institusi keuangan akan dijaga sesuai dengan risk profilnya dan kualitas penyaluran kredit. 

TRENDING  Lampaui Capaian 2024, Laba Fintech Lending Tembus Rp 2,09 Triliun per Oktober 2025

Adapun, untuk memilih mitra channeling agar dapat menyalurkan kredit kepada fintech yang berkualitas dan tepat yakni, melalui analisa mendalam dan menyeluruh mengenai model bisnis partner, assesment mendalam seperti misalnya memperhatikan rasio-rasio yang dipublikasikan secara terbuka seperti laporan keuangan dan TKB90, serta monitoring dan evaluasi berkala credit scoring yang digunakan.

Hingga akhir tahun 2024, Bank Raya memproyeksikan penyaluran channeling dapat bertumbuh secara sehat dan proporsional sesuai dengan proyeksi bisnis Bank Raya. Bank Raya melihat ke depan potensi bisnis kerjasama dengan fintech masih terbuka. 

Baca Juga: RPOJK Fintech Lending, Batas Maksimum Pendanaan Produktif Bakal Jadi Rp 10 Miliar

PT Bank Jago Tbk juga aktif dalam menyalurkan kredit melalui channeling, seperti ekosistem dan platform digital, perusahaan pembiayaan, dan lembaga keuangan lainnya.

“Kami percaya kolaborasi dengan berbagai mitra atau partnership lending ini adalah cara yang efektif bagi bank digital untuk membantu memberikan pembiayaan kepada nasabah,” kata Direktur Kepatuhan & Corporate Secretary Bank Jago Tjit Siat Fun.

Berkat partnership lending ini, penyaluran kredit pada akhir kuartal I-2024 mencapai Rp 14,3 triliun, meningkat 32% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu yang sebesar Rp 10,8 triliun.

Wanita yang akrab disapa Afun ini menjelaskan, terkait dengan penyaluran kredit melalui kolaborasi, Bank Jago mengukur risiko-risiko dengan memilih atau menyeleksi mitra pembiayaan secara berkala. Pihaknya terus mempelajari risiko, perilaku, dan tren pada setiap mitra sehingga bisa mengantisipasi potensi kualitas kredit yang memburuk.

Baca Juga: OJK: Aturan Pelaporan Data Fintech Lending sebagai Langkah Awal Penerapan Aturan SLIK

TRENDING  Cara Buka Rekening Bank DKI dan Aktivasi Kartu ATM di JakOne Mobile

“Ke depan kami percaya Bank Jago dapat terus bertumbuh positif sejalan dengan tren di tahun sebelumnya, termasuk dalam penyaluran kredit,” imbuhnya.

Efdinal Alamsyah, Direktur OK Bank juga menyebut, total pemberian kredit melalui skema channelling hingga Mei 2024, mengalami kenaikan sekitar 13% apabila dibandingkan dengan akhir tahun 2023. Outstanding pemberian kredit melalui skema channeling pada saat ini sekitar 6% dari total portofolio kredit OK Bank.

“Kami mempunyai kerjasama chanelling dengan perusahaan P2P, perusahaan pembiayaan atau multifinance, dan juga BPR,” kata Efdinal.

Efdinal menuturkan, memilih mitra channeling yang tepat bagi bank merupakan langkah kritis untuk menjaga kualitas kredit dan reputasi. Sebelum melakukan kerjasama dengan suatu perusahaan fintech Bank melakukan evaluasi menyeluruh terhadap calon mitra channeling. 

Melihat rekam jejak mereka, pengalaman, kepatuhan regulasi, dan praktik manajemen risiko mereka. Dan juga memastikan mereka memiliki sistem dan prosedur untuk mengelola risiko kredit.

Baca Juga: RPOJK Fintech Lending, Batas Maksimum Pendanaan Produktif Bakal Jadi Rp 10 Miliar

Setelah itu kata Efdinal secara berkala dilakukan evaluasi terhadap kinerja perusahaan fintech yang menjadi mitra channeling Bank.

Similar Posts

  • World Bank Payment Systems

    Perkembangan sistem pembayaran di Indonesia semakin pesat, dengan adopsi teknologi digital yang semakin luas. Bank Dunia telah memberikan dukungan dalam meningkatkan efisiensi dan keamanan sistem pembayaran di negara ini. Dengan berbagai inovasi dan regulasi yang diterapkan, Indonesia siap bersaing dalam pasar global dan mempercepat pertumbuhan ekonomi

  • OJK Terbitkan POJK Nomor 40 Tahun 2024 Terkait Fintech Lending, Ini Tujuannya

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerbitkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 40 Tahun 2024 yang mengatur tentang Fintech Lending. Peraturan ini bertujuan untuk memberikan perlindungan kepada para pelaku usaha fintech lending serta konsumen yang menggunakan layanan tersebut. Dengan adanya regulasi ini, diharapkan dapat menciptakan ekosistem fintech lending yang sehat dan berkelanjutan di Indonesia. Selain itu, POJK ini juga bertujuan untuk meningkatkan transparansi dan keamanan dalam layanan fintech lending guna melindungi kepentingan para peminjam dan investor. Dengan demikian, diharapkan industri fintech lending dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi perekonomian Tanah Air

  • Pengamat: Bullion Bank di Indonesia akan Melengkapi Ekosistem Hilirasi Emas

    Menurut pengamat, Bullion Bank di Indonesia akan memainkan peran penting dalam melengkapi ekosistem hilirasi emas. Dengan adanya kehadiran Bullion Bank, diharapkan dapat memberikan akses yang lebih mudah bagi masyarakat untuk berinvestasi dalam emas. Hal ini juga diharapkan dapat meningkatkan transparansi dan keamanan dalam perdagangan emas di Indonesia. Selain itu, dengan adanya Bullion Bank, diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pasar emas terbesar di dunia

  • Fintech Lending Wajib Credit Scoring dengan Cara Ini Dalam Salurkan Pembiayaan

    Salah satu hal yang menjadi kunci dalam proses pengajuan pembiayaan melalui fintech lending adalah credit scoring. Dengan menggunakan metode ini, pemberi pinjaman dapat menilai risiko dan kemampuan pembayaran calon peminjam dengan lebih akurat. Namun, untuk memastikan bahwa credit scoring berjalan dengan baik, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan.

    Pertama, penting untuk mengumpulkan data secara lengkap dan akurat tentang calon peminjam. Data-data seperti riwayat kredit, pendapatan, dan informasi lainnya harus terdokumentasi dengan baik agar dapat memberikan gambaran yang jelas tentang profil keuangan calon peminjam.

    Selain itu, penting juga untuk menggunakan teknologi dan analisis data yang canggih dalam melakukan credit scoring. Dengan memanfaatkan teknologi seperti machine learning dan artificial intelligence, pemberi pinjaman dapat membuat prediksi yang lebih tepat tentang kemampuan pembayaran calon peminjam.

    Dengan menerapkan metode credit scoring secara efektif, fintech lending dapat menjadi solusi yang aman dan terpercaya bagi masyarakat dalam mendapatkan pembiayaan. Dengan demikian, proses pengajuan pinjaman akan menjadi lebih transparan dan efisien bagi semua pihak yang terlibat

  • Ini Respons OJK Terkait Kabar Penutupan Layanan Fintech Modal Rakyat

    ILUSTRASI. Modal Rakyat perkuat sinergi dengan Fazz Financial Group. Beritafintech.com – JAKARTA. Beredar kabar di media sosial terkait Fazz Financial Group yang akan melakukan sejumlah perubahan bisnis sehingga berdampak terhadap fintech peer to peer (P2P) lending PT Modal Rakyat Indonesia atau Modal Rakyat.  Berdasarkan unggahan akun @ecommurz di Instagram, Fazz dilaporkan akan melakukan pemutusan hubungan…

  • Fintech Lending Terapkan Sejumlah Strategi untuk Tekan Angka Kredit Macet

    Fintech lending telah menjadi solusi yang semakin populer bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan finansial mereka. Namun, salah satu masalah yang sering dihadapi oleh platform fintech ini adalah tingginya angka kredit macet. Untuk mengatasi hal ini, terdapat sejumlah strategi yang diterapkan oleh para pelaku industri fintech lending.

    Salah satu strategi yang digunakan adalah meningkatkan proses analisis risiko terhadap calon peminjam. Dengan melakukan analisis risiko yang lebih mendalam, platform fintech dapat meminimalkan kemungkinan terjadinya kredit macet. Selain itu, penggunaan teknologi seperti machine learning dan big data juga membantu dalam mengidentifikasi potensi peminjam yang berisiko tinggi.

    Selain itu, para pelaku industri fintech lending juga aktif melakukan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan keuangan dan tanggung jawab dalam menggunakan layanan pinjaman online. Dengan memberikan pemahaman yang lebih baik kepada calon peminjam, diharapkan angka kredit macet dapat ditekan secara signifikan.

    Dengan menerapkan sejumlah strategi tersebut, diharapkan platform fintech lending dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan finansial mereka tanpa harus khawatir akan risiko kredit macet