Transfer uang lewat fintech lebih murah, bagaimana nasib bank?

Transfer uang lewat fintech lebih murah, bagaimana nasib bank?

ILUSTRASI. Petugas teller menghitung uang di salah satu bank di Jakarta

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Herlina Kartika Dewi

Beritafintech.com – JAKARTA. Mau tidak mau, perbankan kini harus sudah siap bersaing dengan penyedia layanan keuangan di luar perbankan. Pesatnya perkembangan teknologi sedikit banyak membuat pasar perbankan di sistem pembayaran mulai tergerus.

Apalagi dengan hadirnya beragam dompet digital dan perusahaan teknologi finansial (tekfin/fintech) yang bisa mengurangi biaya sekaligus mempermudah transaksi antar bank. Asal tahu saja, tarif transfer antar bank saat ini Rp 6.500 per transaksi. Namun, dengan adanya tekfin berbasis aplikasi, nasabah kini bisa menghemat biaya transfer. Ambil contoh, dompet digital OVO mengenakan biaya pemindahan saldo ke rekening bank sebesar Rp 2.500 per akhir tahun 2019. Selain OVO, adapula dompet digital milik Go-Jek yaitu Go-Pay juga memiliki kebijakan yang sama.

Hal serupa juga dilakukan DANA yang membebankan biaya pemindahan saldo pada aplikasi sebesar Rp 4.500. Namun, DANA memberikan penarikan saldo bebas biaya administrasi sebanyak 10 kali setiap bulan. Sementara untuk dompet digital LinkAja, sampai saat ini masih menggratiskan biaya transfer saldo ke Bank BUMN yakni Bank Mandiri, BRI, BNI dan BTN dan untuk bank swasta tetap dikenakan biaya Rp 6.500 per transaksi.

Baca Juga: Transfer pakai Click CIMB, bisa kirim uang tanpa keluar rumah

Nah, bukan cuma dompet digital saja, nasabah kini bisa menikmati layanan transfer antarbank secara gratis dengan memanfaatkan aplikasi Flip. Flip berperan sebagai pihak ketiga alias perantara bagi para pengguna aplikasi untuk mentransfer uang antar bank secara gratis.

TRENDING  Kredit Tumbuh Pesat, Begini Rekomendasi Saham Bank Mandiri (BMRI)

Kini, Flip sudah melayani transfer dari dan kepada 12 bank di Indonesia secara gratis. Pun, kegiatan transfer dana Flip juga sudah terlisensi oleh Bank Indonesia (BI).

Dengan beragamnya pilihan tersebut, tentu saja perbankan akan kehilangan sebagian potensi fee based income (FBI) dan transaksi transfer. Namun, sejumlah bankir yang dihubungi Beritafintech.com mengaku tidak terlalu ambil pusing.

Sebabnya, layanan tersebut memang cepat atau lambat bakal terjadi di industri, dan seluruh nasabah bank pun berhak untuk memilih layanan keuangan sesuai kebutuhan masing-masing.

Senior Vice President (SVP) Transaction Banking and Retail Sales Bank Mandiri Thomas Wahyu menuturkan bahwa setiap industri mempunyai segmen yang berbeda. Perbankan dalam hal ini lebih diuntungkan dari sisi loyalitas nasabah dan keamanan.

Jelas, bagi nasabah yang membutuhkan layanan transfer antarbank secara realtime, 24 jam dengan limit transaksi harian hingga Rp 100 juta maka transfer melalui bank menjadi jawabannya. “Transfer lewat bank, tujuan transfer lebih lengkap, tidak ada batasan bank selama tidak melebihi limit transaksi, jaminan keamanan transaksi pun lebih unggul,” ujar Thomas, Senin (11/1).

Namun, bank berlogo pita emas ini tidak memungkiri bahwa ada nasabah yang tidak memerlukan transaksi secara realtime dengan dana yang relatif kecil. Memang, beberapa layanan transfer antar bank baik lewat Flip atau dompet digital tetap memiliki batasan transfer sekitar Rp 1 juta hingga Rp 5 juta tergantung aplikasi.

Transfer uang melalui platform fintech dianggap lebih murah dan efisien daripada melalui bank tradisional. Hal ini membuat bank-bank harus berinovasi dan menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat. Meskipun demikian, bank masih memiliki keunggulan seperti keamanan dan kepercayaan dari nasabah. Bank juga dapat berkolaborasi dengan fintech untuk meningkatkan layanan dan memberikan pengalaman yang lebih baik bagi nasabah. Dengan persaingan yang semakin ketat antara bank dan fintech, nasib bank akan tergantung pada seberapa cepat mereka dapat beradaptasi dengan perubahan dan memberikan nilai tambah bagi nasabah mereka.

Check Also

Tak Cuma Wacana, Ini 5 Kebiasaan Finansial agar Keuangan Lebih Aman

Tak Cuma Wacana, Ini 5 Kebiasaan Finansial agar Keuangan Lebih Aman

Salah satu kebiasaan finansial yang penting adalah memiliki anggaran bulanan yang jelas dan terencana. Dengan memiliki anggaran, kita dapat mengontrol pengeluaran dan memastikan bahwa kita tidak menghabiskan uang lebih dari yang seharusnya. Selain itu, menyisihkan sebagian pendapatan untuk ditabung juga merupakan kebiasaan penting agar keuangan lebih aman. Dengan menabung, kita dapat memiliki cadangan dana darurat untuk menghadapi situasi tak terduga. Selain itu, membiasakan diri untuk berinvestasi juga merupakan langkah penting dalam menjaga keuangan agar lebih aman. Dengan berinvestasi, kita dapat meningkatkan nilai aset dan menciptakan sumber pendapatan pasif. Selain itu, menjaga kesehatan finansial juga termasuk dalam kebiasaan penting agar keuangan lebih aman. Hal ini meliputi pembayaran tagihan tepat waktu, menghindari utang yang tidak perlu, serta mempertimbangkan risiko finansial sebelum membuat keputusan besar. Terakhir, selalu melakukan evaluasi terhadap kondisi finansial secara berkala juga merupakan kebiasaan penting agar keuangan lebih aman. Dengan melakukan evaluasi secara rutin, kita dapat mengetahui apakah ada perubahan dalam kondisi finansial dan membuat penyesuaian jika diperlukan. Dengan menerapkan kelima kebiasaan ini secara konsisten, diharapkan kita dapat menjaga stabilitas dan keselamatan keuangan di masa depan

%site% | NEWS