Tiga Bank Uji Coba Inovasi Skema Credit Scoring KUR, Ini Kriteria Debiturnya

Tiga Bank Uji Coba Inovasi Skema Credit Scoring KUR, Ini Kriteria Debiturnya

ILUSTRASI. Uji coba inovasi skema credit scoring KUR dengan melibatkan tiga bank penyalur KUR terbesar. KONTAN/Baihaki/3/10/2024

Beritafintech.com – JAKARTA. Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop) sedang mematangkan skema credit scoring untuk segmen Kredit Usaha Rakyat (KUR) di perbankan, yang bakal terlaksana mulai tahun 2025 mendatang.

Deputi Bidang Usaha Mikro Kemenkop, Yulius mengatakan, pihaknya telah melaksanakan pilot project dengan menggunakan data debitur KUR dari berbagai bank umum untuk melihat efektivitas skema credit scoring ini.

Saat ini innovative skema credit scoring masih dalam tahap persiapan dan pembahasan untuk melakukan proses uji coba dengan melibatkan tiga bank penyalur KUR terbesar. 

Baca Juga: Subsidi Bunga KUR Akan Disunat, Cek Cara & Syarat Pengajuan KUR BRI 2024

Yulius menyebut, uji coba ini akan membutuhkan waktu 6 bulan untuk mendapatkan hasil yang optimal, serta melibatkan 72.000 nasabah dari tiga bank.

Selain Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang menjadi bank terbesar penyalur KUR, diperkirakan ada dua bank pelat merah lainnya yang melaksanakan proses tahap uji coba ini, yakni Bank Mandiri dan Bank Negara Indonesia (BNI). 

“Kami sudah lakukan (pilot project) menggunakan data debitur yang mengakses kredit produktif dari bank secara umum yang bersumber dari lembaga informasi biro kredit. Dimana hasilnya, terjadi penambahan 5% debitur yang disetujui dengan menggunakan Innovative Credit Scoring,” ungkap Yulius kepada Kontan, Jumat (11/10).

Skema credit scoring ini merupakan alternatif persyaratan yang akan memudahkan masyarakat atau calon debitur untuk mengakses pembiayaan KUR di perbankan.

TRENDING  Ayah Wajib Tahu, Ini Fungsi Asuransi untuk Lindungi Finansial Keluarga ala Astra Life

Pasalnya, selama ini para pelaku usaha dalam mengakses pinjaman biasanya harus memenuhi persyaratan dari bank, salah satunya menggunakan data histori kredit atau agunan yang disyaratkan bank. Namun tidak bisa dipungkiri mayoritas pelaku usaha segmen mikro di daerah banyak juga yang unbankable atau sama sekali belum pernah mengakses layanan pembiayaan perbankan.

Baca Juga: Penyaluran KUR Bakal Melalui Skema Credit Scoring

Alih-alih disulitkan soal syarat pembukuan dan agunan, innovative skema credit scoring KUR terbaru akan menilai dengan memformulasi dan mengkalkulasi beberapa variabel data utama, seperti data kependudukan dan data kredit perbankan, dan data alternatif seperti data telekomunikasi, data jaminan kesehatan, data pembayaran listrik, data transaksi e-commerce, data media sosial, dan lainnya. 

“Data-data tersebut diproses melalui algoritma AI dan Machine Learning yang kemudian menghasilkan skor kredit,” ungkap Yulius.

Dalam rinciannya, Yulius menjelaskan credit score yang digunakan yakni score kredit menghasilkan nilai dari 1 sampai dengan 1.000, dengan penjelasan Nilai Scoring di atas > 700 adalah kategori risiko rendah.

Sementara nilai Scoring 600-700 adalah kategori risiko menengah, dan nilai Scoring di bawah 600 adalah kategori risiko tinggi.

Agar calon debitur lolos dan disetujui kreditnya, biasanya bank menyetujui ketika memang calon debitur masuk ke kategori risiko rendah, yaitu nilai credit scoring > 700.

Di sisi lain, jika melihat potensi risiko dari dampak skema credit scoring ini, Yulius menyebut dalam pelaksanaan uji cobanya, tidak ada potensi debitur mengalami kenaikan kredit bermasalah di bank.

Baca Juga: Program KUR Hingga Sertifikasi UMKM Akan Berlanjut di Pemerintaan Prabowo

TRENDING  Pendanaan dari Lender Perbankan di Fintech Lending Meningkat, Ini Kata Celios

“Berdasarkan piloting kami, tidak berpengaruh terhadap NPL,” terang Yulius.

Sementara itu, sebagai bank terbesar penyalur KUR, Bank Rakyat Indonesia (BRI) memberikan respons positif terhadap hasil skema credit scoring KUR ini.

Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengatakan, skema credit scoring ini sudah menjadi alat untuk menilai kemampuan calon debitur sehingga bank juga dapat menilai risiko dari pinjaman KUR debitur tersebut melalui transaksi keseharian yang dilakukannya. 

“Credit scoring sudah menjadi tools untuk meng-asessement risiko kredit dari dulu dan sudah menjadi praktek keseharian,” ungkap Supari kepada Kontan, Kamis (10/10).

Adapun sampai Agustus 2024, BRI telah menyalurkan KUR senilai Rp126,12 triliun kepada 2,6 juta debitur pelaku UMKM, atau setara dengan 76,44% dari total target penyaluran di tahun 2024 yang sebesar Rp165 triliun.

Sementara itu Corporate Secretary Bank Mandiri, Teuku Ali Usman mengatakan penerapan credit scoring ditujukan untuk mendorong penyaluran KUR yang lebih optimal.

Saat ini Bank Mandiri telah memiliki berbagai strategi untuk mendorong penyaluran kredit ke UMKM, seperti melakukan pemetaan atau segmentasi pasar calon debitur khususnya pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Termasuk melakukan pemetaan risiko dengan memeriksa profil usaha, kemampuan bisnis, dan kondisi keuangan calon debitur. 

“Dalam melakukan pemetaan tersebut, kami juga menerapkan kredit scoring yang mengacu pada risk appetite perseroan Hal ini dilakukan untuk meminimalkan risiko kredit yang mungkin timbul di kemudian hari,” ungkap Ali kepada Kontan, Jumat (11/10).

Tak hanya itu, Bank Mandiri juga mengadakan program pelatihan dan pendampingan bagi UMKM, serta mengoptimalkan keberadaan jaringan Cabang dan Mandiri Agen, menyediakan layanan digital, dan kerjasama dengan nasabah/debitur wholesale untuk menyalurkan KUR kepada mitra binaan atau value chain-nya.

TRENDING  Akses Pinjaman Digital Meluas, Ini Pentingnya Jaga Arus Kas

Bank Mandiri hingga akhir September 2024 telah menyalurkan KUR sebesar Rp 32,20 triliun kepada lebih dari 293 ribu pelaku usaha di seluruh Indonesia. Penyaluran KUR tersebut setara dengan 85,87% dari target KUR tahun 2024 Bank Mandiri. 

Jika melihat data Bank Indonesia, penyaluran kredit UMKM di perbankan tercatat mencapai Rp 1.474,14 triliun per Juli 2024, dari total tersebut, sebanyak 45% disalurkan ke segmen mikro sebesar Rp 668,34 triliun, naik 6,5% yoy dari periode tahun lalu Rp 627,73 triliun.

Adapun rasio NPL segmen kredit mikro berada di level 3,24% per Juli 2024, dari periode tahun lalu 2,70% per Juli 2023. Sementara secara umum, rasio NPL kredit UMKM berada di level 4,05% per Juli 2024, naik dari 3,98% per Juli 2023.

Selanjutnya: Begini Cara Melihat Kata Sandi IG biar Enggak Lupa Password Akun

Menarik Dibaca: Periksa Harga Emas Antam Hari Ini 25 Oktober

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tiga bank di Indonesia sedang menguji coba inovasi skema credit scoring KUR untuk memberikan pinjaman kepada debitur yang layak. Kriteria debitur yang digunakan dalam skema ini meliputi sejumlah faktor, seperti riwayat kredit, penghasilan, dan kapasitas pembayaran. Bank-bank tersebut sedang berusaha untuk meningkatkan efisiensi dalam pengambilan keputusan terkait pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan memanfaatkan teknologi dan data terbaru. Dengan adanya inovasi ini diharapkan dapat membantu meningkatkan akses pembiayaan bagi UMKM dan mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Similar Posts

  • Aturan Baru, OJK Turunkan Bunga Pinjol Jadi 0,3% Tahun Depan

    Menurut aturan baru yang dikeluarkan oleh OJK, bunga pinjaman online (pinjol) akan turun drastis menjadi hanya 0,3% tahun depan. Keputusan ini disambut baik oleh masyarakat yang sering menggunakan layanan pinjol, karena diharapkan dapat mengurangi beban finansial mereka. Para pelaku usaha pinjol pun diharapkan untuk mematuhi aturan baru ini demi menjaga keberlangsungan industri dan melindungi konsumen dari praktik peminjaman yang tidak sehat

  • Ini Strategi dan Upaya Penegakan Hukum Pemberantasan Pinjol Ilegal

    Dalam upaya pemberantasan pinjol ilegal, strategi dan penegakan hukum harus dilakukan secara tegas dan komprehensif. Langkah-langkah preventif seperti sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya pinjol ilegal perlu ditingkatkan, serta kerjasama antara lembaga pemerintah, kepolisian, dan lembaga keuangan harus diperkuat.

    Selain itu, penindakan terhadap pelaku pinjol ilegal juga harus dilakukan dengan cepat dan efektif. Tidak hanya menindak para pelaku utama, tetapi juga jaringan mereka yang terlibat dalam praktik ilegal ini. Dengan demikian, diharapkan dapat memberikan efek jera bagi para pelaku sehingga praktik pinjol ilegal dapat diminimalisir.

    Pentingnya kesadaran masyarakat untuk tidak menggunakan jasa pinjol ilegal juga perlu ditingkatkan melalui edukasi yang intensif. Dengan begitu, diharapkan akan tercipta lingkungan yang lebih aman dari praktik pinjol ilegal yang merugikan banyak pihak

  • Begini Cara Belanja Perabotan Rumah Tanpa Merusak Kesehatan Finansial

    Anda pasti ingin memiliki rumah yang nyaman dan indah, bukan? Namun, seringkali kita tergoda untuk membeli perabotan rumah yang mahal tanpa memikirkan dampaknya pada kesehatan finansial kita. Untuk itu, penting bagi kita untuk belajar cara berbelanja perabotan rumah tanpa merusak kesehatan finansial. Dengan mengikuti tips-tips sederhana ini, Anda dapat memiliki rumah impian tanpa harus mengorbankan keuangan Anda. Jadi, mulailah berbelanja dengan bijak dan jadikan rumah Anda tempat yang nyaman dan sehat untuk tinggal

  • Fintech Memperluas Basis Investor Muda dengan Kolaborasi Lintas Industri

    Fintech telah menjadi salah satu industri yang terus berkembang pesat di era digital ini. Salah satu strategi yang digunakan oleh perusahaan fintech untuk memperluas basis investor muda adalah dengan melakukan kolaborasi lintas industri. Dengan adanya kolaborasi ini, para investor muda dapat lebih mudah mengakses informasi dan produk-produk finansial yang ditawarkan oleh perusahaan fintech. Hal ini tentu saja memberikan peluang besar bagi para investor muda untuk mendapatkan keuntungan dari investasi mereka. Selain itu, kolaborasi lintas industri juga dapat membantu perusahaan fintech dalam meningkatkan inovasi dan daya saing mereka di pasar. Dengan demikian, tidak heran jika semakin banyak perusahaan fintech yang mulai melirik potensi kerjasama lintas industri untuk memperluas basis investor muda mereka

  • Akseleran Nilai Pinjol Ilegal Berdampak Negatif bagi Industri Fintech Lending

    Nilai pinjol ilegal yang semakin marak di Indonesia memiliki dampak negatif yang cukup besar bagi industri fintech lending. Selain merugikan konsumen dengan bunga tinggi dan praktik penagihan yang tidak etis, pinjol ilegal juga merusak reputasi industri fintech lending yang sebenarnya sudah mulai berkembang pesat. Hal ini membuat para pelaku usaha resmi dalam industri ini harus bekerja ekstra keras untuk membangun kepercayaan masyarakat dan menjaga regulasi yang ada. Dengan demikian, penindakan terhadap pinjol ilegal perlu dilakukan secara tegas agar industri fintech lending dapat terus berkembang secara sehat dan berkelanjutan

  • PNM Imbau Nasabah Mekaar Jauhi Pinjol Ilegal

    PNM Imbau Nasabah Mekaar Jauhi Pinjol Ilegal

    Perusahaan Pembiayaan Mikro (PNM) mengimbau nasabahnya untuk menjauhi praktik pinjaman online ilegal atau yang lebih dikenal dengan sebutan pinjol. Hal ini disampaikan sebagai upaya perlindungan terhadap nasabah agar tidak terjerumus dalam praktik yang merugikan tersebut.

    “Kami sangat menghimbau kepada seluruh nasabah Mekaar untuk tidak menggunakan jasa pinjol ilegal. Praktik ini dapat memberikan dampak buruk bagi keuangan dan reputasi Anda,” ujar perwakilan PNM.

    Dengan semakin maraknya kasus penipuan dan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh pinjol ilegal, PNM berkomitmen untuk memberikan edukasi kepada para nasabahnya agar lebih waspada dan bijak dalam memilih layanan keuangan. Dengan menjaga hubungan baik dengan lembaga keuangan resmi seperti PNM, diharapkan nasabah dapat terhindar dari masalah finansial yang tidak diinginkan