Bank Digital Genjot Fee Based Income

Bank Digital Genjot Fee Based Income

ILUSTRASI. Pendapatan non bunga seperti fee based income menjadi salah satu andalan bank digital untuk menopang kinerja laba.

Beritafintech.com – JAKARTA. Di saat perbankan digital berlomba menawarkan bunga simpanan yang tinggi, beban bunga dapat menggerus pendapatan bunga bersih. Alhasil, pendapatan non bunga seperti fee based income menjadi salah satu andalan bank digital untuk menopang kinerja laba.

Maklum, bank digital ini menawarkan layanan perbankan berbasis digital. Ada beberapa fitur yang menjadi sumber fee based income. Beberapa bank digital pun mencatat peningkatan fee based income hingga tiga digit selama sepuluh bulan pertama di 2024 ini, meski nilainya masih tergolong mini.

Jika dilihat dari laporan keuangan bulanan per Oktober 2024, Superbank tercatat dengan pertumbuhan fee based income paling tinggi. Pertumbuhannya melejit hingga lebih dari 10 Kali lipat mencapai Rp 14,82 miliar pada Oktober 2024. Sebagai perbandingan, di Oktober 2023 Superbank mencatatkan FBI mencapai Rp 766 juta.

Direktur Utama Superbank Tigor M Siahaan mengatakan, jumlah nasabah Superbank telah mencapai lebih dari 2 juta nasabah dalam kurun waktu 4 bulan sejak peluncuran aplikasinya secara luas.

“Dari jumlah itu, lebih dari 60% nasabah telah menghubungkan akun mereka dengan aplikasi Grab, menunjukkan sinergi ekosistem yang kuat antara kedua platform,” kata Tigor dalam keterangan resminya, dikutip Kamis (5/12).

Baca Juga: Bank Besar Catat Pertumbuhan Fee Based Income di Kuartal III-2024, Ini Pendorongnya

Pertumbuhan jumlah nasabah tersebut tercermin pada pertumbuhan signifikan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp 3,9 triliun, tumbuh 518% secara year-on-year (Y oY).

Ke depan Superbank akan terus mengembangan produk yang relevan bagi kebutuhan nasabah yang terus berkembang, serta memperkuat kolaborasi dengan ekosistem yang luas di industri, yang terdiri dari Grab, Grup EMTEK, Singtel, dan KakaoBank, untuk memperkokoh fondasi dalam memberikan nilai jangka panjang bagi nasabah Dan mendukung pertumbuhan berkelanjutan bagi bank

TRENDING  Ada Kampanye Telegram Berbahaya Incar Pengguna Fintech

Sementara itu, Bank AMAR menyusul dengan pertumbuhan fee based income paling besar sekitar 268,19% YoY. Bank ini mampu meningkatkan fee based income-nya dari sekitar Rp 789 juta menjadi Rp 2,90 miliar.

Menyusul, ada BCA Digital yang mampu meningkatkan fee based income  yang dimiliki sekitar 186,23% YoY menjadi Rp 45,86 miliar per Oktober 2024. Sebagai perbandingan, periode setahun sebelumnya, fee based income dari anak usaha BCA ini baru sekitar Rp 16,02 miliar.

Dari sisi nilai, Seabank, sebagai bank milik Grup Shopee ini mencatatkan fee based income tertinggi di sepuluh bulan pertama 2024. Nilainya mencapai Rp 107,04 miliar dengan pertumbuhan sekitar 55,06% YoY.

Adapun Allo Bank mencatatkan pertumbuhan fee based income 191,07% mencapai Rp 19,19 miliar pada Oktober 2024.

Sejak Allo Bank diluncurkan pada 20 Mei 2022 hingga akhir November 2024, Allo Bank tercatat memiliki 11 juta nasabah di seluruh Indonesia.

Allo Bank diketahui menawarkan beragam produk perbankan berbasis digital seperti e-Wallet (Allo Pay dan Allo Pay+), Tabungan (Allo Prime dan Allo Grow), Time Deposits, Transfer Dana, Kredit Digital (Pay Later & Instant Cash), QRIS Payment, Bill Payment dan masih banyak lagi. 

Indra Utoyo, Direktur Utama Allo Bank menyampaikan, sepanjang setahun terakhir total transaksi di Allo Bank kurang lebih meningkat 3 kali lipat terutama untuk fitur-fitur utama dalam Aplikasi seperti QRIS, Transfer, Top-Up dan Bill Payment.

“Sedangkan produk digital lending PayLater dan InstantCash meningkat hingga 6 kali lipat dibanding tahun sebelumnya,” katanya.

Baca Juga: Transaksi Luar Negeri Naik, Fee Based Income Bank Ikut Terkerek

TRENDING  OJK Berantas 2.930 Pinjol Ilegal Tahun 2024, Cek Namanya & Catat Pinjol Legal 2025

Pertumbuhan ini, kata Indra, sesuai dengan value proposition perusahaan, dimana agar nasabah terus menabung dan bertransaksi di Allo Bank, pihaknya memberikan keleluasaan kepada nasabah untuk melakukan transfer antar bank secara gratis dan suku bunga yang kompetitif dengan fleksibilitas sesuai keinginan nasabah.

“Allo Bank juga menjadi salah satu bank teraktif dalam hal jumlah transaksi sistem pembayaran ritel nasional melalui BI-Fast. Hal ini sejalan dengan komitmen Bank Indonesia untuk mempercepat digitalisasi perekonomian dan keuangan nasional,” ungkap Indra.

Ke depan, agar nasabah semakin aktif, Allo Bank terus berupaya menjalin kemitraan strategis dengan berbagai ekosistem terkemuka lainnya melalui penerapan model open banking.

Ini sebagai upaya mengembangkan ekosistem digital dan meningkatkan nilai layanan finansial yang disediakan Allo Bank secara kontekstual, terutama untuk sektor-sektor yang dekat dengan aspek-aspek kehidupan nasabah.

Sepanjang tahun 2024, Allo Bank juga memperluas kemitraan dengan mobile operator, platform belanja online, dan merchant lainnya. Promosi melalui kampanye pemasaran digital dan penawaran insentif menarik seperti cashback dan diskon khusus juga akan dilakukan untuk menarik lebih banyak pengguna.

“Kami percaya strategi kolaborasi ini dapat menghasilkan peningkatan scope layanan dan perluasan jangkauan untuk memperkaya dan meningkatkan nilai layanan finansial yang disediakan Allo Bank,” imbuh Indra.

Sementara itu, Bank Raya (AGRO) mencatatkan fee based income mencapai Rp 7,68 miliar per September 2024, angka ini turun 10,32% yoy.

Direktur Keuangan Bank Raya Rustarti Suri Pertiwi mengatakan, melalui berbagai inovasi yang dilakukan untuk meningkatkan user experience nasabahnya, Bank Raya terus berupaya menumbuhkan jumlah nasabah maupun  komposisi nasabah aktifnya.

Untuk posisi September 2024, total nasabah Bank Raya tercatat sebanyak 911.000 dengan jumlah nasabah aktif mencapai sekitar 27%. 

TRENDING  Kinerja Bank Milik Fintech Terus Membaik, Harga Saham Berpotensi Naik?

“Dengan melihat fitur unggulan Digital Saving Bank Raya adalah fitur untuk mempermudah pengelolaan keuangan melalui pemisahan dana simpanan nasabah untuk berbagai tujuan berupa kemudahan pembuatan “Saku” Tabungan, maka jumlah rekening di Bank Raya telah mencapai hampir 2x lipat, yaitu sebanyak 1.7 juta rekening,” ungkap wanita yang akrab disapa Tiwi ini.

Baca Juga: Begini Strategi Bank Digital Genjot Dana Pihak Ketiga

Tiwi mengaku, sampai dengan saat ini, Bank Raya belum melihat dampak beban yang signifikan dari jumlah nasabah yang tidak aktif.  Bahkan Bank Raya melihat bahwa nasabah tersebut merupakan potensi yang harus terus digali, dengan terus memperkenalkan fitur-fitur yang relevan dengan kebutuhan nasabah. 

Namun secara berkala, Bank Raya tetap mengevaluasi portofolio nasabah yang tidak aktif ini untuk memitigasi potensi risiko dan mengevaluasi potensi efisiensi.

Sejak awal tahun 2024, Bank Raya juga telah secara aktif melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan user experience nasabah Digital Saving Bank Raya. Misalnya melalui akselerasi transaksi pembayaran non tunai untuk melengkapi layanan digital masyarakat dan nasabah seperti QRIS, Saku Bareng, Saku Bisnis maupun layanan laku pandai melalui Agen Bank Raya. 

“Fitur Quick Access QRIS dengan shortcut menu pada halaman login juga dikembangkan untuk meningkatkan kenyamanan nasabah dalam pembayaran menggunakan QRIS di aplikasi Bank Raya hanya dalam sekali klik,” kata Tiwi.

Bank Raya juga mendorong berbagai gimmick melalui berbagai promo-promo menarik untuk transaksi di beberapa merchant.  

Selanjutnya: Harga Telur Ayam Ras Naik di Kalimantan Utara, Kamis (5/12)

Menarik Dibaca: Prakiraan Cuaca Jakarta Besok (6/12): Berawan dan Hujan Ringan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • Masa Depan E-Wallet, Apakah Uang Tunai Bisa Lenyap?

    Beritafintech.com – Masa depan e-wallet makin tampak gemilang. Manusia mulai terbiasa menggunakannya dan mempercayainya untuk menyimpan uang mereka. Memang dari segi fungsi, aplikasi dompet digital sangat membantu dalam transaksi keuangan sehari-hari. Kegiatan transaksi jual-beli kini bisa menggunakan uang elektronik. Sehingga dompet digital sangat membantu dalam pengelolaan e-money. Meski tidak memiliki mata uang tertentu, namun apa…

  • 7 Trik Jitu Meraih Merdeka Finansial di Usia 30, Dijamin Hidup Lebih Tenang!

    Usia 30 adalah masa yang krusial dalam perjalanan finansial seseorang. Dengan menerapkan 7 trik jitu yang kami bagikan, Anda dapat meraih kemerdekaan finansial dengan lebih tenang. Mulailah sekarang untuk membangun pondasi keuangan yang kokoh dan nikmati hidup tanpa beban di usia 30!

  • Sulit Menabung? Ini 10 Tips Finansial Gen Z agar Tabungan Cepat Terkumpul

    Berikut adalah 10 tips finansial untuk generasi Z agar tabungan cepat terkumpul:

    1. Mulailah dengan menetapkan tujuan tabungan yang jelas dan spesifik.
    2. Buatlah anggaran bulanan dan patuhi rencana pengeluaran yang telah dibuat.
    3. Hindari utang konsumtif dan belanja impulsif yang tidak perlu.
    4. Manfaatkan teknologi untuk memantau pengeluaran dan mengatur keuangan secara lebih efisien.
    5. Pertimbangkan investasi jangka panjang seperti reksadana atau saham untuk pertumbuhan tabungan yang lebih cepat.
    6. Selalu sisihkan sebagian pendapatan untuk ditabung sebelum digunakan untuk keperluan lain.
    7. Cari cara-cara kreatif untuk meningkatkan pendapatan tambahan, seperti berjualan online atau freelance.
    8. Bandingkan harga sebelum membeli barang atau jasa agar dapat menghemat lebih banyak uang.
    9. Jaga kesehatan finansial dengan memiliki asuransi kesehatan dan perlindungan diri lainnya.
    10. Tetap disiplin dan konsisten dalam menjalankan kebiasaan menabung demi mencapai tujuan keuangan Anda secara lebih cepat.

    Dengan menerapkan tips-tips di atas, diharapkan generasi Z dapat meningkatkan kesadaran finansial mereka serta berhasil mengumpulkan tabungan dengan lebih efisien dan cepat

  • Fintech Tunjuk Ronald Waas Sebagai Dewan Komisaris

    Fintech Tunjuk Ronald Waas Sebagai Dewan Komisaris

    Fintech, perusahaan teknologi keuangan terkemuka di Indonesia, baru-baru ini mengumumkan penunjukan Ronald Waas sebagai anggota Dewan Komisaris mereka. Keputusan ini disambut dengan antusias oleh para pelaku industri finansial di Tanah Air.

    Ronald Waas, yang memiliki pengalaman luas dalam bidang keuangan dan investasi, diharapkan dapat membawa inovasi dan strategi baru bagi Fintech. Dengan latar belakangnya yang kuat dalam manajemen risiko dan pengembangan produk keuangan, Ronald diyakini mampu membantu Fintech mencapai tujuan mereka untuk menjadi pemimpin pasar dalam layanan keuangan digital.

    Para pemegang saham dan karyawan Fintech pun optimis dengan kedatangan Ronald sebagai bagian dari tim manajemen perusahaan. Mereka percaya bahwa dengan kepemimpinan yang visioner dan komitmen yang kuat, Fintech akan semakin berkembang pesat dan memberikan nilai tambah bagi seluruh stakeholders-nya.

    Dengan penunjukan Ronald Waas sebagai Dewan Komisaris, Fintech siap melangkah lebih jauh menuju kesuksesan di dunia fintek Indonesia. Semua mata tertuju pada langkah-langkah strategis yang akan diambil oleh Ronald untuk memperkuat posisi perusahaan dalam persaingan industri finansial yang semakin ketat

  • RUPST 2025 Setujui Perombakan Direktur Bank Mandiri (BMRI), Ini Susunan Terbarunya!

    Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Bank Mandiri pada tahun 2025 telah menyetujui perombakan direksi perusahaan. Susunan terbaru ini menciptakan antusiasme yang tinggi di kalangan para pemegang saham dan stakeholder lainnya. Dengan adanya perubahan ini, diharapkan Bank Mandiri dapat terus berkembang dan memberikan layanan terbaik kepada nasabahnya

  • KPPU Putuskan Fintech Lending Langgar Penetapan Suku Bunga, Ini Respons OJK

    Keputusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang menyatakan bahwa perusahaan fintech lending melanggar penetapan suku bunga telah menarik perhatian publik. Hal ini menjadi sorotan utama karena menunjukkan adanya pelanggaran dalam praktik usaha tersebut.

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun memberikan respons terhadap keputusan KPPU tersebut. OJK menyatakan bahwa mereka akan melakukan langkah-langkah untuk mengawasi lebih ketat praktik usaha perusahaan fintech lending agar tidak melanggar aturan yang telah ditetapkan.

    Respons OJK ini diharapkan dapat memberikan perlindungan kepada masyarakat dari praktik usaha yang merugikan. Dengan adanya pengawasan yang lebih ketat, diharapkan perusahaan fintech lending dapat beroperasi sesuai dengan aturan yang berlaku dan memberikan manfaat bagi para peminjam