Usia ke-26 Jadi Momen Bank Mandiri Perkuat Layanan Kopra by Mandiri

Usia ke-26 Jadi Momen Bank Mandiri Perkuat Layanan Kopra by Mandiri

ILUSTRASI. Dok. Bank Mandiri

Beritafintech.com – Jakarta, 18 Oktober 2024.  Bank Mandiri terus memperkuat konsistensinya dalam menghadirkan layanan yang inovatif kepada nasabah lewat penguatan platform wholesale Kopra by Mandiri. Terbaru, dalam perayaan HUT ke-26 Bank Mandiri yang mengusung tema “Adaptif dan Solutif”, Kopra by Mandiri kini hadir dengan inovasi terbaru dengan tampilan yang lebih elegan yang telah dibangun dengan standar global untuk mendukung kebutuhan nasabah wholesale.

Tak hanya hadir dengan tampilan yang baru, Kopra by Mandiri kini telah disempurnakan untuk pengalaman pengguna yang jauh lebih baik. Dengan tetap berfokus pada 3 fungsi utamanya, yaitu Cash Management, Value Chain, dan Trade yang bisa diakses secara single sign-on.

Kopra by Mandiri kini hadir dengan personalized management dashboard yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan bisnis serta berbagai tambahan fitur transaksi digital. Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi, menjelaskan bahwa pengembangan ini merupakan upaya Bank Mandiri untuk tetap relevan dan adaptif di tengah perkembangan kebutuhan nasabah korporasi.

“Sebagai Bank yang memiliki core competence di wholesale bank dengan all-rounder unique ecosystem, kami memiliki fokus dalam pemenuhan kebutuhan perbankan bagi pelaku bisnis, khususnya segmen korporasi. Kopra by Mandiri dengan berbagai solusi digital sangat relevan dengan kebutuhan nasabah dan ekosistem bisnis yang terus berkembang,” ujar Darmawan dalam keterangan resminya, Jumat (18/10).

Bank berlogo pita emas ini menjelaskan, Kopra by Mandiri kini memiliki antarmuka interaktif yang memudahkan pengelolaan likuiditas. Sekarang, nasabah dapat dengan mudah mengatur distribusi kas ke seluruh unit dalam perusahaan dengan panduan visual yang intuitif.

TRENDING  Tergilas Digitalisasi, Bank Tutup Ratusan Kantor Cabang di 2024

Nasabah pun kian dimudahkan dalam bertransaksi dengan menggunakan Kopra by Mandiri untuk pembayaran berbagai macam kebutuhan bisnis hingga 50.000 transaksi hanya dalam satu kali unggah. Tidak hanya itu, proses penagihan yang dilengkapi dengan rekonsiliasi dapat dilakukan langsung dari Kopra kepada rekan bisnis yang memiliki Kopra ataupun Livin’, sehingga operasional bisnis di sisi nasabah menjadi lebih efisien.

Dalam upaya mendukung pertumbuhan ekosistem bisnis nasabah, Kopra by Mandiri menghubungkan nasabah dengan ekosistem bisnisnya melalui Livin’ by Mandiri untuk pengingat pembayaran virtual kepada retailer dan percepatan pembayaran tagihan kepada supplier untuk mendukung pertumbuhan bisnis mitra.

“Visi kami adalah menciptakan ekosistem finansial digital terlengkap di Indonesia. Kami ingin mengoptimalkan rantai pasok di berbagai sektor, termasuk UMKM, dengan harapan dapat meningkatkan penetrasi digital dan mendukung pertumbuhan ekonomi domestik,” ungkapnya.

Darmawan menegaskan, Bank Mandiri berkomitmen memperkuat posisinya di pasar internasional dengan terus menghadirkan inovasi digital, termasuk Kopra by Mandiri. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan adopsi layanan digital dan menjadikan Bank Mandiri sebagai mitra terpercaya dalam mendukung kesuksesan bisnis nasabah.

Sebagai informasi, nilai transaksi Kopra by Mandiri hingga Agustus 2024 sebesar Rp14.000 triliun, tumbuh 13% year-on-year (yoy), terbesar di Indonesia dengan rata-rata transaksi harian mencapai 100 triliun per hari. Pencapaian ini tidak hanya mengukuhkan posisi Bank Mandiri sebagai market leader di industri wholesale, tetapi juga memperkuat kontribusinya dalam pembangunan ekonomi nasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • Gabung Jaringan UN PRI, Bahana TCW Perkuat Prinsip Investasi Berkelanjutan

    Gabung Jaringan UN PRI, Bahana TCW Perkuat Prinsip Investasi Berkelanjutan

    Jakarta, 15 Februari 2022 – PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW) telah resmi bergabung dengan Principles for Responsible Investment (PRI), sebuah inisiatif global yang mendorong praktik investasi berkelanjutan. Dengan bergabungnya Bahana TCW dalam jaringan PRI, perusahaan ini semakin memperkuat komitmennya dalam menerapkan prinsip-prinsip investasi yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

    Dalam keterangan resminya, Direktur Utama Bahana TCW, Bapak Sigit Wiryadi mengatakan bahwa keikutsertaan perusahaan mereka dalam jaringan PRI merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya investasi berkelanjutan di Indonesia. “Kami percaya bahwa dengan mengikuti prinsip-prinsip investasi yang bertanggung jawab, kami dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar,” ujar Bapak Sigit.

    Selain itu, keikutsertaan Bahana TCW dalam jaringan PRI juga diharapkan dapat membantu meningkatkan transparansi dan akuntabilitas perusahaan dalam menjalankan aktivitas investasinya. Dengan adanya kerjasama antara Bahana TCW dan PRI, diharapkan akan tercipta sinergi yang positif dalam upaya memperkuat prinsip-prinsip investasi berkelanjutan di Tanah Air.

    Sebagai salah satu manajer aset terkemuka di Indonesia, Bahana TCW memiliki komitmen kuat untuk terus mengembangkan praktik investasi yang ramah lingkungan dan sosial. Dengan bergabungnya mereka dalam jaringan UN PRI ini, diharapkan akan semakin banyak institusi keuangan lainnya yang ikut serta aktif dalam mendukung prinsip-prinsip investasi berkelanjutan demi menciptakan dunia yang lebih baik untuk generasi mendatang

  • OJK Sebut Asuransi ASO Jadi Alternatif Mitigasi Risiko Gagal Bayar di Fintech Lending

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan bahwa asuransi aset (ASO) dapat menjadi alternatif yang efektif dalam mitigasi risiko gagal bayar di industri fintech lending. ASO memberikan perlindungan terhadap risiko gagal bayar yang mungkin terjadi, sehingga para pelaku usaha dapat lebih tenang dalam menjalankan bisnis mereka. Dengan adanya ASO, diharapkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap layanan fintech lending juga akan semakin meningkat. Selain itu, OJK juga menekankan pentingnya transparansi dan kepatuhan terhadap regulasi agar industri fintech lending dapat berkembang secara sehat dan berkelanjutan

  • AFPI: Aturan Baru Terkait Bunga hingga Lender akan Berdampak bagi Fintech Lending

    Aturan baru terkait bunga dan lender yang akan berdampak bagi fintech lending telah menjadi perbincangan hangat di kalangan pelaku industri. Dengan adanya regulasi yang lebih ketat, para pemain fintech lending harus mempersiapkan diri untuk menghadapi perubahan besar dalam operasional mereka. Hal ini juga akan mempengaruhi cara kerja dan strategi bisnis yang selama ini telah mereka jalankan. Sebagai bagian dari ekosistem fintech, penting bagi para pelaku industri untuk terus mengikuti perkembangan aturan dan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah guna menjaga keberlangsungan bisnis mereka di masa depan

  • Daftar Bank dengan Modal Inti Kurang Rp 3 Triliun (Ada Hak Jawab)*

    Menurut data yang diperoleh dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), terdapat sejumlah bank di Indonesia yang memiliki modal inti kurang dari Rp 3 triliun. Hal ini tentu menjadi perhatian serius bagi para pemegang saham dan nasabah bank tersebut. Meskipun demikian, bank-bank tersebut tetap memiliki hak untuk menjawab dan memberikan penjelasan terkait kondisi keuangannya. Sebagai konsumen, penting bagi kita untuk selalu memperhatikan kesehatan keuangan bank tempat kita menyimpan dana agar dapat menghindari risiko kerugian di masa depan

  • Danantara Meluncur, Saham-Saham Bank BUMN Loyo

    Para investor patut waspada dengan kondisi saham-saham Bank BUMN yang sedang mengalami penurunan drastis. Kinerja perusahaan-perusahaan ini terus menunjukkan kelemahan, sehingga tidak mengherankan jika harga sahamnya terus merosot. Diperlukan strategi yang tepat untuk menghadapi kondisi pasar yang tidak bersahabat ini. Semua pihak harus bekerja sama agar dapat memperbaiki performa saham-saham Bank BUMN dan menghindari kerugian yang lebih besar di masa depan

  • Saham Bank Kompak Anjlok, Analis Rekomendasikan Akumulasi Beli Saham Bank Big Caps

    ILUSTRASI. Logo BCA. REUTERS/Willy Kurniawan Beritafintech.com – JAKARTA. Mengawali hari pertama perdagangan bursa pasca libur lebaran 2024, saham-saham perbankan tampak longsor. Tak terkecuali, saham-saham berkapitalisasi besar pun kompak berada di zona merah. Mengacu data RTI (16/4), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) menjadi bank dengan kapitalisasi di atas Rp 100 triliun yang tercatat mengalami penurunan paling…