Pesan OJK, Pertimbangkan Hal Ini Sebelum Meminjam di Fintech Lending

OJK Telah Mencabut Izin Usaha 4 Penyelenggara Fintech Lending Sepanjang 2024

ILUSTRASI. Bisnis fintech peer to peer (P2P) lending.

Beritafintech.com – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mencabut izin usaha 4 penyelenggara fintech peer to peer (P2P) lending sepanjang 2024. Ada pun keputusan itu tertuang dalam 4 surat keputusan cabut izin usaha. Plt Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi OJK Ismail Riyadi menerangkan 2 dari 4 penyelenggara dicabut izin usaha karena pengenaan sanksi administratif.

“Selain itu, 2 penyelenggara lain dicabut izin usaha karena mengajukan permohonan pengembalian izin usaha,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (3/2).

Ismail mengatakan OJK juga telah menerbitkan 661 sanksi terhadap penyelenggara fintech lending selama 2024. Dia menuturkan pemberian sanksi dan pencabutan izin usaha itu dilakukan dalam rangka upaya penguatan pengawasan dan penyelesaian kasus Lembaga Jasa Keuangan (LJK), termasuk di industri fintech P2P lending. Dengan demikian, fintech lending bisa makin memperkuat industri dan meningkatkan perlindungan konsumen.

Baca Juga: AFPI Sebut Kebijakan P2P Lending Indonesia Menjadi Contoh di Negara ASEAN

Sementara itu, Ismail mengatakan OJK telah meluncurkan Roadmap Pengembangan dan Penguatan Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) 2023-2028 yang merupakan mandat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).

Dia menyampaikan peluncuran roadmap itu merupakan komitmen OJK untuk mewujudkan industri fintech lending yang sehat, berintegritas dan berorientasi pada inklusi keuangan dan pelindungan konsumen serta berkontribusi kepada pertumbuhan ekonomi nasional.

TRENDING  Marak Kelompok Gagal Bayar di Fintech Lending, Ini Upaya yang Ditempuh AFPI

Sesuai amanat UU P2SK, OJK juga telah menerbitkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 40 Tahun 2024 tentang Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi, sebagai penyempurnaan dari POJK Nomor 10/POJK.05/2022. Ismail mengatakan tujuan penerbitan POJK tersebut, di antaranya untuk memberikan pelindungan secara maksimal terhadap pemberi dana (lender).

Baca Juga: Ada 26% Pinjol Belum Penuhi Syarat Modal Rp 2,5 Miliar, OJK: Bisa Kena Sanksi

Ada pun ruang lingkupnya yaitu pengaturan yang mewajibkan penyelenggara untuk menampilkan penilaian kredit dan informasi yang terkait pemberian dana, kewajiban menyelenggarakan Rapat Umum Pemberi Dana dan penyampaian risiko pendanaan yang melekat kepada pengguna.

Selain itu, OJK juga telah menerbitkan beberapa POJK lain terkait dengan penerapan tata kelola yang baik, pengembangan kualitas sumber daya manusia dan penerapan manajemen risiko.

Sementara itu, Ismail menyebut OJK juga tengah melakukan penyusunan Rancangan Surat Edaran (RSEOJK) atas perubahan SEOJK Nomor 19/SEOJK.06/2023 tentang Penyelenggaraan LPBBTI, yang mengatur penguatan penyelenggaraan kegiatan usaha LPBBTI.

“Materi perubahan ketentuan, antara lain mengenai penguatan pemahaman mengenai risiko pendanaan dan analisis risiko pendanaan, sebagai upaya mitigasi risiko dan pelindungan lender,” kata Ismail.

Baca Juga: Optimalkan penyaluran dana PEN, bank gandeng fintech

Selanjutnya: Link Live Streaming PSIS Semarang vs Dewa United di BRI Liga 1 Pukul 19.00 WIB

Menarik Dibaca: Diet Sehat, Ini Cara Ampuh Mencegah Asam Urat Kambuh

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • Bank BUMN gandeng fintech untuk salurkan kredit program PEN

    Bank BUMN telah mengumumkan kerjasama strategis dengan perusahaan fintech terkemuka untuk menyediakan akses kredit yang lebih mudah melalui program PEN. Dengan adanya kolaborasi ini, diharapkan masyarakat dapat memperoleh dana pinjaman dengan proses yang lebih cepat dan efisien. Selain itu, Bank BUMN juga berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik kepada nasabahnya melalui teknologi digital yang inovatif. Jadi, jangan ragu untuk mengajukan kredit melalui program PEN ini dan nikmati kemudahan serta keuntungannya!

  • Strategi Bank Mandiri menangkal krisis

    Strategi Bank Mandiri dalam menangkal krisis telah terbukti sangat efektif. Dengan langkah-langkah yang tepat dan keputusan yang cepat, Bank Mandiri mampu bertahan di tengah badai ekonomi yang melanda. Kepemimpinan yang kuat dan tim yang solid menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan ini. Dengan fokus pada penguatan modal dan diversifikasi produk, Bank Mandiri berhasil mempertahankan posisinya sebagai salah satu bank terkemuka di Indonesia. Tidak hanya itu, inovasi teknologi juga menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing perusahaan ini. Dengan semangat pantang menyerah dan komitmen untuk selalu memberikan layanan terbaik kepada nasabah, Bank Mandiri siap menghadapi segala bentuk krisis di masa depan

  • BI dan Bank of Korea Sepakat Pakai Mata Uang Lokal Antarnegara, Efektif 30 September

    Bank Indonesia (BI) dan Bank of Korea telah sepakat untuk menggunakan mata uang lokal dalam transaksi antarnegara, yang akan mulai berlaku efektif pada tanggal 30 September. Keputusan ini diambil sebagai langkah untuk memperkuat kerja sama ekonomi antara kedua negara dan meningkatkan efisiensi dalam perdagangan bilateral. Diharapkan bahwa penggunaan mata uang lokal akan memudahkan proses transaksi dan mengurangi biaya konversi valuta asing. Langkah ini juga diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap stabilitas ekonomi kedua negara

  • Fintech Lending Wajib Credit Scoring dengan Cara Ini Dalam Salurkan Pembiayaan

    Salah satu hal yang menjadi kunci dalam proses pengajuan pembiayaan melalui fintech lending adalah credit scoring. Dengan menggunakan metode ini, pemberi pinjaman dapat menilai risiko dan kemampuan pembayaran calon peminjam dengan lebih akurat. Namun, untuk memastikan bahwa credit scoring berjalan dengan baik, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan.

    Pertama, penting untuk mengumpulkan data secara lengkap dan akurat tentang calon peminjam. Data-data seperti riwayat kredit, pendapatan, dan informasi lainnya harus terdokumentasi dengan baik agar dapat memberikan gambaran yang jelas tentang profil keuangan calon peminjam.

    Selain itu, penting juga untuk menggunakan teknologi dan analisis data yang canggih dalam melakukan credit scoring. Dengan memanfaatkan teknologi seperti machine learning dan artificial intelligence, pemberi pinjaman dapat membuat prediksi yang lebih tepat tentang kemampuan pembayaran calon peminjam.

    Dengan menerapkan metode credit scoring secara efektif, fintech lending dapat menjadi solusi yang aman dan terpercaya bagi masyarakat dalam mendapatkan pembiayaan. Dengan demikian, proses pengajuan pinjaman akan menjadi lebih transparan dan efisien bagi semua pihak yang terlibat

  • Alasan Mengapa Ada Orang yang Betah Nganggur, Kenapa Ya?

    Beritafintech.com – Terkadang ada orang yang merasa bekerja itu adalah sebuah beban. Biasanya yang begini tipikal orang yang sudah kaya sejak lahir. Atau karena suatu alasan tertentu jadi enggan buat kerja, sungguh betah nganggur yang sulit terobati. Ya, orang yang suka nganggur seolah-olah mentalnya memang sedang sakit. Sehingga ia selalu berpikir seribu kali hanya untuk…

  • Gabung Jaringan UN PRI, Bahana TCW Perkuat Prinsip Investasi Berkelanjutan

    Gabung Jaringan UN PRI, Bahana TCW Perkuat Prinsip Investasi Berkelanjutan

    Jakarta, 15 Februari 2022 – PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW) telah resmi bergabung dengan Principles for Responsible Investment (PRI), sebuah inisiatif global yang mendorong praktik investasi berkelanjutan. Dengan bergabungnya Bahana TCW dalam jaringan PRI, perusahaan ini semakin memperkuat komitmennya dalam menerapkan prinsip-prinsip investasi yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

    Dalam keterangan resminya, Direktur Utama Bahana TCW, Bapak Sigit Wiryadi mengatakan bahwa keikutsertaan perusahaan mereka dalam jaringan PRI merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya investasi berkelanjutan di Indonesia. “Kami percaya bahwa dengan mengikuti prinsip-prinsip investasi yang bertanggung jawab, kami dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar,” ujar Bapak Sigit.

    Selain itu, keikutsertaan Bahana TCW dalam jaringan PRI juga diharapkan dapat membantu meningkatkan transparansi dan akuntabilitas perusahaan dalam menjalankan aktivitas investasinya. Dengan adanya kerjasama antara Bahana TCW dan PRI, diharapkan akan tercipta sinergi yang positif dalam upaya memperkuat prinsip-prinsip investasi berkelanjutan di Tanah Air.

    Sebagai salah satu manajer aset terkemuka di Indonesia, Bahana TCW memiliki komitmen kuat untuk terus mengembangkan praktik investasi yang ramah lingkungan dan sosial. Dengan bergabungnya mereka dalam jaringan UN PRI ini, diharapkan akan semakin banyak institusi keuangan lainnya yang ikut serta aktif dalam mendukung prinsip-prinsip investasi berkelanjutan demi menciptakan dunia yang lebih baik untuk generasi mendatang