OJK Tanggapi Kabar Hanwha Life yang Berencana Akuisisi 40% Saham Bank Nobu

Hanwha Life Akuisisi Bank Nobu, Bagaimana Nasib Rencana Merger dengan Bank MNC?

ILUSTRASI. Nobu Bank/bank nobu

Beritafintech.com-JAKARTA. PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU) mengumumkan rencana pengambilalihan saham mayoritas oleh konglomerasi asal Korea Selatan, Hanwha Life Insurance Co.Ltd.

Dalam ringkasan prospektus yang dipublikasikan Jumat (31/1), Hanwha melalui Hanwha Life Insurance akan mengakuisisi 40% saham NOBU atau sebanyak 2,9 miliar unit. 

Kabar ini pun membuat rencana merger antara NOBU milik taipan James Riady dan PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP) menjadi tidak jelas. Padahal merger keduanya di gadang-gadang bakal jadi proyek percontohan aksi merger sukarela di Tanah Air.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga sebelumnya menyebutkan, merger keduanya ditargetkan selesai pada Agustus 2023 sesuai dengan komitmen pemegang saham pengendali (PSP) masing-masing bank. Seperti diketahui, Bank Nobu merupakan milik Lippo Group yang dikendalikan oleh keluarga Mochtar Riady. Sedangkan Bank MNC dimiliki oleh Taipan Hary Tanoesoedibjo.

Baca Juga: Hanwha Life Umumkan Rencana Akuisisi 40% Saham Bank Nobu

Dalam jawaban tertulisnya beberapa waktu lalu, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan (KEPP) OJK Dian Ediana Rae menjelaskan rencana merger antar kedua bank tersebut merupakan hasil kesepakatan dan berada dalam kewenangan para pemegang saham masing-masing bank.

“OJK senantiasa mendorong pelaksanaan aksi korporasi apabila langkah tersebut dapat mendukung konsolidasi industri perbankan secara keseluruhan. Dengan demikian, proses ini diharapkan melahirkan perbankan yang lebih kuat, efisien, dan kompetitif, serta mampu memberikan dampak positif yang signifikan terhadap perekonomian nasional,” jelas Dian.

Dian menyebut, langkah ini bertujuan memastikan bahwa proses konsolidasi dapat menghasilkan perbankan yang lebih sehat, efisien, dan berdaya saing, sehingga mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian nasional.

TRENDING  Saham Bank Kompak Anjlok, Analis Rekomendasikan Akumulasi Beli Saham Bank Big Caps

Baca Juga: Bank Milik Sejumlah Konglomerat Mencatatkan NPL Tinggi

“Apabila terdapat pengajuan permohonan konsolidasi oleh suatu bank kepada OJK, evaluasi akan segera dilakukan dan ditindaklanjuti sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” tandasnya.

Adapun Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan melihat, memang masih belum ada kejelasan terkait kelanjutan merger kedua bank tersebut.

“Untuk itu OJK perlu mengkonfirmasi kembali kepastian rencana aksi korporasi tersebut dan perlu diberikan timeline sehingga ada kejelasan bagi OJK maupun investor,” katanya kepada Beritafintech.com, Jumat (31/1).

Sementara Arianto Muditomo,Pengamat Perbankan & Praktisi Sistem Pembayaran berpendapat, rencana akuisisi 40% saham Bank Nobu oleh Hanwha Life dan rencana merger antara Bank Nobu dan MNC Bank adalah dua aksi korporasi yang berbeda.

“Hingga saat ini, belum ada informasi resmi yang menyatakan bahwa akuisisi oleh Hanwha Life bertentangan dengan rencana merger tersebut. Namun, proses merger antara Bank Nobu dan MNC Bank telah mengalami penundaan sejak target awal penyelesaiannya pada Agustus 2023,” kata Didiet.

Baca Juga: Nobu Bank Siap Sukseskan Implementasi QRIS Tap di Transportasi Umum

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan bahwa rencana merger ini sepenuhnya berada dalam kewenangan pemegang saham masing-masing bank. 

Menurut Didiet, dengan masuknya Hanwha Life sebagai pemegang saham signifikan di Bank Nobu, dinamika rencana merger dengan MNC Bank mungkin akan mengalami perubahan, tergantung pada keputusan strategis para pemegang saham dan persetujuan regulator.

Asal tahu saja, rencana merger Bank Nobu dan Bank MNC mencuat saat tenggat waktu pemenuhan modal inti minimum bank umum sebesar Rp 3 triliun berakhir pada akhir 2022. Kala itu, kedua bank ini belum memenuhi ketentuan modal inti tersebut.

TRENDING  AFPI Sambut Positif Aturan OJK Tidak Boleh Pinjam di Lebih Tiga Pinjol

Namun, saat tak lama setelah kabar rencana merger itu beredar pada awal 2023, modal inti kedua bank sudah mencapai Rp 3 triliun. Modal inti Bank MNC pada akhir 2023 mencapai Rp 3,35 triliun dan Bank Nobu tercatat sebesar Rp 3,1 triliun.

Per November 2024, aset Nobu Bank tercatat sebesar Rp 32,63 triliun. Dengan total kredit mencapai Rp 19,97 triliun. Adapun aset Bank MNC mencapai Rp 19,73 triliun dengan total kredit Rp 10,96 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • Hapus tagih di bank BUMN akan makin mudah

    Bagi nasabah yang sering merasa kesulitan saat harus menghapus tagihan di bank BUMN, kini ada kabar baik. Proses penghapusan tagihan akan menjadi lebih mudah dan efisien. Dengan adanya perubahan ini, diharapkan para nasabah dapat lebih nyaman dan terhindar dari segala kesulitan yang biasa terjadi saat proses pembayaran tagihan. Jadi, jangan ragu untuk segera mencoba layanan baru ini dan rasakan kemudahan dalam mengelola keuangan Anda bersama bank BUMN

  • Bunga Deposito Bank Digital Terbaru, Siapa Paling Tinggi?

    Bunga Deposito Bank Digital Terbaru, Siapa Paling Tinggi?

    Pertanyaan ini sering kali muncul di benak para nasabah yang ingin menginvestasikan dananya dalam bentuk deposito. Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, banyak bank digital terbaru yang menawarkan bunga deposito yang menarik.

    Namun, dari sekian banyak pilihan tersebut, siapakah yang menawarkan bunga deposito tertinggi? Apakah ada bank digital terbaru yang bisa menjadi pilihan utama bagi para investor untuk mendapatkan keuntungan maksimal?

    Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu melakukan riset dan membandingkan berbagai penawaran bunga deposito dari berbagai bank digital terbaru. Dengan begitu, kita dapat memilih opsi yang paling menguntungkan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan investasi kita.

    Jadi, jangan ragu untuk mencari informasi lebih lanjut tentang bunga deposito bank digital terbaru agar dapat memperoleh hasil investasi yang optimal. Semoga artikel ini dapat membantu Anda dalam membuat keputusan finansial yang tepat!

  • Gagal Bayar Fintech Marak, OJK Minta Bank Perketat Channeling

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta bank untuk lebih ketat dalam melakukan channeling kepada fintech marak yang gagal bayar. Hal ini disampaikan sebagai upaya untuk mengurangi risiko kerugian bagi bank dan melindungi konsumen dari praktik ilegal yang dilakukan oleh fintech tersebut. OJK juga menekankan pentingnya transparansi dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku agar industri fintech dapat berkembang secara sehat dan memberikan manfaat bagi masyarakat

  • Daftar 537 Pinjol Ilegal Terbaru 2024 dari OJK

    ILUSTRASI. Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) OJK menemukan ada 537 pinjol ilegal. ANTARA FOTO/Didik Suhartono Beritafintech.com – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OK) terus memperbarui aftar pinjaman online (pinjol) ilegal secara berkala. Berdasarkan temuan terbarunya, Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) menemukan ada 537 pinjaman online (pinjol) ilegal. Melansir ojk.go.id, temuan tersebut…

  • Dividen Interim Bank Mandiri (BMRI) Segera Masuk Cum Date, Cek Potensi Yieldnya

    Pemberitahuan penting bagi para pemegang saham Bank Mandiri (BMRI)! Dividen interim segera masuk cum date, jangan lewatkan kesempatan untuk mengecek potensi yieldnya. Segera periksa informasi lebih lanjut untuk memastikan Anda tidak ketinggalan peluang investasi yang menguntungkan ini. Ayo manfaatkan dividen interim dari Bank Mandiri (BMRI) sekarang juga!

  • Fintech Lending Wajib Credit Scoring dengan Cara Ini Dalam Salurkan Pembiayaan

    Salah satu hal yang menjadi kunci dalam proses pengajuan pembiayaan melalui fintech lending adalah credit scoring. Dengan menggunakan metode ini, pemberi pinjaman dapat menilai risiko dan kemampuan pembayaran calon peminjam dengan lebih akurat. Namun, untuk memastikan bahwa credit scoring berjalan dengan baik, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan.

    Pertama, penting untuk mengumpulkan data secara lengkap dan akurat tentang calon peminjam. Data-data seperti riwayat kredit, pendapatan, dan informasi lainnya harus terdokumentasi dengan baik agar dapat memberikan gambaran yang jelas tentang profil keuangan calon peminjam.

    Selain itu, penting juga untuk menggunakan teknologi dan analisis data yang canggih dalam melakukan credit scoring. Dengan memanfaatkan teknologi seperti machine learning dan artificial intelligence, pemberi pinjaman dapat membuat prediksi yang lebih tepat tentang kemampuan pembayaran calon peminjam.

    Dengan menerapkan metode credit scoring secara efektif, fintech lending dapat menjadi solusi yang aman dan terpercaya bagi masyarakat dalam mendapatkan pembiayaan. Dengan demikian, proses pengajuan pinjaman akan menjadi lebih transparan dan efisien bagi semua pihak yang terlibat