AFPI Proyeksikan Pembiayaan Fintech Lending Meningkat Menjelang Lebaran

AFPI Proyeksikan Pembiayaan Fintech Lending Meningkat Menjelang Lebaran

ILUSTRASI. Pengguna sosial media mengamati iklan platform pinjaman online alias pinjol di Tangerang Selatan, Minggu (24/9/2023). Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menegaskan, biaya pinjaman di platform pinjol tak lebih melebihi 1%. Bahkan, platform pinjol dilarang mengenakan biaya pinjaman di atas 0,4% per hari. (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)

Beritafintech.com – JAKARTA. Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) memproyeksikan penyaluran pembiayaan fintech peer to peer (P2P) lending meningkat dobel digit menjelang Lebaran.

Kepala Hubungan Masyarakat AFPI Kuseryansyah mengatakan peningkatan tersebut berpotensi dirasakan oleh fintech lending yang bergerak di segmen produktif dan konsumtif.

“Menjelang Lebaran, utamanya pembiayaan konsumtif akan meningkat. Kalau produktif juga akan meningkat, terutama untuk fintech lending yang menyalurkan ke sektor retail,” katanya saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (25/3).

Baca Juga: Menilik Upaya AFPI Mendorong Literasi Keuangan Syariah

Kuseryansyah memproyeksikan penyaluran pembiayaan industri fintech lending menjelang momen Lebaran akan meningkat sekitar 10%, jika dibandingkan pencapaian pada periode sama pada tahun sebelumnya.

Dia menyebut proyeksi peningkatan itu tak terlepas dari permintaan masyarakat yang tinggi terhadap pinjaman fintech lending menjelang Lebaran.

Kuseryansyah menyampaikan sebenarnya peningkatan pembiayaan bisa saja melebihi 10%. Namun, dia bilang pada momen Ramadan dan Lebaran, biasanya fintech lending juga akan lebih ketat menyeleksi calon borrower seiring dengan permintaan yang tinggi.

Dengan demikian, fintech lending hanya menerima pengajuan pinjaman calon borrower yang layak saja.

TRENDING  Dapen BCA Terapkan Strategi Ini Guna Meningkatkan Return of Investment pada 2026

“Tentu tak semua borrower yang mengajukan pinjaman disetujui. Dengan demikian, banyak juga borrower yang ditolak karena tak lolos credit scoring,” tuturnya.

Lebih lanjut, Kuseryansyah mengatakan ketersediaan dana menjadi salah satu pertimbangan fintech lending dalam menyalurkan pembiayaan, sehingga terjadi banyak penolakan pengajuan pinjaman calon borrower.

Baca Juga: AFPI Dukung Adanya Asuransi Khusus untuk Fintech P2P Lending

Dia bilang setiap platform fintech lending tentunya akan menghitung kembali ketersediaan dana yang akan disalurkan, sehingga tak semua pengajuan pinjaman bisa disetujui.

Pertimbangan lainnya, yaitu fintech lending harus tetap mengedepankan manajemen risiko, seperti penilaian ketat, meski permintaan begitu tinggi menjelang Lebaran. Kuseryansyah menyampaikan tentunya fintech lending tak mau terjadi masalah gagal bayar ke depannya sehingga bisa memengaruhi bisnis perusahaan.

“Kami (AFPI) melihat banyak platform sudah matang meski permintaan tinggi. Mereka memang fokus bertumbuh, tetapi dengan kualitas penyaluran pembiayaan yang baik,” ungkap Kuseryansyah.

Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Agusman memproyeksikan pembiayaan fintech P2P lending berpotensi meningkat pada momen Ramadan dan Lebaran.

Agusman menyatakan perkiraan itu berkaca pada fakta tahun lalu dengan membandingkan momen Ramadan dan Lebaran pada April 2024 dan Maret 2024.

“Terlihat bahwa pembiayaan untuk industri pinjaman daring juga meningkat. Bercermin dari fakta tersebut dan melihat kenyataan sekarang diperkirakan untuk Lebaran tahun ini pembiayan pinjaman daring akan meningkat,” ungkapnya dalam konferensi pers RDK OJK, Selasa (4/3).

Baca Juga: OJK Kerek Batas Atas Pembiayaan Produktif Fintech Jadi Rp 5 Miliar, Ini Kata AFPI

TRENDING  Aplikasi Jual Pulsa Termurah Dan Banyak Bonus

Agusman berharap peningkatan tersebut akan lebih terkendali agar tidak menimbulkan peningkatan kredit macet ke depannya. Sebab, potensi terjadinya penyaluran kredit bermasalah pasti ada. Oleh karena itu, di tengah masih tingginya minat masyarakat, diperlukan juga kehati-hatian bagi penyelenggara dalam melakukan penyaluran.

Sebagai informasi, OJK mencatat outstanding pembiayaan fintech P2P lending mencapai Rp 78,50 triliun per Januari 2025. Nilai itu tercatat tumbuh sebesar 29,94% secara Year on Year (YoY).

Sementara itu, tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 fintech P2P lending per Januari 2025 tercatat sebesar 2,52%. TWP90 per Januari 2025 juga terbilang membaik, jika dibandingkan dengan posisi Desember 2024 yang sebesar 2,60%. 

Selanjutnya: Kebijakan Pemerintah Berpotensi Memicu Rupiah Jadi Melemah

Menarik Dibaca: Krisis Air Global, Retno Marsudi: 3,5 Miliar Orang Kurang Akses Sanitasi Layak

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • Tersisa 96 Perusahaan Pinjol Resmi Per Mei 2025, Ini Daftar Lengkapnya

    Menurut data terbaru yang dirilis pada bulan Mei 2025, terdapat 96 perusahaan pinjaman online yang resmi beroperasi di Indonesia. Daftar lengkapnya mencakup berbagai layanan dan produk yang ditawarkan oleh masing-masing perusahaan tersebut. Dengan adanya regulasi yang ketat, konsumen dapat memilih dengan lebih bijak dan aman saat mengajukan pinjaman online. Simak daftar lengkapnya untuk mengetahui lebih lanjut tentang perusahaan pinjol resmi di Indonesia!

  • Pendanaan Perbankan ke Fintech Lending Melonjak Signifikan

    Pendanaan perbankan ke fintech lending telah mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya minat investor untuk menyuntikkan dana ke platform-platform fintech lending yang menawarkan layanan pinjaman secara online. Fenomena ini tidak hanya memberikan peluang bagi para pelaku usaha untuk mendapatkan akses pendanaan dengan cepat dan mudah, namun juga memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Dengan adanya dukungan dari sektor perbankan, fintech lending semakin menjadi pilihan utama bagi masyarakat yang membutuhkan pinjaman tanpa harus melalui proses yang rumit dan memakan waktu. Selain itu, perkembangan teknologi juga turut berperan dalam mempermudah proses pengajuan pinjaman serta pencairan dana sehingga semakin banyak orang yang tertarik untuk menggunakan layanan tersebut. Dengan potensi pertumbuhan yang begitu besar, tidak heran jika pendanaan perbankan ke fintech lending terus mengalami peningkatan yang signifikan di masa mendatang

  • Bank Digital Perluas Jangkauan Pembiayaan Deposito Properti dengan Fintech

    Bank Digital kini semakin memperluas jangkauan pembiayaan deposito properti dengan memanfaatkan teknologi fintech. Hal ini menjadi langkah strategis untuk memberikan kemudahan bagi para nasabah dalam mengakses layanan perbankan secara online. Dengan adanya kolaborasi antara bank digital dan fintech, diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat untuk berinvestasi dalam bentuk deposito properti. Selain itu, penggunaan teknologi juga memungkinkan proses transaksi menjadi lebih cepat dan efisien, sehingga memberikan pengalaman yang lebih baik bagi para nasabah. Dengan demikian, bank digital terus berupaya untuk memberikan inovasi-inovasi terbaru guna meningkatkan pelayanan kepada masyarakat serta mendukung pertumbuhan ekonomi di Indonesia

  • Fintech Lending Perlu Waspadai Potensi Peningkatan TWP90 Hingga Akhir Tahun

    ILUSTRASI. Tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 industri fintech peer to peer (P2P) lending tercatat membaik dalam beberapa bulan terakhir. Beritafintech.com – JAKARTA. Tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 industri fintech peer to peer (P2P) lending tercatat membaik dalam beberapa bulan terakhir. Bahkan, TWP90 industri tercatat stabil atau memiliki nilai yang…

  • Pertumbuhan Fintech Lending Tahun 2026 Diproyeksikan Tidak Setinggi Tahun 2025

    ILUSTRASI. Ilustrasi Financial Technology (Fintech).  Kinerja fintech lending 2025 tumbuh pesat, namun 2026 diproyeksikan melambat akibat regulasi OJK dan risiko kredit macet UMKM. Analisis Celios. Beritafintech.com – JAKARTA. Kinerja industri fintech lending tercatat mengalami pertumbuhan signifikan sepanjang tahun ini. Pertumbuhan pembiayaannya bahkan konsisten berkutat di angka dobel digit. Misalnya saja, berdasarkan data terakhir Otoritas Jasa…

  • World Bank Fintech

    Menurut laporan terbaru dari World Bank, industri fintech di Indonesia terus berkembang pesat dan menjadi salah satu yang paling inovatif di dunia. Dengan adopsi teknologi yang semakin luas, layanan keuangan digital semakin mudah diakses oleh masyarakat, terutama mereka yang tinggal di daerah terpencil. Hal ini memberikan peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi dan inklusi keuangan di Indonesia. Selain itu, regulasi yang mendukung juga menjadi faktor penting dalam mempercepat perkembangan industri fintech ini. Diharapkan dengan dukungan semua pihak, Indonesia dapat menjadi pusat fintech global yang berdampak positif bagi seluruh lapisan masyarakat