PermataBank Wealth Wisdom 2025: Bekal Finansial di Tengah Dunia yang Tak Pasti

PermataBank Wealth Wisdom 2025: Bekal Finansial di Tengah Dunia yang Tak Pasti

Jakarta: Permata Bank kembali menghadirkan acara tahunan andalannya, Wealth Wisdom 2025. Mengusung tema “Resilient Wealth, Confident Future”, acara tersebut akan hadir di 11 kota untuk memberikan literasi keuangan yang lebih holistik dan menyeluruh. 

Wealth Wisdom, bukan sekadar bicara uang

Direktur Consumer Banking Permata Bank, Djumairah Tenteram menjelaskan, Wealth Wisdom merupakan signature event tahunan dari Bank Permata yang telah diselenggarakan sejak 2014. 
 
Berbeda dari edukasi finansial biasa, Wealth Wisdom menawarkan wawasan keuangan yang lebih menyeluruh, menyentuh sisi kekayaan dalam arti yang lebih luas, bukan hanya uang, tapi juga kesehatan, keberlanjutan, hingga makna hidup.
 
“Tujuan kami ingin menjadi mitra setia kepada masyarakat, nasabah untuk menemani melengkapi mebekali mereka dengan wawasan yang lebih luas mengenai keuangan. Bukan hanya keuangan kekayaan dalam bentuk wealth wisdom, tapi kekayaan dalam bentuk holistic. Bagaimana caranya untuk membina kesejahteraan, keberlanjutan untuk menambah nilai kehidupan,” katanya dalam konferensi pers, Jumat, 13 Juni 2024.
 

Lebih banyak menjangkau 11 kota

Tahun ini, Wealth Wisdom akan digelar di 11 kota di Indonesia, menjangkau lebih banyak wilayah dan komunitas dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kota-kota tersebut antara lain, Semarang, Yogyakarta, Palembang, Bali, Pontianak, Batam, Makassar, Medan, Bandung, Surabaya, dan Jakarta, mulai Juni hingga September 2025.

Menurut Divisi Head WM, Consumer Deposit & Cash Management Permata Bank, Ricky Dieo Yap, perluasan kota-kota ini merupakan bentuk komitmen nyata untuk memperluas literasi finansial di masyarakat, termasuk kota-kota tier dua yang sebelumnya belum banyak tersentuh.
 
“Formatnya akan interaktif, relevan. Ini menjadikan Bank Permata menjadi bank yang konsisten melakukan edukasi keuangan secara holistik,” kata Ricky.

TRENDING  Aset Finansial yang Wajib Dimiliki Generasi Sandwich, Apa Saja?

Resiliensi finansial di tengah ketidakpastian

Tema tahun ini, “Resilient Wealth, Confident Future”, diangkat sebagai respons terhadap situasi global yang penuh ketidakpastian. Mulai dari gejolak ekonomi, politik, hingga tekanan gaya hidup.
 
Jurnalis Senior Andy F Noya.   menyoroti fenomena pamer kekayaan, keserakahan, dan maraknya kasus korupsi di Indonesia. 
 
“Dalam konteks ini Wealth Wisdom ini penting semakin penting.  Kita saat ini banyak melihat banyak orang tidak bijak mengelola keuangan. Dari banyak uang yang kita miliki, kita tidak memberikan manfaat menciptakan keberlanjutan,” ungkap Andy.
 
Salah satu hal menarik dari Wealth Wisdom adalah pendekatannya yang menggabungkan keuangan dan wellness
 

 
Menurut Djumariah, Permata Bank selalu menyisipkan tema personal wellness seperti kesehatan mental dan fisik dalam setiap penyelenggaraan Wealth Wisdom.
 
“Ada baiknya kami membekali masyarakat atau nasabah untuk memberikan masukan bagaimana mengelola keuangan dalam kondisi seperti ini. Bagaimana supaya tangguh dalam kondisi apapun,” imbuh Djumairah.
 
Wealth Wisdom 2025 juga memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengelola kekayaan secara bijak dan bermakna. Bukan sekadar pamer (flexing), tapi menjadi pribadi yang berdampak bagi komunitas dan lingkungan.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
dan follow Channel WhatsApp Beritafintech.com

(ANN)

Check Also

OJK Perketat Regulasi Fintech P2P Lending, AFPI Pastikan Kepatuhan Industri

14 Fintech Lending Belum Penuhi Ekuitas Minimum Rp12,5Miliar, AFPI Urai Penyebabnya

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) mengungkapkan bahwa dari 14 perusahaan fintech lending yang telah beroperasi di Indonesia, belum ada satu pun yang memenuhi persyaratan ekuitas minimum sebesar Rp12,5 miliar. AFPI pun mulai menyelidiki penyebab dari masalah ini. Menurut Ketua Umum AFPI, Tumbur Pardede, salah satu faktor utama yang menyebabkan hal ini terjadi adalah kurangnya pemahaman tentang regulasi dan persyaratan yang diperlukan untuk beroperasi di industri fintech lending. Banyak perusahaan masih belum memahami pentingnya memiliki modal yang cukup untuk menjaga keberlangsungan bisnis mereka. Selain itu, Tumbur juga menyoroti masalah transparansi dalam pengelolaan dana nasabah oleh beberapa perusahaan fintech lending. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa investor enggan untuk menanamkan modal lebih banyak ke dalam industri ini. AFPI berkomitmen untuk terus melakukan pendampingan dan edukasi kepada para pelaku usaha fintech lending agar dapat memenuhi semua persyaratan yang ditetapkan oleh otoritas terkait. Dengan demikian, diharapkan industri fintech lending di Indonesia dapat tumbuh dengan sehat dan memberikan manfaat bagi semua pihak

%site% | NEWS