OJK Terus Pantau Proses Penyelesaian Likuidasi Fintech Ringan

Penurunan Batas Biaya Pinjaman 0,4% Dinilai Memberatkan Pelaku Bisnis Fintech P2P

ILUSTRASI. Peer to Peer Lending. 

Beritafintech.com – JAKARTA. Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) segera mengkaji rencana penerapan batas biaya pinjaman 0,4%.

Untuk diketahui, sejak akhir tahun lalu AFPI telah menyetujui untuk memangkas batas maksimal tingkat bunga pinjaman online sebanyak 50% menjadi 0,4%, dari tingkat bunga pinjaman online saat itu sebesar 0,8% per hari.

Dengan penurunan biaya pinjaman tersebut harapannya, pinjaman online dapat lebih terjangkau, juga sebagai upaya menghadapi pinjol ilegal.

Para pemain fintech pun mengapresiasi langkah AFPI untuk segera mereview kembali penerapan batas biaya pinjaman, karena dengan adanya penurunan dinilai memberatkan para pemain.

Misalnya saja, salah satu pemain fintech P2P lending DanaRupiah yang mengaku sangat mengapresiasi jika AFPI dapat mereview kembali batas bunga pinjaman sebesar 0,4%. Karena batas bunga 0,4% itu dinilai sangat memberatkan perusahaan P2P lending. 

“Karena biaya untuk proses dan akuisisi yang tinggi sehingga profitnya sangat tipis. Harapan kami dengan dikajinya kembali batas bunga pinjaman AFPI bisa mempertimbangkan tingkat bunga pinjamannya agar dinaikkan,” ungkap Presiden Direktur DanaRupiah Entjik S. Djafar kepada Beritafintech.com, Senin (14/3).

Baca Juga: Pemain Fintech Terus Perluas Penyaluran Pinjaman ke Luar Jawa

Entjik menyebut, saat ini rata-rata bunga pinjaman perusahaan setelah adanya pemangkasan bunga, adalah 0,35%. Bunga yang dibebankan kepada nasabah adalah bunga yang akan diberikan kepada lender sebagai hasil imbal balik dari transaksi pinjam meminjam melalui platform DanaRupiah.

Asal tahu saja, saat ini maksimal dana yang dapat dipinjam di DanaRupiah adalah sebesar Rp 8 juta.

TRENDING  Gap Literasi dan Inklusi Sektor Fintech Lending Lebar, Ini Penjelasan OJK

Ia juga mengatakan, sejauh ini dampak dari penurunan bunga pinjaman ini kepada kinerja perusahaan, yaitu risk scoring untuk nasabah baru akan lebih di perketat, untuk menekan angka gagal bayar. Selain itu, produk yang ditawarkan juga akan lebih beragam di sisi tenor untuk mengakomodir kebutuhan nasabah.

“Dengan penurunan bunga memang sangat berpengaruh terhadap daya tarik para lender untuk menempatkan dana di platform Layanan Pinjam Meminjam Berbasis Teknologi dan ini akan berimbas pada penurunan disbursement secara signifikan,” katanya.

Similar Posts

  • Manakar Dampak Pengetatan Pembelian Valas Tanpa Underlying Terhadap Bisnis Bank

    Manakar dampak pengetatan pembelian valas tanpa underlying terhadap bisnis bank dapat dirasakan dalam berbagai aspek. Salah satunya adalah penurunan volume transaksi valas yang dilakukan oleh nasabah, sehingga potensi pendapatan dari fee transaksi juga ikut menurun. Selain itu, bank juga harus lebih berhati-hati dalam mengelola risiko pasar akibat fluktuasi nilai tukar yang tidak didukung oleh underlying transaksi riil.

    Dampak lainnya adalah potensi terjadinya ketidakseimbangan antara aset dan kewajiban dalam mata uang asing, yang dapat mempengaruhi likuiditas dan profitabilitas bank. Selain itu, adanya pembatasan pembelian valas tanpa underlying juga dapat membatasi kemampuan bank untuk melakukan diversifikasi portofolio investasi dalam mata uang asing.

    Untuk menghadapi dampak dari kebijakan pengetatan ini, bank perlu meningkatkan kualitas manajemen risiko serta melakukan inovasi produk dan layanan untuk menjaga daya saing di pasar valuta asing. Selain itu, kerja sama dengan pihak regulator dan pemangku kepentingan lainnya juga diperlukan untuk mencari solusi terbaik guna mengoptimalkan potensi bisnis di tengah kondisi pasar yang semakin ketat

  • Monnai Perluas Operasinya di Indonesia untuk Menjadi Sumber Utama Keputusan Fintech

    ILUSTRASI. Platform Monnai mengintegrasikan rangkaian lengkap produk, mulai dari risk engine, data keuangan, insight lokasi, hingga solusi kepatuhan dan verifikasi untuk perbankan dan perusahaan fintech agar dapat menarik lebih banyak pengguna dan menciptakan solusi pinjaman yang menguntungkan. Beritafintech.com – Monnai, layanan penyedia infrastruktur consumer insights untuk institusi finansial yang berbasis di Amerika Serikat, memperluas ekspansi…

  • Bank Mega (MEGA) Bagi Saham Bonus 1:1, Terbitkan 11,74 Miliar Saham

    Bank Mega (MEGA) mengumumkan rencana penerbitan saham bonus sebanyak 1:1, dengan total saham yang akan diterbitkan sebanyak 11,74 miliar. Keputusan ini disambut baik oleh para pemegang saham yang antusias dengan langkah perusahaan untuk meningkatkan nilai investasi mereka. Dengan adanya penerbitan saham bonus ini, diharapkan Bank Mega dapat terus berkembang dan memberikan nilai tambah bagi seluruh pemegang sahamnya

  • Bank Woori Saudara (BWS) Rombak Susunan Direksi dan Komisaris

    Bank Woori Saudara (BWS) baru-baru ini mengumumkan perombakan susunan direksi dan komisarisnya. Langkah ini disambut dengan antusias oleh para pemegang saham dan pelanggan bank, yang berharap perubahan tersebut akan membawa kesegaran dan inovasi baru dalam strategi bisnis bank. Dengan adanya pergantian kepemimpinan, diharapkan Bank Woori Saudara dapat terus berkembang dan memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh nasabahnya. Selamat kepada direksi dan komisaris yang baru, semoga sukses dalam memimpin Bank Woori Saudara ke arah yang lebih baik!

  • Simak Rencana dan Strategi Bisnis Bank Neo Commerce di Bawah Kepemimpinan Eri Budiono

    Bank Neo Commerce merupakan salah satu bank yang sedang berkembang pesat di Indonesia. Di bawah kepemimpinan Eri Budiono, bank ini berhasil meraih berbagai prestasi dan mengimplementasikan berbagai strategi bisnis yang sukses.

    Eri Budiono dikenal sebagai pemimpin yang visioner dan inovatif dalam mengelola Bank Neo Commerce. Dengan visi yang jelas dan strategi bisnis yang matang, bank ini mampu bersaing dengan bank-bank besar lainnya di Indonesia.

    Salah satu strategi bisnis yang berhasil diimplementasikan oleh Eri Budiono adalah meningkatkan layanan digital bagi nasabah. Dengan adanya layanan digital yang mudah digunakan dan efisien, Bank Neo Commerce mampu menarik minat para nasabah untuk menggunakan produk-produk perbankan mereka.

    Selain itu, Eri Budiono juga fokus pada pengembangan SDM (Sumber Daya Manusia) di Bank Neo Commerce. Dengan memperhatikan kesejahteraan karyawan dan memberikan pelatihan-pelatihan berkualitas, bank ini berhasil menciptakan tim kerja yang solid dan kompeten dalam menjalankan tugas-tugasnya.

    Dengan berbagai langkah strategis tersebut, Bank Neo Commerce terus menunjukkan pertumbuhan positif dalam industri perbankan di Indonesia. Kepemimpinan Eri Budiono telah membawa bank ini menuju kesuksesan dan menjadi salah satu pilihan utama bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan perbankan mereka

  • Bank Neo Commerce Bersiap Hadapi Persaingan DPK Pasca Kenaikan BI Rate

    ILUSTRASI. Gozco Capital Kembali Borong Saham Bank Neo Commerce (DOK/PT Bank Neo Commerce ) Beritafintech.com – JAKARTA. PT Bank Neo Commerce Tbk mencermati langkah regulator menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,5%. Direktur Utama Bank Neo Commerce Eri Budiono mengatakan, naiknya BI Rate akan berpengaruh besar pada dinamika industri perbankan, terutama dalam penentuan bunga simpanan….