Kredit Macet Fintech Lending Dominasi Anak Muda, Begini Penjelasan Beberapa Pemain

AFPI Proyeksikan Pembiayaan Fintech Lending Dapat Tumbuh Dobel Digit pada 2026

ILUSTRASI. Ilustrasi fintech (KONTAN/Cheppy A. Muchlis). OJK mencatat outstanding pembiayaan industri fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman daring mencapai Rp 96,62 triliun per Desember 2025.

Beritafintech.com – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat outstanding pembiayaan industri fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman daring (pindar) mencapai Rp 96,62 triliun per Desember 2025.

Nilai itu tercatat tumbuh sebesar 25,44% secara Year on Year (YoY).

Melihat tren yang positif sepanjang 2025, Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) memproyeksikan industri fintech lending bisa tumbuh sebesar dobel digit pada 2026.

“Kami masih optimis untuk pertumbuhannya dobel digit,” ucap Ketua Umum AFPI Entjik Djafar kepada Kontan, Selasa (10/2/2026).

Baca Juga: OJK Batasi Utang Peminjam Fintech Jadi 30% Mulai 2026, AFPI Yakin Industri Kian Sehat

Seiring masih terbukanya pertumbuhan pembiayaan industri, Entjik menerangkan penyelenggara fintech lending juga perlu menerapkan sejumlah upaya agar tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 bisa tetap terjaga. 

Dia mengimbau seluruh penyelenggara ketika memberikan pembiayaan tetap mengedepankan prinsip prudent dan comply dalam melakukan analisis kelayakan kredit. 

Sementara itu, Pengamat sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda memproyeksikan outstanding pembiayaan fintech lending kemungkinan masih berpotensi tumbuh di level yang tinggi pada 2026. 

Hal itu dipicu masih tingginya credit gap dan permintaan yang tinggi terhadap layanan fintech lending, termasuk dari segmen Usaha, Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Namun, dia berpendapat pertumbuhannya kemungkinan akan cenderung melambat pada 2026.

TRENDING  Pertimbangan OJK Tetapkan Ketentuan Baru Lender Non Profesional Fintech Lending

Baca Juga: Dirut dan Komisaris DSI Ditahan, Bareskrim Pastikan Penelusuran Aset Tetap Berjalan

“Prediksi dari Celios tumbuh di angka 15% pada 2026, atau lebih tinggi dibandingkan dengan target pertumbuhan kredit nasional yang hanya di angka 12% paling tinggi,” ungkapnya kepada Kontan.

Nailul menerangkan salah satu faktor pertumbuhan cenderung melambat, yaitu masih hati-hatinya perbankan terhadap kredit berisiko, salah satunya terhadap underbanked people baik UMKM dan individu. 

Selain itu, dia mengatakan adanya penyesuaian kebijakan OJK, seperti pengetatan syarat pinjaman bagi borrower, juga menjadi faktor yang bisa menyebabkan pertumbuhan pembiayaan industri fintech lending melambat pada 2026.

Baca Juga: RUPD Dana Syariah Indonesia (DSI) Ditunda, Ini Penjelasan & Respons Paguyuban Lender

Sebagai informasi, tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 fintech P2P lending per Desember 2025 tercatat sebesar 4,32%. Angka TWP90 per Desember 2025 tercatat membaik tipis, jika dibandingkan dengan posisi November 2025 yang sebesar 4,33%. 

Selanjutnya: Rekor Obligasi Korporasi 2025 Bisa Terulang di 2026, Analis Optimistis

Menarik Dibaca: 6 Sumber Protein Anti Inflamasi yang Bagus untuk Dikonsumsi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • Yes! Akhirnya OJK Beri Izin Usaha ke Aplikasi Snack Video

    Kabar gembira datang dari dunia teknologi Indonesia! Akhirnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan izin usaha kepada aplikasi Snack Video. Langkah ini disambut dengan antusias oleh para pengguna setia aplikasi tersebut. Dengan adanya izin resmi dari OJK, diharapkan Snack Video dapat terus berkembang dan memberikan layanan yang lebih baik lagi kepada masyarakat. Selamat untuk tim Snack Video atas pencapaian ini! Semoga semakin sukses dan bermanfaat bagi banyak orang

  • Menjaga Nadi Finansial di Era Digital

    Dalam era digital yang terus berkembang, penting bagi kita untuk menjaga nadi finansial agar tetap sehat dan stabil. Berbagai teknologi baru telah memudahkan kita dalam mengelola keuangan, namun juga menuntut kedisiplinan dan kehati-hatian yang lebih tinggi. Dengan adanya aplikasi-aplikasi finansial dan layanan perbankan digital, kita harus bijak dalam menggunakannya agar tidak terjebak dalam pola konsumtif yang berlebihan. Menjaga nadi finansial bukan hanya soal memiliki uang banyak, namun juga tentang bagaimana cara mengelolanya dengan baik demi masa depan yang lebih cerah. Jadi, mari bersama-sama belajar untuk menjadi pintar dalam mengatur keuangan di era digital ini!

  • Melihat Alasan Di Balik Mundurnya Jadwal RUPS Bank Pelat Merah

    Para pemegang saham Bank Pelat Merah pasti penasaran dengan alasan di balik mundurnya jadwal RUPS yang seharusnya dilaksanakan. Apakah ada masalah internal yang sedang dihadapi oleh bank ini? Ataukah ada faktor eksternal yang mempengaruhi keputusan tersebut? Semua pertanyaan ini tentu membuat para investor dan analis pasar semakin penasaran dengan kondisi terkini Bank Pelat Merah. Menarik untuk terus mengikuti perkembangan selanjutnya dari bank ternama ini

  • Ada Kampanye Telegram Berbahaya Incar Pengguna Fintech

    Jakarta: Tim Riset dan Analisis Global Kaspersky (GReAT) telah mengungkap kampanye global berbahaya oleh para penyerang dengan menggunakan Telegram untuk mengirimkan spyware Trojan, yang berpotensi menargetkan individu dan bisnis di industri fintech dan perdagangan. Malware tersebut dirancang untuk mencuri data sensitif, seperti kata sandi, dan mengambil alih perangkat pengguna untuk tujuan spionase.   Kampanye tersebut…

  • Seleksi Alam Bagi Fintech Lending Lewat Aturan Modal Minimal

    Seleksi alam bagi fintech lending melalui aturan modal minimal telah menjadi topik hangat dalam dunia keuangan. Hal ini menimbulkan perdebatan sengit di kalangan para pelaku industri terkait, dimana beberapa pihak mendukung kebijakan tersebut sebagai langkah untuk meningkatkan kualitas layanan dan mengurangi risiko bagi para peminjam. Namun, ada juga yang menentangnya dengan alasan bahwa aturan modal minimal dapat mempersempit ruang gerak bagi pelaku usaha kecil dan menengah dalam industri fintech lending. Diskusi ini semakin memanas seiring dengan perkembangan teknologi dan regulasi di bidang finansial yang semakin kompleks. Dengan demikian, penting bagi semua pihak untuk terus berpartisipasi aktif dalam proses seleksi alam ini guna mencapai kesepakatan yang adil dan berkelanjutan untuk kemajuan industri fintech lending di Indonesia

  • Kredit Tumbuh Pesat, Begini Rekomendasi Saham Bank Mandiri (BMRI)

    Menurut analis pasar, saham Bank Mandiri (BMRI) merupakan pilihan yang sangat menarik untuk investasi saat ini. Dengan pertumbuhan kredit yang pesat, Bank Mandiri diprediksi akan terus mengalami peningkatan performa keuangan di masa mendatang. Selain itu, kebijakan manajemen yang solid dan visi jangka panjang yang kuat membuat saham BMRI semakin menarik bagi para investor.

    Dengan berbagai faktor positif tersebut, tidak heran jika saham Bank Mandiri (BMRI) menjadi salah satu rekomendasi teratas bagi para pelaku pasar. Bagi Anda yang sedang mencari investasi dengan potensi pertumbuhan tinggi, tidak ada salahnya untuk mempertimbangkan saham BMRI dalam portofolio Anda. Jangan lewatkan kesempatan emas ini untuk meraih keuntungan maksimal dari pertumbuhan kredit yang pesat dari Bank Mandiri