Rasio Nasabah Aktif Bank Digital di Bawah 50%, Ini Strategi Krom Bank dan Allo Bank

Rasio Nasabah Aktif Bank Digital di Bawah 50%, Ini Strategi Krom Bank dan Allo Bank

ILUSTRASI. Ilustrasi Digital Banking (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)

Beritafintech.com – JAKARTA. Di tengah agresivitas bank digital dalam menggenjot pertumbuhan jumlah nasabah, tingkat keaktifan pengguna justru masih relatif rendah.

Sejumlah bank digital mengakui bahwa rasio nasabah aktif mereka belum mencapai 50% dari total rekening terdaftar. Kondisi ini dinilai sebagai konsekuensi dari pesatnya pertumbuhan jumlah pemain di industri bank digital.

Salah satu contohnya adalah PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI) yang mencatat rasio nasabah aktif berada di kisaran 40%–45% dari total nasabah. Dalam konteks ini, nasabah aktif adalah mereka yang melakukan transaksi dalam 30 hari terakhir.

Jumlah nasabah Krom Bank hingga September 2025 tercatat tumbuh 2,3 kali lipat atau meningkat 230% secara tahunan, meskipun perseroan tidak membeberkan angka pasti total penggunanya.

Direktur Utama Krom Bank Anton Hermawan mengatakan, pertumbuhan nasabah aktif secara tahunan bahkan melampaui laju pertumbuhan total pendaftar.

Baca Juga: Persaingan Makin Ketat, Jumlah Nasabah Aktif Bank Digital Tidak Sampai 50%

“Hingga akhir 2025, tingkat keaktifan nasabah Krom Bank telah mencapai sekitar 40%–45% dari total nasabah,” ujar Anton kepada Beritafintech.com, Jumat (30/1/2026).

Menurut Anton, capaian tersebut menjadi indikator kuat bahwa fitur dan manfaat transaksi yang ditawarkan Krom Bank semakin relevan bagi kebutuhan nasabah.

Artinya, pengguna tidak hanya sekadar membuka rekening, tetapi juga langsung menjadikan Krom sebagai platform utama dalam aktivitas keuangan sehari-hari.

TRENDING  ROA Perbankan Menurun, Kemampuan Bank Mencetak Laba Berkurang

Peningkatan keaktifan ini juga tercermin dari frekuensi transaksi nasabah yang menunjukkan tren pertumbuhan stabil. Hal tersebut didorong oleh penambahan fitur pembayaran tagihan serta pengembangan produk yang mempermudah kebutuhan transaksi harian.

Untuk menjaga sekaligus meningkatkan keaktifan nasabah, Krom Bank menjalankan berbagai program promosi dan loyalitas. Namun demikian, Anton menegaskan bahwa strategi utama perseroan bukan semata-mata mendorong transaksi jangka pendek.

“Fokus kami adalah menghadirkan user experience yang simpel, relevan, dan memberikan nilai tambah sejak transaksi pertama,” ujarnya.

Baca Juga: Bos BCA Digital Buka Suara Soal Rumor IPO blu by BCA

Selain itu, Krom Bank mengoptimalkan program insentif dan referral guna mendorong nasabah eksisting tetap aktif bertransaksi sekaligus memperluas akuisisi pengguna baru.

“Dengan pendekatan tersebut, Krom Bank optimistis dapat terus memperkuat posisinya sebagai bank digital yang menjadi pilihan utama nasabah dalam mengelola kebutuhan finansial sehari-hari,” imbuhnya.

Allo Bank: 35% Nasabah Aktif dari 14 Juta Rekening

Kondisi serupa juga dialami PT Allo Bank Indonesia Tbk. Dari total sekitar 14 juta rekening, hanya sekitar 4,9 juta nasabah yang tercatat aktif bertransaksi, atau setara dengan 35%.

Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo menyebut, tingkat keaktifan tersebut tergolong sehat dalam konteks industri bank digital, di mana pertumbuhan pembukaan rekening sering kali lebih cepat dibandingkan tingkat penggunaan aktif.

“Di Allo Bank, kami tidak hanya melihat total rekening terdaftar, tetapi lebih menekankan pada metrik active users dan nasabah dengan transaksi rutin,” ujar Destya.

Saat ini, nasabah aktif Allo Bank rata-rata melakukan 6–12 transaksi per bulan, mulai dari transfer, pembayaran QRIS, top-up, hingga transaksi di merchant dalam ekosistem Allo. Frekuensi tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, mencerminkan perbaikan tingkat engagement pengguna.

TRENDING  Terbaru, Ini Daftar 20 Pinjol Ilegal Anyar yang Dirilis Satgas Waspada Investasi

Destya menilai, dalam model bisnis bank digital, engagement jauh lebih penting dibandingkan sekadar jumlah akun. Semakin tinggi frekuensi transaksi, semakin besar peluang monetisasi dan retensi jangka panjang.

Untuk meningkatkan aktivasi dan reaktivasi nasabah, Allo Bank menerapkan strategi berbasis data, seperti segmentasi perilaku transaksi, personalisasi penawaran, notifikasi yang relevan, serta integrasi lebih luas dengan merchant dalam ekosistem.

“Bagi kami, aktivasi bukan hanya soal promo, tetapi soal relevansi dan kenyamanan penggunaan,” jelas Destya.

Baca Juga: Binadigital Bank INA Luncurkan Fitur Investasi Emas Digital

Allo Bank juga terus meningkatkan pengalaman pengguna melalui penyederhanaan alur transaksi, peningkatan kecepatan aplikasi, serta pengembangan fitur yang sesuai dengan kebutuhan harian.

Strategi cross-selling produk simpanan dan kredit, seperti deposito digital dan PayLater, turut dimanfaatkan untuk mendorong keaktifan nasabah.

Terkait nasabah yang tidak aktif, Destya mengakui adanya beban biaya, terutama dari sisi akuisisi dan operasional sistem. Namun, struktur biaya bank digital dinilai lebih fleksibel dibandingkan bank konvensional karena tidak memiliki jaringan cabang fisik.

Ke depan, fokus Allo Bank adalah memastikan setiap nasabah yang diakuisisi memiliki potensi untuk diaktivasi dan dimonetisasi secara berkelanjutan guna meningkatkan lifetime value.

Faktor Daya Beli Masyarakat

Direktur Program dan Kebijakan Prasasti Center for Policy Studies Piter Abdullah menilai, rasio nasabah aktif bank digital yang masih di bawah 50% juga mencerminkan kondisi ekonomi rumah tangga saat ini.

“Nasabah bank digital itu sebagian besar nasabah kecil, ritel. Aktivitas mereka sangat dipengaruhi daya beli dan kondisi keuangan. Kalau kondisi ekonomi kelompok bawah sedang tertekan, ya wajar kalau tingkat keaktifannya rendah,” ujar Piter.

TRENDING  Berinvestasi dengan kecerdasan buatan

Menurutnya, mayoritas nasabah bank digital berasal dari segmen ritel kecil, bukan korporasi atau nasabah besar. Oleh karena itu, frekuensi transaksi sangat bergantung pada kondisi keuangan individu.

Meski demikian, Piter menilai rendahnya keaktifan nasabah tidak serta-merta menjadi beban besar bagi bank digital. Tantangan utama justru terletak pada penghimpunan dana pihak ketiga (DPK).

Baca Juga: Dorong Pedagang Naik Kelas, BSI Siapkan Transaksi Digital di Pasar

“Tantangan utama bank digital itu mengumpulkan DPK. Basis nasabah mereka masih terbatas dan mayoritas belum punya dana besar. Ini bukan cuma dialami bank digital, tapi juga bank-bank kecil secara umum,” jelasnya.

Ia menambahkan, pasar bank digital saat ini masih didominasi oleh Gen Z dan milenial muda yang belum mapan secara finansial dan memiliki loyalitas rendah.

“Gen Z dan milenial ini masih early career, penghasilannya belum stabil, dan mudah berpindah. Itu karakter dasarnya,” kata Piter.

Karena itu, Piter mendorong bank digital untuk mulai memperluas target pasar ke segmen yang lebih mapan, seperti milenial senior hingga Gen X, yang memiliki pendapatan lebih stabil dan potensi dana lebih besar.

“Kalau ingin meningkatkan jumlah rekening aktif, bank digital harus memperluas segmen. Masuk ke Gen X atau segmen yang sudah mapan. Tantangannya memang bagaimana cara menarik segmen ini,” pungkas Pitter.

Selanjutnya: Donald Trump Menunjuk Kevin Warsh sebagai Calon Ketua Federal Reserve Selanjutnya

Menarik Dibaca: Ini Kiat Coffeenatics Mengembangkan Usaha Kopi Lokal hingga Tembus Pasar Global

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • Fintech Terus Berinovasi Hadapi Kenaikan Risiko Pinjaman Kredit P2P

    Jakarta: Semakin banyaknya pelaku industri financial technology (fintech) yang mengalami masalah pendanaan karena pengelolaan pinjaman bermasalah tidak membuat [pelaku bisnis Peer to Peer Lending (P2P) menjadi takut untuk berinovasi.  PT Modal Rakyat Indonesia (Perseroan) melalui konsep embedded finance terus merangkul ekosistem industri dan menjalin kemitraan dengan perusahaan-perusahaan ternama seperti Meratus dan Sari Kreasi Boga serta

  • Strategi Bank Mandiri menangkal krisis

    Strategi Bank Mandiri dalam menangkal krisis telah terbukti sangat efektif. Dengan langkah-langkah yang tepat dan keputusan yang cepat, Bank Mandiri mampu bertahan di tengah badai ekonomi yang melanda. Kepemimpinan yang kuat dan tim yang solid menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan ini. Dengan fokus pada penguatan modal dan diversifikasi produk, Bank Mandiri berhasil mempertahankan posisinya sebagai salah satu bank terkemuka di Indonesia. Tidak hanya itu, inovasi teknologi juga menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing perusahaan ini. Dengan semangat pantang menyerah dan komitmen untuk selalu memberikan layanan terbaik kepada nasabah, Bank Mandiri siap menghadapi segala bentuk krisis di masa depan

  • Kenaikan Suku Bunga BI dan Aturan Bunga Pinjol Dinilai Berdampak ke Fintech Lending

    Kenaikan suku bunga Bank Indonesia dan penerapan aturan bunga pinjaman online dinilai berdampak besar bagi industri fintech lending. Para pelaku usaha di sektor ini merasa terbebani dengan kebijakan yang diterapkan, namun juga menyadari pentingnya untuk mematuhi regulasi yang ada. Dengan kondisi pasar yang semakin ketat, para pemain fintech lending harus mampu beradaptasi dan mencari solusi inovatif agar tetap bisa bersaing di tengah persaingan yang semakin sengit

  • Cek Ciri-Ciri Pinjol Ilegal dan 3 Cara Cek Legalitasnya di OJK

    Anda mungkin pernah mendengar istilah pinjol ilegal yang marak terjadi belakangan ini. Pinjol ilegal merupakan praktik pinjaman online yang tidak memiliki izin resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Bagi Anda yang ingin memastikan legalitas sebuah pinjol sebelum mengajukan pinjaman, ada beberapa cara yang bisa dilakukan.

    Pertama, pastikan perusahaan pinjol tersebut terdaftar dan diawasi oleh OJK. Anda dapat melakukan pengecekan melalui situs resmi OJK atau menghubungi langsung pihak OJK untuk memastikan legalitasnya. Kedua, perhatikan syarat dan ketentuan yang ditawarkan oleh pinjol tersebut. Pinjol ilegal cenderung memberikan persyaratan yang tidak wajar dan merugikan bagi peminjam.

    Terakhir, jangan ragu untuk bertanya kepada teman atau keluarga yang sudah memiliki pengalaman dengan pinjol tertentu. Mereka dapat memberikan informasi dan saran berharga mengenai legalitas serta reputasi dari pinjol tersebut. Dengan melakukan langkah-langkah ini, Anda dapat terhindar dari praktik pinjam meminjam ilegal dan melindungi diri dari risiko kerugian finansial

  • Berikut Daftar Pinjol Legal dan Ilegal dari OJK Per Juni 2024

    ILUSTRASI. Tawaran platform pinjaman online malalui kanal digital, Rabu (15/11/2023). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan membatasi masyarakat meminjam maksimal di tiga platform fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman online (pinjol). Ketentuan pembatasan penggunaan platform pinjol dikeluarkan OJK agar konsumen bisa mengindari kelebihan pendanaan./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/15/111/2023. Beritafintech.com – JAKARTA. Hingga kini pinjaman online masih banyak…

  • Tas Laptop Terbaik 2023 Rekomendasi Kami

    beritafintech.com – Bawa laptop Anda dengan aman dan bergaya. Baik Anda sedang mencari tas ransel, tas kerja atau tas kerja, kami telah menemukan tas laptop terbaik untuk Anda. Anda memiliki laptop, itu akan bepergian. Meskipun dunia sekarang kecanduan smartphone dan, pada tingkat lebih rendah, tablet, tidak ada yang mengungguli laptop untuk produktivitas mutlak, terutama ketika Anda…