Dana Kelolaan Pinnacle Investment Capai Rp 2,5 Triliun per Oktober 2025

Pinnacle Investment Targetkan Dana Kelolaan Tumbuh di Atas 20% pada 2026

ILUSTRASI. Pinnacle Investment menargetkan pertumbuhan Asset Under Management (AUM) atau dana kelolaan tumbuh dua digit pada tahun 2026. (KONTAN/Muradi)

Beritafintech.com – JAKARTA. PT Pinnacle Persada Investama atau Pinnacle Investment menargetkan pertumbuhan Asset Under Management (AUM) atau dana kelolaan tumbuh dua digit pada tahun 2026.

Per November 2025, Pinnacle Investment mencatat total AUM sebesar Rp2,5 triliun. Dengan fokus pada pertumbuhan yang sehat, mereka memproyeksikan kenaikan AUM di atas 20% pada tahun mendatang.

“Kami berharap bisa ada pertumbuhan AUM yang cukup baik di atas 20 persen untuk tahun depan,” ungkap CEO Pinnacle Investment, Guntur Putra, kepada Kontan, Selasa (23/12/2025).

Meski arah pertumbuhan akan lebih selektif, Pinnacle Investment percaya target tersebut dapat direalisasikan berkat dorongan konsistensi kinerja investasi, terjaganya kepercayaan investor, penguatan distribusi dan inovasi produk, serta manajemen yang kuat.

Baca Juga: Pinnacle Investment: Penurunan Yield Obligasi Berdampak ke Reksadana Pendapatan Tetap

“Pertumbuhan akan lebih selektif dan menuntut konsistensi kinerja serta tata kelola yang kuat,” ucap Guntur.

Pada tahun 2026, Pinnacle Investment juga berencana menerbitkan sejumlah reksadana baru untuk memenuhi kebutuhan investor.

Di sisi lain, investor ritel diperkirakan tetap menjadi motor utama pertumbuhan dana kelolaan, khususnya dari segmen emerging affluent.

Sementara itu, instrumen reksadana saham dan campuran dengan strategi aktif serta reksadana pendapatan tetap yang dikelola secara selektif diperkirakan akan banyak diminati.

Meski demikian, perusahaan juga mencermati sejumlah tantangan yang berpotensi memengaruhi kinerja industri, mulai dari volatilitas global, persaingan yang semakin ketat, hingga perkembangan regulasi.

TRENDING  OJK : Masyarakat harus hati-hati bagikan data pribadi ke fintech lending

Baca Juga: Dana Kelolaan Pinnacle Investment Capai Rp 2,5 Triliun per Oktober 2025

Penerapan MIKU 1 dan MIKU 2 yang mencakup penguatan permodalan dan ketentuan minimal AUM menjadi salah satu aspek yang mereka perhatikan.

Untuk merespons tantangan tersebut, Pinnacle Investment mempersiapkan langkah antisipatif melalui penguatan riset, disiplin manajemen risiko, serta penerapan tata kelola perusahaan yang solid.

“Pinnacle tentunya mempersiapkan diri melalui penguatan riset, disiplin manajemen risiko, dan tata kelola yang solid,” pungkas Guntur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • Pentingnya Literasi Finansial dan Perlindungan bagi Perempuan

    Jakarta: Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2023, sebanyak 49,4% dari total 275,7 juta penduduk Indonesia adalah perempuan. Di mana 64,5% di antaranya adalah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Di sisi lain, data yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2022 menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan perempuan mengalami peningkatan,…

  • Mandiri Investment Forum bidik 15.000 investor

    Mandiri Investment Forum berhasil menarik perhatian lebih dari 15.000 investor yang hadir dalam acara tersebut. Para peserta terlibat aktif dalam diskusi dan presentasi yang disajikan, menunjukkan antusiasme tinggi terhadap topik-topik investasi yang dibahas. Dengan berbagai informasi dan wawasan baru yang didapatkan, para investor diharapkan dapat membuat keputusan investasi yang lebih cerdas dan menguntungkan untuk masa depan mereka

  • TMRW By UOB Masuk Jajaran 100 Top Bank Digital Global

    ILUSTRASI. Direktur Utama UOB Indonesia Kevin Lam (kanan) berbincang dengan Digital Bank Head UOB Indonesia Fajar S. Maharjaya (kiri) usai peluncuran TNRW bank digital UOB di Jakarta, Senin (3/8). ./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/03/08/2020. Beritafintech.com – JAKARTA. Empat bank digital Indonesia masuk daftar Global Top 100 Digital Bank Ranking 2022 yang dirilis The Asian Banker. Salah satunya

  • Dukung Penguatan Industri Fintech Lending, OJK Lakukan Berbagai Langkah Kebijakan Ini

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus melakukan langkah-langkah kebijakan untuk mendukung dan memperkuat industri fintech lending di Indonesia. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan akses permodalan bagi para pelaku usaha, terutama UMKM, yang seringkali kesulitan mendapatkan pinjaman dari lembaga keuangan konvensional.

    Salah satu langkah yang telah dilakukan oleh OJK adalah dengan memberikan izin operasional kepada sejumlah perusahaan fintech lending yang memenuhi persyaratan dan standar yang ditetapkan. Selain itu, OJK juga terus melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap kinerja serta kepatuhan dari para pelaku industri fintech lending tersebut.

    Dengan adanya dukungan dan pengawasan yang ketat dari OJK, diharapkan dapat menciptakan lingkungan usaha yang sehat dan berkelanjutan bagi para pelaku industri fintech lending. Sehingga, masyarakat dapat lebih percaya dan nyaman dalam menggunakan layanan pinjaman online ini sebagai alternatif solusi keuangan mereka

  • Menakar Peluang Bisnis dari Kehadiran Bank Emas

    Bank Emas merupakan salah satu inovasi terbaru dalam dunia perbankan yang menawarkan peluang bisnis yang menarik. Dengan kehadiran Bank Emas, para investor dapat dengan mudah membeli dan menjual emas secara online, tanpa perlu repot-repot datang ke toko fisik. Hal ini tentu saja memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi para pelaku bisnis emas.

    Selain itu, Bank Emas juga memberikan jaminan keamanan dan transparansi dalam setiap transaksi yang dilakukan. Dengan sistem teknologi blockchain yang digunakan oleh Bank Emas, para investor dapat melacak setiap transaksi mereka dengan mudah dan aman. Hal ini tentu saja menjadi nilai tambah bagi para pelaku bisnis emas yang ingin mengoptimalkan investasi mereka.

    Dengan adanya Bank Emas, peluang bisnis di bidang investasi emas semakin terbuka lebar. Para investor dapat dengan mudah membeli emas dalam jumlah besar maupun kecil sesuai dengan kebutuhan mereka. Selain itu, harga emas yang ditawarkan oleh Bank Emas juga bersaing sehingga para investor bisa mendapatkan keuntungan maksimal dari investasi mereka.

    Dengan segala kemudahan dan manfaat yang ditawarkan oleh Bank Emas, tidak heran jika banyak orang mulai melirik peluang bisnis di bidang investasi emam ini. Jadi jangan lewatkan kesempatan untuk meraih kesuksesan di dunia bisnis dengan memanfaatkan kehadiran Bank Emam sebagai sarana berinvestasi Anda!

  • Laba Fintech Lending Terus Melesat, Tembus Rp 1,65 Triliun per Desember 2024

    Menurut laporan terbaru, Laba Fintech Lending terus melesat dan berhasil menembus angka Rp 1,65 triliun per Desember 2024. Kinerja yang gemilang ini menunjukkan pertumbuhan yang sangat positif dalam industri fintech lending di Indonesia. Dengan pencapaian yang fantastis ini, tidak heran jika perusahaan ini menjadi sorotan utama dalam dunia bisnis saat ini. Semoga prestasi yang telah diraih dapat terus dipertahankan dan bahkan ditingkatkan di masa mendatang