BFI Finance (BFIN) Tutup Usaha Fintech P2P Lending

BFI Finance (BFIN) Tutup Usaha Fintech P2P Lending

ILUSTRASI. Kinerja Industri Multifinance (KONTAN/Baihaki) BFI Finance Indonesia (BFIN) mengumumkan penghentian kegiatan usaha anak usahanya di lini fintech peer-to-peer (P2P) lending.

Beritafintech.com – JAKARTA. Emiten pembiayaan, PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) mengumumkan penghentian kegiatan usaha anak usahanya di lini financial technology (fintech) peer-to-peer (P2P) lending.

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (20/2/2026), Presiden Direktur BFIN menyampaikan bahwa BFIN selaku entitas induk PT Finansial Integrasi Teknologi (FIT) telah menerima Akta Pernyataan Keputusan Para Pemegang Saham di Luar Rapat (Sirkuler) No. 10 tertanggal 11 Februari 2026. 

Dalam keputusan tersebut, para pemegang saham menyetujui penghentian kegiatan usaha FIT sebagai Penyelenggara Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI).

Baca Juga: Permata Bank (BNLI) Bakal Gelar RUPST pada 7 April 2026

“PT FIT telah mengajukan permohonan pencabutan izin usaha sebagai penyelenggara LPBBTI kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Saat ini, permohonan tersebut masih dalam proses,” tulisnya dalam keterbukaan informasi, Jumat (20/2/2026).

BFIN menegaskan, penghentian kegiatan usaha FIT tidak memberikan dampak signifikan terhadap kegiatan operasional, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha BFIN.

Di saat bersamaan, BFIN juga mengumumkan rencana pembelian kembali (buyback) saham dengan nilai maksimal Rp 100 miliar. Jumlah saham yang akan dibeli kembali tidak lebih dari 1% dari modal disetor. BFIN memastikan porsi saham beredar (free float) tetap minimal 40% dari modal disetor setelah pelaksanaan buyback.

Periode buyback dimulai pada 23 Februari 2026 dan berlangsung paling lama tiga bulan sejak tanggal keterbukaan informasi, yakni 20 Februari 2026, kecuali diakhiri lebih cepat oleh perseroan. Buyback dilakukan melalui pasar reguler di BEI dan hanya melalui PT Trimegah Sekuritas Indonesia.

TRENDING  OJK Sebut Skema Asuransi Kredit Khusus untuk Fintech Lending Masih Dikaji

BFIN menyatakan aksi korporasi tersebut tidak akan berdampak signifikan terhadap operasional, kinerja keuangan, struktur permodalan, maupun likuiditas. Dana buyback bersumber dari kas internal perusahaan. Per September 2025, total aset BFIN tercatat sebesar Rp 25,43 triliun dengan ekuitas Rp 10,89 triliun.

Baca Juga: Kredit Konsumer BCA Tumbuh Terbatas di Tahun 2025

Selanjutnya: Intip Waktu Adzan Maghrib Gresik Senin (23/2): Cek Panduan Buka Puasa

Menarik Dibaca: 6 Promo Ramadhan Es Teler 77: Jangan Lewatkan Beli 1 Gratis 1 hingga Diskon 50%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • Kolaborasi dengan Fintech, Bisnis Pengiriman Uang Perbankan Tumbuh Pesat

    Kolaborasi antara perusahaan perbankan dengan fintech telah membawa dampak yang signifikan pada pertumbuhan bisnis pengiriman uang. Dengan adanya kerjasama ini, layanan pengiriman uang semakin mudah, cepat, dan efisien bagi para konsumen. Hal ini turut memberikan dorongan positif bagi perkembangan industri perbankan yang kini tumbuh pesat. Dengan adanya inovasi-inovasi baru dalam teknologi finansial, pelanggan pun semakin dimanjakan dengan berbagai pilihan layanan yang lebih modern dan praktis. Kolaborasi antara kedua pihak ini menjadi kunci sukses dalam menghadapi persaingan di era digital saat ini

  • Fintech dan tren transaksi digital, bagaimana upaya bank menghadapi disrupsi?

    ILUSTRASI. ilustrasi fintech. /2017/01/04 Beritafintech.com – JAKARTA. Poros ekonomi kini sudah dan memasuki era revolusi industri 4.0. Kemajuan teknologi pun melahirkan banyak perusahaan teknologi finansial (Tekfin/fintech). Sedikit banyak, kehadiran fintech pun membuat pelaku jasa keuangan konvensional harus memutar otak agar tetap relevan. Hal ini pula dibarengi dengan masifnya penggunaan internet melalui telepon pintar (smartphone). Kini melalui…

  • Overview

    Overview adalah platform yang memungkinkan pengguna untuk melihat informasi terkini tentang berbagai topik yang sedang trending. Dengan fitur-fitur interaktif dan ringkas, pengguna dapat dengan mudah mendapatkan gambaran umum tentang suatu topik tanpa harus membaca artikel panjang. Dengan tingkat keterlibatan yang tinggi, Overview menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin tetap up to date dengan berita terbaru

  • Manajemen Risiko Finansial Bank Bulion di Indonesia

    Manajemen risiko finansial merupakan hal yang sangat penting bagi Bank Bulion di Indonesia. Dalam menghadapi berbagai tantangan dan perubahan di pasar keuangan, bank ini harus mampu mengelola risiko dengan baik agar tetap dapat bertahan dan berkembang. Risiko-risiko seperti risiko kredit, risiko pasar, dan risiko likuiditas harus dikelola secara hati-hati dan proaktif.

    Bank Bulion juga harus memperhatikan regulasi yang ada terkait manajemen risiko finansial agar tidak melanggar aturan yang berlaku. Selain itu, bank ini juga perlu memiliki tim yang kompeten dalam bidang manajemen risiko finansial untuk dapat mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengelola risiko dengan tepat.

    Dengan melakukan manajemen risiko finansial yang baik, Bank Bulion di Indonesia akan dapat meningkatkan kepercayaan nasabah serta menjaga reputasi mereka sebagai lembaga keuangan yang aman dan terpercaya. Selain itu, bank ini juga akan lebih siap dalam menghadapi berbagai ketidakpastian di pasar keuangan sehingga dapat tetap bersaing secara sehat di industri perbankan

  • Jaga Kepercayaan Lender Fintech Lending, OJK Bakal Lakukan Sejumlah Upaya Ini

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan melakukan sejumlah upaya untuk menjaga kepercayaan para pemberi pinjaman di industri fintech lending. Langkah-langkah ini dilakukan guna memastikan transparansi dan keamanan dalam layanan pinjaman online. Dengan adanya regulasi yang ketat, diharapkan dapat meningkatkan kredibilitas serta perlindungan bagi para konsumen. Selain itu, OJK juga akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaku usaha fintech lending agar tetap beroperasi sesuai dengan aturan yang berlaku. Dengan demikian, diharapkan industri fintech lending dapat terus berkembang secara positif dan memberikan manfaat bagi masyarakat secara luas

  • AirAsia Move dan HTS Integrasikan Produk Pendukung Fintech

    Jakarta: AirAsia Move (sebelumnya airasia Superapp) umumkan kemitraan dengan HTS (Hopper Technology Solutions) untuk mengintegrasikan produk pendukung teknologi keuangan (fintech)ke dalam platform digital AirAsia.  Dalam kurun beberapa bulan ke depan, AirAsia Move akan menawarkan opsi “Cancel for Any Reason”, atau Pembatalan dengan Alasan Apapun untuk pemesanan penerbangan tanpa fasilitas pengembalian dana (non-refundablefares). Nantinya, opsi “Cancel…