Upaya BPKH Mencari Pemilik Baru Bank Muamalat, Ada BTN Disebut

Upaya BPKH Mencari Pemilik Baru Bank Muamalat, Ada BTN Disebut

ILUSTRASI. Upaya Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) untuk mencari pemilik baru PT Bank Muamalat Indonesia belum berhenti. KONTAN/BAihaki/4/2/2025

Beritafintech.com JAKARTA. Upaya Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) untuk mencari pemilik baru PT Bank Muamalat Indonesia belum berhenti. BPKH pun menjadi pemegang saham bank tersebut karena mendapat hibah dari beberapa bank dari Timur Tengah.

Belum hilang dari ingatan, Bank Muamalat sempat didekati oleh PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN). Sayangnya, garis tangan berkata keduanya tak berjodoh setelah hasil due diligence.

Namun, Sumber KONTAN membisikkan bahwa Bank Muamalat berencana untuk kembali mendekati BTN. Tentu, kini dengan tawaran nilai yang lebih murah dari sebelumnya.

Baca Juga: Berikan Layanan Perbankan Syariah, Muamalat Gandeng Kementerian Agama

Tak main-main, sumber tersebut mengungkapkan bahwa nilai yang ditawarkan setara dengan rencana nilai akuisisi BTN terhadap PT Bank Victoria Syariah (BVS). Seperti diketahui, BTN telah mengumumkan akan mengakuisisi BVS dengan nilai transaksi di bawah 1,5x nilai buku.

Dengan nilai transaksi yang sama, BTN bisa mengakuisisi Bank Muamalat dengan seluruh asetnya. Sementara, jika memilih BVS, BTN hanya mendapat bank tersebut secara kosongan.

Ketika dikonfirmasi, Kepala BPKH Fadlul Imansyah menampik kabar tersebut. Namun, ia membenarkan bahwa saat ini pihaknya memang tengah menggodok rencana untuk menjual Bank Muamalat.

“Lagi kita godok di internal, kalau sudah clear akan kita sampaikan ke media,” ujarnya saat ditemui di Gedung DPR, Kamis (6/2).

Sembari mencari investor baru, Fadlul bilang pihaknya bakal terus melakukan perbaikan di dalam bisnis Bank Muamalat. Di mana, memang bayang-bayang kredit macet ada dalam tubuh Bank Muamalat.

TRENDING  Bank Digital yang Hanya Mengandalkan Satu Ekosistem Berpotensi Punya Risiko Tinggi

Secara rinci, NPF gross Bank Muamalat secara tahunan naik dari 2,18% menjadi 2,95% di kuartal 3-2024. Sementara, untuk rasio NPF nett yang mereka miliki juga naik secara tahunan dari 0,43% menjadi 2,34%.

Selain itu, rasio Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) aset keuangan terhadap aset produktif milik Bank Muamalat juga ikut tergerus. Di periode September 2023 berada di level 1,30%, setahun kemudian menjadi 0,86%.

Baca Juga: Bank Syariah Optimistis Penurunan Biaya Haji Mengerek Pendaftar dan Tabungan Haji

“Kita selalu melakukan pembenahan entah ada investor atau tidak,” ujarnya.

Sebelumnya, Fadlul pernah bilang bahwa Bank Muamalat telah mengubah strateginya dengan mengganti jajaran direksi pada Desember 2024. Dengan harapan, akselerasi bisnis Bank Muamalat menjadi daya tarik baru agar dilirik investor.

“Akselerasi bisnis ini agar calon investor percaya bahwa Bank Muamalat baik-baik saja,” ujarnya kala itu.

Sementara itu, Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu tak mau berkomentar saat ditanya tanggapannya terkait rencana BPKH tersebut. Bahkan, ia belum mendengar adanya tawaran baru yang datang dari BPKH.

“Wah info baru nih,” ujar Nixon singkat.

Namun, belum lama ini, Nixon sejatinya sempat bilang bahwa pihaknya membuka peluang untuk melakukan konsolidasi dengan bank syariah lain. Dengan catatan, proses akuisisi BVS tetap menjadi prioritas utama.

“Mungkin saja nanti setelah itu kita mencari syariah-syariah lain yang kita lihat bagus dan cocok, itu sangat mungkin,” ujar Nixon, akhir Januari lalu.

Calon Investor Lihat Kinerja Keuangan

Direktur Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Sutan Emir Hidayat mengungkapkan bahwa untuk mencari investor baru tak semudah itu. Sebab, berbagai pertimbangan tentu dipikirkan calon investor.

TRENDING  LPS Tegaskan, Disiplin Menabung Jadi Kunci Kemerdekaan Finansial

Dalam hal ini, ia menjelaskan bahwa calon investor paling mudah melihat kinerja keuangan. Di mana, bisa saja itu tak sevisi dengan calon investor.

“Pertimbangan orang kan banyak, gak main langsung beli aja,” ujar Emir.

Sebagai informasi, Bank Muamalat mencatatkan kinerja yang kurang memuaskan hingga periode September 2024. Di mana, bank syariah tertua di tanah air ini mencatat penurunan laba yang anjlok hingga 83,68% YoY.

Berdasarkan laporan keuangannya, laba bersih Bank Muamalat membukukan laba senilai Rp 8,54 miliar di sembilan bulan tahun 2024. Sebagai perbandingan, laba bersih di periode sama tahun sebelumnya masih bisa mencapai Rp 52,36 miliar.

Oleh karenanya, ia sepakat jika Bank Muamalat sebaiknya berbenah dulu dari sisi kinerja. Terlebih, ada harapan direksi baru Bank Muamalat bisa mewujudkan perbaikan tersebut. 

“Kalau kinerja membaik, punya rencana bisnis yang jelas dan itu dibuktikan, maka calon investor pun juga bisa kembali evaluasi,” ujar Emir.

Terlebih, ia menilai sejatinya Bank Muamalat memiliki kekuatan yaitu nasabah loyalis. Di mana, itu tentu akan menambah Dana Pihak Ketiga (DPK) yang semakin mumpuni.

“Loyalis mereka itu cukup banyak. Saya aja yang tahu permasalahan mereka tetap jadi nasabah,” tandasnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • Pinjaman di Atas Rp 2 Miliar di Fintech Lending akan Wajib Pakai Agunan

    Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan baru terkait pinjaman di atas Rp 2 miliar di platform fintech lending. Menurut kebijakan tersebut, para peminjam yang ingin mengajukan pinjaman di atas batas tersebut akan wajib menyertakan agunan sebagai jaminan. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir risiko default dan melindungi kedua belah pihak, baik peminjam maupun penyedia layanan fintech lending. Kebijakan ini menuai beragam tanggapan dari masyarakat, ada yang setuju karena dapat meningkatkan keamanan transaksi, namun ada juga yang merasa khawatir dengan kemungkinan penyalahgunaan agunan. Bagaimana pendapat Anda tentang kebijakan ini?

  • Ingat! Anak Muda Indonesia Juga Harus Mapan Finansial

    Jakarta: Sun Life Indonesia dan Universitas Gunadarma menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) yang turut meneguhkan komitmen bersama untuk memberdayakan generasi muda Indonesia menuju kemapanan finansial dan hidup yang lebih sehat.  Penandatanganan yang dilangsungkan di Universitas Gunadarma ini menunjukkan komitmen Sun Life Indonesia dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia dalam memulai karier mereka. Di tengah tantangan dan kebutuhan

  • OJK Dorong Industri Asuransi Masuk ke Fintech Lending untuk Cover Risiko

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong industri asuransi untuk terlibat dalam fintech lending guna memberikan perlindungan terhadap risiko yang dihadapi oleh para pelaku usaha. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk meningkatkan keamanan dan kesejahteraan bagi para pemilik usaha yang menggunakan layanan fintech lending. Dengan adanya keterlibatan industri asuransi, diharapkan risiko-risiko yang timbul dapat diminimalisir sehingga pertumbuhan sektor fintech lending dapat semakin berkembang secara berkelanjutan

  • Perusahaan Fintech Didorong Bantu OJK Genjot Literasi dan Inklusi Keuangan

    Perusahaan fintech memiliki peran yang sangat penting dalam membantu OJK meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di Indonesia. Dengan teknologi yang inovatif, perusahaan fintech mampu memberikan akses keuangan kepada masyarakat yang sebelumnya sulit untuk mendapatkan layanan keuangan. Hal ini tentunya akan membantu OJK dalam mencapai target inklusi keuangan di Tanah Air. Selain itu, perusahaan fintech juga turut aktif dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya literasi keuangan agar dapat mengelola keuangannya dengan lebih baik. Dengan kerjasama antara perusahaan fintech dan OJK, diharapkan dapat tercipta masyarakat yang lebih cerdas secara finansial dan mandiri dalam mengelola keuangannya

  • Cegah Stres Finansial Karyawan Pasca-Lebaran Dengan Cara Ini

    Setelah liburan panjang Lebaran, banyak karyawan yang mengalami stres finansial akibat pengeluaran yang meningkat. Untuk mencegah hal ini, penting bagi karyawan untuk merencanakan keuangan dengan baik. Mulai dari membuat anggaran belanja hingga menabung secara rutin, langkah-langkah sederhana ini dapat membantu mengurangi stres finansial dan menjaga kestabilan ekonomi pribadi

  • Fintech Tunjuk Ronald Waas Sebagai Dewan Komisaris

    Fintech Tunjuk Ronald Waas Sebagai Dewan Komisaris

    Fintech, perusahaan teknologi keuangan terkemuka di Indonesia, baru-baru ini mengumumkan penunjukan Ronald Waas sebagai anggota Dewan Komisaris mereka. Keputusan ini disambut dengan antusias oleh para pelaku industri finansial di Tanah Air.

    Ronald Waas, yang memiliki pengalaman luas dalam bidang keuangan dan investasi, diharapkan dapat membawa inovasi dan strategi baru bagi Fintech. Dengan latar belakangnya yang kuat dalam manajemen risiko dan pengembangan produk keuangan, Ronald diyakini mampu membantu Fintech mencapai tujuan mereka untuk menjadi pemimpin pasar dalam layanan keuangan digital.

    Para pemegang saham dan karyawan Fintech pun optimis dengan kedatangan Ronald sebagai bagian dari tim manajemen perusahaan. Mereka percaya bahwa dengan kepemimpinan yang visioner dan komitmen yang kuat, Fintech akan semakin berkembang pesat dan memberikan nilai tambah bagi seluruh stakeholders-nya.

    Dengan penunjukan Ronald Waas sebagai Dewan Komisaris, Fintech siap melangkah lebih jauh menuju kesuksesan di dunia fintek Indonesia. Semua mata tertuju pada langkah-langkah strategis yang akan diambil oleh Ronald untuk memperkuat posisi perusahaan dalam persaingan industri finansial yang semakin ketat