Pasar Hati-Hati, Saham Bank Underperform

Pasar Hati-Hati, Saham Bank Underperform

ILUSTRASI. Investor asing ramai-ramai lepas saham bank big 4, picu koreksi tajam. Pelajari alasan di balik tekanan harga ini dan risikonya. (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)

Beritafintech.com – JAKARTA. Jelang akhir kuartal pertama, para blue chip sektor perbankan masih belum bertenaga. Namun, peluang rebound ikut terbuka seiring rendahnya valuasi saat ini.

Pada akhir perdagangan Jumat (27/3/2026), saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ada di posisi harga Rp 6.700, anjlok 17,03% sejak awal tahun (year-to-date/YTD) dan 21,41% secara tahunan (year-on-year/YoY).

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga mencatatkan koreksi 6,67% YTD dan 7,57% YoY di posisi harga Rp 4.760. Sementara PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 10,76% YTD dan 8,24% YoY menjadi Rp 3.900 dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) longsor 6,56% YTD dan 14,5% YoY ke Rp 3.420.

Menurut Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi, saat ini posisi saham blue chip di sektor perbankan memang relatif underperform dibandingkan sektor defensif seperti konsumer.

Wafi bilang sebabnya adalah capital outflow asing yang masif. Memang, sejak awal tahun BBCA menorehkan net sell asing hingga Rp 20,35 triliun, BMRI sebesar Rp 2,44 triliun, BBNI sebesar Rp 2,81 triliun, dan BBRI sebesar Rp 1,15 triliun.

Baca Juga: Kredit Masih Seret, Obligasi Jadi Pilihan Bank Parkir Likuiditas

Apalagi, kata Wafi, sektor bank merupakan proksi utama asing di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). “Sehingga terdampak langsung oleh ketidakpastian suku bunga The Fed (higher for longer), pelemahan rupiah, dan rotasi aset ke instrumen obligasi AS,” jelas Wafi kepada Kontan, Jumat (27/3/2026).

TRENDING  UNS Resmikan Fintech Center Pertama di Kampus Indonesia

Menurut Wafi, hingga akhir tahun pergerakan blue chip perbankan masih bakal cenderung stagnan. Kendati begitu, ia juga mencermati potensi rebound karena valuasi yang sudah oversold saat ini.

Volatilitas Membayangi

Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer menilai performa saham blue chip perbankan yang kurang memuaskan kini lebih disebabkan oleh ekspektasi pasar yang berubah: dari yang tadinya optimistis ke arah pertumbuhan, kini lebih hati-hati.

“Jadi wajar kalau harga saham bank terlihat lebih tertekan dibanding sektor lain,” ujarnya.

Apalagi, saat ini porsi kepemilikan ritel di saham perbankan kian membesar. Secara jangka pendek, Miftahul melihat transaksi ritel yang cenderung reaktif terhadap sentimen dan lebih cepat merealisasikan keuntungan maupun kerugian memang membuat pergerakan saham bank jadi lebih fluktuatif.

Baca Juga: Volume Transaksi Qlola by BRI Capai Rp 2.141,37 Triliun per Februari 2026

Namun begitu, secara keseluruhan Miftahul bilang arah pergerakan saham blue chip perbankan bakal tetap ditentukan oleh investor institusi. “Jadi tren ritel ini kemungkinan akan terus ada, tapi bukan faktor utama penentu pergerakan harganya,” katanya.

Ke depan, Miftahul bilang sentimen eksternal industri bakal lebih memengaruhi pergerakan saham bank, mulai dari suku bunga sampai stabilitas nilai tukar. Maka dari itu, meski kinerja bank sejatinya mulai membaik, harga belum tentu otomatis naik.

Miftahul merekomendasikan akumulasi beli BMRI di target harga akhir tahun Rp 6.250. Sementara Wafi merekomendasikan BBCA di target harga Rp 10.200, BMRI di Rp 7.200, BBRI di Rp 6.000, dan BBNI di Rp 5.800.

TRENDING  Parfum Pria Terbaik 2023 Rekomendasi Kami

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • Uang Nasabah Di Kudus Hilang, Bank Mandiri Dihukum Bersalah & Harus Ganti Rugi

    Kejadian yang menimpa nasabah di Kudus ini memang sangat menghebohkan. Uang yang seharusnya aman disimpan di Bank Mandiri justru hilang begitu saja. Nasabah merasa kecewa dan marah dengan pelayanan yang diberikan oleh bank tersebut. Namun, setelah melalui proses hukum, akhirnya Bank Mandiri dihukum bersalah dan harus mengganti rugi uang nasabah yang hilang. Keputusan ini tentu menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak agar lebih berhati-hati dalam menyimpan uang di bank

  • Kinerja Perusahaan Fintech dalam Tren Positif, Cermati Pendorongnya

    ILUSTRASI. P2P Lending. Perusahaan fintech catatkan kinerja positif yang tercermin dari penyaluran pembiayaan yang tumbuh dan Non Performing Financing (NPF) yang aman. Beritafintech.com – JAKARTA. Perusahaan fintech baik yang memiliki ekosistem maupun tidak, masih mencatatkan kinerja positif. Hal tersebut tercermin dari penyaluran pembiayaan yang tumbuh dan Non Performing Financing (NPF) dalam kondisi aman. Misalnya, GoTo Financial, unit…

  • Dukung Penguatan Industri Fintech Lending, OJK Lakukan Berbagai Langkah Kebijakan Ini

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus melakukan langkah-langkah kebijakan untuk mendukung dan memperkuat industri fintech lending di Indonesia. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan akses permodalan bagi para pelaku usaha, terutama UMKM, yang seringkali kesulitan mendapatkan pinjaman dari lembaga keuangan konvensional.

    Salah satu langkah yang telah dilakukan oleh OJK adalah dengan memberikan izin operasional kepada sejumlah perusahaan fintech lending yang memenuhi persyaratan dan standar yang ditetapkan. Selain itu, OJK juga terus melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap kinerja serta kepatuhan dari para pelaku industri fintech lending tersebut.

    Dengan adanya dukungan dan pengawasan yang ketat dari OJK, diharapkan dapat menciptakan lingkungan usaha yang sehat dan berkelanjutan bagi para pelaku industri fintech lending. Sehingga, masyarakat dapat lebih percaya dan nyaman dalam menggunakan layanan pinjaman online ini sebagai alternatif solusi keuangan mereka

  • OJK Pastikan Fintech Ilegal Tak Bisa Peroleh Tanda Terdaftar

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan bahwa fintech ilegal tidak akan bisa mendapatkan tanda terdaftar dari lembaga tersebut. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk melindungi masyarakat dari risiko penipuan dan kehilangan uang akibat investasi di fintech ilegal. OJK juga mengimbau masyarakat untuk selalu berhati-hati dalam memilih platform fintech yang aman dan terdaftar resmi oleh lembaga yang berwenang. Dengan demikian, diharapkan dapat menciptakan lingkungan investasi yang lebih aman dan terpercaya bagi seluruh pihak yang terlibat

  • Tak Cuma Wacana, Ini 5 Kebiasaan Finansial agar Keuangan Lebih Aman

    Salah satu kebiasaan finansial yang penting adalah memiliki anggaran bulanan yang jelas dan terencana. Dengan memiliki anggaran, kita dapat mengontrol pengeluaran dan memastikan bahwa kita tidak menghabiskan uang lebih dari yang seharusnya. Selain itu, menyisihkan sebagian pendapatan untuk ditabung juga merupakan kebiasaan penting agar keuangan lebih aman. Dengan menabung, kita dapat memiliki cadangan dana darurat untuk menghadapi situasi tak terduga.

    Selain itu, membiasakan diri untuk berinvestasi juga merupakan langkah penting dalam menjaga keuangan agar lebih aman. Dengan berinvestasi, kita dapat meningkatkan nilai aset dan menciptakan sumber pendapatan pasif. Selain itu, menjaga kesehatan finansial juga termasuk dalam kebiasaan penting agar keuangan lebih aman. Hal ini meliputi pembayaran tagihan tepat waktu, menghindari utang yang tidak perlu, serta mempertimbangkan risiko finansial sebelum membuat keputusan besar.

    Terakhir, selalu melakukan evaluasi terhadap kondisi finansial secara berkala juga merupakan kebiasaan penting agar keuangan lebih aman. Dengan melakukan evaluasi secara rutin, kita dapat mengetahui apakah ada perubahan dalam kondisi finansial dan membuat penyesuaian jika diperlukan. Dengan menerapkan kelima kebiasaan ini secara konsisten, diharapkan kita dapat menjaga stabilitas dan keselamatan keuangan di masa depan

  • Rencana Spin Off Dua Bank Syariah Tak Mampu Menyaingi Dominasi BSI

    Rencana spin off dua bank syariah ini memang menjadi sorotan publik, namun sayangnya tak mampu menyaingi dominasi Bank Syariah Indonesia (BSI). Meskipun telah dilakukan berbagai strategi dan langkah, namun kenyataannya BSI tetap kokoh sebagai pemimpin pasar dalam industri perbankan syariah. Hal ini tentu menjadi tantangan besar bagi kedua bank tersebut untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas layanan agar dapat bersaing secara sehat di pasar yang semakin kompetitif