OJK Yakin Target Pembiayaan Fintech Lending untuk Sektor Produktif dan UMKM Tercapai

Porsi Pembiayaan Fintech Lending ke Sektor Produktif Turun Jadi 34,09% per April 2026

ILUSTRASI. Finalisasi Dua Roadmap di Bidang PVML, OJK Berharap Bisa Diluncurkan Tahun Ini (KONTAN/Ferry Saputra)

Beritafintech.com – JAKARTA. Porsi pembiayaan industri fintech peer to peer (P2P) lending ke sektor produktif menurun. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, penyaluran pembiayaan fintech lending ke sektor produktif tercatat sebesar Rp 34,80 triliun per April 2026.

“Pembiayaan segmen produktif porsinya 34,09% terhadap total pembiayaan,” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, Minggu (7/6).

Jika ditelaah berdasarkan data OJK, pencapaian pembiayaan ke sektor produktif per April 2026 tercatat menurun, jika dibandingkan pencapaian pada bulan sebelumnya. Adapun pembiayaan fintech lending ke sektor produktif mencapai Rp 34,66 triliun per Maret 2026, dengan porsi sebesar 34,31% terhadap total pembiayaan.

Baca Juga: Simpanan Kelas Menengah-Bawah Tumbuh Positif, Tapi Diproyeksi Tak Bertahan Lama

Secara total, penyaluran pembiayaan fintech lending per April 2026 tercatat mencapai Rp 102,07  triliun per April 2025. Nilai itu tercatat tumbuh sebesar 26,11% secara Year on Year (YoY).

Pengamat sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai penurunan porsi pembiayaan produktif tersebut tak terlepas dari faktor kondisi ekonomi domestik yang menyebabkan dunia usaha, khususnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), menjadi lebih lesu. Ketika sedang lesu, tentu lender akan relatif lebih hati-hati dan selektif dalam menyalurkan pembiayaan ke sektor produktif meski permintaan masih tinggi.

TRENDING  Bank-bank yang Dikendalikan Investor Asing Beberkan Target Kredit di 2025

“Lender juga akan lebih selektif dalam memilih calon borrower yang akan diberikan pinjaman. Apalagi, gagal bayar di sektor produktif cukup tinggi di pinjaman daring. Artinya, untuk pangsa pasar yang berisiko tinggi, itu pasti akan dihindari,” katanya kepada Kontan, Rabu (17/6).

Ke depannya, Nailul memperkirakan lender masih akan lebih selektif dalam memberikan pembiayaan ke sektor produktif, khususnya UMKM. Dia bilang sektor UMKM tampaknya akan menjadi sektor yang dihindari oleh lender. Alhasil, pembiayaan ke sektor produktif berpotensi bisa lebih turun lagi. 

Namun, Nailul berpendapat dengan adanya kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang agresif, ada peluang permintaan sektor produktif makin besar. Mengingat, bunga kredit di perbankan yang akan meningkat, sehingga sektor produktif akan melirik platform fintech lending dalam mendapatkan alternatif pendanaan. 

Asal tahu saja, OJK juga menargetkan porsi pembiayaan produktif untuk fintech lending sebesar 40%-50% dalam rentang waktu 2025 hingga 2026. Dalam waktu sekitar setengah tahun lagi, Nailul berpendapat target tersebut berat untuk dicapai.

Baca Juga: Bank Sampoerna Tawarkan Deposito Online: Modal Mulai Rp 1 Juta, Bunga Lebih Tinggi

“Dengan kondisi yang ada, saya rasa tidak akan terkejar target porsi pembiayaan produktif. Sekarang saja porsinya justru turun dari bulan lalu. Artinya, memang secara bisnis, sektor produktif tidak menarik bagi lender,” tuturnya.

Akan tetapi, Nailul beranggapan porsinya bisa saja naik apabila platform fintech lending mampu untuk mengurangi risiko di sektor produktif dengan penilaian yang lebih baik. Dengan demikian, lender akan makin melirik sektor produktif untuk didanai. Namun, kondisi itu dirasa Nailul hanya bisa terjadi dua tahun depan.

TRENDING  Cara Menentukan Jenis Reksadana yang Sesuai Kebutuhan di Aplikasi Reksadana

Sementara itu, Agusman menerangkan industri perlu mencermati tantangan dalam menyalurkan pembiayaan ke sektor produktif, seperti dinamika ekonomi dan kualitas pembiayaan. Oleh karena itu, dia bilang penyelenggara fintech lending perlu memperkuat manajemen risiko dan credit scoring.

“Ditambah, mengoptimalkan pemanfaatan data seperti Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK untuk meningkatkan kualitas penilaian pembiayaan produktif, khususnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM),” tuturnya.

Selain itu, Agusman menyebut fintech lending perlu melakukan kolaborasi dalam ekosistem keuangan guna menjaga kualitas dan keberlanjutan pembiayaan UMKM, termasuk usaha mikro.

Meski demikian, Agusman memproyeksikan kebutuhan pembiayaan UMKM masih besar ke depannya, sehingga membuat segmen produktif tetap memiliki potensi pertumbuhan.

Lebih lanjut, OJK juga angkat bicara mengenai rencana pemerintah memberikan bunga rendah untuk kredit mikro di bawah 10%. Agusman menerangkan program kredit berbunga rendah tidak selalu menjadi substitusi langsung bagi fintech lending. 

“Sebab, masing-masing memiliki segmen dan karakteristik pembiayaan yang berbeda, sehingga dapat saling melengkapi dalam memenuhi kebutuhan pendanaan UMKM yang beragam,” kata Agusman.

Baca Juga: BI Rate Naik Jadi 5,50%, Krom Bank Fokus Jaga Likuiditas dan Efisiensi Dana

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • OJK: Pembentukan Asuransi Kredit untuk Fintech Lending Masih Tahap Pembahasan

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa pembentukan asuransi kredit untuk fintech lending masih dalam tahap pembahasan. Hal ini merupakan langkah yang diambil untuk meningkatkan perlindungan bagi para pelaku usaha di sektor fintech lending. Meskipun masih dalam tahap pembahasan, OJK berkomitmen untuk terus memperkuat regulasi dan pengawasan terhadap industri fintech agar dapat memberikan kepastian hukum dan perlindungan yang lebih baik bagi para pemangku kepentingan

  • Bantah Bersekongkol, AFPI Berharap Fintech Lending Berikan Bukti di Sidang KPPU

    Bantah Bersekongkol, AFPI Berharap Fintech Lending Berikan Bukti di Sidang KPPU

    Asosiasi Fintech Peer-to-Peer Lending Indonesia (AFPI) menegaskan bahwa mereka tidak terlibat dalam praktik bersama-sama atau bersekongkol untuk menetapkan suku bunga pinjaman. Hal ini disampaikan sebagai tanggapan atas tuduhan yang dilontarkan oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

    AFPI berharap bahwa dalam sidang yang akan datang, pihak-pihak yang terlibat dapat memberikan bukti konkret dan tidak hanya sekadar asumsi semata. Mereka siap untuk menghadirkan data dan fakta yang mendukung klaim bahwa industri fintech lending di Indonesia telah beroperasi secara transparan dan sesuai dengan regulasi yang ada.

    Dalam upaya membuktikan ketidakbersekongkolan tersebut, AFPI juga mengajak para pelaku usaha fintech lending lainnya untuk bersama-sama memberikan klarifikasi kepada KPPU. Mereka yakin bahwa dengan kerja sama antar pemain industri, isu-isu persaingan usaha dapat diselesaikan dengan baik tanpa harus melibatkan pihak ketiga.

    Dengan sikap tegas dan komitmen untuk menjaga integritas industri fintech lending, AFPI optimis bahwa kebenaran akan terungkap dalam sidang nanti. Mereka juga meminta dukungan dari seluruh anggota asosiasi serta pemerintah agar proses hukum ini dapat berjalan dengan lancar dan adil bagi semua pihak yang terlibat

  • Generasi Muda Diajak Sehat Finansial

    Jakarta: OCBC NISP Financial Fitness Index (FFI) 2023 menunjukkan skor kesehatan finansial generasi muda di Indonesia terus meningkat selama tiga tahun terakhir. Hal itu dapat terjadi meskipun baru saja keluar dari situasi pandemi covid-19.  OCBC NISP FFI 2023 adalah riset tahunan yang menggambarkan kondisi kesehatan finansial generasi muda Indonesia. Skor tahun ini menunjukkan angka 41,16

  • Kinerja Bank Milik Konglomerat Merosot Pada Kuartal III-2024

    ILUSTRASI. Mayoritas kinerja perbankan yang dimiliki konglomerat mengalami penurunan hingga akhir Kuartal III-2024.KONTAN/Carolus Agus Waluyo/10/03/2023. Beritafintech.com – JAKARTA. Mayoritas kinerja perbankan yang dimiliki konglomerat mengalami penurunan hingga akhir Kuartal III-2024. Dari tujuh bank yang dimiliki para konglomerat Indonesia, hanya dua bank yang mencatatkan pertumbuhan laba bersih, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) milik Hartono, dan PT Bank…

  • Bahana TCW Investment Catatkan AUM Rp 73,2 Triliun pada Akhir 2024

    Bahana TCW Investment berhasil mencatatkan aset di bawah manajemennya sebesar Rp 73,2 triliun pada akhir tahun 2024. Capaian ini menunjukkan kinerja yang sangat baik dari perusahaan investasi tersebut, serta kepercayaan yang tinggi dari para investor terhadap kemampuan Bahana TCW Investment dalam mengelola dana mereka. Dengan pencapaian ini, Bahana TCW Investment semakin kokoh sebagai salah satu pemain utama di pasar modal Indonesia

  • Sulit Menabung? Ini 10 Tips Finansial Gen Z agar Tabungan Cepat Terkumpul

    Berikut adalah 10 tips finansial untuk generasi Z agar tabungan cepat terkumpul:

    1. Mulailah dengan menetapkan tujuan tabungan yang jelas dan spesifik.
    2. Buatlah anggaran bulanan dan patuhi rencana pengeluaran yang telah dibuat.
    3. Hindari utang konsumtif dan belanja impulsif yang tidak perlu.
    4. Manfaatkan teknologi untuk memantau pengeluaran dan mengatur keuangan secara lebih efisien.
    5. Pertimbangkan investasi jangka panjang seperti reksadana atau saham untuk pertumbuhan tabungan yang lebih cepat.
    6. Selalu sisihkan sebagian pendapatan untuk ditabung sebelum digunakan untuk keperluan lain.
    7. Cari cara-cara kreatif untuk meningkatkan pendapatan tambahan, seperti berjualan online atau freelance.
    8. Bandingkan harga sebelum membeli barang atau jasa agar dapat menghemat lebih banyak uang.
    9. Jaga kesehatan finansial dengan memiliki asuransi kesehatan dan perlindungan diri lainnya.
    10. Tetap disiplin dan konsisten dalam menjalankan kebiasaan menabung demi mencapai tujuan keuangan Anda secara lebih cepat.

    Dengan menerapkan tips-tips di atas, diharapkan generasi Z dapat meningkatkan kesadaran finansial mereka serta berhasil mengumpulkan tabungan dengan lebih efisien dan cepat