Simak Strategi Bank DBS Pacu Pembiayaan Hijau dan Berkelanjutan

Simak Strategi Bank DBS Pacu Pembiayaan Hijau dan Berkelanjutan

ILUSTRASI. ATM Bank DBS Indonesia di Jakarta.

Beritafintech.com – JAKARTA. Bank DBS Indonesia secara konsisten mendorong pembiayaan berkelanjutan sebagai bagian dari komitmennya terhadap transisi menuju ekonomi hijau. 

Pendekatan ini diwujudkan melalui penyaluran dana ke sektor-sektor yang mendukung tujuan lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), termasuk energi terbarukan, transportasi rendah karbon, pengelolaan limbah, dan infrastruktur hijau.

Hingga akhir tahun 2024 lalu, DBS Group telah menyalurkan hampir SGD 90 miliar pembiayaan berkelanjutan secara global.

Helge Muenkel, Chief Sustainability Officer Bank DBS mengatakan, Indonesia menjadi salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat kedua setelah India.

DBS juga mulai mengarahkan lebih dari 60% portofolio pembiayaan energi ke sektor energi terbarukan, seperti panas bumi, hidro, dan surya. Sementara untuk batu bara, kebijakan pembiayaan kini hanya diberikan bagi proyek yang bertujuan menggantikan pembangkit batu bara dengan energi bersih.

“Dalam mendukung transisi ini, DBS juga memperkenalkan inovasi Transition Credits, yakni skema pembiayaan yang memberikan insentif saat pembangkit batu bara ditutup lebih cepat dan digantikan dengan energi terbarukan,” kata Helge di Jakarta, Jumat (10/10/2025).

Baca Juga: Rekam Jejak Bank DBS Indonesia Ciptakan Dampak Sosial Bagi Masyarakat Rentan

Di sisi lain, Bank DBS Indonesia menegaskan komitmennya dalam menjalankan strategi keberlanjutan yang berfokus pada manusia (people-centric sustainability). Bagi DBS, keberlanjutan tidak semata soal aksi iklim, melainkan juga mencakup dimensi sosial dan ekonomi.

“Kami mendefinisikan keberlanjutan sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup manusia, baik yang hidup hari ini maupun generasi mendatang,” ujar Helge.

TRENDING  KPPU Putuskan 97 Fintech Langgar Penetapan Bunga, OJK Dorong Penguatan Tata Kelola

Menurutnya, di negara berkembang seperti Indonesia, tantangan terbesar bukan hanya transisi energi, tetapi juga pemerataan kesejahteraan. “Kita perlu menyeimbangkan kebutuhan ekonomi hari ini tanpa mengorbankan masa depan,” ujarnya.

DBS mengintegrasikan visi keberlanjutan ke dalam seluruh lini bisnis melalui tiga pilar utama.

Pertama, memberdayakan nasabah agar dapat bertransisi menuju bisnis yang lebih berkelanjutan. Langkah ini diwujudkan lewat pembiayaan sektor energi terbarukan, transportasi listrik, hingga proyek konversi limbah menjadi energi. DBS juga aktif memperluas inklusi keuangan, terutama bagi masyarakat yang belum memiliki akses perbankan.

Baca Juga: Dukung Korporasi Terapkan ESG, Bank DBS Siap Berikan Pembiayaan dan Pendampingan

Kedua, membangun organisasi yang berkelanjutan dari dalam. “Kami mendorong budaya kerja yang beragam, inklusif, dan ramah lingkungan. Termasuk mengurangi jejak karbon dari aktivitas operasional,” katanya.

Ketiga, memberikan dampak di luar perbankan melalui program Impact Beyond Banking. Melalui DBS Foundation, bank ini mendukung wirausaha sosial, seperti perusahaan yang mengubah limbah pertanian dan rumput laut menjadi produk ramah lingkungan.

Selain itu, DBS mendukung kebijakan pemerintah Indonesia seperti Taksonomi Hijau dan Bursa Karbon, yang dinilai penting untuk membangun ekosistem transisi energi yang inklusif.

Baca Juga: Nasabah Tajir Bank DBS Indonesia Tumbuh 7%, Obligasi Jadi Pilihan Investasi Utama

“Keberhasilan transisi ini tidak bisa dilakukan sendiri. Diperlukan kerja sama antara regulator, sektor swasta, lembaga keuangan, dan masyarakat,” tegasnya.

Lebih lanjut Helge menjealskan, dengan melihat tren global, DBS optimistis masa depan energi bersih semakin cerah. Saat ini, setiap 1 dolar yang diinvestasikan untuk energi fosil sudah diimbangi 2 dolar untuk energi bersih. 

TRENDING  Fintech Lending Diburu Waktu untuk Penuhi Ekuitas Rp 12,5 Miliar, AFPI Beri Solusi

“Di Indonesia sendiri, penjualan kendaraan listrik mencapai 14% dari total mobil baru tahun ini menunjukkan arah perubahan yang positif,” katanya.

Dengan potensi sumber daya alam, mineral kritis seperti nikel dan aluminium, serta kekayaan hutan dan mangrove, Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi pemain utama dalam ekonomi hijau.

“Fokus kami tetap sama, membantu nasabah tumbuh secara berkelanjutan dan memastikan transisi energi berjalan adil serta berdampak positif bagi manusia dan lingkungan,” pungkasnya.

Baca Juga: Digibank PayLater DBS Catat Pertumbuhan Volume Transaksi 10% pada Juni 2025

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • Menilik Kinerja Penyaluran Pembiayaan Fintech Lending pada Kuartal I-2025

    Dalam kuartal pertama tahun 2025, terjadi peningkatan signifikan dalam kinerja penyaluran pembiayaan fintech lending. Data menunjukkan bahwa jumlah pembiayaan yang disalurkan meningkat secara eksponensial, mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah. Hal ini menandakan bahwa minat masyarakat terhadap layanan fintech lending semakin meningkat.

    Tidak hanya itu, tingkat keberhasilan dalam pengembalian pembiayaan juga mengalami peningkatan yang cukup besar. Para peminjam cenderung lebih disiplin dalam membayar cicilan mereka tepat waktu, sehingga risiko kredit dapat dikelola dengan lebih baik.

    Selain itu, adopsi teknologi dan inovasi produk juga turut berkontribusi dalam meningkatkan kinerja penyaluran pembiayaan fintech lending. Berbagai fitur baru dan kemudahan akses membuat layanan ini semakin diminati oleh masyarakat.

    Secara keseluruhan, kuartal pertama tahun 2025 dapat dikatakan sebagai periode yang sangat sukses bagi industri fintech lending. Dengan pertumbuhan yang pesat dan tingkat keberhasilan yang tinggi, prospek industri ini di masa depan terlihat sangat cerah

  • Terapkan ESG, Bank Mandiri Kampanyekan Pemrosesan Data Pribadi

    Bank Mandiri telah meluncurkan kampanye untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pemrosesan data pribadi dengan menerapkan Environmental, Social, dan Governance (ESG). Dalam upaya untuk memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap informasi pribadi nasabah, Bank Mandiri mengajak seluruh masyarakat untuk turut serta dalam menjaga keamanan data pribadi mereka. Dengan menerapkan prinsip ESG, Bank Mandiri berkomitmen untuk menjaga integritas dan keamanan data pribadi setiap individu demi menciptakan lingkungan digital yang aman dan terpercaya. Ayo bergabung bersama Bank Mandiri dalam mendukung kampanye ini demi melindungi privasi dan keamanan data pribadi kita semua!

  • Lindungi Konsumen, OJK Stop 3.240 Investasi dan Pinjol Ilegal di 2024

    Lindungi Konsumen, OJK Stop 3.240 Investasi dan Pinjol Ilegal di 2024 telah menjadi sorotan utama dalam upaya perlindungan konsumen di Indonesia. Dengan adanya tindakan tegas dari OJK terhadap praktik investasi ilegal dan pinjaman online ilegal, diharapkan dapat memberikan perlindungan yang lebih baik bagi masyarakat. Langkah ini juga menunjukkan komitmen pemerintah dalam melindungi konsumen dari praktik keuangan yang merugikan. Semoga dengan adanya langkah ini, masyarakat dapat lebih waspada dan terhindar dari kerugian akibat investasi dan pinjol ilegal

  • Peran Konsultan Odoo dalam Meningkatkan Efisiensi Bisnis Modern

    Dalam dunia bisnis modern yang terus berkembang, peran konsultan Odoo sangatlah penting dalam meningkatkan efisiensi operasional perusahaan. Dengan bantuan konsultan Odoo, perusahaan dapat mengimplementasikan sistem manajemen yang terintegrasi dan efisien untuk memaksimalkan produktivitas dan mengurangi biaya operasional. Dengan adopsi teknologi Odoo, perusahaan dapat mempercepat proses bisnis mereka dan meningkatkan daya saing di pasar yang semakin kompetitif. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika banyak perusahaan modern saat ini mulai memanfaatkan jasa konsultan Odoo untuk membantu mereka mencapai tujuan bisnis mereka dengan lebih efektif

  • Online and Mobile Banking Features and Digital Services

    Dengan fitur Online dan Mobile Banking yang semakin canggih, kini nasabah dapat dengan mudah mengakses layanan perbankan mereka di mana saja dan kapan saja. Dari transfer dana hingga pembayaran tagihan, semua bisa dilakukan secara praktis melalui aplikasi perbankan digital. Tidak hanya itu, fitur-fitur keamanan seperti OTP dan fingerprint juga semakin memastikan keamanan transaksi nasabah. Dengan kemudahan dan keamanan yang ditawarkan oleh layanan digital ini, tidak heran jika semakin banyak orang beralih untuk menggunakan Online dan Mobile Banking dalam aktivitas perbankan mereka sehari-hari

  • Masalah di Fintech Lending Berpotensi Gerus Pendanaan dari Lender Perbankan

    Fintech lending telah menjadi tren yang semakin populer di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Namun, masalah yang muncul adalah potensi persaingan dengan pendanaan dari lender perbankan. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan jumlah pendanaan yang tersedia bagi para pelaku usaha kecil dan menengah yang membutuhkan pinjaman untuk mengembangkan bisnis mereka. Diperlukan solusi yang inovatif dan kolaboratif antara fintech lending dan lender perbankan untuk menjaga kelangsungan pendanaan bagi para pelaku usaha di Indonesia