Saham Bank Kompak Melemah pada Perdagangan Senin (1/7), Begini Kata Analis

Saham Bank Kompak Melemah pada Perdagangan Senin (1/7), Begini Kata Analis

ILUSTRASI. Saham emiten perbankan Tanah Air tampak melemah pada perdagangan Selasa, (1/7). Tekanan perekonomian global dan domestik jadi penyebab utamanya.KONTAN/Cheppy A. Muchlis/01/07/2025

Beritafintech.com – JAKARTA. Saham emiten perbankan Tanah Air tampak melemah pada perdagangan Selasa, (1/7). Sejumlah analis menilai tekanan perekonomian global dan domestik jadi penyebab utama pelemahan saham emiten perbankan kali ini.

Dari jajaran bank berkapitalisasi pasar besar, saham Bank Mandiri (BMRI) tampak merosot paling dalam hari ini. Dibuka di harga Rp 4.880, saham BMRI turun 2,66% ke harga Rp 4.750 di penutupan perdagangan. Dalam seminggu, saham BMRI sudah ambles 5,47%.

Di belakangnya, ada saham Bank BNI (BBNI) yang turun 2,67% ke harga Rp 4.010 dari sebelumnya dibuka Rp 4.120. Sahamnya sudah turun 3,14% dalam seminggu ini.

Baca Juga: Beda Arah, Simak Harga Saham Bank Blue Chip LQ45 saat iHSG Melemah hari Selasa (1/7)

Lalu, saham Bank BRI (BBRI) mencatat penurunan sebesar 1,07% ke harga Rp 3.700 dari sebelumnya berangkat di harga Rp 3.740 per saham. Sahamnya turun 2,12% selama seminggu.

Namun, saham Bank BCA (BBCA) tampak melawan arus dengan kenaikan 0,29% pada perdagangan hari ini. Sahamnya ditutup seharga Rp 8.700 dari sebelumnya dibuka Rp 8.675. Namun, sahamnya turun 0,85% bila dilihat sepekan belakangan.

Kalau dari saham bank lapis kedua, yang melawan arus ialah saham Bank CIMB Niaga (BNGA). Tercatat, saham BNGA naik tipis 0,30% dari sebelumnya Rp 1.665 menjadi Rp 1.670 di akhir perdagangan. Namun, sahamnya bergerak stagnan dalam seminggu ini.

Stagnasi juga terjadi pada saham Bank OCBC NISP (NISP) di perdagangan hari ini dengan harga Rp 1.345. Namun dalam seminggu, saham NISP meningkat 1.51%.

TRENDING  AFPI Proyeksikan Pembiayaan Fintech Lending Dapat Tumbuh Dobel Digit pada 2026

Sisanya, saham bank lapis dua tampak kompak melemah. 

Misalnya saja saham Bank BSI (BRIS) yang turun 2,71% ke level Rp 2.510 dari sebelumnya Rp 2.580, Maybank Indonesia (BNII) turun 1,98% ke harga Rp 198 dari Rp 202, Bank BTN (BBTN) turun 1,79% menjadi Rp 1.095 dari dibuka Rp 1.115, Bank Permata (BNLI) turun 1,44% menjadi Rp 2.740 dari Rp 2.780, dan Bank Danamon (BDMN) turun 0,41% ke harga Rp 2.430 dari Rp 2.440.

Baca Juga: Investor Mulai Lirik Saham Bank di Luar KBMI IV, Kapitalisasi Pasar BBNI Melonjak

Di antara emiten tersebut yang melemah dalam sepekan ialah BRIS sebesar 1,57% dan BBTN 1,79%, 

Sementara yang menguat ialah BNII sebesar 1,54%, BNLI sebesar Rp 5,79%. Sementara, BDMN justru bergerak stagnan.

Menurut Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, saham emiten perbankan tengah ditekan aksi jual investor asing lantaran kinerja bank yang kurang memuaskan tahun ini.

Dia melihat penyaluran kredit yang lamban dan margin keuntungan yang stagnan sebagai indikatornya. “Selain itu, terlihat pula rotasi sektor dari perbankan ke emiten lain yang dinilai lebih prospektif dalam jangka pendek seperti emiten bahan baku, hilirisasi, energi terbarukan (EBT), dan konsumsi, seiring dengan optimisme terhadap pemulihan ekonomi global,” ujar Ekky kepada Kontan, Selasa (1/7).

Lihat saja pertumbuhan kredit bank di bulan Mei ini. Berdasarkan data Bank Indonesia, angka pertumbuhannya terus terkikis dari 9,6% YoY di bulan Januari menjadi 8,1% YoY di bulan Mei 2025.

Menurut Ekky, akhir dari sentimen ini sangat bergantung pada, misalnya, inflasi, nilai tukar Rupiah, arah suku bunga, dan hasil laporan keuangan emiten.

“Namun, biasanya rotasi atau tekanan seperti ini bisa berlangsung 1–2 minggu, atau lebih cepat jika muncul katalis positif seperti penurunan inflasi, penguatan rupiah, atau penurunan BI rate,” imbuhnya.

TRENDING  Resmi, Bunga Turun Mulai 2025, Berlaku 97 Di Perusahaan Pinjol Legal Berikut

Baca Juga: Saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) Turun 2,35% di Awal Pekan, Ini Kata Analis

Direktur PT Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus juga mengamini sentimen tersebut. Akan tetapi, secara valuasi, saham perbankan menurut Daniel kompak di bawah rerata minus 1 dari standar deviasi sehingga terbilang cukup murah untuk diakumulasi secara jangka panjang.

“Hanya saja memang faktor likuiditas di mana asing masih terus melakukan net sell menjadi katalis negatif untuk jangka pendek,” imbuh Daniel, Selasa (1/7).

Kemungkinan besar, saham perbankan menurut Daniel akan terkerek naik kala sinyal pemangkasan suku bunga The Fed mengemuka. Bila ini terjadi, saham emerging market bisa kecipratan aliran dana dari luar. Prediksinya, ini bakal terjadi kira-kira di bulan September dan Oktober tahun ini.

Selain itu, bila Bank Indonesia berlanjut memangkas suku bunga acuan, ini juga bisa jadi katalis positif tambahan untuk emiten perbankan. 

Tapi, pertumbuhan fundamental perusahaan perbankan kata Daniel masih akan tertahan bila daya beli masyarakat tetap lesu. Sebab, tren kredit macet bisa terus meningkat dan bank jadi irit salurkan kredit.

“Perlu ada stimulus dari pemerintah yang bisa membuat roda ekonomi kembali berputar,” saran Daniel.

Meski begitu, analis Korea Investment and Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi menilai, akan ada indikasi pemulihan kinerja perbankan di paruh kedua tahun ini. 

Overall masih menarik, meski rata-rata NPL (kredit macet) lebih tinggi di antara negara ASEAN, tapi yield yang ditawarkan (emiten bank) juga lebih tinggi dengan kualitas aset yang sama baiknya,” ujar Wafi.

TRENDING  Saham Bank Milik Danantara Makin Tertekan Kebijakan Negara

Khusus untuk BMRI, menurut Wafi sahamnya terdampak sentimen Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa di bulan Agustus mendatang. Ini bisa menimbulkan spekulasi pasar, seperti pergantian direksi, aksi korporasi, atau lainnya sehingga investor cenderung wait and see.

Namun dari sisi potensi kinerja atau harga saham big banks, yang paling menjanjikan dan defensif menurut Wafi tetap BMRI, disusul BBRI, BBNI, dan BBCA. “Untuk saham bank lapis kedua bisa fokus pada bank dengan growth tinggi atau turn around story seperti BBTN, BBKP, dan BBYB,” sarannya.

Sedangkan yang paling defensif menurut Daniel justru BBCA. Dia merekomendasikan investor untuk masuk ketika saham BBCA menyentuh level Rp 7.800 hingga Rp 8.300 per saham dengan target harga jual sebesar Rp 10.000 per saham.

Sementara menurut Ekky, secara teknikal, support krusial berada di area Rp 7.900 hingga Rp 8.000 jika gagal bertahan di atas Rp 8.500 untuk BBCA. 

Adapun untuk BBRI berpotensi menguji Rp 3.400 jika menembus support Rp 3.650, sedangkan BMRI bisa ke harga Rp 4.500, dan BBNI ke harga Rp 3.600 jika gagal bertahan di atas Rp 4.000.

“Untuk saat ini, saya masih wait and see terhadap sektor perbankan. Namun, jika dilihat dari sisi fundamental dan valuasi, saham bank blue chip seperti BBCA dan BRIS tetap menarik,” kata Ekky.

BRIS kata dia bisa mulai dipertimbangkan jika kembali ke area Rp 2.400, dengan target jangka panjang di kisaran Rp 3.000–3.200. Sementara BBCA menarik jika kembali ke area Rp 8.000, dengan target jangka panjang di Rp 10.000 hingga Rp 11.000 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • Danantara Bakal Gabungkan Aset Manajer BRI, Bank Mandiri dan BNI

    Kabar menarik datang dari dunia perbankan Indonesia! Danantara, perusahaan manajemen aset terkemuka, dikabarkan akan segera bergabung dengan tiga bank besar di Tanah Air, yaitu BRI, Bank Mandiri, dan BNI. Hal ini menjadi sorotan publik karena potensi kolaborasi antara ketiga institusi keuangan tersebut dapat menciptakan sinergi yang kuat dan memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia. Para manajer dari ketiga bank tersebut pun diyakini akan mampu mengelola aset Danantara dengan baik dan membawa perusahaan ke tingkat yang lebih tinggi. Tidak heran jika kabar ini langsung mendapat sambutan hangat dari para pelaku pasar dan investor di Indonesia. Semoga kolaborasi ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi semua pihak yang terlibat!

  • Usaha Rumahan Modal 50 Ribu yang Pasti Cuan!

    beritafintech.com – Pernahkah kamu berpikir untuk memulai usaha rumahan modal 50 ribu yang pasti cuan? Kira-kira, apa yang bisa dijual seharga lima puluh ribu? Gaes di zaman sekarang ini segala sesuatu sangat mungkin terjadi. Yang kamu butuhkan adalah jeli dalam melihat peluang dan potensi yang ada di sekitarmu Untuk memulai bisnis, yang terpenting adalah niat…

  • Kasus Fintech Ilegal di Solo Dipastikan Berakhir Pidana

    Kasus fintech ilegal di Solo akhirnya dipastikan akan berakhir dengan pidana. Hal ini disampaikan oleh pihak kepolisian setelah berhasil mengungkap praktik ilegal yang dilakukan oleh perusahaan fintech tersebut. Para pelaku akan segera diadili dan dikenakan hukuman sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan layanan fintech agar tidak menjadi korban dari praktik ilegal seperti ini

  • Simak Rencana dan Strategi Bisnis Bank Neo Commerce di Bawah Kepemimpinan Eri Budiono

    Bank Neo Commerce merupakan salah satu bank yang sedang berkembang pesat di Indonesia. Di bawah kepemimpinan Eri Budiono, bank ini berhasil meraih berbagai prestasi dan mengimplementasikan berbagai strategi bisnis yang sukses.

    Eri Budiono dikenal sebagai pemimpin yang visioner dan inovatif dalam mengelola Bank Neo Commerce. Dengan visi yang jelas dan strategi bisnis yang matang, bank ini mampu bersaing dengan bank-bank besar lainnya di Indonesia.

    Salah satu strategi bisnis yang berhasil diimplementasikan oleh Eri Budiono adalah meningkatkan layanan digital bagi nasabah. Dengan adanya layanan digital yang mudah digunakan dan efisien, Bank Neo Commerce mampu menarik minat para nasabah untuk menggunakan produk-produk perbankan mereka.

    Selain itu, Eri Budiono juga fokus pada pengembangan SDM (Sumber Daya Manusia) di Bank Neo Commerce. Dengan memperhatikan kesejahteraan karyawan dan memberikan pelatihan-pelatihan berkualitas, bank ini berhasil menciptakan tim kerja yang solid dan kompeten dalam menjalankan tugas-tugasnya.

    Dengan berbagai langkah strategis tersebut, Bank Neo Commerce terus menunjukkan pertumbuhan positif dalam industri perbankan di Indonesia. Kepemimpinan Eri Budiono telah membawa bank ini menuju kesuksesan dan menjadi salah satu pilihan utama bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan perbankan mereka

  • Rasio Nasabah Aktif Bank Digital di Bawah 50%, Ini Strategi Krom Bank dan Allo Bank

    Menurut data terbaru, rasio nasabah aktif bank digital di Indonesia masih di bawah 50%. Hal ini menjadi tantangan bagi bank-bank digital seperti Krom Bank dan Allo Bank untuk meningkatkan jumlah nasabah aktif mereka. Untuk mengatasi hal ini, Krom Bank fokus pada pengembangan fitur-fitur inovatif yang dapat memudahkan nasabah dalam melakukan transaksi secara online. Sedangkan Allo Bank lebih menekankan pada pelayanan pelanggan yang ramah dan responsif melalui berbagai kanal komunikasi. Dengan strategi yang berbeda-beda ini, diharapkan rasio nasabah aktif bank digital dapat terus meningkat di masa mendatang

  • Bank Pelat Merah Bersiap Menggelar RUPSLB Jelang Akhir Tahun, Apa yang Dibahas?

    Bank Pelat Merah bersiap menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) menjelang akhir tahun ini. RUPSLB ini akan membahas berbagai hal penting terkait dengan strategi perusahaan dan rencana ke depan. Para pemegang saham diharapkan untuk turut serta dalam rapat ini guna memberikan masukan dan arahan yang konstruktif bagi Bank Pelat Merah. Tidak hanya itu, RUPSLB juga akan menjadi ajang untuk memperkuat hubungan antara manajemen dan pemegang saham demi mencapai kesuksesan bersama. Jadi, tunggu informasi lebih lanjut mengenai agenda RUPSLB Bank Pelat Merah yang akan segera diumumkan!