Valuasi Superbank Terbilang Murah, Saham Bank Digital Lain Bisa Terdampak

Valuasi Superbank Terbilang Murah, Saham Bank Digital Lain Bisa Terdampak

ILUSTRASI. Kerjasama Perbankanl: Logo Superbank saat peluncuran kerjasama layanan perbankan di Jakarta, Rabu (19/6/2024).

Beritafintech.com – JAKARTA. Memasuki masa penawaran umum saham perdana dari PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA), saham bank digital terlihat semakin kurang atraktif.

Salah satu penyebabnya, valuasi SUPA yang terbilang murah berpotensi membuat saham bank digital lain kurang diminati.

Hingga akhir perdagangan Rabu (10/12/2025), mayoritas saham bank digital terpantau mengalami penurunan atau hanya stagnan. Hanya ada beberapa saham bank digital yang mengalami kenaikan di perdagangan hari tersebut.

Ambil contoh, PT Bank Jago Tbk (ARTO) yang ditutup menguat 1,46% dari harga hari sebelumnya menjadi Rp 2.080 per saham. Namun, dalam sepekan terakhir, bank yang masuk ekosistem Goto ini masih tercatat turun 0.95%.

Selain itu, ada juga PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) yang ditutup melesat hingga 6,48% dari hari sebelumnya menjadi Rp 460 per saham. Memang, BBYB sudah dalam tren kenaikan sejak awal tahun karena sudah naik 111,01%.

Sebaliknya, PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) justru mengalami penurunan cukup dalam di Rabu (10/12) mencapai 2,68% menjadi Rp 1.455 per saham. Di mana, dalam sepekan terakhir, bank milik CT Corp ini turun 2,02%.

PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI) turut mengalami tren penurunan dengan mencapai 0,26% menjadi Rp 3.900 per saham. Dalam sepekan terakhir, Krom Bank mencatat penurunan hingga 1,02%.

TRENDING  Merger Batal, MNC Bank dan Bank Nobu Harus Kejar Tambahan Modal Inti

CEO Sucor Sekuritas Bernadus Wijaya mengungkapkan dengan harga penawaran di Rp 635 per saham, ia menilai Price to Book Value (PBV) Superbank berada di kisaran 2,64 kali, yang berada di bawah kompetitor. 

Menurut Bernadus, valuasi dari Superbank berada di level yang kompetitif jika dibandingkan dengan perusahaan sejenis yang sudah melantai di Bursa. Bahkan, SUPA menjadi segelintir bank digital dengan valuasi termurah.

Sebagai perbandingan, PBV Bank Jago  berada di level 3,30 kali. Valuasi Allo Bank mencapai PBV 4,28 kali. Terakhir, PBV dari Bank Neo Commerce berada di 1,49 kali dan PBV Krom Bank berada di 4,16 kali

Ia bilang valuasi yang rendah membuka peluang re-rating ke depan, khususnya jika Superbank berhasil mengeksekusi strategi pertumbuhan dan mengoptimalkan ekosistem digital yang besar.

“Superbank saat ini justru berada di valuasi konservatif. Ini memberi peluang bagi investor yang ingin masuk lebih awal sebelum valuasinya menyesuaikan dengan kinerja dan ekspansi,” ujarnya.

Analis Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi bilang dengan valuasi yang dimiliki oleh Superbank, itu terlihat memang murah.

Terlebih jika dibandingkan dengan bank digital yang masuk dalam kelas KBMI 2. Bahkan, bukan tidak mungkin ada potensi koreksi bagi bank digital yang memiliki valuasi mahal.

Otomatis bisa bikin pasar re-rating sektor,” ujar Wafi.

Meski demikian, ia menilai bukan berarti bank digital lain tidak menarik secara fundamental. Dalam hal ini, bank digital seperti ARTO dan PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) bisa menarik karena memiliki integrasi ekosistem yang hidup.

TRENDING  Bank Himbara Ramai-Ramai Cabut Pernyataan Terkait Kenaikan Bunga Deposito Valas

Ia menilai ekosistem bisa turut mendukung bank digital untuk mengakuisisi nasabah baru. Ditambah, pangsa pasar bisa terdorong juga dengan ekosistem masing-masing yang telah dimiliki dan terintegrasi secara penuh.

“Jarang bank digital yang sukses tanpa ekosistem kuat,” jelas Wafi.

Sependapat, Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, Indy Naila bilang valuasi dari bank-bank digital lain memang lebih mahal dibandingkan SUPA. Terlebih, ia melihat fundamental dari Superbank memiliki pertumbuhan kinerja dengan ekosistem yang kuat.

Meskipun, ia menilai tak semua bank digital yang valuasi mahal itu tidak menarik. Dalam hal ini, ia menyoroti saham BBHI yang memiliki potensi pertumbuhan bagus dari sisi fundamentalnya. “Saya lihat BBHI juga cukup kuat memanfaatkan ekosistem digital,” jelasnya

Selanjutnya: Peningkatan Kompetensi Guru Penting untuk Pendidikan Usia Dini

Menarik Dibaca: Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (11/12), Hujan Sangat Lebat di Provinsi Berikut

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • Resmi Batal Merger, OJK Minta Nobu Dan MNC Bank Lakukan Hal Ini

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta PT Bank Nationalnobu Tbk dan PT Bank MNC Internasional Tbk untuk melakukan langkah-langkah tertentu setelah resmi membatalkan rencana merger mereka. OJK menekankan pentingnya transparansi dan keterbukaan dalam proses bisnis perbankan, serta mengingatkan kedua bank tersebut untuk tetap menjaga stabilitas keuangan dan memberikan pelayanan terbaik kepada nasabah. Langkah apa yang akan diambil oleh Nobu dan MNC Bank selanjutnya? Kita tunggu kabar selanjutnya dari kedua bank tersebut

  • Solusi DIgital Menjaga Tantangan Keamanan Finansial

    Solusi digital saat ini menjadi kunci utama dalam menjaga keamanan finansial. Dengan adanya teknologi yang terus berkembang, kita harus mampu memanfaatkannya dengan bijak untuk melindungi aset dan informasi keuangan kita. Tantangan keamanan finansial semakin kompleks, namun dengan solusi digital yang tepat, kita dapat mengatasi semua risiko tersebut. Jadi, jangan ragu untuk mulai menggunakan teknologi digital dalam mengelola keuangan Anda agar tetap aman dan terlindungi dari ancaman cybercrime

  • Gabung Jaringan UN PRI, Bahana TCW Perkuat Prinsip Investasi Berkelanjutan

    Gabung Jaringan UN PRI, Bahana TCW Perkuat Prinsip Investasi Berkelanjutan

    Jakarta, 15 Februari 2022 – PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW) telah resmi bergabung dengan Principles for Responsible Investment (PRI), sebuah inisiatif global yang mendorong praktik investasi berkelanjutan. Dengan bergabungnya Bahana TCW dalam jaringan PRI, perusahaan ini semakin memperkuat komitmennya dalam menerapkan prinsip-prinsip investasi yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

    Dalam keterangan resminya, Direktur Utama Bahana TCW, Bapak Sigit Wiryadi mengatakan bahwa keikutsertaan perusahaan mereka dalam jaringan PRI merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya investasi berkelanjutan di Indonesia. “Kami percaya bahwa dengan mengikuti prinsip-prinsip investasi yang bertanggung jawab, kami dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar,” ujar Bapak Sigit.

    Selain itu, keikutsertaan Bahana TCW dalam jaringan PRI juga diharapkan dapat membantu meningkatkan transparansi dan akuntabilitas perusahaan dalam menjalankan aktivitas investasinya. Dengan adanya kerjasama antara Bahana TCW dan PRI, diharapkan akan tercipta sinergi yang positif dalam upaya memperkuat prinsip-prinsip investasi berkelanjutan di Tanah Air.

    Sebagai salah satu manajer aset terkemuka di Indonesia, Bahana TCW memiliki komitmen kuat untuk terus mengembangkan praktik investasi yang ramah lingkungan dan sosial. Dengan bergabungnya mereka dalam jaringan UN PRI ini, diharapkan akan semakin banyak institusi keuangan lainnya yang ikut serta aktif dalam mendukung prinsip-prinsip investasi berkelanjutan demi menciptakan dunia yang lebih baik untuk generasi mendatang

  • Pembiayaan Fintech P2P Lending Tumbuh Makin Melambat Dalam Beberapa Bulan Terakhir

    Pembiayaan fintech P2P lending telah menjadi salah satu tren yang sedang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, pertumbuhan industri ini mulai melambat. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti regulasi yang semakin ketat dan tingginya tingkat risiko bagi para investor.

    Meskipun demikian, masih banyak pelaku usaha yang memilih untuk menggunakan layanan pembiayaan fintech P2P lending sebagai alternatif dari pinjaman bank konvensional. Mereka melihat bahwa proses pengajuan pinjaman yang cepat dan mudah serta suku bunga yang kompetitif menjadi daya tarik utama dari layanan ini.

    Namun, bagi para investor, mereka harus lebih berhati-hati dalam memilih platform P2P lending yang aman dan terpercaya. Dengan adanya kasus-kasus penipuan dan kebangkrutan platform P2P lending belakangan ini, investor perlu melakukan riset mendalam sebelum menempatkan investasi mereka di platform tersebut.

    Dengan perkembangan industri fintech P2P lending yang semakin lambat belakangan ini, penting bagi semua pihak untuk tetap waspada dan mengambil langkah-langkah pencegahan agar tidak terjerumus ke dalam masalah finansial yang lebih besar di masa depan

  • AFPI dan OJK tengah bahas perpajakan, KYC, dan limit pinjaman fintech lending

    Dalam diskusi antara Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), topik perpajakan, Know Your Customer (KYC), dan limit pinjaman dalam layanan fintech lending menjadi sorotan utama. Kedua pihak sepakat bahwa pentingnya transparansi dalam hal perpajakan agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Selain itu, implementasi KYC yang ketat juga dianggap sebagai langkah yang penting untuk mencegah tindakan pencucian uang dan pembiayaan terorisme. Pembahasan mengenai limit pinjaman juga menjadi fokus utama, dimana regulasi yang jelas diperlukan untuk melindungi konsumen dari risiko over-leveraging. Dengan adanya kerjasama antara AFPI dan OJK, diharapkan industri fintech lending dapat terus berkembang secara sehat dan berkelanjutan

  • Fintech Lending, Harapan Baru bagi Usaha Kecil

    ILUSTRASI. Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menggelarkunjungan ke sejumlah penerima manfaat fintech peer to peer lending, atau layanan pendanaan bersama berbasis teknologi informasi, di wilayah Jakarta, pada Rabu (18/10/2023). Beritafintech.com – Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menggelar kunjungan ke sejumlah penerima manfaat fintech peer to peer lending, atau layanan pendanaan bersama berbasis teknologi…