Berita Keuangan dan Perbankan Terbaru – KONTAN – bank

Bank Syariah Andalkan Aplikasi Digital Sebagai Mesin Pertumbuhan Bisnis

ILUSTRASI. BCA Syariah – kontan kilas online (BCA SYARIAH/KILAS)

Beritafintech.com – JAKARTA. Industri perbankan sudah tidak bisa lagi terlepas dari yang namanya aplikasi digital. Kini, perbankan terus berlomba untuk memacu pertumbuhan bisnisnya melalui aplikasi digital, termasuk pula bank syariah.

Data Bank Indonesia (BI) mencatat, pada Mei 2026, volume transaksi keuangan yang dilakukan melalui aplikasi mobile digital tumbuh 26,16% secara tahunan (year-on-year/yoy). Adapun volume transaksi pembayaran digital secara keseluruhan mencapai Rp 5,22 miliar transaksi atau tumbuh 28,14% yoy.

Pertumbuhan digital yang amat pesat ini tentu menjadi ceruk peluang bagi perbankan untuk memperluas skala bisnisnya. Perbankan syariah di satu sisi memiliki peluang besar dengan pangsa pasar yang lebih khusus.

Baca Juga: Kemenkeu Pastikan Info Bantuan Finansial di Media Sosial Adalah Hoaks

Sejumlah bank syariah terbukti berhasil mencatatkan pertumbuhan positif pada perkembangan aplikasi digitalnya. Selain menumbuhkan jumlah transaksi, aplikasi digital juga terbukti dapat memanen nasabah baru.

PT Bank Syariah Nasional Tbk (BSI) salah satunya menyebut jumlah nasabahnya terus bertumbuh berkat investasi yang dikucurkan pada layanan digital.

Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar mengatakan, pengguna aplikasi BSI, yakni BYOND, telah mencapai lebih dari 10 juta pengguna pada April 2026. Jumlah tersebut terhitung tumbuh 25% yoy.

Dengan bertambah luasnya basis nasabah digital tersebut, Wisnu mencatat jumlah nasabah BSI secara keseluruhan telah mencapai 23,7 juta nasabah.

“Transformasi digital menjadi salah satu kunci akselerasi pertumbuhan bisnis melesat di BSI,” kata Wisnu saat dihubungi, Jumat (19/6/2026).

Wisnu menilai kelebihan aplikasi BSI dibanding bank umum lainnya adalah berbagai fitur layanan syariah. Ia menyebut beberapa layanan BYOND, di antaranya transaksi finansial, BSI Emas, transaksi sosial, donasi masjid terdekat, arah kiblat dan lainnya.

TRENDING  Ini yang dilakukan Raiz Invest untuk berekspansi di Indonesia

Adapun sebagai bullion bank, hadirnya aplikasi digital juga turut menumbuhkan pembiayaan emas BSI. Hingga April 2026, pembiayaan cicil emas BSI tercatat mencapai Rp 16,93 triliun atau tumbuh 97,9% yoy.

“Kami optimis tahun ini pengguna channel digital BSI meningkat, terutama menyasar gen Z dan gen milenial,” kata Wisnu.

PT Bank BCA Syariah juga membuktikan bahwa dukungan aplikasi digital berkontribusi sangat positif terhadap pertumbuhan bisnis dan akuisisi nasabah baru.

Direktur BCA Syariah Pranata Nazamuddin menyampaikan, pada Mei 2026, pengguna aplikasi banknya, yakni BSya, telah mencapai sekitar 221.000 nasabah.

Pranata menyebut peran BSya teramat penting dalam mengakuisisi nasabah baru. Ini tercermin dari jumlah nasabah baru yang kontribusinya mencapai 69% dari total nasabah baru di 2026.

“Kami yakin ke depannya BSya akan terus tumbuh positif selaras dengan tren kebutuhan masyarakat terhadap layanan keuangan syariah yang inklusif dan mudah dijangkau,” ucapnya.

Selain akuisisi nasabah, aplikasi digital juga mendukung pertumbuhan transaksi bank. PT Bank Muamalat Indonesia Tbk misalnya menyebut jumlah transaksi nasabah melonjak signifikan berkat transaksi QRIS.

Direktur Bank Muamalat Ricky Rikardo Mulyadi menuturkan, jumlah transaksi QRIS melalui aplikasi Muamalat DIN pada Mei 2026 tercatat tumbuh 74,87% yoy. Sedangkan volume transaksinya meningkat 58,12% yoy.

“Pembayaran digital telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Oleh karenanya, kami terus mengoptimalkan Muamalat DIN, sekaligus melakukan penetrasi dan akuisisi merchant,” kata Ricky.

Ricky optimistis pertumbuhan pengguna dan transaksi Muamalat DIN akan terus positif ke depannya sejalan dengan bertambah luasnya jaringan ekosistem merchant Bank Muamalat.

TRENDING  Simpanan Jumbo Membengkak, Nasabah Kaya Pilih Parkir Dana di Bank

Baca Juga: BSN Bukukan Laba Bersih Rp 473,75 Miliar pada Mei 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • Prospek Cerah Fintech Lending: OJK Soroti Pertumbuhan 2026

    Menurut data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan industri fintech lending diprediksi akan terus meningkat hingga tahun 2026. Hal ini menjadi sorotan penting bagi regulator dan pelaku pasar dalam mengantisipasi perkembangan yang semakin pesat di sektor ini.

    Dengan prospek cerah yang dihadirkan oleh fintech lending, OJK pun memberikan perhatian khusus untuk memastikan bahwa pertumbuhan tersebut dapat berjalan secara sehat dan berkelanjutan. Regulasi yang ketat serta pengawasan yang intensif menjadi langkah-langkah yang ditempuh untuk menjaga stabilitas pasar dan melindungi konsumen dari potensi risiko.

    Para pelaku industri pun diharapkan dapat terus berinovasi dan meningkatkan kualitas layanan mereka guna memenuhi kebutuhan masyarakat akan akses pembiayaan yang cepat, mudah, dan aman. Dengan kerjasama antara regulator, pelaku pasar, dan konsumen, industri fintech lending di Indonesia diyakini akan terus berkembang positif menuju tahun 2026 mendatang

  • Kasus Fintech Ilegal di Solo Dipastikan Berakhir Pidana

    Kasus fintech ilegal di Solo akhirnya dipastikan akan berakhir dengan pidana. Hal ini disampaikan oleh pihak kepolisian setelah berhasil mengungkap praktik ilegal yang dilakukan oleh perusahaan fintech tersebut. Para pelaku akan segera diadili dan dikenakan hukuman sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan layanan fintech agar tidak menjadi korban dari praktik ilegal seperti ini

  • Babak Baru Industri Fintech Lending, Dapat Dukungan Asuransi Kredit

    Industri fintech lending semakin berkembang pesat di Indonesia. Salah satu inovasi terbaru yang diperkenalkan adalah adanya dukungan asuransi kredit. Hal ini menjadi kabar baik bagi para pelaku usaha yang membutuhkan pinjaman modal untuk mengembangkan bisnis mereka.

    Dengan adanya asuransi kredit, risiko default atau gagal bayar dapat diminimalkan, sehingga memberikan kepercayaan lebih kepada pemberi pinjaman. Selain itu, para peminjam juga merasa lebih aman karena memiliki perlindungan jika terjadi hal-hal yang tidak terduga.

    Dukungan asuransi kredit ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan industri fintech lending di Indonesia dan memberikan manfaat yang besar bagi para pelaku usaha. Dengan adanya perlindungan dari risiko default, diharapkan semakin banyak orang yang berani mengembangkan bisnisnya tanpa takut akan masalah keuangan

  • 5 Bank Besar Indonesia Terancam! Moody’s Pangkas Outlook Jadi Negatif

    Bank-bank besar Indonesia harus waspada, karena Moody’s telah memangkas outlook mereka menjadi negatif. Hal ini menunjukkan adanya potensi risiko yang dapat mengancam stabilitas keuangan mereka. Para pemangku kepentingan perlu segera mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menghadapi situasi ini dan menjaga reputasi serta kredibilitas industri perbankan di Indonesia

  • Aturan OJK, Nasabah Wajib Hitung Pendapatan Sebelum Pinjam di Pinjol

    Menurut aturan OJK, nasabah wajib menghitung pendapatan mereka sebelum meminjam uang di perusahaan pinjaman online (Pinjol). Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya over-leveraging dan memastikan bahwa nasabah mampu membayar kembali pinjaman dengan lancar. Dengan demikian, nasabah diharapkan dapat mengelola keuangan mereka dengan lebih bijaksana dan tidak terjerumus dalam masalah utang yang berkepanjangan. Jadi, sebelum Anda memutuskan untuk meminjam uang dari Pinjol, pastikan untuk menghitung pendapatan Anda terlebih dahulu agar dapat membuat keputusan yang tepat dan bertanggung jawab secara finansial

  • Dana DHE Hanya Bisa Masuk Bank Himbara, Begini Efeknya ke Likuiditas Valas

    Dana DHE yang hanya bisa masuk ke Bank Himbara telah menimbulkan efek yang signifikan terhadap likuiditas valas di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh besarnya jumlah dana yang masuk ke bank-bank tersebut, sehingga menyebabkan peningkatan cadangan devisa negara. Namun, hal ini juga dapat berdampak negatif terhadap pasar valuta asing, karena ketergantungan yang semakin besar terhadap Bank Himbara dapat mengurangi fleksibilitas dalam pengelolaan likuiditas valas secara keseluruhan. Oleh karena itu, perlu adanya langkah-langkah untuk mengoptimalkan penggunaan dana DHE agar tidak hanya terpusat pada satu bank saja dan tetap menjaga stabilitas likuiditas valas di Indonesia