Perusahaan Fintech Fokus Dorong Literasi Keuangan Generasi Muda

Perusahaan Fintech Fokus Dorong Literasi Keuangan Generasi Muda

Jakarta: Perusahaan fintech berkomitmen untuk terus meningkatkan literasi keuangan di kalangan generasi muda Indonesia. Hal ini untuk memperluas literasi keuangan menghadapi banyaknya pelajar yang terkena pinjaman online ilegal.
 

Direktur PT Info Tekno Siaga (Adapundi) Achmad Indrawan menuturkan kesadaran generasi muda dalam pemanfaatan fintech secara tepat guna menjadi hal yang sangat penting.
 
Dia mengatakan tingkat literasi keuangan para generasi muda diharapkan dapat meningkat dengan sejumlah program literasi keuangan kepada mahasiswa. Dia berharap para peserta dapat memahami kontribusi platform Peer to Peer (P2P) terhadap perekonomian, khususnya bagi Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM).
 
“Generasi muda adalah masa depan Indonesia, dan melalui pemahaman yang baik tentang teknologi keuangan, mereka dapat berkontribusi secara positif dalam pembangunan ekonomi,” ujar Achmad Indrawan, dalam keterangan tertulis, Selasa, 30 Juli 2024.
Dia menuturkan anak muda perlu memahami teknologi keuangan dapat digunakan untuk mendukung UMKM dan meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia.
 
“Teknologi keuangan dalam bentuk P2P lending juga berguna untuk kehidupan sehari-hari jika digunakan dengan bijak,” tambah Achmad Indrawan.
 
Dia menegaskan sejak didirikan pada 2020, Adapundi telah membantu jutaan pengguna melalui platform P2P lending yang berizin dan diawasi oleh OJK. Adapundi berkomitmen untuk terus tumbuh dan mencapai inklusivitas keuangan yang optimal di semua lapisan masyarakat Indonesia.

Meningkatkan literasi keuangan

Sebelumnya Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan literasi keuangan agar bisa menyaring informasi dari risiko kejahatan siber, terutama terkait dengan rayuan maut pinjaman online (pinjol) dan judi online (judol).
 
“Teknologi digital memberikan kemudahan akses informasi, maka masyarakat yang kurang terliterasi dari sisi keuangan menjadi objek yang sangat rentan. Kalau kita sendiri tidak punya pertahanan, kita yang menjadi korban,” kata Sri Mulyani dalam kegiatan Talkshow Edukasi Keuangan Bundaku oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta, Selasa, 25 Juni 2024.
 
Dia menegaskan salah satu ciri khas kejahatan keuangan siber yang paling nyata adalah tawaran keuntungan yang berkali-kali lipat lebih tinggi dari modal yang dikeluarkan. Sri Mulyani menekankan, bisnis yang ideal tidak mungkin memberikan keuntungan yang terlampau melimpah.
 
“Itu eksploitasi. Kalau penawaran yang terlalu indah, cek berkali-kali agar tahu apakah itu benar atau tidak. Kemudian, berpikirlah secara rasional,” jelas dia.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TRENDING  Jelang Rilis Kinerja Kuartal III 2024, Begini Rekomendasi Saham Bank KBMI 4

(SAW)

Perusahaan fintech⁢ saat ini sedang fokus untuk ⁢mendorong literasi keuangan ‍di kalangan generasi muda. Hal ini sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman dan‍ keterampilan keuangan di tengah⁣ perkembangan teknologi ‌digital‍ yang semakin pesat. Dengan meningkatnya literasi keuangan, ⁤diharapkan generasi ⁣muda dapat mengelola keuangan secara lebih baik, meminimalkan risiko keuangan yang tidak diinginkan, dan dapat mengambil keputusan keuangan yang lebih cerdas dan tepat. ⁣Melalui berbagai program literasi⁣ keuangan yang diselenggarakan oleh perusahaan fintech, diharapkan ⁢generasi⁣ muda dapat ⁢meraih kesuksesan keuangan di masa depan.

Check Also

OJK Atur Pembatasan Lender Nonprofesional di Fintech Lending, Ini Kata GandengTangan

OJK Atur Pembatasan Lender Nonprofesional di Fintech Lending, Ini Kata GandengTangan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengatur pembatasan bagi lender nonprofesional di industri fintech lending. Hal ini disambut baik oleh GandengTangan, platform peer-to-peer lending yang telah lama beroperasi di Indonesia. Menurut GandengTangan, langkah OJK tersebut sangat penting untuk melindungi para peminjam dari risiko yang mungkin timbul akibat praktik tidak etis dari lender nonprofesional. Dengan adanya regulasi yang lebih ketat, diharapkan akan tercipta lingkungan bisnis yang lebih sehat dan transparan di industri fintech lending. GandengTangan juga menyatakan komitmennya untuk terus mematuhi semua regulasi yang dikeluarkan oleh OJK demi menjaga kepercayaan masyarakat terhadap layanan peer-to-peer lending. Mereka percaya bahwa dengan kerjasama antara regulator dan pelaku usaha, industri fintech lending di Indonesia dapat terus berkembang secara berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi semua pihak

%site% | NEWS