Ekonom: Penurunan Bunga Fintech Lending Berdampak Negatif ke Pendapatan Lender

Ekonom: Penurunan Bunga Fintech Lending Berdampak Negatif ke Pendapatan Lender

ILUSTRASI. OJK bakal pangkas bunga pinjaman industri fintech peer to peer (P2P) lending pada tahun depan

Beritafintech.com – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan kembali menurunkan bunga pinjaman industri fintech peer to peer (P2P) lending pada tahun depan, di mana konsumtif menjadi 0,2%, sedangkan produktif masih 0,1%. 

Adapun OJK telah menurunkan bunga pada tahun ini menjadi 0,3% untuk konsumtif dan 0,1% untuk produktif.

Namun, penurunan bunga ini disebut akan berdampak ke imbal hasil yang akan didapatkan oleh lender atau pemberi pinjaman untuk fintech lending. 

Pengamat sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda menilai bahwa dengan adanya penurunan bunga tersebut maka akan berpengaruh dari sisi pendapatan lender, khususnya bagi individu.

“Jadi memang dari sisi lender, akan berkurang pendapatannya, karena ada penurunan bunga. Otomatis, imbal hasil lender pasti akan ikut turun. Penurunan tersebut memperlambat dari sisi supply dana. Pasalnya, dana yang di-supply merupakan dana lender,” kata Nailul kepada KONTAN, Minggu (20/10). 

Baca Juga: Lesunya Daya Beli Masyarakat Berdampak pada Penurunan Premi Bisnis Asuransi Kredit

Menurut dia, ketika ada masalah pada supply dana, kemungkinan besar dapat mempengaruhi tingkat penyaluran yang bisa saja menjadi menyusut. Sebab, pasar fintech lending itu berbentuk two-sided market

“Terlebih, pasar fintech P2P lending berbentuk two-sided market, di mana, perubahan di sisi borrower pasti mempengaruhi sisi lender. Ketika bunga sisi borrower turun, manfaat dari sisi lender juga pasti akan turun,” kata dia. 

TRENDING  BTN Mulai Akuisisi Bank Victoria Syariah

Nailul mengatakan, ketika lender berkurang minatnya untuk mendanai borrower, maka pasokan penyaluran akan berkurang juga. Hal inilah yang sangat berbahaya bagi kinerja keuangan industri fintech P2P lending. 

“Dengan begitu, fintech P2P lending bisa berkurang penyalurannya, terutama dari  sisi lender individu atau ritel yang semakin rendah porsinya,” kata dia. 

Meskipun demikian, Nailul beranggapan bagi lender institusi perbankan, kemungkinan tidak menjadi masalah dengan adanya penurunan bunga tersebut. Sebab, mereka bisa memanfaatkan keuntungan nonmaterial, seperti data pengguna yang bisa di-approach menjadi nasabah dan lain sebagainya. 

“Jadi, masih ada untung yang lebihnya untuk lender institusi, khususnya perbankan,” kata Nailul. 

Di samping itu, ia menilai pada jangka pendek penurunan suku bunga tersebut akan merugikan industri fintech P2P lending, namun dalam jangka menengah dan panjang bisa jadi menguntungkan,  karena ada equilibrium baru yang disebabkan oleh risiko yang turun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Seorang ekonom menyoroti penurunan suku bunga dalam layanan fintech lending sebagai dampak negatif bagi pendapatan para pemberi pinjaman. Menurutnya, hal ini akan membuat profit margin para pemberi pinjaman semakin mengecil karena mereka akan menerima imbal hasil yang lebih rendah. Selain itu, penurunan suku bunga juga bisa berdampak pada kualitas layanan yang diberikan oleh para pemberi pinjaman kepada nasabah. Oleh karena itu, para pemberi pinjaman diharapkan untuk dapat mencari strategi lain guna menjaga pendapatan mereka saat menghadapi penurunan suku bunga dalam industri fintech lending.

Similar Posts

  • Sulit Menabung? Ini 10 Tips Finansial Gen Z agar Tabungan Cepat Terkumpul

    Berikut adalah 10 tips finansial untuk generasi Z agar tabungan cepat terkumpul:

    1. Mulailah dengan menetapkan tujuan tabungan yang jelas dan spesifik.
    2. Buatlah anggaran bulanan dan patuhi rencana pengeluaran yang telah dibuat.
    3. Hindari utang konsumtif dan belanja impulsif yang tidak perlu.
    4. Manfaatkan teknologi untuk memantau pengeluaran dan mengatur keuangan secara lebih efisien.
    5. Pertimbangkan investasi jangka panjang seperti reksadana atau saham untuk pertumbuhan tabungan yang lebih cepat.
    6. Selalu sisihkan sebagian pendapatan untuk ditabung sebelum digunakan untuk keperluan lain.
    7. Cari cara-cara kreatif untuk meningkatkan pendapatan tambahan, seperti berjualan online atau freelance.
    8. Bandingkan harga sebelum membeli barang atau jasa agar dapat menghemat lebih banyak uang.
    9. Jaga kesehatan finansial dengan memiliki asuransi kesehatan dan perlindungan diri lainnya.
    10. Tetap disiplin dan konsisten dalam menjalankan kebiasaan menabung demi mencapai tujuan keuangan Anda secara lebih cepat.

    Dengan menerapkan tips-tips di atas, diharapkan generasi Z dapat meningkatkan kesadaran finansial mereka serta berhasil mengumpulkan tabungan dengan lebih efisien dan cepat

  • Konsisten Dukung Ekonomi Hijau Bank Mandiri Pimpin Pembiayaan Berkelanjutan Nasional

    Bank Mandiri terus konsisten dalam mendukung ekonomi hijau di Indonesia. Sebagai pemimpin dalam pembiayaan berkelanjutan, Bank Mandiri telah memimpin upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang ramah lingkungan. Dengan komitmen yang kuat, Bank Mandiri telah menjadi pionir dalam menyediakan pembiayaan untuk proyek-proyek yang mendukung pembangunan berkelanjutan di seluruh negeri. Dengan langkah-langkah inovatif dan strategis, Bank Mandiri terus memperkuat posisinya sebagai pelopor dalam mendukung ekonomi hijau di Indonesia

  • Bidik Pasar KPR, Lamudi Akusisi Platform Fintech

    Welcome to our blog!

    Here at Amazing Adventures, we are dedicated to bringing you the latest news and updates on all things travel. Whether you’re a seasoned globetrotter or planning your first trip abroad, our team of experts is here to provide you with tips, recommendations, and inspiration for your next adventure.

    Stay tuned for exciting travel stories, destination spotlights, packing guides, and much more. Join us as we explore the world one adventure at a time!

  • OJK Setujui Pembentukan Satu Konsorsium Terkait Asuransi Kredit untuk Fintech Lending

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menyetujui pembentukan satu konsorsium terkait asuransi kredit untuk fintech lending. Keputusan ini disambut dengan antusias oleh para pelaku industri fintech dan asuransi, yang melihat langkah ini sebagai upaya untuk meningkatkan perlindungan bagi para peminjam online. Dengan adanya konsorsium ini, diharapkan akan tercipta kerjasama yang lebih baik antara perusahaan fintech dan perusahaan asuransi dalam menyediakan layanan asuransi kredit yang lebih terjangkau dan mudah diakses bagi masyarakat. Langkah ini juga diharapkan dapat membantu mengurangi risiko default bagi para pemberi pinjaman online, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan fintech lending

  • Perolehan Laba Fintech Lending Tahun Ini Diproyeksikan Melampaui Pencapaian 2024

    Menurut para ahli, perolehan laba fintech lending tahun ini diproyeksikan akan melampaui pencapaian yang diharapkan pada tahun 2024. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan pesat industri fintech lending dan tingginya minat masyarakat terhadap layanan pinjaman online. Dengan adanya inovasi-inovasi baru dalam teknologi finansial, para pelaku usaha di sektor ini optimis bahwa laba mereka akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Selain itu, regulasi yang semakin mendukung perkembangan fintech lending juga menjadi faktor penting dalam memperkirakan pertumbuhan laba perusahaan-perusahaan tersebut. Dengan demikian, prospek bisnis fintech lending di Indonesia terlihat sangat cerah dan menjanjikan bagi para investor maupun pelaku usaha yang ingin meraih kesuksesan di bidang ini

  • AFPI: Penerapan Asuransi Fintech P2P Lending akan Timbulkan Moral Hazard

    Asuransi Fintech P2P Lending merupakan inovasi terbaru dalam dunia keuangan yang memungkinkan para peminjam mendapatkan perlindungan asuransi saat mengajukan pinjaman. Namun, penerapan asuransi ini juga dapat menimbulkan moral hazard, dimana para peminjam menjadi kurang berhati-hati dalam mengelola keuangannya karena merasa sudah terlindungi oleh asuransi. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan risiko bagi perusahaan fintech dan juga para investor yang telah memberikan dana. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan fintech untuk melakukan pengawasan yang ketat terhadap penggunaan asuransi agar tidak menimbulkan dampak negatif pada sistem P2P Lending secara keseluruhan