OJK Bakal Rilis Aturan Innovative Credit Scoring, Ini Kata Sejumlah Fintech Lending

OJK Bakal Rilis Aturan Innovative Credit Scoring, Ini Kata Sejumlah Fintech Lending

ILUSTRASI. aplikasi fintech financial technology teknologi finansial tekfin Akseleran. OJK tengah mengembangkan peraturan baru terkait Innovative Credit Scoring (ICS) bagi lembaga jasa keuangan dan ditargetkan akan rilis akhir 2024.

Reporter: Ferry Saputra | Editor: Tri Sulistiowati

Beritafintech.com – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengembangkan peraturan baru terkait Innovative Credit Scoring (ICS) bagi lembaga jasa keuangan dan ditargetkan akan rilis akhir 2024. Aturan itu menjadikan riwayat pembayaran listrik sampai unggahan media sosial, bisa menjadi data alternatif dalam penilaian kelayakan kredit atau credit scoring.

Mengenai hal itu, sejumlah fintech peer to peer (P2P) lending menilai adanya aturan ICS akan berdampak positif bagi industri dalam melakukan penilaian calon borrower. Salah satunya disampaikan fintech P2P lending PT Akselerasi Usaha Indonesia.

Group CEO & Co-Founder Akseleran Ivan Nikolas Tambunan menilai Innovative Credit Scoring yang menggunakan data alternatif sangat amat penting untuk kemajuan industri fintech lending dalam melakukan penilaian calon borrower. 

Baca Juga: NPF Paylater Multifinance Per September 2024 Naik, Ini Kata Bos Indodana

“Hal itu karena borrower yang ditargetkan fintech lending sebagian besar tidak memiliki data-data selayaknya borrower yang sudah bankable,” ucapnya kepada Kontan, Senin (18/11).

Ivan menerangkan apabila nantinya aturan ICS berlaku, tentu fintech lending tidak hanya menggunakan data alternatif saja untuk menilai calon borrower. Dia bilang fintech lending bisa memadukan data alternatif dengan data-data lainnya yang tersedia.

TRENDING  Kuartal III-2019, transaksi mobile banking sejumlah bank tumbuh signifikan

“Dengan demikian, dari sisi risiko tetap bisa terjaga,” kata Ivan.

Berdasarkan situs resmi perusahaan, Akseleran mencatat TKB90 sebesar 99,78% per 18 November 2024.

Fintech P2P lending PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) juga menilai adanya aturan ICS sebagai langkah yang positif. Chief Risk & Sustainability Officer Amartha Aria Widyanto melihat aturan ICS yang dicanangkan OJK begitu penting dalam membangun dan memperkuat sistem skoring dengan memanfaatkan data alternatif. 

“Langkah itu dapat membantu menjangkau masyarakat unbanked yang belum terlayani oleh sistem skoring konvensional,” katanya kepada Kontan, Minggu (17/11).

Selain itu, Aria bilang inisiatif OJK itu juga sebagai langkah positif untuk mendorong inklusi keuangan dan memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat.

Sementara itu, fintech P2P lending 360Kredi juga menyebut adanya aturan tersebut justru berdampak positif bagi industri. CEO 360Kredi Kuseryansyah mengatakan aturan ICS akan memperluas cakupan penilaian calon peminjam.

“Harusnya makin memperluas. Dengan Innovative Credit Scoring, bisa menggunakan berbagai data relevan yang bisa dipakai untuk scoring,” ungkapnya saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (12/11).

Kuseryansyah menyampaikan dasarnya dibutuhkan berbagai data untuk melakukan penilaian pada seseorang. Tak cuma data dari Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) dan non-SLIK, tentu dibutuhkan juga data alternatif lainnya.

Dia bilang fintech lending yang merupakan platform pinjam-meminjam tentu akan makin senang kalau data yang tersedia untuk melakukan analisis borrower makin banyak. Sebab, risiko dari melakukan penyaluran akan makin terukur, terkalkulasi, dan menjadi mudah untuk memutuskan.

Kuseryansyah menerangkan saat ini fintech lending masih menggunakan data untuk scoring yang bersumber dari Fintech Data Center (FDC) atau hampir mirip dengan SLIK. Dalam FDC, fintech lending bisa mengetahui skor kredit seseorang.

TRENDING  Privy Dipercaya Jadi Official Digital Signature Partner di Bulan Fintech Nasional2024

Sebelumnya, OJK menargetkan regulasi mengenai ICS atau Pemeringkat Kredit Alternatif (PKA) akan selesai disusun pada akhir 2024. Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto (IAKD) OJK Hasan Fawzi mengatakan saat ini pihaknya tengah memfinalisasi Peraturan OJK (POJK) mengenai ICS dan sedang dala tahap harmonisasi dengan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).

“Sudah final. Kami maunya sebulan dari sekarang, paling lambat atau per akhir tahun ini,” ujarnya, Senin (11/11). 

Adapun ICS adalah penggunaan data nonkeuangan, seperti data telekomunikasi, e-commerce, hingga media sosial, dalam penilaian kredit. ICS akan memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan machine learning untuk mengolah data agar dapat memberikan penilaian kelayakan kredit dan pinjaman bagi kelompok unbanked dan underbanked secara lebih cepat, akurat, dan efisien. 

Baca Juga: Begini Respons CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) Soal Kenaikan PPN 12%

Selanjutnya: Rekor Harga Bitcoin Berlanjut, Begini Prediksi Pasar Kripto di Minggu Ini

Menarik Dibaca: Cara Merekam Panggilan Telepon dan Percakapan di iPhone agar Bisa Tersimpan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Check Also

Tak Cuma Wacana, Ini 5 Kebiasaan Finansial agar Keuangan Lebih Aman

Tak Cuma Wacana, Ini 5 Kebiasaan Finansial agar Keuangan Lebih Aman

Salah satu kebiasaan finansial yang penting adalah memiliki anggaran bulanan yang jelas dan terencana. Dengan memiliki anggaran, kita dapat mengontrol pengeluaran dan memastikan bahwa kita tidak menghabiskan uang lebih dari yang seharusnya. Selain itu, menyisihkan sebagian pendapatan untuk ditabung juga merupakan kebiasaan penting agar keuangan lebih aman. Dengan menabung, kita dapat memiliki cadangan dana darurat untuk menghadapi situasi tak terduga. Selain itu, membiasakan diri untuk berinvestasi juga merupakan langkah penting dalam menjaga keuangan agar lebih aman. Dengan berinvestasi, kita dapat meningkatkan nilai aset dan menciptakan sumber pendapatan pasif. Selain itu, menjaga kesehatan finansial juga termasuk dalam kebiasaan penting agar keuangan lebih aman. Hal ini meliputi pembayaran tagihan tepat waktu, menghindari utang yang tidak perlu, serta mempertimbangkan risiko finansial sebelum membuat keputusan besar. Terakhir, selalu melakukan evaluasi terhadap kondisi finansial secara berkala juga merupakan kebiasaan penting agar keuangan lebih aman. Dengan melakukan evaluasi secara rutin, kita dapat mengetahui apakah ada perubahan dalam kondisi finansial dan membuat penyesuaian jika diperlukan. Dengan menerapkan kelima kebiasaan ini secara konsisten, diharapkan kita dapat menjaga stabilitas dan keselamatan keuangan di masa depan

%site% | NEWS