Kuartal III-2019, transaksi mobile banking sejumlah bank tumbuh signifikan

Kuartal III-2019, transaksi mobile banking sejumlah bank tumbuh signifikan

ILUSTRASI. Warga sedang melakukan transaksi di mesin anjungan tunai mandiri (atm) di Jakarta

Beritafintech.com – JAKARTA. Transaksi e-channel perbankan lewat mobile banking di sejumlah bank tumbuh pesat. Meskipun secara porsi belum mengalahkan transaksi lewat ATM, transaksi lewat kedua instrumen itu tumbuh signifikan pada kuartal III 2019.

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) misalnya mencatatkan jumlah transaksi internet banking 142 juta transaksi pada kuartal III-2019. Angka ini tumbuh 133,4% secara tahunan (year on year/yoy). Nilai transaksinya mencapai Rp 186 triliun atau meningkat 104,4% yoy.

Direktur Teknologi Informasi dan Operasi BNI Dadang Setiabudi mengatakan, transaksi melalui e-channel di BNI memang masih didominasi lewat ATM. Namun, dengan meningkatnya mobilitas masyarakat dan adanya kebutuhan kemudahan untuk bertransaksi dimana saja dan kapan saja menjadikan pertumbuhan signifikan terjadi pada transaksi mobile banking.

Transaksi lewat mobile banking BNI antara lain bisa digunakan untuk transaksi inquiry, transfer, pembayaran dan pembelian aneka tagihan. “Untuk proyeksi ke depan, transaksi melalui mobile phone akan semakin meningkat seiring dengan perkembangan gaya hidup masyarakat pada umumnya,” kata Dadang pada Beritafintech.com, Rabu (30/10).

Baca Juga: Fee Based Income (FBI) bank melaju kencang

Sedangkan transaksi ATM BNI mencapai 1,08 miliar transaksi atau meningkat 16,5% yoy. Sementara itu, nilai transaksinya mencapai Rp 520 triliun atau tumbuh 6,7% yoy. 
Transaksi SMS banking meningkat 31,1% menjadi 480 juta transaksi dengan nilai Rp 58 triliun. Sedangkan transaksi internet banking tumbuh 3,9% menjadi 21 juta transaksi dengan nilai Rp 66 triliun.

TRENDING  BNI Luncurkan wondr by BNI, Dukung Masyarakat Indonesia Wujudkan Impian Finansial

Adapun pendapatan berbasis komisi (fee based income) BNI dari transaksi e-channel meningkat sekitar 20% pada kuartal III-2019. Hanya saja, Dadang tidak menyebut detail nilainya.

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga mencatatkan pertumbuhan yang signifikan dari transaksi mobile banking dan internet banking. Secara total keduanya mencatatkan transaksi 340 juta per September 2019 atau meningkat 39% secara yoy. Nilai transaksinya mencapai Rp 663 triliun atau meningkat 33% yoy.

“Pertumbuhan transaksi di e-channel Bank Mandiri tercatat paling tinggi terjadi pada channel Mandiri Online (Mobile & Internet Banking Bank Mandiri) dengan peningkatan sebesar 39%, diikuti oleh channel Mandiri Internet Bisnis sebesar 30% dan e-commerce 27%,” kata SEVP Transaction Banking and Retail Sales PT Bank Mandiri Thomas Wahyudi.

Per September 2019, tercatat pengguna layanan mobile & internet banking sebanyak 8,6 juta transaksi dengan 40% di antaranya merupakan user aktif.

Transaksi yang paling banyak digunakan untuk kedua layanan itu adalah transfer baik sesama maupun dengan bank lain, pembayaran tagihan, pembelian pulsa/paket data/token listrik, top up e-money dan top up LinkAja.

Thomas bilang, transaksi e-channel menyumbang porsi 23% terhadap total FBI Bank Mandiri di kuartal III. Dimana kontribusi tertinggi berasal dari transaksi channel ATM, mobile & internet banking serta EDC.

Baca Juga: Transaksi mesin EDC di sejumlah bank kian ramai

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) juga mencatat pertumbuhan transaksi e-channel paling tinggi dari mobile banking. Hingga kuartal III-2019, transaksinya mencapai 1,05 miliar transaksi dengan nilai mencapai Rp 1,47 triliun atau meningkat 51,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

TRENDING  Cara Buka Rekening Bank DKI dan Aktivasi Kartu ATM di JakOne Mobile

Kemudian disusul dari transaksi internet banking yang mencapai 646 juta dengan nilai Rp 7,78 triliun atau tumbuh 17,2%. 

Sedangkan transaksi ATM BCA hanya mencapai 528 juta dengan nilai Rp 1,73 triliun atau stagnan dari periode yang sama tahun lalu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Check Also

Ini daftar lengkap 158 fintech yang mengantongi izin dari OJK

Ini alasan fintech lending syariah jauh tertinggal dibanding pemain konvensional

Fintech lending syariah masih jauh tertinggal dibandingkan dengan pemain konvensional karena beberapa alasan utama. Pertama, masih minimnya pemahaman masyarakat tentang produk dan layanan keuangan syariah. Kebanyakan orang lebih familiar dengan sistem konvensional sehingga sulit untuk beralih ke fintech lending syariah. Kedua, regulasi yang belum mendukung perkembangan fintech lending syariah juga menjadi hambatan utama. Beberapa aturan yang ada cenderung lebih menguntungkan pemain konvensional daripada syariah, sehingga membuat para pelaku usaha enggan untuk berinvestasi di sektor ini. Selain itu, kurangnya kerjasama antara lembaga keuangan syariah dan fintech lending juga turut memperlambat pertumbuhan industri ini. Dibutuhkan sinergi yang kuat antara kedua pihak agar dapat memberikan layanan finansial yang komprehensif dan berkualitas bagi masyarakat. Meskipun demikian, potensi pasar untuk fintech lending syariah tetap besar dan masih perlu terus dikembangkan agar dapat bersaing secara sehat dengan pemain konvensional. Diperlukan upaya bersama dari semua pihak terkait untuk meningkatkan literasi keuangan syariah serta menciptakan regulasi yang mendukung pertumbuhan industri ini di masa depan

%site% | NEWS