Pasar Makin Ramai, Begini Kinerja Bank Besutan Investor Korea di Tanah Air

Pasar Makin Ramai, Begini Kinerja Bank Besutan Investor Korea di Tanah Air

ILUSTRASI. Pelayanan nasabah di Kantor Cabang Hana Bank, Jakarta. Bank KEB Hana Indonesia misalnya mencatatkan pertumbuhan laba 19,81% secara tahunan atau year on year (yoy) mencapai Rp 485,31 miliar pada November 2024. KONTAN/Baihaki/2/8/2024

Beritafintech.com-JAKARTA. Deretan bank besutan investor Korea Selatan mencatatkan kinerja yang positif sampai November 2024.

Saat ini, setidaknya terdapat tujuh bank di Indonesia yang dimiliki investor Korea Selatan. terbaru PT Bank Nationalnobu Tbk. (NOBU), lalu ada PT KB Bukopin Tbk. (BBKP), PT Bank IBK Indonesia Tbk. (AGRS), PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk. (SDRA), PT Bank Oke Indonesia Tbk. (DNAR), PT Bank KEB Hana Indonesia, dan PT Bank Shinhan Indonesia.

Dari tujuh bank yang dikendalikan investor Korea, lima diantaranya mencetak pertumbuhan laba positif, satu mengalami penurunan dan satu masih merugi akibat kesalahan masa lalu.

Bank KEB Hana Indonesia misalnya mencatatkan pertumbuhan laba 19,81% secara tahunan atau year on year (yoy) mencapai Rp 485,31 miliar pada November 2024. Begitu juga dengan OK Bank, labanya melesat 104,22% yoy mencapai Rp 45,43 miliar dari periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 22,24 miliar.

Lalu Bank NOBU mencatatkan pertumbuhan laba 124,42% yoy mencapai Rp 296,15 miliar. Sementara Bank Woori Saudara mencatatkan penurunan laba sebesar 20,54% menjadi Rp 502,53 miliar.

Adapun Bank Shinhan dan IBK Indonesia terlihat sudah melaporkan kinerja di Desember 2024, keduanya berhasil mencatatkan pertumbuhan laba masing-masing tumbuh 3,77% yoy dan 14,98% mencapai Rp 166,79 miliar dan Rp 214,46 miliar di Desember 2024.

Di sisi lain, KB Bank yang sudah melaporkan kinerjanya per Desember 2024 masih menanggung rugi sebesar Rp 7,06 triliun. Rugi ini membengkak dari periode sama tahun sebelumnya yang masih Rp 4,81 triliun. Penyebabnya, bank menanggung beban kerugian penurunan nilai aset sebesar Rp 3,25 triliun karena tingginya kredit bermasalah.

TRENDING  Astra Financial dan Maucash Perluas Kesadaran Produk Finansial

Baca Juga: Inilah Deretan Investor Korea Selatan yang Bercokol di Industri Perbankan Indonesia

Dari sisi intermediasi, rata-rata kredit mereka tumbuh cukup ekspansif diatas 10%. Hanya KB Bank dan OK Bank yang mencatatkan penurunan kredit, dan Bank Woori Saudara yang mencatatkan pertumbuhan kredit single digit.

Adapun dari sisi aset, keenam bank mencatatkan pertumbuhan aset yang positif pada penghujung tahun 2024. Kecuali KB Bank yang masih mencatatkan penurunan aset. Bila ditotal, jumlah aset ketujuh bank tersebut mencapai Rp 278,46 triliun pada November 2024 atau sebesar 2,25% dari total aset bank umum. Berdasarkan data statistik perbankan Indonesia yang dirilis oleh OJK, total aset bank umum mencapai Rp 12.334,71 triliun per November 2024. 

Namun, bank-bank milik investor Korea ini berkomitmen untuk terus mengembangkan bisnisnya secara berkelanjutan. OK Bank misalnya, optimistis pada rencana bisnisnya di tahun 2025, dimana bank ini menargetkan pertumbuhan kredit sekitar 10% yoy.

Direktur Kepatuhan OK Bank Efdinal Alamsyah menyatakan, bahwa perseroan melihat peluang pada pertumbuhan kredit di sektor UMKM, konsumsi, dan korporasi, terutama manufaktur pada 2025.

“Hal ini disebabkan UMKM mendapat dukungan likuiditas makroprudensial dari BI, dan sektor kredit konsumsi diperkirakan akan tumbuh karena mulai membaiknya permintaan domestik, sementara itu kredit di sektor manufaktur akan meningkat seiring dengan meningkatnya investasi dan produksi,” tutur Efdinal kepada Beritafintech.com, Senin (3/2).

Di sisi lain, ia mengharapkan penurunan cost of fund dapat meningkatkan margin bunga bersih (NIM), yang berkontribusi pada pertumbuhan laba.

Untuk menjaga pertumbuhan laba dan penyaluran kredit sesuai Rencana Bisnis Bank (RBB) pada tahun 2025, pihaknya menerapkan beberapa strategi, antara lain meningkatkan efisiensi operasional dan memperluas jangkauan layanan kepada nasabah.

TRENDING  Angka Kredit Macet Fintech Lending Masih Tinggi, Capai 4,32% per Akhir 2025

Selain itu, pihaknya akan fokus pada penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas, juga memperkuat manajemen risiko untuk menjaga kualitas aset dan memastikan penyaluran kredit yang sehat.

Lebih lanjut Efdinal menerangkan, pada tahun 2024, pertumbuhan kredit OK Bank tercatat sebesar kurang lebih 10% yoy atau apabila dibandingkan dengan tahun 2023.

Pertumbuhan ini disebut Efdinal didorong oleh permintaan kredit yang meningkat karena membaiknya aktivitas ekonomi  dan konsumsi yang menyebabkan terjadi peningkatan kebutuhan pembiayaan dari sektor perbankan. 

Tak berbeda, bank milik investor Korea lainnya yakni IBK Indonesia optimis dapat mencapai target pertumbuhan kredit di tahun 2025, dengan tetap fokus menyasar segmen korporasi khususnya di industri manufaktur. 

“Kami sebenarnya juga sudah mulai menyalurkan kredit sindikasi, dan tahun ini kami juga akan menjadi mandated lead arranger (MLA) yang dapat mendorong pertumbuhan kredit, walaupun tanpa sindikasi kami juga sudah bisa mendorong pertumbuhan kredit tahun depan,” kata Direktur IBK Indonesia, Lee Dae Sung.

Baca Juga: OJK Tanggapi Kabar Hanwha Life yang Berencana Akuisisi 40% Saham Bank Nobu

Dae Sung juga menyebut, pihaknya telah melakukan penjajakan kepada beberapa perusahaan yang mana saat ini IBK Indonesia tengah berdiskusi lebih lanjut dengan tiga perusahaan terkait kredit sindikasi tersebut.

Minat investasi dari Negeri Ginseng terhadap industri perbankan Tanah Air memang terlihat masih tinggi. Terbaru, perusahaan asuransi asal Korea Selatan Hanwha Life akan mengakuisisi saham mayoritas Bank Nobu milik taipan James Riady.

Rencana akuisisi Hanwha atas Bank Nobu ini akan menambah daftar panjang investor Korea di industri perbankan Indonesia. Investor dari Korea Selatan juga bergeliat berinvestasi ke sektor perbankan di Tanah Air dengan cara mempertebal modal melalui right issue.

TRENDING  Rasio Nasabah Aktif Bank Digital di Bawah 50%, Ini Strategi Krom Bank dan Allo Bank

SDRA misalnya mendapatkan kucuran dana dari pemiliknya asal Korea Selatan, Woori Bank Korea melalui right issue. SDRA memang telah menggelar penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) IV atau right issue sebanyak-banyaknya 6,4 miliar lembar saham baru.

Industrial Bank of Korea yang mengendalikan AGRS juga telah menyuntikkan dana setoran modal senilai Rp 1,17 triliun pada tahun lalu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • Tips Hemat Uang Makan untuk Orang Single

    Beritafintech.com – Sungguh menarik membicarakan kehidupan para single person. Terutama tentang bagaimana mereka mengatur keuangan. Tips hemat uang makan ini bisa jadi bekal para single dalam menentukan budget hariannya. Uang makan menjadi indikator pengeluaran belanja bulanan yang paling besar. Jumlahnya melebihi budget untuk membeli kebutuhan lain, seperti perlengkapan mandi, skincare dan tagihan listrik. Tentu hal…

  • Dampak Inflasi Kesehatan bagi Kondisi Finansial Keluarga

    Inflasi dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap kondisi finansial keluarga. Kenaikan harga-harga barang dan jasa akan membuat biaya hidup semakin tinggi, sehingga menyebabkan pengeluaran keluarga meningkat. Hal ini dapat mengakibatkan menurunnya daya beli keluarga, terutama bagi mereka yang berpenghasilan tetap.

    Selain itu, inflasi juga dapat berdampak pada kesehatan keluarga. Kenaikan harga obat-obatan dan biaya perawatan kesehatan akan membuat akses terhadap layanan kesehatan menjadi semakin sulit bagi keluarga dengan pendapatan rendah. Akibatnya, banyak keluarga yang terpaksa menunda atau bahkan mengabaikan perawatan kesehatan karena tidak mampu membayar biayanya.

    Dengan demikian, penting bagi setiap keluarga untuk memahami dampak inflasi terhadap kondisi finansial dan kesehatan mereka. Merencanakan anggaran secara bijaksana dan mempertimbangkan perlindungan keuangan seperti asuransi kesehatan dapat membantu melindungi kondisi finansial keluarga dari dampak negatif inflasi

  • PNM Imbau Nasabah Mekaar Jauhi Pinjol Ilegal

    PNM Imbau Nasabah Mekaar Jauhi Pinjol Ilegal

    Perusahaan Pembiayaan Mikro (PNM) mengimbau nasabahnya untuk menjauhi praktik pinjaman online ilegal atau yang lebih dikenal dengan sebutan pinjol. Hal ini disampaikan sebagai upaya perlindungan terhadap nasabah agar tidak terjerumus dalam praktik yang merugikan tersebut.

    “Kami sangat menghimbau kepada seluruh nasabah Mekaar untuk tidak menggunakan jasa pinjol ilegal. Praktik ini dapat memberikan dampak buruk bagi keuangan dan reputasi Anda,” ujar perwakilan PNM.

    Dengan semakin maraknya kasus penipuan dan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh pinjol ilegal, PNM berkomitmen untuk memberikan edukasi kepada para nasabahnya agar lebih waspada dan bijak dalam memilih layanan keuangan. Dengan menjaga hubungan baik dengan lembaga keuangan resmi seperti PNM, diharapkan nasabah dapat terhindar dari masalah finansial yang tidak diinginkan

  • AFPI Dorong Fintech Lending yang Belum Penuhi Ekuitas Minimum Lakukan Merger-Akuisisi

    Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia (AFPI) mendorong perusahaan fintech lending yang belum memenuhi ekuitas minimum untuk melakukan merger atau akuisisi. Langkah ini diambil untuk memperkuat posisi perusahaan dan meningkatkan keberlangsungan bisnis di tengah persaingan yang semakin ketat. AFPI juga menekankan pentingnya kolaborasi antar perusahaan fintech dalam menghadapi tantangan pasar yang terus berkembang. Dengan melakukan merger atau akuisisi, diharapkan perusahaan dapat lebih kompetitif dan mampu memberikan layanan yang lebih baik kepada para nasabah

  • Helm Motor Terbaik 2023 Rekomendasi Kami

    beritafintech.com – Sedang mencari helm sepeda motor premium dari merk ternama? Berikut helm motor terbaik 2023, di antaranya helm motor terbaik dari Aria, Shoei, AGV, Bell, Caberg, Shark dan Scorpion. Dalam banyak hal, membeli salah satu helm sepeda motor terbaik di pasaran adalah proses yang mudah. Ada banyak pembuat helm sepeda motor hari kerja berkualitas,…

  • Dana Kelolaan Pinnacle Investment Capai Rp 2,5 Triliun per Oktober 2025

    Dana kelolaan Pinnacle Investment telah mencapai Rp 2,5 triliun per Oktober 2025, menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dalam kurun waktu yang relatif singkat. Hal ini menandakan kepercayaan besar dari para investor terhadap kemampuan perusahaan dalam mengelola dana mereka dengan baik dan memberikan hasil yang optimal. Dengan pencapaian ini, Pinnacle Investment semakin kokoh sebagai salah satu pemain utama di pasar keuangan Tanah Air