Kredit Menganggur di Bank Masih Numpuk Didominasi Kredit Modal Kerja

Kredit Menganggur di Bank Masih Numpuk Didominasi Kredit Modal Kerja

ILUSTRASI. Kredit Konstruksi: Pembangunan proyek konstruksi di Tangerang, Banten, Selasa (5/8/2025). Bank Indonesia (BI) mencatat, outstanding kredit konstruksi per Juni 2025 tercatat sebesar Rp 408,1 triliun, hanya tumbuh 1,08% secara tahunan. KONTAN/Baihaki/5/8/2025

Beritafintech.com – JAKARTA. Kredit perbankan pada Agustus 2025 belum kuat. Dicatat Bank Indonesia (BI) pertumbuhan penyaluran kredit secara industri masih sebesar single digit, yakni 7,56% secara tahunan (YoY).

Kondisi ini mengakibatkan fasilitas pinjaman yang belum dicairkan masih cukup besar, tecermin dari rasio undisbursed loan atau kredit menganggur pada Agustus 2025 yang mencapai Rp 2.372,11 triliun atau 22,71% dari plafon kredit yang tersedia.

Dicatat pula, rasio undisbursed loan terbesar terutama pada sektor Industri, Pertambangan, Jasa Dunia Usaha, dan Perdagangan, dengan jenis kredit modal kerja (KMK). 

BI bilang, bahwa dari sisi permintaan, belum kuatnya perkembangan kredit ini dipengaruhi oleh sikap menunggu pelaku usaha (wait and see), suku bunga kredit yang masih tinggi, dan lebih besarnya pemanfaatan dana internal untuk pembiayaan usahanya.

Advisor Banking & Finance Development Center Moch Amin Nurdin pun mengamini kondisi ini. Menurutnya, saat ini para pelaku usaha masih beroperasi dengan lebih efisien. Hal ini disebabkan daya beli yang belum pulih kembali, sehingga belum ada peningkatan operasional yang berasal dari peningkatan penjualan.

Baca Juga: BI Turunkan BI Rate Jadi 4,75%, Kredit Multiguna Berpeluang Terdongkrak

Amin memproyeksi kinerja penyaluran kredit belum akan signifikan hingga akhir tahun ini, apalagi jika daya beli masyarakat belum ada perbaikan.

“Betul (kredit menganggur) KMK paling banyak, karena belum ada peningkatan operasional dari sisi penjualan. Daya beli belum normal karena pelaku usaha beroperasi efisien, supaya bisa menjaga kinerja keuangan. Saya tetap yakin kredit secara umum tidak akan tembus double digit sampai akhir tahun,” kata Amin kepada Kontan, Minggu (28/9/2025).

TRENDING  AFPI Proyeksikan Pembiayaan Fintech Lending Meningkat Menjelang Lebaran

Dalam laporan analisis uang beredar Bank Indonesia, dicatat kredit modal kerja per Agustus 2025 hanya tumbuh sebesar 3,0% secara tahunan (YoY), dengan nilai total kredit mencapai Rp 3.446,0 triliun. Realisasi ini sedikit lebih tinggi ketimbang Juli 2025 yang hanya tumbuh 2,8% YoY.

Namun, pertumbuhan kredit modal kerja periode ini masih sangat lesu. Sebagai perbandingan, pada Agustus 2024 lalu kredit modal kerja dicatat tumbuh 10,3% YoY, dengan nilai total mencapai Rp 3.344,3 triliun.

PT Bank BPD DIY pun masih mencatatkan pertumbuhan tipis pada penyaluran kredit modal kerjanya. Dicatat kredit modal kerja di Bank BPD DIY hanya tumbuh 1,56% secara tahunan, dari sebelumnya Rp 2,96 triliun pada Agustus 2024 menjadi Rp 2,99 triliun pada Agustus 2025.

Direktur Pemasaran dan Usaha Syariah BPD DIY, Raden Agus Trimurjanto membeberkan bahwa subsektor kredit modal kerja yang sedang mengalami pertumbuhan di BPD DIY ialah sektor Aktifitas Keuangan & Asuransi, Informasi & Komunikasi, Pendidikan, Penyediaan Akomodasi & Mamin.

Baca Juga: BI Catat Penyaluran Kredit Perbankan Naik 7% per Agustus 2025

Ada pun subsektor kredit modal kerja yang dicatat menurun ialah sektor Konstruksi dan sektor Perdagangan Besar & Eceran.

Namun, dia menegaskan bahwa total kredit menganggur di Bank BPD DIY per Agustus 2025 sebesar Rp 556 miliar atau turun 22,32% YoY dari sebelumnya yang Rp 716 miliar pada Agustus 2024.

Oleh sebab itu, Agus bilang bahwa Bank tetap optimistis dalam membidik pertumbuhan penyaluran kredit sesuai RBB (Rencana Bisnis Bank) tahun 2025.

TRENDING  Pasang bunga tinggi, dua fintech lending terancam kehilangan status legal dari OJK

“Bank BPD DIY terus optimis bisa mencapai pertumbuhan kredit 2025, yang mana jika sesuai RBB dibidik naik 9% YoY dengan catatan kondisi ekonomi tetap baik. Jika diproyeksikan moderat kemungkinan, akan tumbuh pada posisi kisaran 7% YoY,” kata Agus.

Sementara itu, PT Bank KB Indonesia Tbk menegaskan bahwa saat ini pertumbuhan kredit KB Bank secara keseluruhan terus menunjukkan tren positif. Hingga Agustus 2025, portfolio kredit modal kerja KB Bank mencatat pertumbuhan double digit secara tahunan.

Baca Juga: Target Kredit Bank Tak Naik, Meski BI Rate Dipangkas dan Dana Rp 200 T Masuk Himbara

“Hingga Agustus 2025, portofolio wholesale kami yang erat kaitannya dengan kredit modal kerja, mencatat pertumbuhan double digit secara tahunan,” beber VP Corporate Relations KB Bank Adi Pribadi.

Adi menyampaikan bahwa pertumbuhan ini terutama ditopang oleh sektor-sektor produktif seperti infrastruktur, pertambangan, dan kesehatan.

KB Bank memandang bahwa secara keseluruhan, sentimen pelaku usaha masih cukup positif, terutama dalam menjaga likuiditas dan arus kas bisnis. Sehingga, Adi menyebut jika Bank terus optimistis membidik penyaluran kredit tetap tumbuh positif hingga akhir tahun.

“Ke depan, kami terus menjaga momentum positif ini akan berlanjut. Meski permintaan kredit di tingkat industri cenderung fluktuatif, namun seiring dengan berbagai program stimulus dari pemerintah, kami tetap membidik pertumbuhan positif hingga akhir tahun ini,” lanjut Adi.

Baca Juga: Kredit Modal Kerja Bank BPD DIY Tembus Rp 2,99 Triliun per Agustus 2025

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • Online and Mobile Banking Features and Digital Services

    Dengan fitur Online dan Mobile Banking yang semakin canggih, kini nasabah dapat dengan mudah mengakses layanan perbankan mereka di mana saja dan kapan saja. Dari transfer dana hingga pembayaran tagihan, semua bisa dilakukan secara praktis melalui aplikasi perbankan digital. Tidak hanya itu, fitur-fitur keamanan seperti OTP dan fingerprint juga semakin memastikan keamanan transaksi nasabah. Dengan kemudahan dan keamanan yang ditawarkan oleh layanan digital ini, tidak heran jika semakin banyak orang beralih untuk menggunakan Online dan Mobile Banking dalam aktivitas perbankan mereka sehari-hari

  • Menyapa Kabar Sang Pioneer Fintech P2P Lending, Investree

    ILUSTRASI. Masalah gagal bayar Investree yang muncul sejak beberapa tahun terakhir masih menjadi permasalahan yang tak kunjung selesai. KONTAN/BAihaki/12/4/2018 Beritafintech.com – JAKARTA. Masalah gagal bayar masih menyelimuti pelopor atau pioneer fintech peer to peer (P2P) lending, PT Investree Radhika Jaya (Investree) sampai saat ini. Investree diketahui mulai beroperasi pada Mei 2016 dan resmi terdaftar di Otoritas…

  • 9 Cara Mendapatkan Uang dari Internet tanpa Modal

    beritafintech.com – Tidak jarang, banyak orang yang penasaran dengan cara mendapatkan uang dari internet tanpa modal. Dengan berkembangnya zaman, kebutuhan manusia semakin beragam dari kebutuhan primer hingga kebutuhan sekunder. Hal ini membuat orang membeli apa yang mereka inginkan serta apa yang mereka butuhkan. Terkadang barang yang Anda inginkan cukup mahal, masalahnya Anda membutuhkannya. Karena itu,…

  • Dampak Inflasi Kesehatan bagi Kondisi Finansial Keluarga

    Inflasi dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap kondisi finansial keluarga. Kenaikan harga-harga barang dan jasa akan membuat biaya hidup semakin tinggi, sehingga menyebabkan pengeluaran keluarga meningkat. Hal ini dapat mengakibatkan menurunnya daya beli keluarga, terutama bagi mereka yang berpenghasilan tetap.

    Selain itu, inflasi juga dapat berdampak pada kesehatan keluarga. Kenaikan harga obat-obatan dan biaya perawatan kesehatan akan membuat akses terhadap layanan kesehatan menjadi semakin sulit bagi keluarga dengan pendapatan rendah. Akibatnya, banyak keluarga yang terpaksa menunda atau bahkan mengabaikan perawatan kesehatan karena tidak mampu membayar biayanya.

    Dengan demikian, penting bagi setiap keluarga untuk memahami dampak inflasi terhadap kondisi finansial dan kesehatan mereka. Merencanakan anggaran secara bijaksana dan mempertimbangkan perlindungan keuangan seperti asuransi kesehatan dapat membantu melindungi kondisi finansial keluarga dari dampak negatif inflasi

  • OJK: Bulan Fintech Nasional Edukasi Masyarakat dari Jerat Pinjol Ilegal

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar Bulan Fintech Nasional sebagai upaya untuk memberikan edukasi kepada masyarakat agar terhindar dari jerat pinjol ilegal. Dalam acara ini, OJK menyampaikan pentingnya menggunakan layanan fintech yang terdaftar dan diawasi oleh lembaga tersebut. Hal ini dilakukan guna melindungi konsumen dari praktik pinjol ilegal yang dapat merugikan mereka secara finansial. Melalui kegiatan edukasi ini, diharapkan masyarakat semakin cerdas dalam memilih layanan fintech yang aman dan terpercaya

  • World Bank Fintech

    Menurut laporan terbaru dari World Bank, industri fintech di Indonesia terus berkembang pesat dan menjadi salah satu yang paling inovatif di dunia. Dengan adopsi teknologi yang semakin luas, layanan keuangan digital semakin mudah diakses oleh masyarakat, terutama mereka yang tinggal di daerah terpencil. Hal ini memberikan peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi dan inklusi keuangan di Indonesia. Selain itu, regulasi yang mendukung juga menjadi faktor penting dalam mempercepat perkembangan industri fintech ini. Diharapkan dengan dukungan semua pihak, Indonesia dapat menjadi pusat fintech global yang berdampak positif bagi seluruh lapisan masyarakat