Dukung Penguatan Industri Fintech Lending, OJK Lakukan Berbagai Langkah Kebijakan Ini

OJK Masih Lakukan Pendalaman Perihal Pencabutan Moratorium Fintech Lending

ILUSTRASI. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK, Agusman. OJK menyatakan masih melakukan pendalaman perihal pencabutan moratorium fintech peer to peer (P2P) lending.

Beritafintech.com – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan masih melakukan pendalaman perihal pencabutan moratorium fintech peer to peer (P2P) lending.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman mengatakan pihaknya masih mempertimbangkan berbagai aspek sebelum mencabut moratorium.

“Pembukaan moratorium industri fintech lending memerlukan pendalaman lebih lanjut, dengan mempertimbangkan berbagai aspek, antara lain kondisi industri dan kesiapan infrastruktur,” katanya dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, Selasa (11/11).

Secara umum, Agusman menyampaikan kondisi industri fintech lending saat ini terjaga baik. Meskipun demikian, dia mengatakan assessment terus dilakukan hingga penerapan penuh ketentuan tingkat kesehatan industri fintech lending pada akhir 2025. 

Baca Juga: Bussan Auto Finance (BAFI) Siapkan Rp 545 Miliar untuk Lunasi Obligasi Jatuh Tempo

Asal tahu saja, dalam roadmap industri fintech lending tertera target dari OJK pada fase 1 (2024-2025) bahwa adanya pembukaan moratorium fintech lending, khusus sektor produktif dan UMKM. 

Berdasarkan kinerja industri secara keseluruhan, OJK mencatat outstanding pembiayaan fintech P2P lending mencapai Rp 90,99 triliun per September 2025.

“Nilai itu tercatat tumbuh sebesar 22,16% secara Year on Year (YoY),” ungkap Agusman.

TRENDING  Bidik Nasabah Ritel, Cermati Invest Gandeng BNI Asset Management

Jika ditelaah, pertumbuhan outstanding pembiayaan fintech lending per September 2025 terbilang meningkat, dibandingkan posisi pada bulan sebelumnya. Adapun pertumbuhan outstanding pembiayaan fintech lending per Agustus 2025 sebesar 21,62% YoY, dengan nilai mencapai Rp 87,61 triliun.

Sementara itu, Agusman menyebut tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 fintech P2P lending per September 2025 masih dalam kondisi terjaga dengan angka sebesar 2,82%. Adapun angka TWP90 per September 2025 tercatat meningkat, jika dibandingkan dengan posisi Agustus 2025 yang sebesar 2,60%. 

Baca Juga: Saham KB Bank (BBKP) Melesat, Direktur Jung Ho Han Ikut Berinvestasi

Selanjutnya: Prospek Emiten Beras Terganjal Regulasi Harga dan Biaya Produksi

Menarik Dibaca: Edukasi Gizi dak Kesehatan Cara Optimalkan Tumbuh Kembang Balita

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • Asuransi Jiwa sebagai Solusi Keamanan Finansial

    Asuransi jiwa adalah salah satu solusi terbaik untuk menjaga keamanan finansial Anda dan keluarga. Dengan memiliki asuransi jiwa, Anda dapat memastikan bahwa mereka yang Anda cintai akan tetap terlindungi secara finansial jika suatu hal buruk terjadi pada Anda. Jangan biarkan ketidakpastian menghantui masa depan Anda, segera lindungi diri dan keluarga dengan asuransi jiwa. Dengan begitu, Anda dapat memiliki kedamaian pikiran dan fokus pada hal-hal penting dalam hidup tanpa perlu khawatir tentang masalah keuangan yang tak terduga. Jadi jangan ragu lagi, segera dapatkan perlindungan asuransi jiwa untuk keamanan finansial yang lebih baik!

  • BTN Sebut Rencana Akuisisi Bank Syariah Masuk Tahap Finalisasi

    BTN (Bank Tabungan Negara) telah mengumumkan bahwa rencana akuisisi Bank Syariah Masuk telah memasuki tahap finalisasi. Langkah ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas layanan perbankan syariah di Indonesia. Dengan adanya akuisisi ini, diharapkan BTN dapat memberikan layanan yang lebih komprehensif dan berkualitas kepada nasabahnya. Proses finalisasi ini menunjukkan komitmen BTN dalam mengembangkan bisnis perbankan syariah dan memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia

  • Kinerja Bank Milik Fintech Terus Membaik, Harga Saham Berpotensi Naik?

    ILUSTRASI. Bank-bank yang sahamnya dimiliki oleh fintech terus menunjukkan perbaikan kinerja. (KONTAN/Baihaki) Beritafintech.com – JAKARTA. Bank-bank yang sahamnya dimiliki oleh perusahaan financial technology (Fintech) terus menunjukkan perbaikan kinerja. Hal ini terlihat dari pertumbuhan laba bersih dan perbaikan kualitas kredit. Meski begitu, para analis saham menilai kinerja saham-saham bank milik fintech masih lesu dan cenderung downtrend. PT Bank…

  • Saham BSI Turun 4,01% Saat Resmi Jadi Bank Emas Syariah Pertama di Indonesia

    Saham BSI turun 4,01% setelah resmi menjadi bank emas syariah pertama di Indonesia. Meskipun demikian, langkah ini tetap menjadi sorotan utama bagi para investor dan pelaku pasar. Bank Syariah Indonesia (BSI) berhasil mencatat sejarah baru dengan menjadi bank pertama yang menyediakan layanan emas syariah di Tanah Air. Hal ini menunjukkan komitmen BSI dalam mengembangkan produk-produk syariah yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Meski terjadi penurunan harga saham, namun kehadiran Bank Emas Syariah pertama di Indonesia ini diyakini akan memberikan dampak positif dalam perkembangan industri keuangan syariah di Tanah Air

  • World Bank Fintech

    Menurut laporan terbaru dari World Bank, industri fintech di Indonesia terus berkembang pesat dan menjadi salah satu yang paling inovatif di dunia. Dengan adopsi teknologi yang semakin luas, layanan keuangan digital semakin mudah diakses oleh masyarakat, terutama mereka yang tinggal di daerah terpencil. Hal ini memberikan peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi dan inklusi keuangan di Indonesia. Selain itu, regulasi yang mendukung juga menjadi faktor penting dalam mempercepat perkembangan industri fintech ini. Diharapkan dengan dukungan semua pihak, Indonesia dapat menjadi pusat fintech global yang berdampak positif bagi seluruh lapisan masyarakat

  • Amerika Serikat Persoalkan Sistem QRIS, Bank Indonesia Buka Suara

    Bank Indonesia akhirnya buka suara terkait sistem QRIS yang diperkenalkan di Amerika Serikat. Sistem ini menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat, namun Bank Indonesia menegaskan bahwa QRIS merupakan langkah positif untuk meningkatkan efisiensi transaksi keuangan. Meskipun masih banyak yang mempertanyakan keamanan dan privasi data dalam penggunaan QRIS, Bank Indonesia yakin bahwa sistem ini akan memberikan manfaat besar bagi perkembangan ekonomi digital di Tanah Air. Selain itu, Bank Indonesia juga berkomitmen untuk terus mengawasi dan mengembangkan sistem QRIS agar dapat memberikan layanan yang lebih baik kepada masyarakat