Setelah gandeng CIMB Niaga, Raiz Invest Indonesia akan gandeng fintech payment

Setelah gandeng CIMB Niaga, Raiz Invest Indonesia akan gandeng fintech payment

ILUSTRASI. Ilustrasi Fintech

Beritafintech.com – JAKARTA. Pasca mengantongi izin sebagai sebagai Agen Penjual Efek Reksadana (APERD) dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), PT Raiz Invest Indonesia akan meluncurkan aplikasi bagi pengguna dalam waktu dekat. 

Chief Executive Officer Raiz Invest Indonesia Melinda N. Wiria menyebut target pengguna mencapai 40.000 orang dari kaum milenial.

Guna mencapai target tersebut, Raiz Invest Indonesia telah menggandeng PT Bank CIMB Niaga Tbk sebagai bank yang akan menjadi gerbang pembayaran investasi reksadana. Kendati demikian, Melinda bilang tidak menutup kemungkinan akan bekerjasama dengan bank lainnya sebagai gerbang pembayaran.

Bahkan saat ini, ia mengaku tengah mengodok bentuk kerjasama serupa dengan salah satu fintech payment sebagai pengelola uang elektronik di Indonesia. 

Namun sayangnya, ia masih enggan menyebutkan fintech payment yang mana yang tengah digandeng.

Baca Juga: Kantongi izin Aperd dari OJK, Raiz Invest bidik 40.000 pengguna milenial tahun ini

“Raiz Invest Indonesia memang fokus membentuk kebiasaan berinvestasi bagi calon investor awam. Kami hanya fokus pada investasi reksadana bisa dibeli dengan harga terjangkau dan risikonya sudah tersebar. Misal bila masuk reksadana saham, maka ada beberapa saham yang masuk ke dalam reksadana itu, maka risikonya pun tersebar,” ujar Melinda beberapa waktu lalu.

Oleh sebab itu, Raiz Invest Indonesia sudah menggandeng Avrist Asset Management sebagai manager investasi yang akan menyediakan reksadana di Raiz Investasi. 

Melinda bilang saat ini sudah ada tiga reksadana yang disiapkan oleh Avrist bagi calon pengguna Raiz Invest Indonesia yakni reksadana pasar uang untuk pengguna yang konservatif, pendapatan tetap bagi yang moderat, dan reksadana indeks LQ45 bagi yang agresif dalam berinvestasi.

TRENDING  Allianz Life&HSBC Luncurkan Premier LegacyAssurance,Solusi Warisan Finansial Keluarga

“Ya nanti akan kita tambah dengan reksadana lainnya, tapi tidak akan mencapai ratusan reksadana. Karena Raiz Invest Indonesia tidak akan menjadi pasar reksa dana, tapi sebagai tempat membentuk kebiasaan berinvestasi,” tambah Melinda.

Oleh sebab itu, Melinda mengaku Raiz Invest Indonesia tidak akan membidik jumlah dana kelolaan, tapi jumlah pengguna. Berbeda dengan Raiz Invest Australia yang bergerak pada manager investasi dan membidik dana kelolaan.

Per 30 Juni 2019, Raiz Invest Australia memiliki lebih dari 194.000 pengguna aktif dengan total dana kelolaan AU$ 347 juta. Pengguna Raiz di Australia sebagian besar merupakan generasi milenial di rentang usia 18-35 tahun.

Guna mencapai target sepanjang tahun ini, Raiz invest memiliki tiga fitur unggulan untuk memenuhi kebutuhan investasi generasi milenial lndonesia. Pertama, skema pembulatan otomatis (round-up). 

Skema ini akan menggenapkan niiai belanja pengguna di mana pembulatannya akan dicatat di akun Raiz dan jika sudah mencapai nilai minimal investasi, maka secara otomatis akan diinvestasikan ke produk reksadana sesuai profil risiko investor.

Baca Juga: Berinvestasi dengan kecerdasan buatan

Fitur kedua, lumpsum atau investasi seketika. Skema ini cocok bagi investor yang memiliki alokasi dana dengan jumlah tertentu dan dimaksudkan untuk investasi.

Fitur ketiga, recurring investment atau cicilan investasi, di mana pengguna memberikan persetujuan bagi Raiz untuk mendebit rekening bank atau uang elektronik yang telah ia daftarkan ke Raiz dalam jumlah tertentu secara rutin (harian, mingguan. atau bulanan) untuk diinvestasikan ke reksadana.

Selain ketiga fitur tersebut, Raiz juga dilengkapi dengan fitur Saving Goals, di mana pengguna bisa menentukan tujuan finansial dan memonitor perkembangannya.

TRENDING  Asosiasi Berusaha Kembalikan Kepercayaan Publik terhadap Fintech

“Semua dilakukan hanya dari smartphone pengguna dan tanpa biaya. Inilah yang menjadi esensi produk Raiz. di mana kami mengajarkan kepada generasi milenial tentang investasi dan pengelolaan keuangan secara mandiri,” tambah Melinda.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Check Also

Ini daftar lengkap 158 fintech yang mengantongi izin dari OJK

Ini alasan fintech lending syariah jauh tertinggal dibanding pemain konvensional

Fintech lending syariah masih jauh tertinggal dibandingkan dengan pemain konvensional karena beberapa alasan utama. Pertama, masih minimnya pemahaman masyarakat tentang produk dan layanan keuangan syariah. Kebanyakan orang lebih familiar dengan sistem konvensional sehingga sulit untuk beralih ke fintech lending syariah. Kedua, regulasi yang belum mendukung perkembangan fintech lending syariah juga menjadi hambatan utama. Beberapa aturan yang ada cenderung lebih menguntungkan pemain konvensional daripada syariah, sehingga membuat para pelaku usaha enggan untuk berinvestasi di sektor ini. Selain itu, kurangnya kerjasama antara lembaga keuangan syariah dan fintech lending juga turut memperlambat pertumbuhan industri ini. Dibutuhkan sinergi yang kuat antara kedua pihak agar dapat memberikan layanan finansial yang komprehensif dan berkualitas bagi masyarakat. Meskipun demikian, potensi pasar untuk fintech lending syariah tetap besar dan masih perlu terus dikembangkan agar dapat bersaing secara sehat dengan pemain konvensional. Diperlukan upaya bersama dari semua pihak terkait untuk meningkatkan literasi keuangan syariah serta menciptakan regulasi yang mendukung pertumbuhan industri ini di masa depan

%site% | NEWS