OJK Terus Pantau Proses Penyelesaian Likuidasi Fintech Ringan

OJK Terus Pantau Proses Penyelesaian Likuidasi Fintech Ringan

ILUSTRASI. Fintech peer to peer (P2P) lending PT Ringan Teknologi Indonesia (Ringan) resmi masuk proses likuidasi, setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencabut izin usaha perusahaan tersebut

Beritafintech.com – JAKARTA. Fintech peer to peer (P2P) lending PT Ringan Teknologi Indonesia (Ringan) resmi masuk proses likuidasi, setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencabut izin usaha perusahaan tersebut yang tertuang dalam surat nomor KEP-17/D.06/2025 per 24 April 2025.

Mengenai hal itu, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman menyampaikan OJK terus memantau proses penyelesaian likuidasi Ringan. 

“Hal itu dilakukan untuk memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai ketentuan yang berlaku,” ungkapnya dalam lembar jawaban resmi RDK OJK, Selasa (11/11/2025).

Agusman mengatakan, Tim Likuidasi Ringan telah menyampaikan neraca sementara sebagai bagian dari tahapan likuidasi untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas. Saat ini, dia bilang tidak terdapat lagi kewajiban yang harus dibayarkan kepada lender.

Baca Juga: Dana Nyangkut Rp 800 Miliar, Paguyuban Lender Dana Syariah Indonesia Tuntut Ini

Sebelumnya, Tim Likuidasi Ringan resmi mengumumkan Neraca Sementara Likuidasi per 24 April 2025. Berdasarkan publikasi di Harian Kontan edisi 30 Oktober 2025, Tim Likuidasi menyampaikan nilai aset yang dimiliki Ringan mencapai Rp 18,89 miliar per 24 April 2025. 

Secara rinci dari sisi aset, nilai terbesar berasal dari kas dan setara kas yang sebesar Rp 16,8 miliar. Diikuti pajak dibayar muka sebesar Rp 1,61 miliar. Tim Likuidasi mencatat pajak dibayar muka timbul karena perusahaan mencatat Pajak Pertambahan Nilai (PPN) masukan. Mengenai hal itu, Tim Likuidasi tidak akan melakukan proses restitusi terhadap PPN masukan dan akan menghapus piutang tersebut.

TRENDING  Merencanakan Keuangan Demi Kesehatan Finansial

Selanjutnya, terdapat aset yang berasal dari deposit sebesar Rp 465,85 juta, yang merupakan deposit sewa gedung dan diterima pada Juni 2025. 

Selain tu, aset berasal juga dari piutang lain-lain yang sebesar Rp 15,76 juta, yang mana piutang lain-lain itu timbul karena perusahaan membayar bagian pegawai untuk iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan Ketenagakerjaan. Adapun piutang itu menjadi Rp 0 saat gaji dibayarkan pada 25 April 2025.

Dari sisi kewajiban, Tim Likuidasi menyampaikan Ringan mencatat jumlah kewajiban sebesar Rp 1 miliar. Sementara itu, dari sisi ekuitas, Tim Likuidasi Ringan menerangkan perusahaan memiliki ekuitas sebesar Rp 17,89 miliar. Adapun total jumlah kewajiban dan ekuitas sebesar Rp 18,89 miliar per 24 April. 

Baca Juga: Ini Respons OJK Soal Hadirnya Portal Tenaga Penagihan di Industri Fintech Lending

Asal tahu saja, OJK sempat membeberkan alasan pencabutan izin usaha fintech lending Ringan karena perusahaan mengembalikan izin usaha sebagai penyelenggara. Agusman bilang manajemen Ringan mengembalikan izin usaha karena adanya proyeksi kerugian bisnis apabila terus menjalankan usaha.

“Ringan mengembalikan izin usaha, setelah melakukan evaluasi secara internal dengan pemegang saham terkait kinerja perusahaan, dengan mempertimbangkan proyeksi kerugian yang akan terus berlanjut apabila terus menjalankan operasional,” katanya dalam lembar jawaban resmi RDK OJK, Senin (19/5).

Adapun OJK telah memberikan izin usaha kepada PT Ringan Teknologi Indonesia melalui surat nomor KEP65/D.05/2021 per 2 Agustus 2021. Dengan telah dicabutnya izin usaha tersebut, OJK menyampaikan PT Ringan Teknologi Indonesia dilarang melakukan kegiatan usaha di bidang fintech lending. Selain itu, Ringan diwajibkan untuk menyelesaikan hak dan kewajiban sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 

TRENDING  Usai Laba Cetak Rekor, Amar Bank Bagi Dividen Rp 110 Miliar dengan Potensi Yield 3%

Baca Juga: Porsi Pembiayaan Fintech Lending ke Sektor Produktif Capai 34,48% per September 2025

Selanjutnya: Sebanyak 47 PLTU di Indonesia Sudah Terapkan Teknologi Co-firing Biomassa

Menarik Dibaca: Barang Paling Laku di 11.11 Lazada, Promonya Masih Berlanjut hingga Hari Ini

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • AFTECH Nilai Mandiri BFN Fest 2025 Bisa Jadi Momentum Penguatan Ekosistem Fintech

    AFTECH Nilai Mandiri BFN Fest 2025 bisa menjadi momentum penting dalam penguatan ekosistem fintech di Indonesia. Acara ini berhasil menarik perhatian banyak pelaku industri fintech, regulator, dan investor untuk berkolaborasi dan berbagi pengetahuan. Dengan adanya diskusi-diskusi yang mendalam dan presentasi dari para ahli, diharapkan dapat mendorong pertumbuhan inovasi dan investasi di sektor fintech. Selain itu, kehadiran para startup fintech yang berpotensi juga memberikan inspirasi bagi pelaku industri lainnya untuk terus berkembang dan bersaing secara sehat. Dengan demikian, AFTECH Nilai Mandiri BFN Fest 2025 dapat menjadi tonggak penting dalam memperkuat ekosistem fintech Indonesia menuju masa depan yang lebih cerah

  • OJK Tegaskan Peminjam Hanya Boleh Mendapat Pinjaman dari 3 Fintech Lending

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menegaskan bahwa peminjam hanya boleh mendapatkan pinjaman dari maksimal 3 perusahaan fintech lending. Hal ini dilakukan untuk melindungi konsumen dari risiko over-indebtedness dan memastikan bahwa peminjam tidak terlilit utang yang berlebihan. Kebijakan ini juga bertujuan untuk mengatur pertumbuhan industri fintech lending agar tetap sehat dan berkelanjutan. Dengan adanya batasan ini, diharapkan para peminjam dapat lebih bijak dalam mengelola keuangan mereka dan tidak terjerumus dalam masalah hutang yang sulit diselesaikan

  • OJK Setujui Pembentukan Satu Konsorsium Terkait Asuransi Kredit untuk Fintech Lending

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menyetujui pembentukan satu konsorsium terkait asuransi kredit untuk fintech lending. Keputusan ini disambut dengan antusias oleh para pelaku industri fintech dan asuransi, yang melihat langkah ini sebagai upaya untuk meningkatkan perlindungan bagi para peminjam online. Dengan adanya konsorsium ini, diharapkan akan tercipta kerjasama yang lebih baik antara perusahaan fintech dan perusahaan asuransi dalam menyediakan layanan asuransi kredit yang lebih terjangkau dan mudah diakses bagi masyarakat. Langkah ini juga diharapkan dapat membantu mengurangi risiko default bagi para pemberi pinjaman online, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan fintech lending

  • Prospek Cerah Fintech Lending: OJK Soroti Pertumbuhan 2026

    Menurut data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan industri fintech lending diprediksi akan terus meningkat hingga tahun 2026. Hal ini menjadi sorotan penting bagi regulator dan pelaku pasar dalam mengantisipasi perkembangan yang semakin pesat di sektor ini.

    Dengan prospek cerah yang dihadirkan oleh fintech lending, OJK pun memberikan perhatian khusus untuk memastikan bahwa pertumbuhan tersebut dapat berjalan secara sehat dan berkelanjutan. Regulasi yang ketat serta pengawasan yang intensif menjadi langkah-langkah yang ditempuh untuk menjaga stabilitas pasar dan melindungi konsumen dari potensi risiko.

    Para pelaku industri pun diharapkan dapat terus berinovasi dan meningkatkan kualitas layanan mereka guna memenuhi kebutuhan masyarakat akan akses pembiayaan yang cepat, mudah, dan aman. Dengan kerjasama antara regulator, pelaku pasar, dan konsumen, industri fintech lending di Indonesia diyakini akan terus berkembang positif menuju tahun 2026 mendatang

  • Gagal Bayar Fintech Marak, OJK Minta Bank Perketat Channeling

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta bank untuk lebih ketat dalam melakukan channeling kepada fintech marak yang gagal bayar. Hal ini disampaikan sebagai upaya untuk mengurangi risiko kerugian bagi bank dan melindungi konsumen dari praktik ilegal yang dilakukan oleh fintech tersebut. OJK juga menekankan pentingnya transparansi dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku agar industri fintech dapat berkembang secara sehat dan memberikan manfaat bagi masyarakat

  • LKM dan koperasi bisa jadi agen bank

    LKM dan koperasi memiliki potensi besar untuk menjadi agen bank yang dapat memberikan layanan keuangan kepada masyarakat. Dengan dukungan infrastruktur yang sudah ada, LKM dan koperasi dapat memperluas jangkauan layanan perbankan ke daerah-daerah terpencil yang sulit dijangkau oleh bank konvensional. Hal ini akan memberikan kemudahan akses bagi masyarakat dalam melakukan transaksi keuangan, serta meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia. Dengan menjadi agen bank, LKM dan koperasi juga dapat meningkatkan pendapatan mereka sendiri melalui komisi yang diterima dari setiap transaksi perbankan yang dilakukan melalui mereka. Selain itu, hal ini juga akan membantu memperkuat posisi LKM dan koperasi sebagai lembaga keuangan mikro yang berperan penting dalam mendukung perekonomian lokal