KB Bank akan Menggelar RUPS Pada 28 Mei 2025, Ini Agendanya

Belum Pernah Untung Sejak Diakuisisi, KB Bank Optimistis Kinerja Membaik

ILUSTRASI. PT Bank KB Bukopin Tbk (BBKP) belum lepas dari bayang-bayang kerugian. Per Desember 2024, KB Bank mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 6,33 triliun.

Beritafintech.com – JAKARTA. Kookmin Bank tampaknya perlu bersabar lagi untuk meraup keuntungan dari hasil investasinya di perbankan Indonesia. Pasalnya, PT Bank KB Bukopin Tbk (BBKP) belum mampu lepas dari bayang-bayang kerugian.

Per Desember 2024, KB Bank mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 6,33 triliun. Kerugian tersebut membengkak dari posisi tahun 2023 yang tercatat senilai Rp 6,03 triliun.

Dengan catatan tersebut, KB Bank jadi satu-satunya bank milik investor Korea Selatan yang belum mengalami keuntungan. Sebagai pengingat, Kookmin Bank masuk sebagai pemegang saham KB Bank sejak 2018.

Salah satu penyebab rugi KB Bank masih berkaitan dengan perbaikan kualitas kredit. Bagaimana tidak, beban pencadangan KB Bank naik 196,65% secara tahunan (YoY) jadi Rp 798,3 miliar.

Baca Juga: NPL Berhasil Ditekan, KB Bank Optimis Bukukan Laba Bersih di Tahun 2025

Upaya perbaikan kualitas aset telah tercermin dari penurunan rasio kredit bermasalah (NPL). NPL gross membaik menjadi 8,74% dari 9,70% di tahun sebelumnya, sementara NPL net turun menjadi 4,38% dari 4,95%.

Direktur Utama KB Bank Tom (Woo Yeul) Lee menyadari KB Bank telah melalui berbagai tantangan yang berat dalam perjalanan transformasinya menuju lembaga keuangan yang sehat. Namun, ia tetap percaya bahwa KB Bank telah melalui bagian tersulit dari perjalanan tersebut.

“Kami bersiap untuk meraih kinerja positif dan pertumbuhan berkelanjutan,” ujarnya dalam keterangan resmi Jumat (14/3).

TRENDING  Kesadaran Finansial Generasi Muda jadi Fondasi Masa Depan

Tom menjelaskan kerugian KB Bank sebagian besar disebabkan adanya pencatatan beban non-recurring yang diperlukan untuk mempersiapkan langkah menuju profitabilitas di tahun 2025.

Baca Juga: Perjalanan Transformasi KB Bank, Menuju Fondasi Keuangan Lebih Kuat & Berkelanjutan

Adapun, beban non-recurring tersebut mencakup pencatatan beban pajak tangguhan (deferredtax) sebesar Rp1,42 triliun, yang berkaitan dengan potensi pemulihan Pajak Penghasilan (PPh) di masa depan akibat akumulasi rugi pajak yang belum dikompensasi. 

Selain itu, ia bilang KB Bank juga membukukan pencadangan  dari revaluasi anak usaha sebesar Rp 1 triliun sebagai langkah strategis untuk memperkuat neraca keuangan. 

“Pembebanan ini sendiri tidak mempengaruhi struktur permodalan dari KB Bank,” ujarnya.

Dengan berbagai pencapaian dan langkah-langkah strategis ini, Tom optimistis KB Bank dapat mencatatkan laba bersih di tahun 2025 dan menjadi salah satu layanan perbankan terbaik ke depannya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • Kredit Macet Fintech Lending Dominasi Anak Muda, Begini Penjelasan Beberapa Pemain

    Kredit macet menjadi masalah yang semakin meresahkan di dunia fintech lending, terutama di kalangan anak muda. Hal ini disebabkan oleh tingginya minat anak muda dalam menggunakan layanan pinjaman online tanpa memperhitungkan risiko yang ada. Beberapa pemain utama dalam industri ini memberikan penjelasan mengenai fenomena kredit macet ini.

    Menurut CEO salah satu perusahaan fintech lending terkemuka, kredit macet seringkali disebabkan oleh kurangnya pemahaman konsumen akan tanggung jawab mereka dalam mengelola pinjaman. Selain itu, faktor ekonomi dan kebiasaan konsumsi juga turut berperan dalam meningkatkan angka kredit macet di Indonesia.

    Sementara itu, perwakilan dari Asosiasi Fintech Indonesia menegaskan pentingnya edukasi finansial bagi para pengguna layanan fintech lending. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang manajemen keuangan, diharapkan dapat mengurangi risiko kredit macet dan meningkatkan kesadaran akan tanggung jawab finansial.

    Meskipun demikian, masih banyak tantangan yang harus dihadapi oleh industri fintech lending dalam menekan angka kredit macet. Diperlukan kerjasama antara pemerintah, lembaga keuangan, dan konsumen untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan bertanggung jawab dalam pengelolaan pinjaman online

  • Bisnis Fintech Syariah Merekah di Tengah Pandemi

    Fintech syariah menjadi salah satu sektor yang terus berkembang di tengah pandemi. Merekah dengan inovasi-inovasi yang mengutamakan prinsip-prinsip syariah, bisnis fintech ini mampu memberikan solusi keuangan yang aman dan transparan bagi masyarakat. Dengan adanya pandemi, kebutuhan akan layanan keuangan digital semakin meningkat, dan fintech syariah siap memenuhi tuntutan pasar dengan produk-produk yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Dengan demikian, bisnis fintech syariah tidak hanya bertahan di tengah krisis, namun juga mampu berkembang dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian umat

  • Ini Jawara Bank Penyalur KPR Terbesar Sepanjang 2024

    Menurut data terbaru, Bank Penyalur KPR terbesar sepanjang tahun 2024 adalah Bank Mandiri. Dengan jumlah nasabah yang terus bertambah setiap bulan, Bank Mandiri berhasil mempertahankan posisinya sebagai jawara dalam industri perbankan. Kepercayaan masyarakat pada layanan dan produk KPR dari Bank Mandiri menjadi faktor utama yang membuat bank ini semakin diminati oleh para calon pemilik rumah. Dengan komitmen untuk memberikan pelayanan terbaik dan solusi finansial yang tepat, tidak heran jika Bank Mandiri tetap menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin memiliki rumah impian

  • Bakal Diluncurkan, Bank Pelat Merah Jadi Tulang Punggung Pendanaan Kopdes Merah Putih

    Bank Pelat Merah akan segera meluncurkan program baru yang akan menjadi tulang punggung dalam pendanaan untuk Kopdes Merah Putih. Program ini diharapkan dapat memberikan dukungan finansial yang kuat bagi pengembangan usaha mikro di desa-desa, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Stay tuned untuk informasi lebih lanjut!

  • OJK Terima Permohonan Pengembalian Izin Usaha Fintech Pinjam Modal

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerima permohonan pengembalian izin usaha dari sejumlah perusahaan fintech yang bergerak di bidang pinjam modal. Permohonan ini disambut dengan antusias oleh OJK, sebagai langkah untuk memperbaiki regulasi dan meningkatkan pengawasan terhadap industri fintech di Indonesia. Dengan adanya permohonan ini, diharapkan akan terjadi peningkatan kualitas layanan serta perlindungan bagi para konsumen. Selain itu, OJK juga akan terus melakukan evaluasi dan pemantauan secara berkala terhadap perusahaan fintech yang telah mengajukan permohonan ini, guna memastikan bahwa mereka tetap mematuhi ketentuan yang berlaku

  • 98 Pinjol Berizin OJK Per September 2024, Ini Daftarnya

    ILUSTRASI. Sampai dengan 12 Juli 2024, total jumlah pinjol yang berizin di OJK adalah sebanyak 98 perusahaan. KONTAN/Carolus Agus Waluyo Beritafintech.com – Pinjaman online alias pinjol semakin menjamur di Indonesia. Karenanya, masyarakat diimbau untuk jeli dalam memilih pinjol.  Jika ingin mengajukan pinjaman, sebaiknya mengajukan ke pinjol resmi alias legal.  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis daftar pinjaman…