Kredit Macet Fintech Lending Dominasi Anak Muda, Begini Penjelasan Beberapa Pemain

Pertumbuhan Fintech Lending Tahun 2026 Diproyeksikan Tidak Setinggi Tahun 2025

ILUSTRASI. Ilustrasi Financial Technology (Fintech).  Kinerja fintech lending 2025 tumbuh pesat, namun 2026 diproyeksikan melambat akibat regulasi OJK dan risiko kredit macet UMKM. Analisis Celios.

Beritafintech.com – JAKARTA. Kinerja industri fintech lending tercatat mengalami pertumbuhan signifikan sepanjang tahun ini. Pertumbuhan pembiayaannya bahkan konsisten berkutat di angka dobel digit.

Misalnya saja, berdasarkan data terakhir Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai outstanding pembiayaan industri mencapai Rp 90,99 triliun per September 2025, atau tumbuh signifikan sebesar 22,16% secara Year on Year (YoY).

Pengamat sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda memproyeksikan pertumbuhan pembiayaan fintech lending pada tahun depan tak akan setinggi tahun ini.

Baca Juga: Prospek Bisnis Lending Tahun Depan Didorong Pembiayaan UMKM dan Penguatan Regulasi

Alasannya, yakni tidak adanya fenomena yang mendorong pertumbuhan eksponensial fintech lending.

“Pembiayaan mungkin tidak akan setinggi tahun ini yang tumbuh hingga lebih dari 20%. Tahun depan, kemungkinan hanya di belasan persen saja,” ungkapnya kepada Kontan, Minggu (7/12).

Selain itu, Nailul mengatakan adanya pengetatan penyaluran pembiayaan dari sisi regulasi membuat pertumbuhan industri sedikit tertahan.

Asal tahu saja, OJK mewajibkan adanya pengetatan dari sisi penyaluran pembiayaan, yakni rasio perbandingan utang atau pinjaman dengan penghasilan borrower paling tinggi dari 40% pada 2025, menjadi 30% mulai 2026. 

TRENDING  Gagal Bayar Fintech KoinP2P, Ini Tanggapan AFPI

“Penurunan batas itu akan membuat pangsa pasar dari fintech lending makin mengecil,” tuturnya.

Nailul juga berpandangan ada sejumlah tantangan yang akan memengaruhi kinerja industri fintech lending tahun depan, seperti kualitas borrower yang masih dalam kondisi mengkhawatirkan, terutama di segmen produktif atau UMKM. 

Baca Juga: Prospek Bisnis Lending Tahun Depan Didorong Pembiayaan UMKM dan Penguatan Regulasi

Dia beranggapan penyelenggara fintech lending akan lebih berhati-hati dalam menyalurkan pembiayaan ke sektor produktif tahun depan, seiring masih adanya bayang-bayang tren kenaikan kredit macet untuk kredit UMKM.

Jika fintech lending tak mengantisipasi risiko pembiayaan ke segmen produktif sedari dini, bisa saja tingkat kredit macet industri fintech lending dapat meningkat.

“Potensi peningkatan gagal bayar sektor produktif atau UMKM akan meningkat,” ujar Nailul. 

Selanjutnya: Dana Lender DSI Nyangkut Rp 1,17 Triliun, Manajemen Sebut Dana Tersisa Rp 3,5 Miliar

Menarik Dibaca: Kehabisan Gaji Pasca PHK? Ini Solusi Finansial tanpa Stres dan Tetap Stabil

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Check Also

Tak Cuma Wacana, Ini 5 Kebiasaan Finansial agar Keuangan Lebih Aman

Tak Cuma Wacana, Ini 5 Kebiasaan Finansial agar Keuangan Lebih Aman

Salah satu kebiasaan finansial yang penting adalah memiliki anggaran bulanan yang jelas dan terencana. Dengan memiliki anggaran, kita dapat mengontrol pengeluaran dan memastikan bahwa kita tidak menghabiskan uang lebih dari yang seharusnya. Selain itu, menyisihkan sebagian pendapatan untuk ditabung juga merupakan kebiasaan penting agar keuangan lebih aman. Dengan menabung, kita dapat memiliki cadangan dana darurat untuk menghadapi situasi tak terduga. Selain itu, membiasakan diri untuk berinvestasi juga merupakan langkah penting dalam menjaga keuangan agar lebih aman. Dengan berinvestasi, kita dapat meningkatkan nilai aset dan menciptakan sumber pendapatan pasif. Selain itu, menjaga kesehatan finansial juga termasuk dalam kebiasaan penting agar keuangan lebih aman. Hal ini meliputi pembayaran tagihan tepat waktu, menghindari utang yang tidak perlu, serta mempertimbangkan risiko finansial sebelum membuat keputusan besar. Terakhir, selalu melakukan evaluasi terhadap kondisi finansial secara berkala juga merupakan kebiasaan penting agar keuangan lebih aman. Dengan melakukan evaluasi secara rutin, kita dapat mengetahui apakah ada perubahan dalam kondisi finansial dan membuat penyesuaian jika diperlukan. Dengan menerapkan kelima kebiasaan ini secara konsisten, diharapkan kita dapat menjaga stabilitas dan keselamatan keuangan di masa depan

%site% | NEWS