AdaKami Sambut Positif Aturan OJK yang Batasi Pinjaman di 3 Fintech

AdaKami Sambut Positif Aturan OJK yang Batasi Pinjaman di 3 Fintech

ILUSTRASI. Aplikasi fintech AdaKami.

Beritafintech.com – JAKARTA. Platform fintech peer to peer (P2P) lending, AdaKami menyambut positif mengenai aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang membatasi peminjam melakukan pinjaman di lebih dari tiga platform.

Brand Manager AdaKami Jonathan Krissantosa menyampaikan bahwa hadirnya aturan tersebut sebagai bentuk perlindungan konsumen, terutama menghindari potensi ‘gali lubang tutup lubang’.

Baca Juga: Aturan Baru OJK, Calon Peminjam Harus Hitung Pendapatan Sebelum Pinjam di Pinjol

“Ketentuan ini tentu menjadi positif karena mendukung proses kredit scoring platform dimana kami sebagai platform perlu mengukur kemampuan bayar nasabah sebagai bagian dari mitigasi gagal bayar,” ujarnya kepada Beritafintech.com, Senin (13/11).

Jonathan menjelaskan, memiliki pinjaman lebih dari satu platform pinjaman online (Pinjol) merupakan hal yang wajar. Menurutnya, histori transaksi tersebut bisa di akses melalui Fintech Data Center (FDC) dan Pusat Data Fintech Lending (Pusdafil) yang dikelola oleh regulator dan asosiasi.

“AdaKami pun berkewajiban memberikan laporan terhadapa pinjaman yang berjalan lengkap dengan status pembayaran dan keterlambatan jika ada,” jelasnya.

Jonathan bilang, dengan adanya aturan ini pihaknya berharap literasi masyarakat semakin meningkat dengan sosialisasi yang dilakukan sehingga masyarakat memahami seluruh aturan main.

Baca Juga: Ini Point Penting Aturan Pinjaman Online yang Baru

“Sehingga masyarakat lebih mampu mempertimbangkan hak dan tanggung jawabnya dalam menggunakan produk keuangan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan (PVML) OJK, Agusman, mengatakan, aturan tersebut dibuat untuk menghindari gali lobang tutup lobang.

TRENDING  Penuhi Kebutuhan Listrik Nasional, Bank Mandiri Gandeng HBAP

“Sekarang dibatasi. Jadi hanya maksimum tiga (platform pinjol),” ujarnya dalam konferensi pers di Hotel Four Season, Jakarta Selatan.

Agusman menilai, aturan ini akan melindungi konsumen dalam meminjam di fintech lending. Katanya, aturan tersebut juga untuk mencegah praktik pemberian dana secara berlebihan kepada peminjam.

Baca Juga: OJK Batasi Peminjam Agar Tak Gali Lubang Tutup Lubang

Dia berharap, masyarakat harus lebih bijak dalam memperhatikan kemampuan bayar saat hendak meminjam. Dan juga, masyarakat harus memastikan aplikasi pinjol itu terdaftar di OJK. “Konsumen juga harus lihat, fintech-nya terdaftar enggak di OJK?,” tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • BSI Jadi Bank Emas Syariah Pertama di RI, Seberapa Besar Potensinya?

    BSI menjadi bank emas syariah pertama di Indonesia, hal ini tentu menimbulkan banyak pertanyaan mengenai potensi yang dimiliki oleh bank ini. Seberapa besar potensinya? Apakah BSI mampu menjadi pionir dalam industri perbankan emas syariah di Indonesia? Dengan berbagai keunggulan yang dimiliki, seperti transaksi yang sesuai dengan prinsip syariah dan keamanan investasi yang terjamin, BSI memiliki peluang besar untuk meraih kesuksesan di pasar perbankan emas syariah. Tidak heran jika banyak pihak mulai memperhatikan perkembangan BSI sebagai bank emas syariah pertama di Indonesia

  • Fintech Jadi Solusi untuk Bantu Pembiayaan UKM

    Fintech telah menjadi solusi yang sangat dibutuhkan untuk membantu pembiayaan UKM di Indonesia. Dengan teknologi yang terus berkembang, para pelaku usaha kecil dan menengah kini dapat dengan mudah mengakses berbagai layanan keuangan melalui platform fintech. Hal ini tentu memberikan kemudahan bagi para pengusaha dalam mendapatkan modal usaha tanpa harus melewati proses yang rumit dan memakan waktu lama.

    Tidak hanya itu, fintech juga memberikan kesempatan bagi para investor untuk berinvestasi dalam skala yang lebih kecil namun tetap menguntungkan. Dengan adanya platform peer-to-peer lending, para investor dapat memberikan pinjaman kepada UKM dengan tingkat bunga yang kompetitif, sehingga membantu pertumbuhan bisnis mereka.

    Dengan segala potensi dan manfaatnya, tidak heran jika fintech kini menjadi pilihan utama bagi banyak pelaku usaha UKM di Indonesia. Diharapkan dengan adanya dukungan dari pemerintah dan lembaga keuangan lainnya, perkembangan fintech di Tanah Air akan semakin pesat dan mampu memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional

  • Bank Mandiri (BMRI) Catat Laba Bersih Tumbuh 24% Jadi Rp 33,01 Triliun pada Juli 2026

    Bank Mandiri (BMRI) mencatat laba bersih yang mengesankan pada bulan Juli 2026, dengan pertumbuhan sebesar 24% menjadi Rp 33,01 triliun. Hal ini menunjukkan kinerja yang sangat baik dari bank terkemuka ini dan memberikan optimisme bagi para pemegang saham serta pelanggan Bank Mandiri. Dengan pencapaian yang gemilang ini, Bank Mandiri terus membuktikan diri sebagai salah satu pemain utama di industri perbankan Tanah Air

  • Cara Menentukan Jenis Reksadana yang Sesuai Kebutuhan di Aplikasi Reksadana

    Untuk menentukan jenis reksadana yang sesuai dengan kebutuhan Anda di Aplikasi Reksadana, pertama-tama Anda perlu memahami tujuan investasi Anda. Apakah Anda ingin berinvestasi jangka pendek untuk keperluan mendesak atau jangka panjang untuk persiapan masa depan? Selain itu, tentukan juga tingkat risiko yang siap Anda tanggung. Apakah Anda lebih nyaman dengan risiko rendah, sedang, atau tinggi?

    Setelah mengetahui tujuan investasi dan tingkat risiko yang sesuai, selanjutnya pilihlah jenis reksadana yang cocok. Jika Anda menginginkan keuntungan stabil dan risiko rendah, maka reksadana pasar uang atau pendapatan tetap bisa menjadi pilihan terbaik. Namun jika Anda bersedia mengambil risiko lebih besar demi potensi keuntungan yang lebih tinggi, maka reksadana saham atau campuran mungkin lebih cocok untuk Anda.

    Ingatlah bahwa setiap jenis reksadana memiliki karakteristik dan potensi return yang berbeda-beda. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk melakukan riset dan konsultasi dengan ahli finansial sebelum memutuskan jenis reksadana mana yang akan dibeli. Dengan cara ini, Anda dapat memastikan bahwa investasi yang dilakukan sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan Anda

  • Kelas Finansial Inklusif Dorong Literasi Keuangan bagi Komunitas Difabel

    Kelas Finansial Inklusif merupakan inisiatif yang sangat penting dalam meningkatkan literasi keuangan bagi komunitas difabel. Dengan adanya program ini, diharapkan para anggota komunitas difabel dapat lebih mandiri dalam mengelola keuangan mereka. Selain itu, dengan adanya kesempatan untuk belajar tentang manajemen keuangan, diharapkan juga dapat membantu mereka untuk merencanakan masa depan yang lebih baik. Semoga dengan adanya Kelas Finansial Inklusif ini, komunitas difabel dapat semakin berkembang dan mandiri secara finansial

  • Pinnacle Investment Tertarik Dirikan DPLK, Tapi Dana Kelolaan Hanya Rp 2,41 Triliun

    Pinnacle Investment tertarik untuk mendirikan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) meskipun dana kelolaan yang dimiliki saat ini hanya sebesar Rp 2,41 triliun. Meskipun demikian, hal ini tidak mengurangi minat perusahaan untuk terus berkembang dan memberikan layanan terbaik bagi para nasabahnya. Dengan komitmen yang kuat dan strategi yang tepat, Pinnacle Investment yakin dapat menjadi salah satu pemain utama di industri DPLK di Indonesia