World Bank Fintech

Fintech Market Reports Rapid Growth During COVID-19 Pandemic

WASHINGTON, December 3, 2020—The fintech market has continued to help expand access to financial services during the COVID-19 pandemic—particularly in emerging markets—with strong growth in all types of digital financial services except lending, according to a joint study by the World Bank, the Cambridge Centre for Alternative Finance at the University of Cambridge’s Judge Business School, and World Economic Forum.

Access to affordable financial services is critical for poverty reduction and economic growth. For poor people, especially women, access to and use of basic financial services can raise incomes, increase resilience, and improve their lives. Fintech innovations are helping reduce the cost of providing services, making it possible to reach more people, and reducing the need for face-to-face interactions, essential for keeping up economic activity during the pandemic.

“Fintech has shown its potential to close gaps in the delivery of financial services to households and firms in emerging markets and developing economies,” said Caroline Freund, World Bank Global Director for Finance, Competitiveness and Innovation. “This survey shows how the fintech industry is adapting to the pandemic and offers insights for regulators and policymakers seeking to promote innovation and reap the benefits of fintech, while managing risks to consumers, investors, financial stability, and integrity.

This study reveals a global FinTech industry that has been largely resilient in spite of COVID-19. Nonetheless, its growth must be interpreted with nuance and in the context of unevenness, and the opportunities for the industry should be juxtaposed with the challenges it faces.” says Bryan Zhang, Co-Founder and Executive Director of the Cambridge Centre for Alternative Finance.

TRENDING  OJK Beberkan Alasan & Tujuan Ubah Sebutan Pinjol Menjadi Pindar

It’s clear COVID-19 has disrupted the global economy with lasting implications for corporates and consumers,” says Matthew Blake, Head of Financial and Monetary Systems, World Economic Forum. “Despite this challenging backdrop, FinTechs have proven resilient and adaptable: contributing to pandemic relief efforts, adjusting operations and offerings to serve vulnerable market segments, like micro, small and medium-sized businesses, while posting year-over-year growth across most regions.”

Covid-19 is accelerating change in how people interact with financial services, which has led to unprecedented demand from developing countries to progress their transition to secure and inclusive digital finance. Whilst it is encouraging to see the growth reported by FinTechs in the study, there are also cautionary indicators that some firms are suffering a deterioration in their financial position and are concerned over their ability to raise capital in the future. This is something that the FinTech community should be mindful of given the significant economic opportunities that FinTech presents,” says James Duddridge MP, the UK’s Minister for Africa at the Foreign, Commonwealth & Development Office (FCDO).

The study, which gathered data from 1,385 FinTech firms in 169 jurisdictions from mid-June to mid-August, showed most types of FinTech firms reporting strong growth for the first half of 2020 compared to the same period in 2019, which was prior to the pandemic. On average, firms in areas including digital asset exchanges, payments, savings, and wealth management reported growth in transaction numbers and volumes of 13 percent and 11 percent, respectively. Digital lending slumped eight percent by volume of transactions, while also suffering a nine percent jump in outstanding loan defaults.

TRENDING  Ini Jawara Bank Penyalur KPR Terbesar Sepanjang 2024

Regionally, the Middle East and North Africa saw strongest growth, up 40 percent, sub-Saharan Africa and North America, both up 21 percent. In general, emerging markets and developing countries experienced faster growth than developed markets.

However, firms also reported some operational and funding challenges during the pandemic. Two-thirds of firms said they had changed their business model in response, including by reducing fees, changing qualification criteria, and easing payment requirements. About 60 percent reported launching new products and value-added services, such as offering information.  Forty percent of firms surveyed indicated that they have either introduced or are in the process of introducing enhanced fraud or security measures as a response to business conditions under the pandemic. Other operational challenges reported by firms included more agent or partner downtime and increases in unsuccessful transactions and access requests. Further, fintech firms reported increases in expenses for onboarding and data storage.

The 2020 Global COVID-19 FinTech Market Rapid Assessment Study can be downloaded HERE.

The World Bank Group, one of the largest sources of funding and knowledge for developing countries, is taking broad, fast action to help developing countries strengthen their pandemic response. It is supporting public health interventions, working to ensure the flow of critical supplies and equipment, and helping the private sector continue to operate and sustain jobs. The WBG is making available up to $160 billion over a 15-month period ending June 2021 to help more than 100 countries protect the poor and vulnerable, support businesses, and bolster economic recovery. This includes $50 billion of new IDA resources through grants and highly concessional loans and $12 billion for developing countries to finance the purchase and distribution of COVID-19 vaccines.

TRENDING  Lampaui Capaian 2024, Laba Fintech Lending Tembus Rp 2,09 Triliun per Oktober 2025

Similar Posts

  • Fintech Lending Wajib Credit Scoring dengan Cara Ini Dalam Salurkan Pembiayaan

    Salah satu hal yang menjadi kunci dalam proses pengajuan pembiayaan melalui fintech lending adalah credit scoring. Dengan menggunakan metode ini, pemberi pinjaman dapat menilai risiko dan kemampuan pembayaran calon peminjam dengan lebih akurat. Namun, untuk memastikan bahwa credit scoring berjalan dengan baik, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan.

    Pertama, penting untuk mengumpulkan data secara lengkap dan akurat tentang calon peminjam. Data-data seperti riwayat kredit, pendapatan, dan informasi lainnya harus terdokumentasi dengan baik agar dapat memberikan gambaran yang jelas tentang profil keuangan calon peminjam.

    Selain itu, penting juga untuk menggunakan teknologi dan analisis data yang canggih dalam melakukan credit scoring. Dengan memanfaatkan teknologi seperti machine learning dan artificial intelligence, pemberi pinjaman dapat membuat prediksi yang lebih tepat tentang kemampuan pembayaran calon peminjam.

    Dengan menerapkan metode credit scoring secara efektif, fintech lending dapat menjadi solusi yang aman dan terpercaya bagi masyarakat dalam mendapatkan pembiayaan. Dengan demikian, proses pengajuan pinjaman akan menjadi lebih transparan dan efisien bagi semua pihak yang terlibat

  • Pendidikan Literasi Finansial Dapat Masuk di Intrakurikuler, Kokurikuler hingga Ekstrakurikuler

    Jakarta:  Panduan Literasi Finansial yang diterbitkan Kemendikbudristek (kini Kemendikdasmen dan Kemendiktisaintek) dapat menjadi pedoman bagi publik, terutama warga sekolah di jenjang dasar dan menengah, dalam menerapkan pendidikan literasi finansial. Melalui panduan ini, sekolah dapat pula menemukan inspirasi strategi pengintegrasian pendidikan tersebut dalam kebijakan dan budaya satuan pendidikan.  Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek,…

  • Kredit Channeling Tembus Rp 108 Triliun, Bank Makin Selektif Pilih Mitra

    Bank semakin selektif dalam memilih mitra untuk kredit channeling setelah berhasil menembus angka Rp 108 triliun. Hal ini menjadi bukti bahwa bank tidak main-main dalam mengelola dana yang begitu besar. Dengan jumlah yang fantastis tersebut, bank tentu harus lebih berhati-hati dalam memilih mitra agar risiko kerugian dapat diminimalisir. Keberhasilan bank dalam mencapai angka tersebut juga menunjukkan bahwa mereka telah melakukan evaluasi dan analisis yang matang sebelum memberikan kredit kepada mitra-mitra terpilih. Selain itu, hal ini juga menunjukkan komitmen bank untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan menjaga kepercayaan nasabahnya

  • Bank Pelat Merah Bersiap Menggelar RUPSLB Jelang Akhir Tahun, Apa yang Dibahas?

    Bank Pelat Merah bersiap menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) menjelang akhir tahun ini. RUPSLB ini akan membahas berbagai hal penting terkait dengan strategi perusahaan dan rencana ke depan. Para pemegang saham diharapkan untuk turut serta dalam rapat ini guna memberikan masukan dan arahan yang konstruktif bagi Bank Pelat Merah. Tidak hanya itu, RUPSLB juga akan menjadi ajang untuk memperkuat hubungan antara manajemen dan pemegang saham demi mencapai kesuksesan bersama. Jadi, tunggu informasi lebih lanjut mengenai agenda RUPSLB Bank Pelat Merah yang akan segera diumumkan!

  • OJK Terbitkan POJK Nomor 40 Tahun 2024 Terkait Fintech Lending, Ini Tujuannya

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerbitkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 40 Tahun 2024 yang mengatur tentang Fintech Lending. Peraturan ini bertujuan untuk memberikan perlindungan kepada para pelaku usaha fintech lending serta konsumen yang menggunakan layanan tersebut. Dengan adanya regulasi ini, diharapkan dapat menciptakan ekosistem fintech lending yang sehat dan berkelanjutan di Indonesia. Selain itu, POJK ini juga bertujuan untuk meningkatkan transparansi dan keamanan dalam layanan fintech lending guna melindungi kepentingan para peminjam dan investor. Dengan demikian, diharapkan industri fintech lending dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi perekonomian Tanah Air

  • Simak Rencana dan Strategi Bisnis Bank Neo Commerce di Bawah Kepemimpinan Eri Budiono

    Bank Neo Commerce merupakan salah satu bank yang sedang berkembang pesat di Indonesia. Di bawah kepemimpinan Eri Budiono, bank ini berhasil meraih berbagai prestasi dan mengimplementasikan berbagai strategi bisnis yang sukses.

    Eri Budiono dikenal sebagai pemimpin yang visioner dan inovatif dalam mengelola Bank Neo Commerce. Dengan visi yang jelas dan strategi bisnis yang matang, bank ini mampu bersaing dengan bank-bank besar lainnya di Indonesia.

    Salah satu strategi bisnis yang berhasil diimplementasikan oleh Eri Budiono adalah meningkatkan layanan digital bagi nasabah. Dengan adanya layanan digital yang mudah digunakan dan efisien, Bank Neo Commerce mampu menarik minat para nasabah untuk menggunakan produk-produk perbankan mereka.

    Selain itu, Eri Budiono juga fokus pada pengembangan SDM (Sumber Daya Manusia) di Bank Neo Commerce. Dengan memperhatikan kesejahteraan karyawan dan memberikan pelatihan-pelatihan berkualitas, bank ini berhasil menciptakan tim kerja yang solid dan kompeten dalam menjalankan tugas-tugasnya.

    Dengan berbagai langkah strategis tersebut, Bank Neo Commerce terus menunjukkan pertumbuhan positif dalam industri perbankan di Indonesia. Kepemimpinan Eri Budiono telah membawa bank ini menuju kesuksesan dan menjadi salah satu pilihan utama bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan perbankan mereka