Asuransi Penyakit Kritis sejak Muda Bisa Cegah Krisis Finansial

Asuransi Penyakit Kritis sejak Muda Bisa Cegah Krisis Finansial

Jakarta: Dalam sebuah riset pada 2018 lalu, anak muda berusia 15-24 tahun berpotensi terkena penyakit kritis. Riset ini membuktikan bahwa penyakit kritis seperti stroke, kanker, jantung dan lain-lain tidak hanya dialami orang yang berusia lanjut.
 
Hal ini diakui Head of Product Proposition Manulife Indonesia Rheza Karyanto. Ia memiliki sejumlah teman yang terkena penyakit kritis.
 
“Saya terus terang juga melihat ini terjadi pada teman-teman saya di usia 30-an. Ada tiga orang mengalami penyakit kritis. Ada yang sembuh, ada yang masih menjalani (perawatan) sampai saat ini dan ada yang harus pulang terlebih dahulu,” kata Rheza.

Menurut Rheza, banyak alasan yang mengakibatkan seseorang bisa terkena penyakit kritis. Apakah karena pola hidup, tekanan hidup atau penyakit bawaan.
 
“Kalau kita sampai terkena penyakit kritis, biayanya sama sekali enggak murah, bisa menguras tabungan dan kita harus menjual aset-aset kita, mobil-rumah. Dampak finansialnya sangat besar,” ujarnya.
 
Rheza menemukan fenomena tidak sedikit mereka yang terdiagnosa penyakit kritis tidak mau disembuhkan atau pasrah. Faktor mental, menjadi salah satu pemicu.
 
“Mentalnya sudah kena. ‘Saya harus melawan sakit, melakukan penyembuhan dan juga dampak terhadap keluarga saya dan masa depan keuangan bisa berantakan’,” ungkap Rheza.
 
Padahal jika memiliki asuransi penyakit kritis, maka dia akan bebas dari kekhawatiran. Mereka akan memiliki peace of mind atau ketenangan pikiran dan bisa fokus untuk pemulihan dan penyembuhan.
 
Pasalnya asuransi jenis ini akan menanggung biaya pengobatan yang memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Pula santunan untuk mengganti kehilangan pendapatan selama pengobatan.
 
“Penyakit kritis ini treatment-nya panjang. Contoh orang yang terkena kanker. Pertama dia harus di-biopsi dulu, harus ditentukan ganas atau tidak, harus ada tindakan pertama operasi sel kanker selesai. Tidak sampai di situ risiko kanker bisa kembali, maka harus ada treatment lanjutan. Apakah itu kemoterapi, radiasi, dan ini bisa memakan waktu berbulan-bulan,” bebernya.
 
Apalagi jika pasien seorang kepala keluarga. Kegiatannya mencari nafkah dan membayar kewajiban bulanan akan terganggu bahkan hilang total.
 
“Kalau seseorang melakukan perjalanan pengobatan sepanjang itu dan dia adalah seorang kepala keluarga, artinya dia belum tentu bisa melakukan kegiatan secara normal, memberikan penghasilan seperti yang dilakukan saat ini, tetapi yang namanya biaya hidup, cicilan, KPR, tetap. Nah, asuransi penyakit kritis bisa membantu cicilan yang hilang selama seseorang melakukan proses penyembuhan,” tegas Rheza.
 
Rheza menambahkan waktu yang tepat untuk membeli asuransi penyakit kritis adalah di saat masih sehat dan produktif atau sedini mungkin. Pasalnya jika dilakukan di saat sakit dan tidak produktif, kecil kemungkinan bisa diterima sebagai pemegang polis atau nasabah asuransi.
 
“Semakin muda, semakin baik. Karena ketika muda kita bisa membuat perencanaan proteksi yang maksimal, berapa santunan yang kita mau dan dengan premi yang lebih terjangkau karena kesehatan kita masih diukur dalam kondisi prima,” katanya.
 
Anggapan sejumlah orang bahwa membeli asuransi merupakan sebuah kesia-siaan tidak tepat. Asuransi justru langkah yang tepat mencegah hal-hal buruk terjadi di masa depan.
 
“Contohnya tablet jatuh. Karena pakai casing, enggak baret. Pertanyaan saya, nyesel enggak beli casing? Sama dengan asuransi. Kenapa harus nyesel? Kalau punya asuransi itu sebenarnya untuk melindungi nilai atau aset kekayaan kita yang sebenarnya jauh lebih besar daripada premi yang kita bayarkan,” pungkasnya.
 
Jika Anda merasa belum bisa mengatur keuangan dengan bijak atau ingin mendapatkan edukasi finansial, silakan klik Manulife Indonesia. Follow juga akun Twitter dan Instagram @doit_metrotv untuk mendapatkan informasi terkini.
 
 

TRENDING  Saham Big Bank Melonjak Saat IHSG Rebound, Cermati Rekomendasi Analis

 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di

Google News

(DHI)

Similar Posts

  • Dampak Tekanan Finansial dari Sisi Psikologis

    Jakarta: Selama pandemi ini, banyak orang yang mengalami masalah finansial. Mungkin ada yang di-PHK, gajinya dipotong, usahanya bangkrut dan masih banyak lagi. Hal ini dapat menyebabkan tekanan finansial yang memengaruhi psikologis seseorang. Apa sih yang dimaksud dengan tekanan finansial ini? The Financial Health Institute mendefinisikan stres finansial atau keuangan sebagai “suatu kondisi yang terjadi akibat

  • KB Bank Akan Akuisisi Kredit Pensiunan Bank Capital Rp 1 Triliun

    KB Bank telah mengumumkan rencananya untuk mengakuisisi kredit pensiunan Bank Capital senilai Rp 1 triliun. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi perluasan bisnis KB Bank di Indonesia. Dengan akuisisi ini, KB Bank berharap dapat memperluas pangsa pasar dan meningkatkan layanan keuangan bagi para pensiunan di tanah air. Aksi korporasi ini juga menunjukkan komitmen KB Bank dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui sektor keuangan

  • Menjaga Nadi Finansial di Era Digital

    Dalam era digital yang terus berkembang, penting bagi kita untuk menjaga nadi finansial agar tetap sehat dan stabil. Berbagai teknologi baru telah memudahkan kita dalam mengelola keuangan, namun juga menuntut kedisiplinan dan kehati-hatian yang lebih tinggi. Dengan adanya aplikasi-aplikasi finansial dan layanan perbankan digital, kita harus bijak dalam menggunakannya agar tidak terjebak dalam pola konsumtif yang berlebihan. Menjaga nadi finansial bukan hanya soal memiliki uang banyak, namun juga tentang bagaimana cara mengelolanya dengan baik demi masa depan yang lebih cerah. Jadi, mari bersama-sama belajar untuk menjadi pintar dalam mengatur keuangan di era digital ini!

  • OJK: Laporan Aduan Terbanyak Investasi dan Pinjol Ilegal Berasal dari Jawa Barat

    Menurut laporan OJK, Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah aduan terbanyak terkait investasi dan pinjol ilegal. Hal ini menunjukkan tingginya kesadaran masyarakat Jawa Barat dalam melaporkan praktik ilegal yang merugikan banyak pihak. OJK juga mengimbau agar masyarakat tetap waspada dan berhati-hati dalam melakukan investasi serta meminjam uang dari pinjol agar tidak menjadi korban penipuan. Dengan adanya laporan aduan yang tinggi, diharapkan pihak berwenang dapat segera bertindak untuk memberantas praktik ilegal tersebut demi melindungi kepentingan masyarakat

  • Gabung Jaringan UN PRI, Bahana TCW Perkuat Prinsip Investasi Berkelanjutan

    Gabung Jaringan UN PRI, Bahana TCW Perkuat Prinsip Investasi Berkelanjutan

    Jakarta, 15 Februari 2022 – PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW) telah resmi bergabung dengan Principles for Responsible Investment (PRI), sebuah inisiatif global yang mendorong praktik investasi berkelanjutan. Dengan bergabungnya Bahana TCW dalam jaringan PRI, perusahaan ini semakin memperkuat komitmennya dalam menerapkan prinsip-prinsip investasi yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

    Dalam keterangan resminya, Direktur Utama Bahana TCW, Bapak Sigit Wiryadi mengatakan bahwa keikutsertaan perusahaan mereka dalam jaringan PRI merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya investasi berkelanjutan di Indonesia. “Kami percaya bahwa dengan mengikuti prinsip-prinsip investasi yang bertanggung jawab, kami dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar,” ujar Bapak Sigit.

    Selain itu, keikutsertaan Bahana TCW dalam jaringan PRI juga diharapkan dapat membantu meningkatkan transparansi dan akuntabilitas perusahaan dalam menjalankan aktivitas investasinya. Dengan adanya kerjasama antara Bahana TCW dan PRI, diharapkan akan tercipta sinergi yang positif dalam upaya memperkuat prinsip-prinsip investasi berkelanjutan di Tanah Air.

    Sebagai salah satu manajer aset terkemuka di Indonesia, Bahana TCW memiliki komitmen kuat untuk terus mengembangkan praktik investasi yang ramah lingkungan dan sosial. Dengan bergabungnya mereka dalam jaringan UN PRI ini, diharapkan akan semakin banyak institusi keuangan lainnya yang ikut serta aktif dalam mendukung prinsip-prinsip investasi berkelanjutan demi menciptakan dunia yang lebih baik untuk generasi mendatang

  • Sinergi Fintech-Perbankan Terus Menguat

    Jakarta: Indonesia Fintech Society (Ifsoc) mengapresiasi kinerja positif sektor teknologi finansial/financial technology (fintech) sepanjang 2022. Ini ditandai oleh semakin menguatnya kolaborasi antara perusahaan fintech dan perbankan seperti dalam proporsi perbankan atas sumber pembiayaan fintech yang mencapai 46 persen pada Oktober 2022.   “Kolaborasi dan sinergi ini perlu dikembangkan ke depan untuk mencapai target-target digitalisasi UMKM (usaha