OJK Sebut Catatan Tunggakan Pinjol Menghambat Debitur yang Ingin Ajukan KPR

OJK Sebut Catatan Tunggakan Pinjol Menghambat Debitur yang Ingin Ajukan KPR

ILUSTRASI. Warga melakukan pembayaran menggunakan aplikasi BTN Mobile di perumahan Emerald Garden Bumiayu, Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (1/2/2023). FOTO: SURYA/PURWANTO

Beritafintech.com – JAKARTA. Nasabah perbankan saat ini masih bergelut dengan sejumlah tantangan untuk mengajukan pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi, khususnya kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Perbankan mengungkapkan, persyaratan KPR semakin ketat dengan adanya Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) yang dikelola oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Salah satu jeratan masalah yang dialami masyarakat adalah adanya tunggakan pinjaman online (Pinjol) yang signifikan berpengaruh pada penilaian karakteristik debitur untuk pengajuan KPR yang kemudian berdampak pada penolakan oleh bank. Masalah pun semakin sulit teratasi lantaran kebanyakan pemberi jasa pinjol ini bukan dari perbankan.

Sebelumnya Direktur Utama Bank Tabungan Negara (BTN) Nixon Napitupulu mengatakan, setidaknya sebanyak 30% hingga 40% kasus pengajuan KPR Subsidi oleh calon debitur ditolak oleh bank karena memiliki track record buruk di SLIK yang disebabkan terlilit pinjol.

Padahal beberapa kasus ditemui nominal pinjol tidak terlalu besar, bahkan ada yang di bawah Rp 1 juta.

Baca Juga: Upaya REI DKI Mendorong Industri Properti dan Pengentasan Masalah Sosial

Menanggapi hal tersebut, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, SLIK dimaksudkan supaya pemberian kredit di perbankan agar lebih efisien.

Dian juga memperinci tujuan diberlakukannya pengecekan SLIK untuk pengajuan KPR dimana yang pertama bertujuan untuk mempercepat kredit yang diberikan oleh bank dan keuangan lain.

Tujuan yang kedua adalah untuk mendisiplinkan para debitur agar bisa taat asas sehingga tetap memenuhi kewajibannya sebagai debitur.

TRENDING  Fintech Lending Indonesia Unjuk Gigi di Hong Kong FinTech Week

“Kalau kita melihat bagaimana proses SLIK ini bekerja, ini kan sebetulnya laporan yang disampaikan oleh teman teman perbankan kepada OJK dan kita mengkonfirmasi. Sehingga nanti apakah misalnya kalau bank merasa bahwa sudah tidak sesuai lagi data itu, bank juga bisa menginisiasi untuk menghapus pencatatannya,” kata Dian kepada Beritafintech.com, Jumat (5/5).

Sehingga saat dihadapkan pada isu terkait pemutihan SLIK oleh bank untuk memudahkan para calon debitur dalam pengajuan KPR Subsidi, hal tersebut ditanggapi oleh Dian sebagai kebijakan yang dapat diambil oleh pihak perbankan yang bersangkutan.

“Pada intinya adalah kebijakan untuk pemberian kredit itu tergantung lembaga keuangannya dalam hal ini bank, apakah dia akan memberikan kredit atau tidak karena kalau kita lihat sebetulnya tidak ada larangan bank untuk memberikan kredit, sebenarnya dipersilahkan saja jika ingin dilakukan pemberian kredit,” kata Dian.

Meskipun demikian, Dian menegaskan hal tersebut juga perlu dikaji dan didiskusikan secara mendalam, dimana SLIK merupakan sistem yang dibangun berasas dan berintegritas, mengingat sistem ini akan memberikan lisensi kepada debitur-debitur yang pernah melakukan gagal bayar.

Baca Juga: Cara Cek BI Checking atau SLIK OJK Online via iDeb, Bisa Pakai HP dan Laptop

Sehingga OJK menganggap ini juga merupakan permasalahan tersendiri yang harus didiskusikan secara hati-hati dengan pemberi kredit. Pasalnya jika perbankan dan OJK melakukan pemutihan begitu saja terhadap beberapa kreditnya, maka ini akan berdampak cukup signifikan.

“Ini bukan kita saja yang menerapkan sistem SLIK, tapi di seluruh dunia fungsinya untuk mengisifienkan pemberian kredit, sebagian dipermudah karena ada SLIK, ini nantinya yang akan kita diskusi secara lebih lanjut,” kata Dian.

TRENDING  Tiga Petinggi KoinP2P Ditahan Dugaan Korupsi, Pengamat Soroti Tata Kelola Fintech

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • Fintech Lending Terapkan Sejumlah Strategi untuk Tekan Angka Kredit Macet

    Fintech lending telah menjadi solusi yang semakin populer bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan finansial mereka. Namun, salah satu masalah yang sering dihadapi oleh platform fintech ini adalah tingginya angka kredit macet. Untuk mengatasi hal ini, terdapat sejumlah strategi yang diterapkan oleh para pelaku industri fintech lending.

    Salah satu strategi yang digunakan adalah meningkatkan proses analisis risiko terhadap calon peminjam. Dengan melakukan analisis risiko yang lebih mendalam, platform fintech dapat meminimalkan kemungkinan terjadinya kredit macet. Selain itu, penggunaan teknologi seperti machine learning dan big data juga membantu dalam mengidentifikasi potensi peminjam yang berisiko tinggi.

    Selain itu, para pelaku industri fintech lending juga aktif melakukan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan keuangan dan tanggung jawab dalam menggunakan layanan pinjaman online. Dengan memberikan pemahaman yang lebih baik kepada calon peminjam, diharapkan angka kredit macet dapat ditekan secara signifikan.

    Dengan menerapkan sejumlah strategi tersebut, diharapkan platform fintech lending dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan finansial mereka tanpa harus khawatir akan risiko kredit macet

  • Cegah Stres Finansial Karyawan Pasca-Lebaran Dengan Cara Ini

    Setelah liburan panjang Lebaran, banyak karyawan yang mengalami stres finansial akibat pengeluaran yang meningkat. Untuk mencegah hal ini, penting bagi karyawan untuk merencanakan keuangan dengan baik. Mulai dari membuat anggaran belanja hingga menabung secara rutin, langkah-langkah sederhana ini dapat membantu mengurangi stres finansial dan menjaga kestabilan ekonomi pribadi

  • Pinjam Dulu Seratus? Tips Menghadapi Teman Hobi Utang

    Terkadang sulit sekali untuk menghindari teman yang hobi utang, terus besoknya pura-pura lupa dan menghindar. Paling parah malah teman ini kemudian marah-marah, padahal kita tidak menagihnya, cuma ingin main dan ngobrol Kenapa ada orang yang demikian, ya? Di antara sekian banyak hobi malah milihnya utang. Tentu ini memang sudah karakter, watak atau memang kebiasaannya seperti…

  • OJK Arahkan Kredit Bank ke Program Prioritas, Risiko Kualitas Aset Mengintai

    Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penting bagi bank-bank untuk mengarahkan kreditnya ke program prioritas guna mengurangi risiko kualitas aset yang mengintai. Hal ini dikarenakan kondisi ekonomi yang tidak menentu dapat mempengaruhi performa kredit dan menyebabkan peningkatan risiko terhadap aset bank. Oleh karena itu, OJK mendorong bank-bank untuk lebih berhati-hati dalam memberikan kredit dan memastikan bahwa dana yang dipinjamkan digunakan untuk program-program yang produktif dan berpotensi memberikan hasil yang baik bagi perekonomian. Dengan demikian, diharapkan risiko terhadap kualitas aset dapat diminimalkan sehingga stabilitas sistem keuangan tetap terjaga

  • Pengamat Nilai Fintech Lending Berkontribusi terhadap Perekonomian Indonesia

    Fintech lending telah menjadi salah satu inovasi yang memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia. Dengan memanfaatkan teknologi digital, platform fintech lending mampu memberikan akses pembiayaan kepada masyarakat yang sebelumnya sulit untuk mendapatkan pinjaman dari lembaga keuangan tradisional. Hal ini tentu saja membantu meningkatkan daya beli dan aktivitas ekonomi masyarakat, sehingga turut mendukung pertumbuhan ekonomi negara secara keseluruhan. Selain itu, proses pengajuan pinjaman yang cepat dan mudah juga membuat fintech lending semakin diminati oleh para pelaku usaha maupun individu yang membutuhkan dana tambahan untuk mengembangkan bisnis atau memenuhi kebutuhan finansial mereka. Dengan demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa fintech lending memiliki peran penting dalam menggerakkan roda perekonomian Indonesia menuju arah yang lebih baik dan berkelanjutan

  • Mengintip Modal Bank-Bank Digital, Siapa Paling Kuat?

    Dalam dunia perbankan digital yang semakin berkembang pesat, pertanyaan yang sering muncul adalah siapa bank digital yang paling kuat? Apakah mereka mampu bersaing dengan bank konvensional yang sudah mapan? Mengintip modal dan strategi dari bank-bank digital ini menjadi hal menarik untuk diungkap. Dari sana kita bisa melihat siapa yang memiliki keunggulan kompetitif dan potensi untuk mendominasi pasar. Menarik untuk melihat bagaimana persaingan antara para pemain baru ini akan berlangsung di masa depan