Bank Besar Catat Pertumbuhan Fee Based Income pada Semester I-2025, Ini Pendorongnya

Bank Digital Tetap Menahan Suku Bunga Deposito Saat BI Rate Naik, Ini Alasannya

ILUSTRASI. Bank digital mengantisipasi berbagai tantangan dan risiko dari kenaikan suku bunga acuan BI Rate yang masif belakangan ini. (KONTAN/Baihaki)

Beritafintech.com JAKARTA. Bank digital mengantisipasi berbagai tantangan dan risiko dari kenaikan suku bunga acuan BI Rate yang masif belakangan ini. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah dengan tidak menaikkan suku bunga deposito guna menjaga margin profitabilitas.

Padahal, sebelumnya bank digital terkenal dengan bunga tinggi deposito sebagai strategi penjaringan dananya. Kini, strategi tersebut disesuaikan seiring tingginya ketidakpastian.

Krom Bank menjadi salah satu yang melakukannya. Saat ini, bunga deposito Krom Bank dibanderol di rentang 6,5%–8%. Tawaran ini menurun karena dalam catatan Kontan, hingga akhir tahun lalu bunga deposito Krom Bank masih di level 7%–8,25%. 

Baca Juga: MI Bentuk DPLK, Ini Langkah yang Perlu Dilakukan DPLK Eksisting

Artinya, transmisi penurunan suku bunga sepanjang tahun lalu sudah terjadi.

Namun di era suku bunga tinggi, Presiden Direktur Krom Bank Anton Hermawan bilang pihaknya akan mempertahankan suku bunga deposito yang berlaku sebagai bagian dari strategi pengelolaan dana yang prudent. 

“Krom Bank akan tetap melakukan benchmarking secara aktif terhadap kondisi pasar dan pergerakan industri untuk menjaga keseimbangan antara daya saing penawaran dan keberlanjutan bisnis,” ungkap Anton kepada Kontan, Jumat (12/6/2026).

Kendati begitu, guna menjaga laju profitabilitas, Krom Bank bakal melakukan observasi dan analisa lebih lanjut terkait dampak kenaikan BI Rate ini, sekaligus melakukan penguatan kembali manajemen risiko yang ada. 

Saat ini, Anton bilang pihaknya akan fokus dalam menghimpun dana murah melalui ekosistem digital yang dimiliki.

TRENDING  Aturan Baru, OJK Turunkan Bunga Pinjol Jadi 0,3% Tahun Depan

Di saat yang sama, Krom Bank juga melakukan berbagai penyesuaian dalam menjaga risiko kredit macet (non performing loan/NPL) dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang ketat dalam pemberian kredit. 

Krom Bank juga mencermati potensi melandainya rasio margin bunga bersih (net interest margin/NIM) menyusul langkah bank sentral mengerek suku bunga acuan. Maka dari itu, Anton bilang pihaknya bakal berfokus pada efisiensi biaya dana untuk menjaga margin bunga tetap stabil guna pemberian suku bunga kredit tetap kompetitif.

Allo Bank juga mengambil langkah serupa. Sejak akhir tahun lalu, bunga deposito Allo Bank masih bertahan di angka 5,5%. 

Baca Juga: Prospek Industri Asuransi Syariah Dinilai Masih Positif Usai Kewajiban Spin Off UUS

Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo bilang pihaknya belum melihat kebutuhan untuk melakukan penyesuaian bunga deposito secara agresif saat ini. 

Lebih lanjut, Destya bilang sejauh ini Allo Bank masih melakukan evaluasi secara komprehensif terhadap kondisi likuiditas internal, perilaku nasabah, dinamika kompetisi funding, serta kebutuhan pertumbuhan kredit ke depan. 

“Karena itu, pendekatan yang kami ambil adalah tetap fleksibel dan berbasis kebutuhan bisnis, bukan sekadar merespons perubahan BI Rate secara otomatis,” jelasnya.

Kalaupun ada penyesuaian bunga deposito, Destya bilang itu bakal dilakukan secara bertahap dan selektif, baik berdasarkan tenor maupun segmen nasabah. Besaran maupun waktunya bakal sangat bergantung pada perkembangan likuiditas industri dan kebutuhan funding bank.

Pasalnya, bank juga mencermati risiko pengetatan kompetisi dana, terutama di segmen perbankan digital. Meski begitu, Destya bilang kondisi saat ini berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Likuiditas industri relatif masih memadai dan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) secara umum masih mampu mengimbangi kebutuhan penyaluran kredit. Dus, Allo Bank belum melihat adanya tekanan likuiditas yang signifikan dalam jangka pendek.

TRENDING  Mengenal 4 Jenis Fintech di Indonesia

Lagipula, ia juga mencermati bahwa kenaikan biaya dana berpotensi memberikan tekanan terhadap margin bunga bersih atau NIM. Namun ia menegaskan bahwa pengelolaan profitabilitas bank tak cuman bergantung pada sisi funding. Destya memastikan pihaknya terus mengoptimalkan struktur aset produktif, meningkatkan kualitas kredit, memperbaiki risk adjusted return, serta mendorong pertumbuhan fee based income dari aktivitas transaksi digital.

“Jadi apabila terjadi tekanan terhadap NIM, kami memperkirakan sifatnya akan tetap terkendali dan berada dalam koridor yang dapat dikelola. Fokus kami bukan semata mempertahankan NIM pada level tertentu, tetapi memastikan keseimbangan antara pertumbuhan kredit, kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas yang berkelanjutan,” katanya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Similar Posts

  • BRI Gerilya Cari SDM Baru, Termasuk dari Bank Mandiri?

    Dalam upaya untuk terus memperkuat timnya, BRI Gerilya tidak hanya mencari SDM baru dari berbagai latar belakang, tetapi juga membuka peluang bagi karyawan Bank Mandiri yang ingin bergabung. Dengan visi dan misi yang jelas, BRI Gerilya siap memberikan tantangan dan kesempatan bagi para calon karyawan yang memiliki semangat juang tinggi. Jika Anda merasa memiliki potensi dan keinginan untuk berkembang bersama kami, jangan ragu untuk bergabung dengan BRI Gerilya!

  • Sejumlah Pinjol Jelaskan Skema Perlindungan Lender jika Terjadi Gagal Bayar

    Sejumlah Pinjol menjelaskan skema perlindungan lender jika terjadi gagal bayar. Perlindungan ini bertujuan untuk melindungi kepentingan para pemberi pinjaman dalam situasi dimana peminjam tidak mampu membayar kembali pinjamannya. Dengan adanya skema perlindungan ini, para lender dapat mengurangi risiko kerugian akibat gagal bayar dan tetap menjaga keberlangsungan bisnis mereka. Selain itu, skema perlindungan juga memberikan kepastian bagi para pemberi pinjaman bahwa mereka akan mendapatkan kompensasi jika terjadi default dari peminjam. Dengan demikian, skema perlindungan ini menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan keberlangsungan industri pinjaman online di Indonesia

  • Laba Fintech P2P Lending Kian Menanjak, Pengamat Sebut Penyebabnya

    ILUSTRASI. OJK menyatakan laba industri fintech peer to peer (P2P) lending mencapai Rp 656,80 miliar per Agustus 2024 Beritafintech.com – JAKARTA. Data statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan pada Agustus 2024, laba fintech peer to peer (P2P) lending mencapai Rp 656,80 miliar. Ini adalah laba tertinggi sejak 2021. Adapun, catatan laba paling tinggi kedua terjadi…

  • Simak Target Bank Mandiri Tahun 2025

    Pada tahun 2025, Bank Mandiri telah berhasil mencapai target yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan inovasi dan strategi yang tepat, Bank Mandiri mampu meningkatkan layanan kepada nasabah serta memperluas jaringan cabang di seluruh Indonesia. Kepercayaan masyarakat terhadap Bank Mandiri semakin meningkat, hal ini terbukti dari peningkatan jumlah nasabah dan transaksi perbankan yang terus mengalami pertumbuhan signifikan.

    Selain itu, Bank Mandiri juga berhasil meraih berbagai penghargaan bergengsi dalam industri perbankan, seperti “Bank Terbaik” dan “Inovasi Terbaik”. Hal ini menunjukkan komitmen Bank Mandiri dalam memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh nasabahnya. Dengan visi dan misi yang jelas serta dukungan dari seluruh karyawan, Bank Mandiri siap untuk terus berkembang dan menjadi bank terdepan di Indonesia

  • Dana DHE Hanya Bisa Masuk Bank Himbara, Begini Efeknya ke Likuiditas Valas

    Dana DHE yang hanya bisa masuk ke Bank Himbara telah menimbulkan efek yang signifikan terhadap likuiditas valas di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh besarnya jumlah dana yang masuk ke bank-bank tersebut, sehingga menyebabkan peningkatan cadangan devisa negara. Namun, hal ini juga dapat berdampak negatif terhadap pasar valuta asing, karena ketergantungan yang semakin besar terhadap Bank Himbara dapat mengurangi fleksibilitas dalam pengelolaan likuiditas valas secara keseluruhan. Oleh karena itu, perlu adanya langkah-langkah untuk mengoptimalkan penggunaan dana DHE agar tidak hanya terpusat pada satu bank saja dan tetap menjaga stabilitas likuiditas valas di Indonesia

  • Resmi Jadi Bank Emas, BSI Siapkan 50 Unit ATM Emas di Indonesia

    Bank Syariah Indonesia (BSI) telah resmi menjadi bank emas pertama di Indonesia dengan meluncurkan layanan ATM emas. Sebanyak 50 unit ATM emas akan disiapkan oleh BSI di seluruh Indonesia, memudahkan masyarakat untuk berinvestasi dalam bentuk emas secara mudah dan aman. Langkah inovatif ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat yang antusias untuk memanfaatkan layanan tersebut. Dengan adanya ATM emas, BSI memberikan kemudahan bagi para nasabahnya untuk melakukan transaksi jual beli emas tanpa harus repot datang ke kantor cabang. Selain itu, keberadaan ATM emas juga diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat dalam berinvestasi pada aset yang stabil dan bernilai tinggi seperti emas