Mencari Kebebasan Finansial dengan Perencanaan Keuangan Jangka Panjang

Mencari Kebebasan Finansial dengan Perencanaan Keuangan Jangka Panjang

Jakarta: Kebebasan finansial menjadi salah satu tujuan penting bagi masyarakat usia produktif. Namun, mencapai kondisi tersebut bukan hanya soal meningkatkan pendapatan, melainkan juga membutuhkan perencanaan keuangan yang mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan saat ini, tanggung jawab keluarga, serta tujuan finansial jangka panjang.
 
Temuan Manulife Asia Care Survey 2026 menunjukkan bahwa perjalanan menuju kebebasan finansial masih menghadapi berbagai tantangan. Sebanyak 65% responden di Indonesia memaknai kebebasan finansial sebagai kondisi ketika mereka tidak menjadi beban bagi orang lain. Di sisi lain, 68% responden masih memberikan dukungan finansial kepada anggota keluarga, dengan rata-rata 38% dari pendapatan bulanan dialokasikan untuk kebutuhan keluarga.
 
Besarnya tanggung jawab tersebut turut memengaruhi kemampuan masyarakat dalam mempersiapkan masa depan. Sebanyak 69% responden menyatakan tanggung jawab finansial terhadap keluarga berdampak pada kemampuan mereka mencapai kemandirian finansial dalam jangka panjang.

Kondisi ini semakin relevan bagi kelompok usia produktif, khususnya mereka yang berada pada rentang usia 25–34 tahun. Pada fase tersebut, masyarakat umumnya mulai memiliki berbagai tujuan finansial, mulai dari mempersiapkan kebutuhan keluarga, pendidikan anak, hingga membangun aset dan dana untuk masa depan.
 
Karena itu, kebebasan finansial membutuhkan strategi yang tidak hanya berorientasi pada kebutuhan jangka pendek. Perencanaan keuangan jangka panjang dapat menjadi bagian penting untuk memastikan tujuan masa depan tetap berjalan, sekaligus memberikan perlindungan apabila terjadi risiko yang tidak terduga.
 
Melihat kebutuhan tersebut, PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia (Manulife Indonesia) bersama PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Danamon) memperkenalkan Proteksi Prima Fleksi Ekstra (PPFE), solusi yang memadukan perlindungan jiwa dengan perencanaan keuangan jangka menengah serta fleksibilitas akses manfaat lebih awal sesuai dengan syarat dan ketentuan polis.
 
“Banyak orang berada pada tahap kehidupan di mana mereka memikul tanggung jawab yang besar, baik untuk keluarga maupun orang tua mereka. Mereka perlu menyeimbangkan kebutuhan keluarga saat ini dengan perencanaan keuangan jangka panjang,” ujar Kah Jing Lee, Chief Bancassurance Officer PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia.
 
Menurutnya, PPFE dihadirkan untuk membantu nasabah membangun kesiapan finansial melalui manfaat yang dijamin sesuai dengan syarat dan ketentuan polis, sekaligus memberikan fleksibilitas untuk beradaptasi dengan perubahan kebutuhan finansial sepanjang perjalanan hidup.
 
PPFE mengusung konsep “Ekstra SIAP”, yang menawarkan solusi komprehensif dengan perlindungan inklusif, pengajuan tanpa pemeriksaan kesehatan, akses lebih awal ke manfaat polis, serta pilihan mata uang dalam rupiah maupun dolar Amerika Serikat.
 
Produk tersebut tersedia bagi calon tertanggung berusia 18 hingga 80 tahun. Nasabah juga dapat memilih masa pembayaran premi sesuai kebutuhan, yakni lima tahun untuk masa perlindungan 15 tahun atau enam tahun untuk masa perlindungan 18 tahun. Premi tahunan minimum yang ditetapkan adalah Rp24 juta atau USD2.400.
 
Salah satu fitur yang mendukung fleksibilitas perencanaan adalah Pengakhiran Polis Lebih Awal (Early Policy Termination Benefit) yang tersedia pada tahun polis tertentu. Fitur ini memberikan pilihan bagi nasabah untuk mengakses manfaat polis lebih awal apabila kebutuhan finansial berubah, tentunya sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam polis.
 
Dengan fleksibilitas tersebut, perencanaan finansial jangka panjang tidak harus selalu bersifat kaku. Nasabah dapat mempersiapkan berbagai tujuan seperti pendidikan anak, momen penting keluarga, maupun kebutuhan finansial jangka menengah lainnya, sambil tetap memiliki perlindungan jiwa selama masa perlindungan.
 
Selain itu, PPFE juga memberikan manfaat meninggal dunia akibat kecelakaan yang dapat memberikan tambahan perlindungan finansial apabila tertanggung meninggal dunia karena kecelakaan, sesuai dengan syarat dan ketentuan polis.
 
Ivan Jaya, Consumer Funding & Wealth Business Head PT Bank Danamon Indonesia Tbk, mengatakan kesiapan finansial perlu dibangun melalui perencanaan sejak dini serta didukung solusi finansial yang relevan, terintegrasi, dan mudah diakses nasabah.
 
“Perencanaan keuangan yang baik tidak hanya bertujuan untuk mencapai target di masa depan, tetapi juga memberikan ketenangan dalam menghadapi berbagai perubahan yang mungkin terjadi sepanjang perjalanan hidup,” kata Ivan.
 
Ia menambahkan, melalui PPFE, Manulife Indonesia dan Danamon menghadirkan solusi yang menggabungkan perlindungan dan fleksibilitas agar nasabah dapat mempersiapkan berbagai tujuan finansial secara lebih terencana tanpa kehilangan kemampuan untuk beradaptasi terhadap kebutuhan finansial yang terus berkembang.
 
Respons terhadap produk tersebut juga dinilai positif. Dalam beberapa minggu pertama sejak diluncurkan, PPFE telah mencatat penjualan ratusan polis. Capaian tersebut mencerminkan adanya minat nasabah terhadap produk yang menggabungkan perlindungan jiwa dengan perencanaan finansial.
 
Pada akhirnya, kebebasan finansial bukan sekadar memiliki pendapatan yang tinggi, tetapi juga kemampuan mengelola sumber daya keuangan untuk memenuhi kebutuhan hari ini sekaligus mempersiapkan masa depan. Melalui perencanaan yang terstruktur dan perlindungan yang tepat, masyarakat dapat membangun fondasi finansial yang lebih siap menghadapi berbagai perubahan dalam perjalanan hidup.
 
Jadikan Beritafintech.com sumber informasi pilihan Anda

TRENDING  Bank Mandiri Taspen Pacu Pertumbuhan Bisnis dan Program Berbagi di Bulan Ramadan

(SAW)

Similar Posts

  • AdaKami Menilai Pinjol Ilegal Berdampak Negatif bagi Masyarakat dan Fintech Lending

    Pinjaman online ilegal atau yang sering disebut pinjol ilegal memang menjadi permasalahan serius di masyarakat. Praktik pinjam meminjam uang secara tidak sah ini telah menimbulkan dampak negatif yang sangat merugikan bagi masyarakat, terutama bagi para peminjam. Banyak kasus penagihan yang dilakukan dengan cara-cara yang tidak manusiawi, seperti ancaman dan intimidasi.

    Selain itu, praktik pinjol ilegal juga dapat merugikan pihak fintech lending yang beroperasi secara legal. Mereka harus bersaing dengan para pelaku ilegal yang menawarkan bunga rendah tanpa melalui proses verifikasi data yang ketat. Hal ini tentu saja membuat persaingan menjadi tidak sehat dan merugikan bagi industri fintech lending secara keseluruhan.

    Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk lebih waspada dan bijak dalam menggunakan layanan pinjaman online. Jangan tergiur dengan tawaran bunga rendah tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu terhadap legalitas perusahaan tersebut. Kita harus selalu mengutamakan keamanan dan kenyamanan dalam bertransaksi agar tidak menjadi korban dari praktik pinjol ilegal yang merugikan ini

  • Laba Fintech P2P Lending Kian Menanjak, Pengamat Sebut Penyebabnya

    ILUSTRASI. OJK menyatakan laba industri fintech peer to peer (P2P) lending mencapai Rp 656,80 miliar per Agustus 2024 Beritafintech.com – JAKARTA. Data statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan pada Agustus 2024, laba fintech peer to peer (P2P) lending mencapai Rp 656,80 miliar. Ini adalah laba tertinggi sejak 2021. Adapun, catatan laba paling tinggi kedua terjadi…

  • Gelar Investment Matching Fair, Danamon dan MUFG Dorong Nasabah Bangun Kolaborasi

    Direktur Utama Bank Danamon Yasushi Itagaki (tengah) saat Business and Investment Matching Fair 2023 oleh MUFG Bank bersama PT Bank Danamon Indonesia Tbk. Beritafintech.com – JAKARTA. MUFG Bank, Ltd bersama PT Bank Danamon Indonesia Tbk hubungkan nasabah korporat dalam ekosistem MUFG dan memberikan akses bagi usaha rintisan (start-up) untuk menjangkau calon investor lewat acara Business and…

  • Bank Dituntut untuk Menghadirkan Layanan Digital seperti Fintech

    Bank-bank tradisional dituntut untuk terus berinovasi dan menghadirkan layanan digital seperti yang telah dilakukan oleh perusahaan fintech. Hal ini menjadi penting mengingat perkembangan teknologi yang semakin pesat dan tingginya permintaan masyarakat akan kemudahan dalam bertransaksi secara online. Dengan adanya layanan digital, diharapkan bank dapat memberikan pengalaman yang lebih baik bagi nasabah serta meningkatkan daya saing di pasar finansial. Selain itu, kehadiran layanan digital juga diharapkan dapat memperluas akses keuangan bagi masyarakat yang belum memiliki akses ke bank konvensional. Oleh karena itu, bank dituntut untuk terus beradaptasi dengan perkembangan zaman dan memberikan pelayanan terbaik kepada para nasabahnya

  • Antisipasi Kredit Bermasalah, 111 Anggota AFPI Sudah Melapor Ke Fintech Data Center (FDC)

    Sebanyak 111 anggota Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia (AFPI) telah melaporkan potensi kredit bermasalah ke Fintech Data Center (FDC). Langkah ini diambil sebagai antisipasi terhadap peningkatan risiko kredit yang mungkin terjadi akibat kondisi ekonomi yang tidak stabil. Dengan adanya pelaporan ini, diharapkan dapat membantu para pelaku industri fintech dalam mengidentifikasi dan menangani potensi kredit bermasalah dengan lebih efektif. Hal ini juga menjadi bukti komitmen AFPI dalam menjaga keberlangsungan bisnis serta melindungi konsumen dari risiko yang tidak diinginkan

  • Tak Cuma Wacana, Ini 5 Kebiasaan Finansial agar Keuangan Lebih Aman

    Salah satu kebiasaan finansial yang penting adalah memiliki anggaran bulanan yang jelas dan terencana. Dengan memiliki anggaran, kita dapat mengontrol pengeluaran dan memastikan bahwa kita tidak menghabiskan uang lebih dari yang seharusnya. Selain itu, menyisihkan sebagian pendapatan untuk ditabung juga merupakan kebiasaan penting agar keuangan lebih aman. Dengan menabung, kita dapat memiliki cadangan dana darurat untuk menghadapi situasi tak terduga.

    Selain itu, membiasakan diri untuk berinvestasi juga merupakan langkah penting dalam menjaga keuangan agar lebih aman. Dengan berinvestasi, kita dapat meningkatkan nilai aset dan menciptakan sumber pendapatan pasif. Selain itu, menjaga kesehatan finansial juga termasuk dalam kebiasaan penting agar keuangan lebih aman. Hal ini meliputi pembayaran tagihan tepat waktu, menghindari utang yang tidak perlu, serta mempertimbangkan risiko finansial sebelum membuat keputusan besar.

    Terakhir, selalu melakukan evaluasi terhadap kondisi finansial secara berkala juga merupakan kebiasaan penting agar keuangan lebih aman. Dengan melakukan evaluasi secara rutin, kita dapat mengetahui apakah ada perubahan dalam kondisi finansial dan membuat penyesuaian jika diperlukan. Dengan menerapkan kelima kebiasaan ini secara konsisten, diharapkan kita dapat menjaga stabilitas dan keselamatan keuangan di masa depan