OJK Catat Outstanding Pembiayaan Fintech P2P Lending Naik 24,16%, Begini Kondisinya

OJK Catat Outstanding Pembiayaan Fintech P2P Lending Naik 24,16%, Begini Kondisinya

ILUSTRASI. OJK mencatat bahwa jumlah pembiayaan outstanding dari fintech peer to peer (P2P) lending mencapai Rp64,56 triliun pada Mei 2024. KONTAN/Cheppy A. Muchlis

Beritafintech.com – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa jumlah pembiayaan outstanding dari fintech peer to peer (P2P) lending mencapai Rp64,56 triliun pada Mei 2024, mengalami peningkatan sebesar 24,16% secara tahunan.

Seiring dengan data yang disampaikan oleh OJK, sejumlah fintech P2P juga melaporkan peningkatan dalam pembiayaannya. Contohnya, PT Akselerasi Usaha Indonesia atau Akseleran mencatatkan pembiayaan outstanding sebesar Rp630 miliar.

CEO & Co-Founder Akseleran, Ivan Nikolas, menyatakan bahwa pertumbuhan tersebut hanya sekitar 5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun demikian, ia tetap optimis bahwa di semester II 2024, pertumbuhan akan meningkat secara signifikan sehingga mencapai target perusahaan.

“Target kami tahun ini adalah kenaikan sebesar 20%-30%, dan kami berharap pertumbuhan akan lebih cepat di paruh kedua tahun ini,” ujar Ivan kepada KONTAN, Minggu (14/7).

Baca Juga: Resmi, Cek Daftar Pinjol Legal Terbaru Per Juli 2024 dari OJK

Di sisi lain, fintech P2P lending Modalku juga mencatatkan performa pembiayaan yang positif. Namun, Country Head Indonesia Modalku, Arthur Adisusanto, tidak merinci angkanya secara spesifik.

“Outstanding Modalku pada Juni 2024 tetap stabil dibandingkan dengan Juni 2023, karena kami fokus pada menjaga kesehatan dan kualitas portofolio pendanaan dengan seimbang antara penyaluran dana dan mitigasi risiko,” katanya.

TRENDING  Saham Bank Relatif Murah, Simak Rekomendasi dari Analis Berikut

Berdasarkan informasi yang tertera di situs resmi Modalku, total pendanaan crowdfunding hingga tanggal 14 Juli mencapai Rp61,36 triliun, dengan TKB90 perusahaan ini berada di level 98,50%.

Arthur optimistis bahwa Modalku akan terus mencatatkan pertumbuhan yang konsisten ke depannya, sambil terus memperhatikan kualitas portofolio pendanaan.

Sementara itu, PT Sahabat Mikro Fintek (Samir) mencatatkan peningkatan yang signifikan dalam penyaluran pembiayaan, naik 80% secara tahunan menjadi Rp391 miliar pada Juni 2024.

Baca Juga: Ini 5 Aduan Terbesar Nasabah Fintech ke OJK

“Selama periode Januari hingga Juni 2024, kami berhasil menyalurkan pendanaan sebesar Rp391 miliar. Pertumbuhan ini didorong oleh permintaan yang meningkat dari berbagai segmen pendanaan serta inovasi produk dan layanan yang kami tawarkan,” ungkap CEO Samir, Yonathan Gautama, kepada KONTAN, Minggu (14/7).

Yonathan optimistis bahwa perusahaan akan terus mengalami pertumbuhan bisnis yang positif ke depannya. Untuk akhir tahun ini, Samir menargetkan penyaluran pendanaan mencapai Rp1,2 triliun, dengan strategi ekspansi ke segmen pasar baru dan peningkatan efisiensi dalam proses pendanaan.

Selanjutnya: Pasar Otomotif Tertekan, Emiten Komponen Siapkan Strategi Antisipasi

Menarik Dibaca: 5 Cara Memilih Sunscreen untuk Remaja dengan Tepat, Berapa SPF yang Ideal?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Otoritas Jasa ⁣Keuangan (OJK) mencatat ‍pertumbuhan⁣ outstanding pembiayaan dari platform fintech peer-to-peer (P2P) lending naik ​sebesar⁢ 24,16%.⁤ Hal ⁢ini menunjukkan perkembangan yang positif⁤ dalam industri⁣ fintech P2P ‌lending di Indonesia. ⁤Meskipun pertumbuhannya meningkat, OJK juga memperhatikan kondisi⁢ yang ada, termasuk ‌kualitas layanan dan perlindungan konsumen. OJK terus melakukan pengawasan dan regulasi terhadap industri ini guna menjaga stabilitas sektor keuangan dan melindungi ‌masyarakat sebagai pengguna ⁣layanan fintech P2P ‌lending. Kesimpulannya, pertumbuhan P2P lending yang signifikan ini harus‍ diiringi ​dengan ⁢praktek yang transparan dan ​bertanggung jawab.

Similar Posts

  • Laba Tumbuh Kontras, Cek Kinerja Bank Mandiri vs BCA di Awal Kuartal II-2026

    Menjelang akhir kuartal II-2026, persaingan antara Bank Mandiri dan BCA semakin memanas. Dalam laporan Laba Tumbuh Kontras yang dirilis baru-baru ini, terlihat bahwa Bank Mandiri berhasil mencatat pertumbuhan laba yang signifikan dibandingkan dengan BCA. Meskipun demikian, kinerja kedua bank tersebut tetap patut diacungi jempol.

    Bank Mandiri berhasil menunjukkan performa yang solid dengan pertumbuhan laba sebesar 15%, sementara BCA hanya mencatat pertumbuhan sebesar 10%. Hal ini menunjukkan bahwa strategi yang diterapkan oleh Bank Mandiri mampu memberikan hasil yang positif dalam menghadapi persaingan di pasar keuangan Tanah Air.

    Meskipun demikian, BCA tidak tinggal diam dan terus berupaya untuk meningkatkan kinerjanya guna tetap bersaing dengan Bank Mandiri. Dengan adanya persaingan yang ketat antara kedua bank tersebut, diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi konsumen dalam hal pelayanan dan produk perbankan yang ditawarkan

  • OJK Sebut Catatan Tunggakan Pinjol Menghambat Debitur yang Ingin Ajukan KPR

    Menurut data yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), catatan tunggakan pinjaman online (pinjol) dapat menghambat debitur yang ingin mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Hal ini disebabkan oleh adanya catatan buruk dalam sistem informasi keuangan yang dimiliki oleh lembaga keuangan, sehingga membuat proses pengajuan KPR menjadi lebih sulit bagi debitur.

    Dengan adanya catatan tunggakan pinjol, lembaga keuangan cenderung melihat debitur sebagai risiko yang lebih tinggi dalam hal pembayaran kembali pinjaman. Oleh karena itu, para debitur perlu memperhatikan kewajiban pembayaran pinjol secara tepat waktu agar tidak terjadi masalah saat ingin mengajukan KPR di masa depan.

    OJK juga menekankan pentingnya untuk membiasakan diri dengan pola pengelolaan keuangan yang sehat dan bertanggung jawab. Dengan demikian, debitur dapat meminimalisir risiko terjadinya catatan buruk dalam sistem informasi keuangan dan mempermudah proses pengajuan KPR di kemudian hari

  • Laba Fintech Lending Melonjak Jadi Rp 1,34 Triliun per Juli 2025, Ini Kata Pengamat

    Menurut pengamat industri keuangan, pertumbuhan yang signifikan dalam industri fintech lending seperti Laba Fintech merupakan indikasi dari perubahan perilaku konsumen yang semakin mengadopsi teknologi dalam kegiatan finansial mereka. Dengan jumlah pinjaman yang melonjak hingga mencapai Rp 1,34 triliun per Juli 2025, Laba Fintech telah membuktikan dirinya sebagai pemain utama dalam pasar ini. Hal ini juga menunjukkan bahwa masyarakat semakin percaya dan nyaman dengan layanan fintech lending untuk memenuhi kebutuhan finansial mereka. Diharapkan pertumbuhan ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya

  • Beban Membengkak, Laba Sejumlah Bank Tertekan

    ILUSTRASI. Gedung kantor pusat Bank BJB di Bandung. Beritafintech.com – JAKARTA. Sejumlah bank bermodal mini telah merilis laporan keuangannya untuk tahun buku 2023. Beberapa di antaranya mampu mencatatkan pertumbuhan kinerja yang positif, meskipun ada juga bank-bank bermodal mini yang mencatatkan penurunan kinerja.  Secara industri, jika melihat data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), bank di KBMI II mencatat…

  • Upaya BPKH Mencari Calon Pemilik Baru Bank Muamalat

    Upaya BPKH untuk mencari calon pemilik baru Bank Muamalat telah menarik perhatian banyak pihak. Langkah strategis yang diambil oleh BPKH dalam menjaga keberlangsungan Bank Muamalat mendapat respons positif dari masyarakat. Dengan adanya upaya ini, diharapkan Bank Muamalat dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Indonesia

  • Perolehan Laba Fintech Lending Tahun Ini Diproyeksikan Melampaui Pencapaian 2024

    Menurut para ahli, perolehan laba fintech lending tahun ini diproyeksikan akan melampaui pencapaian yang diharapkan pada tahun 2024. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan pesat industri fintech lending dan tingginya minat masyarakat terhadap layanan pinjaman online. Dengan adanya inovasi-inovasi baru dalam teknologi finansial, para pelaku usaha di sektor ini optimis bahwa laba mereka akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Selain itu, regulasi yang semakin mendukung perkembangan fintech lending juga menjadi faktor penting dalam memperkirakan pertumbuhan laba perusahaan-perusahaan tersebut. Dengan demikian, prospek bisnis fintech lending di Indonesia terlihat sangat cerah dan menjanjikan bagi para investor maupun pelaku usaha yang ingin meraih kesuksesan di bidang ini