Ini Respons AFPI Terkait TWP90 Industri Fintech Lending yang Makin Membaik

Ini Respons AFPI Terkait TWP90 Industri Fintech Lending yang Makin Membaik

ILUSTRASI. Pengguna sosial media mengamati iklan platform pinjaman online alias pinjol di Tangerang Selatan, Minggu (24/9/2023). Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menegaskan, biaya pinjaman di platform pinjol tak lebih melebihi 1%. Bahkan, platform pinjol dilarang mengenakan biaya pinjaman di atas 0,4% per hari. (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)

Beritafintech.com – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 fintech peer to peer (P2P) lending pada Agustus 2024 sebesar 2,38%.

Adapun TWP90 pada Agustus 2024 tercatat membaik atau menurun secara drastis dari posisi Agustus 2023 yang sebesar 2,88%. Nilai Agustus 2024 terbilang juga membaik, jika dibandingkan dengan posisi Juli 2024 yang sebesar 2,53%. 

Baca Juga: TWP90 Fintech Lending pada Agustus 2024 Terendah dalam Beberapa Tahun Terakhir

Jika ditelaah lebih lanjut, angka TWP90 pada Agustus 2024 yang sebesar 2,38% menjadi yang paling terendah dalam beberapa tahun terakhir. Selain posisi pada Agustus 2024, TWP90 paling terendah terjadi pada Mei 2024 yang sebesar 2,28%. 

Menanggapi membaiknya angka TWP90 industri, Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Entjik Djafar menyampaikan, perbaikan TWP90 tak terlepas dari banyaknya penyelenggara fintech lending yang lebih fokus pada existing borrower yang sudah punya track record baik. 

Baca Juga: OJK Beri Sanksi 19 Multifinance, 12 Modal Ventura dan17 Fintech selama September

TRENDING  Pensiun Mini, Kebebasan Finansial dan Makna Hidup

“Hal itu disebabkan cost untuk saringan analisis kelayakan kredit yang tinggi, sehingga mengakibatkan profit yang diperoleh makin menipis. Oleh karena itu, sebagian besar pemain fintech lending sangat hati-hati dalam pemberian pinjaman,” katanya kepada Beritafintech.com, Rabu (2/10).

Selain itu, Entjik bilang membaiknya TWP90 juga dipengaruhi oleh borrower yang mulai sadar untuk  membayar tepat waktu. Hal itu juga tak terlepas dari dampak kerja sama dengan bank sebagai lender.

Baca Juga: 16 Fintech P2P Lending Belum Penuhi Ketentuan Ekuitas Minimum Rp 7,5 Miliar

“Para borrower yang menunggak akan dilaporkan ke Sistem Layangan Informasi Keuangan (SLIK) oleh bank,” ungkapnya.

Entjik menambahkan sampai saat ini, bisnis industri fintech lending masih bagus dan memiliki prospek yang cerah ke depannya. Oleh karena itu, dia optimistis industri masih akan tumbuh ke depannya.

Selanjutnya: Xi Jinping dan Vladimir Putin Makin Mesra, Ini Buktinya

Menarik Dibaca: Ini Proyeksi IHSG MNCS Sekuritas untuk 3 Oktober 2024, Koreksi Terkendali

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia (AFPI) telah merespons positif terhadap peningkatan kinerja dan regulasi dalam industri fintech lending, khususnya terkait dengan TWP90 (Time Weighted Portfolio) Industri Fintech Lending. AFPI melihat bahwa kondisi industri fintech lending semakin membaik dan menjadi lebih transparan dalam mengelola risiko serta memberikan perlindungan kepada konsumen. AFPI juga memberikan apresiasi terhadap upaya pemerintah dan otoritas terkait dalam meningkatkan regulasi dan pengawasan terhadap industri fintech lending. Sebagai lembaga yang mewakili pelaku bisnis fintech lending, AFPI berkomitmen untuk terus berperan aktif dalam mengembangkan industri fintech lending yang sehat dan berkelanjutan.

Check Also

Cara Menentukan Jenis Reksadana yang Sesuai Kebutuhan

Cara Menentukan Jenis Reksadana yang Sesuai Kebutuhan di Aplikasi Reksadana

Untuk menentukan jenis reksadana yang sesuai dengan kebutuhan Anda di Aplikasi Reksadana, pertama-tama Anda perlu memahami tujuan investasi Anda. Apakah Anda ingin berinvestasi jangka pendek untuk keperluan mendesak atau jangka panjang untuk persiapan masa depan? Selain itu, tentukan juga tingkat risiko yang siap Anda tanggung. Apakah Anda lebih nyaman dengan risiko rendah, sedang, atau tinggi? Setelah mengetahui tujuan investasi dan tingkat risiko yang sesuai, selanjutnya pilihlah jenis reksadana yang cocok. Jika Anda menginginkan keuntungan stabil dan risiko rendah, maka reksadana pasar uang atau pendapatan tetap bisa menjadi pilihan terbaik. Namun jika Anda bersedia mengambil risiko lebih besar demi potensi keuntungan yang lebih tinggi, maka reksadana saham atau campuran mungkin lebih cocok untuk Anda. Ingatlah bahwa setiap jenis reksadana memiliki karakteristik dan potensi return yang berbeda-beda. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk melakukan riset dan konsultasi dengan ahli finansial sebelum memutuskan jenis reksadana mana yang akan dibeli. Dengan cara ini, Anda dapat memastikan bahwa investasi yang dilakukan sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan Anda

%site% | NEWS